“Pak, saya mau pulang ke rumah Ibu. Boleh ‘kan?” tanya Kirana setelah mereka berdua kembali ke kampus dan berada di ruangan Sena.
“Mau apa pulang ke rumah Ibu? Kamu ga berniat kabur dengan tidur di sana ‘kan?” Sena memicingkan matanya.
“Pak, jangan suuzan terus kenapa sih? Saya pulang mau ambil baju, laptop, sama skripsi. Kemarin ‘kan buru-buru jadi ga kebawa,” jelas Kirana.
“Oh, mau naik apa ke sana?” Sena jadi lebih kalem setelah mendengar penjelasan istrinya.
“Naik ojol. Memangnya mau naik apa lagi? Motor saya ‘kan ditinggal di rumah. Oh ya, saya boleh ‘kan bawa motor sendiri ke kampus biar saya biar tidak merepotkan Pak Sena terus?” Kirana memandang suaminya dengan tatapan memohon.
“Naik taksi online saja jangan motor, aku yang bayarin. Pulangnya nanti aku jemput, jadi jangan coba-coba pulang sendiri apalagi naik motor. Kecuali kamu mau aku diamuk sama Bunda,” tegas Sena.
“Tapi saya ingin naik motor sendiri, Pak. Nanti kalau saya butuh pergi ke mana-mana gimana kalau ga ada motor. Skripsi saya sebentar lagi masuk bab 4, Pak.” Kirana coba membujuk suaminya.
“Ga, Na. Bunda juga ga bakal ngizinin kamu naik motor. Kalau mau ke mana-mana naik taksi atau diantar sama sopir. Kalau aku ada waktu, aku yang akan antar kamu.” Sena kembali bersikap tegas dan jelas tidak mau dibantah.
“Berapa nomor e-wallet-mu?” tanya Sena sambil membuka gawainya.
“Buat apa, Pak?” Kirana balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya.
“Buat kamu naik taksi online. Cepat sebutkan berapa nomornya!” tukas Sena yang sudah membuka aplikasi mobile banking.
Kirana kemudian menyebutkan nomor e-wallet miliknya yang digunakan sebagai alat pembayaran pada aplikasi transportasi daring. Tak lama ada notifikasi kalau e-wallet-nya bertambah.
“Pak, kok sebanyak ini? Pak Sena, ga salah nulis jumlahnya?” tanya gadis itu karena Sena mentransfer sebanyak satu juta ke e-wallet miliknya.
Sena menggeleng. “Biar sekalian. Kamu pakai untuk transportasi kalau tidak mau diantar sopir. Kalau habis, bilang. Nanti aku transfer lagi. Oh ya, cek juga rekeningmu. Aku sudah transfer nafkah untuk sebulan. Gajimu sebagai asdos belum kutransfer karena belum waktunya gajian,” jawab Sena seraya meletakkan gawainya ke atas meja. Pria itu kemudian membuka laptopnya.
Lagi-lagi Kirana dibuat terkejut melihat nominal yang ditransfer oleh Sena. Jumlahnya dua kali lipat dari gajinya sebagai asisten dosen. “Pak, benar segini nominalnya?” Gadis itu kembali memastikan.
Sena mendongak lalu menatap istrinya. “Kenapa? Kurang?” Dia akan meraih gawainya lagi tapi ditahan oleh Kirana.
“Tidak kurang, Pak. Malah lebih dari cukup,” lontar Kirana.
“Beli apa pun yang kamu mau dengan uang itu!” Sena kembali fokus pada laptopnya lagi.
“Iya, Pak. Terima kasih banyak. Semoga rezeki Pak Sena dilancarkan,” ucap Kirana dengan tulus. Tidak salah ‘kan mendoakan suaminya lancar rezeki?
“Aamiin,” sahut Sena tanpa mengalihkan pandangannya.
“Kalau begitu saya pulang ke rumah Ibu dulu, Pak.” Kirana lalu beranjak ke samping kursi Sena. Dia mengulurkan tangan kanannya.
Sena yang paham kalau sang istri akan menyalaminya, segera mengulurkan tangan kanannya. Pria itu diam-diam tersenyum saat Kirana mencium punggung tangannya. “Hati-hati di jalan. Kabari kalau sudah sampai rumah Ibu. Ingat! Jangan pulang dulu sebelum aku jemput!” pesan Sena sebelum Kirana ke luar dari ruangannya.
“Insya Allah, Pak. Assalamu’alaikum.” Kirana kemudian melangkah ke luar.
“Wa’alaikumussalam,” balas Sena. Sesaat dia tersenyum sendiri mengingat manisnya sikap Kirana saat berpamitan tadi. Namun, tak lama dia menggeleng. Menepis pikirannya tentang Kirana.
***
Utami menyambut dengan sukacita kepulangan putri sulungnya. Meskipun baru sehari berpisah rasanya sudah begitu rindu. Maklum saja mereka tak pernah tinggal berjauhan, kecuali saat Kirana sedang KKN. Itu pun juga tidak lama, hanya sebulan.
“Kamu sendirian?” tanya Utami karena tak melihat sosok Sena bersama putrinya.
“Iya, Bu. Pak eh Mas Sena masih di kampus. Dia sedang banyak kerjaan, lagian sekarang masih jam kerja. Nanti juga ke sini jemput aku kok,” jelas Kirana.
“Ya sudah, kalau begitu. Ibu takut kalian bertengkar karena kamu pulang sendiri ke sini.” Utami mengungkapkan kekhawatirannya.
Kirana tersenyum. “Kami baik-baik saja kok, Bu. Sikap Mas Sena dan keluarganya baik semua. Aku malah ga boleh bawa motor sendiri, ke mana-mana harus naik taksi atau diantar sopir. Aku yang jadi ga nyaman karena biasanya bebas pergi ke mana pun sendiri, sekarang ga bisa lagi.”
Utami mengelus kepala putrinya yang tertutup hijab sambil tersenyum. “Dinikmati saja, nanti lama-lama kamu juga akan terbiasa. Turuti apa yang Mas Sena katakan selama tidak melanggar aturan agama. Jadilah istri yang baik dan jangan suka membantah suami,” tuturnya dengan lembut.
“Insya Allah, Bu. Oh ya, ini tadi aku bawa kue kesukaan Dara sama Dimas. Kebetulan tadi lewat pas mau ke sini jadi mampir.” Kirana mengeluarkan kotak kue dari salah satu bakeri ternama.
“Kiran, ini ‘kan harganya mahal. Jangan sering beli buat adik-adikmu, nanti mereka jadi terus mengharap dibelikan kalau kamu datang,” tegur Utami.
“Gapapa, Bu. Mas Sena tadi habis ngasih aku banyak uang. Katanya aku bebas beli apa saja dengan uang itu. Apa aku salah kalau aku ingin berbagi dengan Ibu, Dimas, dan Dara?” Kirana menatap wanita yang sudah melahirkannya itu.
Utami tersenyum. “Boleh, tapi jangan sering-sering. Sebaiknya kamu juga beli untuk kebutuhanmu sendiri. Belilah baju yang lebih bagus agar tidak membuat keluarga Mas Sena malu. Kamu juga harus merawat wajah dan badanmu. Sekarang kamu sudah punya suami, hal-hal seperti itu harus lebih diperhatikan. Istri yang baik itu yang selalu tersenyum dan menyenangkan kalau dipandang suami.” Dia kembali menasihati putrinya.
“Iya, Bu. Insya Allah nanti kalau sudah ada waktu aku belanja baju dan lainnya,” timpal Kirana.
“Ibu selalu berdoa pernikahanmu dengan Mas Sena bahagia dan langgeng, sampai maut yang memisahkan.” Utami mengungkapkan harapannya.
Kirana hanya tersenyum menanggapi ibunya. Ada rasa nyeri di hati saat ingat perjanjiannya dengan Sena.
“Bu, aku ke kamar dulu. Mau nyiapin barang-barang yang nanti mau aku bawa.” Gadis itu memilih menghindar sebelum mendapat berbagai nasihat pernikahan dari sang ibu.
Sena tiba di rumah mertuanya pukul 5.00 sore. Setelah mengobrol dengan Utami dan Dimas selama beberapa saat, dia mengajak Kirana pulang karena bundanya mengirim pesan agar mereka pulang sebelum makan malam.
Sena membawakan kardus berisi buku, catatan, dan hal lainnya yang berkaitan dengan skripsi Kirana yang kemudian dimasukkan ke bagasi. Sementara gadis itu menjinjing tas yang berisi beberapa potong baju yang menurutnya bagus dan tidak memalukan untuk dikenakan.
“Bunda memangnya ngajak kita makan malam bersama, Pak eh Mas?” Kirana memecah keheningan setelah mobil Sena membelah jalanan.
Sena pun mengangguk. “Iya, tapi sepertinya bukan makan malam biasa, Na. Kayanya Bunda ngundang orang ke rumah,” jawabnya.
“Siapa saja yang diundang, Mas?” Kirana kembali bertanya.
Sena mengedikkan kedua bahunya. “Mana aku tahu. Bunda cuma bilang kalau bisa kita pulangnya sebelum makan malam. Ga bilang apa-apa lagi.”
“Oh, saya pikir Mas Sena tahu,” gumam Kirana.
Setengah jam kemudian, mereka tiba di kediaman Hadi. Sena dan Kirana saling pandang saat melihat ada tenda di halaman dan juga mobil katering di sana.
“Ada acara apa ya kok pakai tenda segala, Mas?” Kirana merasa penasaran.
“Aku juga tidak tahu. Sebaiknya kita turun lalu tanya ke Bunda ada acara apa,” sahut Sena.