Kirana seketika menoleh ke arah Sena. Lama-lama gadis itu merasa kesal karena terus disudutkan oleh Sena. “Pak Sena, kenapa sih nethink terus sama saya? Padahal saya nanya bukan karena yang Pak Sena pikirkan.”
“Jadi, aku salah? Memangnya kenapa kamu nanya kaya tadi?” Sena jadi merasa penasaran.
“Memangnya Pak Sena ga ingat kalau kita udah nikah? Status saya ‘kan mahasiswi, sedangkan Pak Sena dosen. Apa yang saya tanyakan tadi berkaitan ‘kan dengan kita? Bukan dengan Pak Guntur atau yang lain. Ya, meskipun Pak Sena tidak menganggap serius, tapi pernikahan kita itu sah secara agama.” Kirana memaparkan alasannya agar Sena tidak terus-terusan berprasangka buruk padanya.
Sena jadi malu sendiri setelah mendengar penjelasan Kirana. Ternyata Kirana memikirkan tentang status hubungan mereka. Namun, tentu saja dia gengsi minta maaf karena asal tuduh.
“Dari omonganmu tadi, berarti kamu menganggap pernikahan kita ini serius ‘kan? Berarti kamu tidak ingin kita pisah?” Sena memilih mengalihkan pembicaraan.
“Sejak awal saya tidak pernah menganggapnya main-main, Pak. Pernikahan itu bukan hanya perjanjian dengan manusia tapi juga dengan Allah. Suka atau tidak, kita sudah sah sebagai suami istri secara agama. Tapi yang menjalani pernikahan ‘kan dua orang, bukan saya sendiri. Kalau salah satu sudah tidak menginginkan bersama ya mau apa lagi. Tidak baik juga kalau dipaksakan,” ujar Kirana.
Ada nyeri yang Sena rasakan saat Kirana mengatakan semua itu. Entah kenapa di telinganya terdengar seperti sebuah sindiran untuknya. Setelah itu tak ada lagi pembicaraan di antara mereka sampai Sena menghentikan mobil di halaman sebuah rumah makan.
“Kita sudah sampai. Ayo turun, Na.” Sena mengajak Kirana setelah melepas sabuk pengamannya.
Kirana pun mengikuti langkah Sena setelah turun dari mobil. Mereka masuk ke rumah makan yang menyajikan berbagai olahan hidangan ikan dan boga bahari. Setelah mendapatkan tempat duduk, mereka pun memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan datang, keduanya memutuskan salat terlebih dahulu di musala karena sudah masuk waktu Zuhur.
Untuk kedua kalinya, Sena menjadi imam salat Kirana. Namun, mereka tidak hanya salat berdua, ada pengunjung lain yang ikut salat berjemaah dan menjadi makmum Sena. Karena ada banyak orang dan mereka berjarak, Kirana tidak menyalami Sena seperti saat Subuh tadi. Setelah itu keduanya kembali ke meja yang tadi mereka tempati.
“Na, kenapa tadi malam kamu tidur sofa? Aku dimarahin habis-habisan sama Bunda gara-gara itu. Bunda pikir aku yang menyuruhmu tidur di sofa.” Sena mulai membuka pembicaraan. Wajah tampan itu tampak kesal.
“Maaf kalau Pak Sena jadi dimarahi Bunda. Saya tidur di sofa biar lebih tenang saja, Pak. Karena waktu kita tidur satu kasur di kamar saya itu, saya tidak bisa tidur,” jelas Kirana.
“Tapi semalam tidurmu nyenyak ‘kan biar kita tidur sekasur berdua? Heran aku, kamu kok bisa pules banget tidurnya semalam, sampai aku pindahkan ke kasur aja tidak bangun,” lontar Sena.
Netra Kirana membola mengetahui fakta siapa yang semalam memindahkannya dari sofa ke kasur. “Ja—jadi, Pak Sena yang semalam mindahin saya dari sofa ke kasur?” Gadis itu memastikan meski dengan takut-takut.
“Memangnya siapa kalau bukan aku? Ayah? Tidak mungkinlah. Apalagi sopir, makin tidak mungkin lagi. Bunda yang nyuruh aku pindahin kamu. Kedua tanganku sampai pegal gara-gara gendong kamu.” Sena sengaja sedikit berbohong agar Kirana merasa bersalah dan tidak membantahnya lagi.
“Ya ampun, Pak. Saya benar-benar minta maaf karena sudah menyusahkan Pak Sena. Kalau tangan Pak Sena masih pegal, nanti di rumah biar saya pijat.” Gadis berhijab itu tampak sangat bersalah.
“Sudah tidak terlalu pegal sih, tapi kalau mau kamu pijitin ya lebih baik.” Sena diam-diam tertawa dalam hati karena berhasil menjahili Kirana. Gadis itu terlalu polos dan baik hingga tak punya pikiran negatif. Padahal tubuh Kirana kecil dan kurus, untuk Sena yang punya perawakan tinggi tentu tidak jadi masalah. Tangannya memang terasa pegal, tapi bukan karena menggendong Kirana, melainkan karena terlalu banyak mengetik.
“Kalau sampai rumah saya lupa, tolong diingatkan ya, Pak,” pinta Kirana dengan tatapan memohon.
Sena mengangguk seraya tersenyum. “Oh ya, satu lagi. Biasakan panggil mas kalau di luar kampus biar kamu tidak ditegur Bunda lagi,” ujarnya.
Kirana pun menyengguk. “Baik, Pak.”
“Loh, kok masih panggil, Pak?” Sena mengerutkan kening.
“Ini ‘kan masih jam kerja, Pak.” Kirana beralasan.
“Tapi ini di luar kampus, Na,” tukas Sena. “Aku ‘kan tadi sudah bilang kalau di luar kampus panggil mas jangan pak,” imbuhnya.
“Iya, Pak eh Mas,” sahut Kirana.
Setelah makanan dan minuman yang dipesan tersaji di atas meja, mereka pun mulai menikmatinya. Tak lupa berdoa terlebih dahulu sebelum makan agar menjadi berkah.
“Na, kalau di depan keluarga, kamu jangan bersikap kaku. Ga masalah kita bersikap sedikit mesra. Aku nanti yang akan ditegur Bunda kalau sampai kamu terlihat takut sama aku.” Sena kembali membicarakan tentang bagaimana sikap mereka agar keluarga percaya kalau mereka tidak menjalani pernikahan sandiwara.
“Bersikap sedikit mesra itu gimana contohnya, Pak eh Mas?” Kirana harus memastikan agar tidak salah bertindak yang ujung-ujungnya membuat Sena marah padanya.
“Misalnya kita gandengan tangan. Aku memeluk pinggangmu. Kita duduk berdekatan. Kita berangkat ke kampus bersama kalau kamu ada jadwal. Kalau dibutuhkan ya mungkin ciuman di kening atau pipi,” papar Sena yang menjelaskan sikap sedikit mesra versinya.
Mendadak pipi Kirana memerah mendengar kata ciuman. Tiba-tiba saja gadis itu teringat saat tadi pagi Sena mencium keningnya usai mereka salat Subuh berjemaah.
“Kenapa wajahmu jadi merah, Na? Kamu alergi udang?” Sena mendadak khawatir melihat perubahan warna wajah istrinya. Salah satu menu yang mereka pesan adalah udang asam manis pedas.
Kirana menggeleng. “Enggak, Mas.”
Sena menghela napas lega karena Kirana tidak mengalami alergi. Namun, dia masih belum tenang sampai tahu penyebab wajah istrinya memerah. “Terus kenapa? Kepedesan?” tanyanya lagi.
Kirana akhirnya mengangguk. Dia terpaksa berbohong pada suaminya. Tidak mungkin ‘kan dia secara gamblang bilang kalau ingat ciuman di kening tadi pagi. “Tadi ga sengaja kemakan cabe rawit utuhnya, Mas.”
“Syukurlah kalau cuma karena kepedesan. Pelan-pelan saja makannya. Dilihat dulu ada cabenya apa enggak, jangan langsung dimakan. Tidak usah buru-buru,” ujar Sena.
“Iya, Mas. Maaf sudah membuat khawatir.” Lagi-lagi Kirana merasa bersalah.
“Tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah. Sekarang lanjutkan makannya, tapi hati-hati.” Sena memandang gadis yang duduk di hadapannya itu. Dia tak lagi mengajak Kirana bicara sampai mereka selesai makan. Setelah membayar tagihan, keduanya meninggalkan rumah makan tersebut.
“Kita langsung balik ke kampus ‘kan, Mas?” tanya Kirana setelah mobil Sena membelah jalanan.
“Iya. Kenapa? Kamu mau ketemu sama dosen baru itu lagi?” Sena mulai kembali berkata ketus.
“Astaghfirullah. Bisa tidak sih Pak Sena itu tidak nethink terus sama saya? Tas sama ponsel saya masih ada di ruangan Pak Sena. Memang isi uang dan harga ponsel saya tidak seberapa, tapi di dompet ada KTP, SIM, sama ATM. Kalau hilang, bisa repot karena saya harus ngurus macam-macam,” sergah Kirana dengan wajah kesal.
“Aku akan tanggung jawab kalau sampai hilang. Nanti aku ganti dan aku uruskan semuanya,” lontar Sena dengan tenang.
Kirana hanya diam, enggan menanggapi. Dia melipat tangan di depan d**a dan melayangkan pandangan ke luar jendela di samping kirinya. Lebih baik melihat pemandangan di luar daripada bicara dengan Sena yang lebih sering membuatnya kesal dan sangat menguji kesabarannya. Kalau tidak ingat pesan Utami, rasanya Kirana sudah tidak sanggup menjalani pernikahan itu.