Kirana dan Guntur sontak berdiri begitu mendengar suara Sena. Dekan itu kemudian melangkah mendekati mereka dengan wajah datar dan dingin. Tak nampak senyum di sana.
“Bukan begitu, Pak. Saya bisa jelaskan,” tukas Kirana yang langsung salah tingkah. Dia tidak mau pria yang sudah menjadi suaminya itu jadi salah paham. Ya, meskipun hanya suami sementara, tetap saja gadis itu tidak mau meninggalkan kesan buruk di mata Sena.
“Pak Dekan, maaf saya tidak tahu kalau Bapak sudah datang. Tadi saya sedang bercanda dengan asisten Bapak. Tapi kalau dianggap serius juga tidak masalah karena saya memang sedang mencari istri,” papar Guntur yang membuat wajah Sena semakin datar dan dingin. Bahkan rahangnya tampak mengeras.
“Pak Guntur hanya bercanda, Pak. Jangan dianggap serius.” Melihat perubahan wajah Sena membuat Kirana jadi khawatir. Bukannya membantu, Guntur sepertinya malah memperkeruh suasana.
“Maaf Anda ini siapa? Kenapa bisa ada di ruangan saya dan berbicara dengan asisten saya?” cecar Sena tanpa menunjukkan wajah yang ramah.
Guntur tetap tenang dan tersenyum meskipun Sena tidak bersikap ramah. Dia sudah paham karena semua orang yang ditemuinya tadi sudah memberi tahu bagaimana sifat sang dekan yang jarang tersenyum dan sering bersikap dingin.
“Perkenalkan saya Guntur Jatmika. Dosen baru yang akan mengajar di sini, Pak.” Guntur memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan kanannya.
Sena menyambut uluran tangan Guntur. “Jadi Anda dosen yang direkomendasikan oleh Profesor Ahmad?”
Guntur mengangguk. “Betul, Pak. Saya mohon bimbingannya.”
“Sudah ke bagian kepegawaian?” tanya Sena tanpa mempersilakan tamunya duduk.
“Sudah, Pak. Tapi saya diminta menghadap Pak Dekan dulu dan mendapatkan tanda tangan sebelum diproses,” jawab Guntur.
“Mana yang harus saya tanda tangani?” Sena kemudian menuju meja kerja dan duduk di kursinya.
“Ini, Pak.” Guntur menyerahkan lembaran kertas pada Sena. Dia kemudian hendak duduk di kursi yang ada di hadapan Sena.
“Siapa yang meminta Anda duduk? Setelah saya tanda tangani ini, silakan Anda langsung ke bagian kepegawaian. Anda di sini untuk mengajar, bukan untuk bercanda dan menggoda asisten saya.” Sena segera membaca tulisan yang ada di lembaran itu kemudian membubuhkan tanda tangannya di sana. Setelah itu menyerahkan kembali pada Guntur.
“Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak,” pamit Guntur. Saat mengambil tasnya di sofa, dosen baru itu masih sempat menyapa Kirana. “Sampai ketemu lagi, Kirana,” ucapnya sebelum meninggalkan ruangan Sena.
“Tutup pintunya, Na! Setelah itu duduk di sini!” perintah Sena setelah memastikan Guntur ke luar dari ruangannya.
Tanpa menunggu perintah kedua, gadis itu gegas menutup pintu ruangan Sena. Setelah itu dia duduk di kursi di depan meja kerja suaminya.
“Jadi kalau aku tidak ada di sini, kamu malah tebar pesona sama dosen lain?” Entah kenapa Sena jadi emosi melihat istrinya berbicara dengan dosen baru tadi yang tak kalah tampan darinya.
“Saya tidak menggoda Pak Guntur, Pak. Tadi setelah masuk kelas, saya ke sini karena Pak Sena minta saya menunggu. Pas saya masuk, Pak Guntur sudah ada di sini menunggu Pak Sena. Karena saya juga menunggu, Pak Sena, jadi kami mengobrol sambil menunggu,” jelas Kirana yang tidak terima dituduh menggoda Guntur.
“Apa kalian sampai bicara hal pribadi? Tadi aku dengar kalau kamu jadi istrinya akan diberi uang pribadi?” Sena masih mencecar asdosnya itu.
“Demi Allah itu hanya bercanda, Pak.” Kirana kemudian menjelaskan apa saja yang dia bicarakan dengan Guntur tanpa ditutup-tutupi.
“Jadi setelah lulus kamu tidak mau lagi jadi asistenku?” Sena menatap tajam Kirana.
“Siapa tahu Pak Sena sudah tidak butuh saya jadi asisten dosen lagi, jadi saya akan mencari pekerjaan lain setelah lulus,” terang Kirana.
“Selama aku belum mendapatkan orang yang lebih baik dari kamu, jangan coba-coba berhenti jadi asistenku!” Sena memperingatkan Kirana.
Meskipun sering bersikap dingin pada gadis itu, tapi Sena mengakui kinerja Kirana yang sangat baik. Pria itu bahkan berencana memberikan beasiswa S2 agar Kirana bisa menjadi dosen tetap di sana. Kampusnya membutuhkan dosen cerdas seperti gadis itu.
“Baik, Pak. Selama Pak Sena masih membutuhkan saya jadi asisten dosen, saya akan tetap bekerja dengan Pak Sena.” Ucapan Kirana menerbitkan senyum tipis di wajah Sena.
“Oh ya, kamu sudah makan siang?” Suara Sena tiba-tiba berubah jadi sedikit lebih lembut.
Kirana menggeleng. “Belum, Pak. Kan belum masuk waktu makan siang. Biasanya saya makan setelah Zuhur,” jawab gadis berhijab itu.
“Kalau begitu ikut aku keluar sekarang!” Sena bangkit dari duduknya kemudian meraih tangan Kirana dan menariknya.
“Pak, kenapa tangan saya ditarik? Ini saya mau diajak ke mana? Tas saya masih di dalam,” protes Kirana yang tiba-tiba ditarik Sena ke luar dari ruangannya.
“Tidak perlu bawa tas. Sudah jangan protes, ikut saja!” Sena terus melangkahkan kakinya lebar-lebar. Membuat Kirana yang bertubuh kecil jadi kewalahan mengikuti.
“Pak, tolong bisa pelan sedikit dan lepaskan tangan saya! Bukannya Pak Sena bilang tidak ingin pernikahan kita diketahui orang lain?” pinta Kirana saat melihat tidak ada orang di dekat mereka.
Sontak Sena pun melepas tangan gadis yang sudah dinikahinya itu. Dia sendiri tidak tahu kenapa bisa-bisanya menarik tangan Kirana padahal mereka ada di lingkungan kampus. Seolah ada yang menggerakkan tanpa disadarinya.
Kirana pun menghela napas lega. Akhirnya dia bisa berjalan dengan normal meskipun dua langkahnya sama seperti satu langkah Sena. Membuatnya sedikit tertinggal dari pria itu.
Sena menunggu Kirana di dalam mobil karena Kirana beberapa kali berhenti saat ada yang menyapanya. Gadis itu memang ramah dengan siapa saja. Membuat orang senang bergaul dengannya.
Mata Sena membola saat melihat Kirana berjalan bersama Guntur menuju mobilnya. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Sena melihat keduanya tertawa. Membuat dekan itu mengeratkan pegangannya pada kemudi. Dengan kesal dia menekan klakson agar Kirana bergegas.
“Cepat, Na! Nanti kita terlambat!” teriaknya dengan wajah yang sudah tak bersahabat.
Kirana segera memisahkan diri dari Guntur lalu cepet-cepat masuk ke mobil Sena agar tidak semakin membuat pria itu marah. Setelah memastikan Kirana memasang sabuk pengaman, Sena mulai melajukan kendaraannya tanpa mengatakan apa pun. Guntur tersenyum dan mengangguk sebagai tanda hormat saat mobil Sena melewatinya.
“Bicara apa tadi sama dosen baru itu? Kayanya seru banget sampai kalian tertawa.” Sena akhirnya mengakhiri kesunyian di antara mereka.
“Pak Guntur cerita kalau tadi salah masuk ruangan. Padahal sudah masuk dengan percaya diri. Jadi dia malu banget,” jelas Kirana.
“Tidak ada yang lucu dari cerita itu, kenapa kalian bisa tertawa?” tukas Sena.
“Ya, saya ikut ketawa saja karena Pak Guntur ketawa. Masa saya diam saja, Pak,” timpal Kirana. “Oh ya, Pak Sena ada janji dengan siapa memangnya siang ini?” tanyanya kemudian.
Sena menggeleng. “Tidak ada janji dengan siapa pun,” jawabnya dengan enteng.
“Terus kenapa tadi Pak Sena minta saya buru-buru biar tidak terlambat?” protes Kirana.
“Aku tidak mau terlambat makan siang, Na. Nanti restorannya keburu penuh kalau kita kesiangan sampai sana. Kenapa? Kamu masih ingin ngobrol sama dosen baru itu?” Sena menoleh pada Kirana dengan tatapan kesal.
“Bukan begitu, Pak. Saya pikir Pak Sena mau ketemu sama orang penting. Kan saya jadi merasa bersalah kalau sampai terlambat.” Kirana mengemukakan alasannya.
“Ngomong-ngomong, kenapa Pak Sena sewot sama Pak Guntur? Bukannya harusnya Pak Sena bersikap ramah sama dosen baru biar betah mengajar di kampus?” cecar Kirana yang merasa heran dengan sikap Sena.
“Aku tidak suka sikapnya yang sok akrab sama orang yang baru kenal. Awas saja kalau sampai ada gosip dia pacaran atau memberi harapan palsu sama mahasiswi kampus kita,” tandas Sena.
“Memangnya ada aturan di kampus kalau dosen dilarang punya hubungan pribadi dengan mahasiswi, Pak?” tanya Kirana.
Sena menggeleng. “Tidak ada selama mereka tidak menunjukkan kemesraan berlebihan di kampus.”
Kirana pun menghela napas lega. Membuat Sena mengerutkan kening. “Kenapa kok kamu kayanya lega gitu? Kamu berniat pacaran sama dosen baru itu?” Entah kenapa dia tidak suka membayangkan Kirana dekat dengan Guntur.