Buku Bersampul Kelinci

1032 Words
Luna pulang dengan perasaan kesal. Ia tidak mengira kalau Daffa seenaknya sendiri dalam bersikap. Dia yang mengajak untuk cari bahan. Tapi, dirinya juga yang mengurungkan rencana tersebut. Padahal mereka berdua sudah sampai di tempat yang sudah direncanakan. "Hahhh cowok kok labil. Apa dua lagi Pms. Tamu bulanannya mungkin datang telat dari tanggal biasanya. Tapi, dia kan cowok. Ah …!" Luna berteriak di dalam kamar. Rasanya ingin menggaruk lantai yang sepertinya memunculkan bayangan Daffa yang menyebalkan. "Ah, cowok resek. Gimana bisa, di saat seperti ini, malah mikir kamu yang ngefans banget sama aku. Daffa Anggara, nggak tapi Daffa Anggora." Luna meletakkan tasnya perlahan. Lalu jatuh di antara tumpukan bantal dengan sepatu yang masih terpasang. Sementara itu, Daffa juga terlihat belum bisa tersenyum. Wajahnya datar tak menuju ekspresi apa-apa. Mama Anya hanya bisa merasa heran. Kemarin, putranya itu tidak menyahut saat disapa. Lalu sore ini, malah terlihat manyun seperti sedang stres memikirkan sesuatu. "Bocah zaman sekarang. Maunya apa sih. Orang tua nggak tau apa-apa malah kena getahnya. Capek deh!" Keluh mama Anya. Daffa berjalan langsung ke dalam kamar. Menutup pintu dan meletakkan tas ranselnya di atas meja belajar. Jaketnya dilepas dan juga kaos ketatnya. "Apa aku salah pakai baju ya. Perasaan jalan sama Luna ada aja yang bikin beban." Daffa bicara sendiri. Ia lalu masuk kamar mandi. *** Sopir Daffa sedang mengecek kondisi mobil yang sehari-hari selalu menemani dirinya dan sang majikan muda, menemani pergi kemana saja. Ia melihat kondisi mobil seperti bahan bakar dan juga keadaan tempat duduknya yang harus terlihat dan memang kudu bersih dari kotoran apapun. terlebih lagi dari serangga. Saat mengecek lebih jauh. Saat sebagian tubuhnya menengok ke bagian bawah kursi mobil. Tidak tahu mengapa dirinya sempat juga mengintip bagian sana. Padahal biasanya tidak sama sekali. Sepasang matanya seperti melihat sesuatu ada di sana. Tergeletak begitu saja dan terlihat tipis. Sopir tersebut penasaran dan langsung berusaha mengambilnya. Ternyata sebuah buku tipis yang entah milik siapa. “Apa jangan-jangan ini punya temannya mas Daffa ya?" Sopir itu lalu segera keluar saja dari mobil. Kemudian menuju bagian dalam rumah. Ia bermaksud menemui Daffa. Daffa sedang berkeliling di dapur. Merasa pikirannya kacau karena omongan Luna, yang rela begitu saja kalau Mellya menyukai dirinya. Ia pun memutuskan mencari kue apapun itu yang ada dan pasti bisa dia makan sekarang. "Kayaknya, emang nggak ada kue deh! Hah … kueeee, aku mau kueeee!" Daffa berteriak kecil untuk kelegaan hati dan pikirannya. Tiba-tiba saat berbalik, Daffa dikagetkan dengan kemunculan sopir pribadinya. "Wuaaa! Ih pak. Ngagetin aja sih." Daffa hampir berteriak betulan. Sopir itu malah menunjukkan senyum tanpa merasa bersalah. "Mas Daffa bisa kaget juga. Lucu lagi kagetnya!" "Hahhh! Pak, sebenarnya ada apa? Kok tiba-tiba muncul disini sih. Ngagetin lagi!" "Ah iya, hampir lupa. Mas Daffa sih nggak ngingetin! Ini, saya nemu ini di mobil, dibawah jok mobil." Memberikan buku yang tidak lain adalah milik dari Luna. "Buku?" sahut Daffa bingung dan penasaran. Ia lalu menerima buku tersebut. Lalu satu sisi bibirnya tertarik untuk tersenyum usai melihat buku itu. Mungkin ini memang yang namanya takdir. "Iya Mas, buku! Mungkin punya Mas Daffa." "Ini kayaknya buku temanku tadi deh Pak. Kalau gitu, makasih ya Pak. Aku mau bilang dulu sama yang punya kalau buku dia ketinggalan." Dafa bergegas pergi menuju kamarnya. Sedikit berlari kecil. Terlihat wajahnya seperti kembali semangat. Daffa masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan cepat. Ia berjalan menuju kursi meja belajar. Lalu dengan penuh niat. Daffa mulai membuka lembaran buku tersebut. "Ini apa?" Daffa mulai membaca lembaran pertama. Matanya dengan cepat menelusuri satu halaman penuh. Rasanya jadi semakin penasaran. Tampaknya, ada hal yang tidak pernah diketahui oleh Daffa dari Luna selama ini. Masih berlanjut membaca. Daffa sadar kalimat demi kalimat ini seperti catatan mengenai sesuatu yang akan dilakukan. Ada beberapa kata yang seperti menggambarkan tentang tatanan panggung. Juga mengenai kostum dan topeng. “Kok ada kata topeng, tunggu dulu. Yang ini, ada keterangan pakai topeng merah.” Daffa kemudian melihat tulisan di bagian paling atas. Sepertinya tidak asing, dan mirip dengan judul video di sebuah channel. Tapi, Daffa lupa di channel apa. Daffa pun mulai membuka laptop, kemudian menyalakannya. Segera masuk ke menu untuk membuka video dari seluruh penjuru dunia, dan mengetikkan dua kata yang diyakini Daffa seperti kata yang tidak asing. "Crazy dance!" ucap Daffa sambil mengetik dua kata asing itu di kolom mesin pencari, dan hasilnya mengarah pada channel penari bertopeng yang begitu digemari Daffa. "Apa!" Daffa membelalakkan kedua matanya. Ia tidak percaya pada hal yang terjadi. Selanjutnya, karena masih penasaran. Daffa membuka lembaran yang lain. Tampak sebuah judul lagi yang diyakini pasti mengarah pada video milik gadis penari bertopeng. Dicocokkan semua catatan milik Luna dengan video penari bertopeng. Hampir semuanya sama dan membuat Daffa tercengang. 'Ini nggak mungkin!' batin Daffa tidak percaya. Kembali menelusuri lembaran lain, dan hasilnya cocok. Buku itu seperti buku yang berisi rencana pembuatan sebuah video. Step by step dan segela kebutuhan yang diperlukan. 'Luna. Apa jangan-jangan dia itu …!" Daffa coba ingat tatapan mata Luna. Mencocokkannya saat bertemu seperti biasa dan saat menari live kemarin. "Hah …! Aku rasa mirip. Tapi, kok bisa. Aku akan tanyakan ini sama dia. Dia juga pasti kaget kalau tau bukunya ada sama aku. Apa aku kasih tau dia ya. Kalau bukunya ada di aku. Jangan-jangan si Luna lagi nyariin lagi." Daffa mengambil ponsel dan berpikir akan memberi tahu Luna tentang bukunya. Tapi, niat tersebut urung untuk dilakukan. "Nggak usah lah, mending aku tanyakan langsung aja besok!" ucap Daffa lagi, ia kemudian berlanjut untuk melihat kembali isi buku tersebut. Tampaknya akan sangat menarik besok bagi Daffa untuk mencecar banyak pertanyaan pada Luna. *** Malam yang semakin larut, Luna ternyata kelimpungan mencari bukunya. Ia yakin kalau buku pentingnya, masih ada di dalam tas sekolah. Akan tetapi, dicari terus dan coba lagi. Tetap saja tidak bisa ditemukan. Pikiran Luna mencoba mengingat lagi, apa mungkin bukunya tertinggal di suatu tempat. Pikirannya bilang, kalau buku tersebut hanya dibuka sewaktu di perpustakaan sekolah. Itupun saat dirinya sendirian. Lalu masih ingat Luna, kalau buku tersebut ikut serta dirinya kembali ke dalam kelas, dan dimasukkan ke dalam tas. "Tapi, udah dicari berkali-kali. Tetap nggak ada. Sebenarnya ada di mana sih kamu, buku?" Luna merasa frustasi. Ia kesal karena bukunya tetap saja belum ditemukan. Membuka lagi tasnya, namun isinya masih sama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD