Love Is Sinta Bab 3 - Apa Aku Sanggup?

1316 Words
Semuanya sudah di persiapkan dengan sempurna oleh Hadiwidjaja untuk pesta pernikahan cucu kesayangannya yang akan di gelar besok pagi. Halaman rumah Hadiwidjaja yang luas, sudah di hias dengan pelaminan super megah bernuansa klasik. Sinta masih tidak percaya kalau besok dia akan menjadi seorang istri dari pria yang baru ia kenal bernama Agus. Yang Sinta tahu, Agus adalah anak buah eyang nya, dia seorang Arsitek, dan jam kerjanya lebih banyak di lapangan daripada di kantor. “Eyang ada-ada saja! Masa iya aku harus menikah dengan kacung macam siapa namanya? Ah... Agus, iya Agus. Yang benar saja? Masa opa menjodohkan aku dengan orang yang kerjanya di lapangan dengan pakaian dekil. Ah... tidak... tidak... ini tidak boleh terjadi. Tapi, kalau aku tidak mau menuruti opa, yang ada aku di usir dari rumah dan jadi gembel? Aduh... enggak, aku enggak mau!” Sinta dari tadi mondar-mandir dengan mengumpat lirih. “Non, sudah terima kenyataan saja, Mas Agus ganteng lho? Minah juga mau,” ucap Asisten Shinta yang setia dengan Sinta meski sering di perlakukan kasar oleh Shinta. Minah menaruh secangkir teh hijau yang Sinta minta tadi. “Diam kamu! Diam! Ribet kamu ih! Sana keluar!” usir Sinta pada Minah. “Eh, ada gunAya juga tuh orang, aku bisa minta bantuan Minah agar aku bisa keluar rumah,” gumam Sinta. Sinta memang di pingit eyangnya dari kemarin, karena kalau keluar pasti Sinta akan menemui Rangga, kekasihnya. Jadi dia di jaga ketat di rumahnya, bahkan ponselnya juga di sita oleh eyangnya untuk sementara waktu, sampai acara pernikahannya selesai. “Eh Minah, tunggu!” Sinta menghentikan langkah Minah yang sudah di ambang pintu. “Apa Nyonya Agus?” tanya Minah. “Apa kamu bilang? Nyonya Agus? Aku belum menikah dengan kacung itu, Minah! Aku sudah menikah dengan dia pun, aku tak sudi di panggil nyonya Agus!” ucap Sinta dengan wajah yang murka. “Eits...maaf Nona cantik. Jangan marah-marah, besok kan mau jadi ratu seharian, Non. Ada apa Non manggil Minah yang imut ini?” ucap Minah dengan santai meski Sinta menatap dia tajam. Dia tahu majikannya memang galak, tapi dia suka memancing amarah majikannya itu. “Pinjam ponselmu!” pinta Sinta dengan paksa. “Ponsel? Wah... maaf Non, ponsel minah juga di sita eyang,” jawab Minah. “Ini apa-apaan, sih! Hidupku makin menderita saja, seperti di penjara tau!” ucap Sinta dengan memukul meja rias yang ada di kamarnya. “Non, nurutlah sama eyang, kasihan eyang kan sudah tua. Eyang juga butuh lelaki penerus perusahaan eyang yang amanah. Minah yakin, Mas Agus lelaki baik-baik, Non. Enggak seperti pacar non, siapa itu? Oh iya Mas Rangga. Ganteng kagak, gaya sok, ehh.. suka main wanita!” ucap Minah keceplosan pada Sinta. Minah memang pernah melihat Rangga bersama wanita di sebuah tempat karaoke, waktu Minah di ajak teman-temannya karaokean, melepas penatnya menjadi seorang Asisten Rumah Tangga. “Apa kamu bilang? Jangan sembarangan kamu, Minah?!” geram Sinta. “Maaf Non, maaf...,” ucap Minah dengan tertawa meringis pada majikannnya. Sinta masih terus membujuk Minah, agar hari ini dia bisa menemu Rangga di bar milik Rangga. Namun, Minah tidak mau menurutinya, karena dia takut di pecat oleh Pak Hadi, yang sekarang sudah menjadi majikan besarnya. “Jadi kamu nurut sama eyang? Tidak nurut dengan aku? Mau aku pecat?” ancam Sinta. “Iya, enggak mau lah, Non! Tapi, kalau non mecat Minah, gak masalah sih, kan nasib Minah sudah berpindah tangan,” ucap Minah dengan santai. “Maksud kamu?” tanya Sinta. “Jadi, sekarang nasib Minah masih berada di sini atau tidak terganung eyang, Non. Karena mulai kemarin, eyang yang menggaji saya, bukan non lagi,” jelas Minah. “Astaga Eyang...! kenapa hanya demi kacung itu eyang rela melakukan segalanya. Eyang mau-maunya di kibulin si Agus, dia pasti pakai dukun nih, buat meluluhkan hati eyang, agar eyang memberikan semuanya pada Agus,” ucap Sinta dengan geram. Sinta menyuruh Minah keluar, karena dia merasa sudah tidak bisa apa-apa sekarang. Dia hanya bisa pasrah, untuk menikah dengan Agus besok pagi. ^^^ Malam ini, Agus masih sangat bimbang untuk menikah dengan cucu atasannya. Wanita yang pernah ia temui di lokasi proyek, dan dia juga jatuh cinta pada wanita itu sejak pertama kali memandangnya. Ya, wanita itu adalah Sinta, yang akan menjadi istrinya besok pagi. Ada rasa bahagia, karena doa-doanya yang ia panjatkan terkabul dengan cepat. Namun, terkabulnya doa itu, membuat Agus bimbang untuk menjalaninya dan melangkah ke depan. Menikah bukan perkara mudah, dirinya akan menjadi suami, dan dia juga harus membimbing istrinya agar bisa berada di jalan yang baik dan benar. Agus hanya bisa pasrah dengan keadaan saat ini. Pak Hadi adalah orang yang baik, beliau yang menolong dirinya saat dirinya di fitnah dan akhirnya di pecat dari perusahaannya yang dulu. Dia juga tidak bisa monolak, karena gadis yang akan ia nikahi adalah gadis yang ia cintai, apalagi saat eyang Hadi menceritakan siapa kekasih Sinta sebenarnya, Agus menjadi ingin membukakan mata dan hati Sinta agar sadar, kalau kekasihnya itu bukan laki-laki baik. Untuk masalah ibunya, Agus sudah memberitahukan semua pada ibunya, perhal pernikahannya yang akan di gelar besok. Beruntung ibunya mau mendengar penjelasan Agus yang menikah mendadak. Malah ibunya Agus senang, mendengar Agus yang akan menikah, meski tidak bisa hadir karena memang masih kurang sehat badannya. “Masalah ibu sudah clear. Ini di luar dugaanku, ibu ternyata senang aku akan menikah. Tapi, masalahnya adalah, apa aku bisa menjalani hari-hariku bersama Sinta yang arogan dan galak seperti itu? Aku pasti bisa, aku akan buktikan pada dirinya, kalau hanya diriku yang pantas bersanding dengannya, dan aku akan buktikan pada eyang, kalau aku bisa mengemban segala amanah dari beliau,” gumam Agus. Iwan dari tadi melihat Agus yang masih duduk di teras. Dia mendekati teman satu kontrakannya itu. Iwan sudah menganggap Agus seperti kakaknya sendiri. Berkat Agus juga, dia bisa bekerja di Pabrik Tekstile yang cukup besar. “Bang, sudah malam, besok acara ijabnya pagi, kan?” Iwan duduk di samping Agus yang sedang merenungi nasibnya. “Huh...! Abang sedang bingung, Wan. Kenapa secepat ini, jujur kalau bukan karena Pak Hadi saja saya menolak, Wan. Beliau sudah baik sekali dengan abang. Kamu ingat saat abang di fitnah itu kan, Wan?” ucap Agus. “Iya, Bang. Sampai abang mau di bawa polisi, tapi Pak Hadi yang menyelamatkan abang, dan membuktikan kalau abang tidak bersalah, dan beliau lah yang langsung merekrut abang ke perusahaannya,” jawab Iwan. “Nah itu dia, Wan. Dan yang kamu harus tahu, cucu Pak Hadi itu, wanita yang kemarin sempat membuat abang galau setengah hari,” ucap Agus. “Oh... jadi gadis cantik yang buat abang jadi gak lahap makan itu cucunya Pak Hadi itu? Wah... memang jodoh gak ke mana ya, Bang?” ucap Iwan. “Ya, seperti itu, Wan,” ucap Agus. “Kamu besok sudah dapat cuti, kan?” tanya Agus. “Sudah dong, masa abangnya mau menikah aku tidak menyaksikan, kali aja di sana banyak cewek cantik, Bang. Calon abang kan model terkenal,” jawab Iwan dengan berkelakar. “Kamu bisa saja, Wan. Sudah masuk, yuk, sudah malam,” ajak Agus. “Kamu istirahat, besok katanya orang suruhan eyang mau menjemput abang sama kamu,” imbuhnya. “Siap, Bang. Abang juga istirahat, biar badannya vit. Mau menikah kan butuh tenaga ekstra untuk malam pertamanya, Bang,” ujar Iwan dengan bercanda. “Kamu itu, ada-ada saja, Wan. Sudah abang mau tidur.” Agus masuk ke kamarnya. Agus duduk di tepi ranjang dengan melihat jas pengantinnya yang tergantung di gantungan baju. Jas yang akan ia kenakan besok pagi untuk mengucapkan janji sucinya dengan Sinta, wanita yang sangat ia cintai. Cinta pada pandangan pertama saat dia menolong Sinta yang jatuh di lokasi proyek. “Secepat itukah, Ya Allah. Apa aku sanggup?” gumam Agus dengan lirih. Agus merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia berkali-kali mencoba memejamkan matanya, tapi tetap saja tidak bisa tertidur. Dia  memikirkan apa yang akan terjadi setelah hari esok, setelah dia mengikrarkan janji sucinya di hadapan penghulu, untuk menikahi Sinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD