Kirana seketika menoleh pada Sena. Alis rapi dan tebal itu tampak hampir bertaut. Gadis itu merasa aneh. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa memecat anak? Sungguh tidak masuk akal baginya. “Maksud Pak Sena apa dipecat jadi anak Bunda?”
“Jangan sekali-sekali berani melanggar perintah Bunda! Aku akan mengantarmu sampai depan gerbang kampus,” sahut Sena tanpa menjelaskan lebih lanjut maksud ucapannya. Wajah pria itu terlihat serius hingga Kirana tak berani bertanya lagi.
Sepanjang perjalanan, mereka saling diam. Kirana menyibukkan diri dengan membaca-baca materi yang nanti akan dia ajarkan di kelas. Sementara Sena yang mengemudi sama sekali tak mengalihkan pandangan dari jalanan.
Setelah tiba di depan gerbang kampus, Kirana tak langsung turun. Dia menyodorkan tangan kanan hingga membuat Sena mengernyit. “Kamu mau minta uang saku?”
Kirana menggeleng. “Saya masih ada uang. Saya mau salim sama Pak Sena,” jawabnya.
Sena jadi canggung karena sudah salah duga. Wajahnya jadi merah karena malu. Dia kemudian mengulurkan tangan kanan yang langsung disambut oleh Kirana. Setelah menyalami dan mencium punggung tangan Sena, gadis itu membuka pintu mobil. “Assalamu’alaikum, Pak. Hati-hati di jalan,” ucapnya sebelum turun.
Sena terpaku mendengar ucapan Kirana. Lagi-lagi istrinya melakukan hal yang tidak terduga. Walaupun mengejutkan, tapi ada setitik rasa yang muncul saat gadis itu mencium tangan dan mengucapkan salam padanya.
Sena baru tersadar dari lamunan saat mendengar bunyi klakson. Dia menoleh ke sebelah kiri tapi sudah tak melihat sosok istrinya. Begitu melihat jam digital di dashboard, Sena langsung melajukan kendaraan menuju kantor pusat karena sebentar lagi rapat dimulai.
***
Setelah selesai mengajar, Kirana pergi ke ruangan Sena untuk mengembalikan buku materi dan daftar absen mahasiswa. Sena memang masih menggunakan metode manual untuk mengabsen mahasiswanya agar tidak ada yang menitip absen. Setelah semua mengisi absen, dia akan memanggil satu per satu nama mahasiswa yang ada tanda tangannya
Kirana berencana menunggu Sena di ruangannya sambil mengecek jawaban kuis yang tadi dia berikan. Gadis itu terkejut saat melihat seorang pria duduk di sofa yang biasa digunakan Sena untuk menerima tamu. Pria itu juga terkejut saat melihat Kirana masuk. Namun, kemudian pria tersebut berdiri dan tersenyum pada Kirana.
“Selamat siang,” sapa pria itu tersebut dengan ramah.
“Selamat siang juga, Pak. Apa Bapak ada perlu dengan Pak Sena?” tanya Kirana dengan ramah setelah membalas sapaan sang tamu.
“Iya. Saya dosen baru di sini. Saya diminta bertemu dulu dengan dekan. Di sini benar ‘kan ruangan Pak Dekan?” jawab pria tampan yang tampak masih muda itu.
“Benar, di sini ruangan Pak Sena. Saat ini Pak Sena sedang ada rapat dengan rektor dan dekan lainnya di kantor pusat. Saya kurang tahu sampai jam berapa selesainya karena saya juga diminta menunggu beliau,” jelas Kirana.
“Wah, senang sekali ada teman menunggu. Oh ya, perkenalkan nama saya Guntur Jatmika. Panggil saja Guntur.” Pria itu kemudian mengulurkan tangan. Mengajak Kirana bersalaman.
“Saya Kirana, asisten dosen Pak Sena.” Kirana juga memperkenalkan dirinya saat bersalaman dengan Guntur.
“Nama yang cantik seperti orangnya,” puji Guntur yang terus tersenyum pada gadis itu.
Kirana pun membalas senyum itu. “Terima kasih. Silakan duduk kembali, Pak. Maaf, saya mau meletakkan ini dulu di meja Pak Sena,” ucapnya sambil menunjukkan tumpukan buku dan kertas di tangan kirinya.
“Ya, silakan.” Guntur pun kembali duduk, tapi pandangannya tak lepas dari Kirana. Pria berusia 30 tahun itu serasa mendapat durian runtuh saat melihat Kirana. Siapa yang bisa menolak pesona gadis itu. Meskipun wajahnya tanpa banyak riasan, tapi kecantikannya tetap terpancar. Siapa tahu selain dapat tempat kerja baru, dia juga bisa mendapatkan istri.
“Sudah berapa lama jadi asisten dosen Pak Dekan?” Guntur mengawali pembicaraan setelah Kirana duduk di sofa menemaninya.
“Sekitar satu tahun, Pak. Dari saya semester lima,” jawab Kirana.
Guntur terkejut mendengar jawaban gadis itu. “Kamu masih kuliah?”
Kirana mengangguk. “Iya, Pak. Saya sedang skripsi sekarang.”
Guntur bertepuk tangan. Merasa kagum dengan gadis yang baru saja dikenalnya itu. “Kamu pasti sangat cerdas sampai Pak Dekan menjadikanmu asistennya. Saya dengar beliau cukup selektif memilih orang yang bekerja dengannya. Malah katanya ada lulusan S2 dari kampus ternama ditolak karena tidak sesuai dengan standarnya.”
Gadis berhijab itu tersenyum. “Alhamdulillah sejauh ini Pak Sena tidak pernah komplain dengan kinerja saya.”
“Bisa dong kalau saya sedang ada acara, kamu menggantikan saya mengajar?” pancing Guntur.
“Kalau soal itu saya harus minta izin dulu pada Pak Sena. Karena kesibukan beliau, sekarang saya yang lebih sering masuk ke kelas. Selain itu saya juga masih mengerjakan skripsi,” ujar Kirana.
Guntur menyengguk. Mengerti dengan alasan yang dikemukakan oleh Kirana. “Ngomong-ngomong skripsinya sudah bab berapa?”
“Alhamdulillah sedang mengerjakan bab III, Pak,” jawab gadis berhijab itu.
“Semoga lancar ya sampai selesai sidang. Kalau ada kesulitan, jangan sungkan tanya sama saya. Insya Allah saya siap bantu,” lontar Guntur.
“Aamiin. Terima kasih atas tawarannya, Pak.” Kirana kemudian membuka gawai karena ada pesan yang masuk. Setelah membaca dan membalas pesan, dia beralih pada Guntur. “Pak Sena sedang dalam perjalanan ke sini, Pak.”
“Terima kasih informasinya, Kirana. Berapa menit dari kantor pusat ke sini?” tanya Guntur kemudian.
“Kalau lancar sekitar sepuluh menit, Pak. Kalau sedang padat kendaraan ya lebih,” jelas Kirana.
“Wah, waktu kita ngobrol tinggal sedikit dong kalau begitu,” celetuk Guntur yang membuat Kirana tertawa kecil.
“Kirana, apa saya boleh minta nomormu?” Guntur memandang Kirana dengan tatapan memohon. “Jangan berpikiran negatif. Siapa tahu suatu saat saya butuh bantuanmu atau sebaliknya. Lagian ‘kan bisa dibilang kita ini teman sejawat,” imbuhnya.
Kirana yang awalnya sempat ragu akhirnya memberikan nomor ponselnya karena dosen muda itu terlihat baik dan tidak genit. Guntur tentu saja merasa senang karena kesempatannya untuk mendekati gadis itu jadi lebih terbuka. Kalaupun mereka tidak bertemu di kampus, dia bisa berkirim pesan dengan Kirana.
“Setelah lulus, apa kamu mau langsung meneruskan S2 biar bisa jadi dosen?” Guntur masih menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan akademis.
“Kalau mendapat beasiswa mungkin akan langsung S2, Pak. Yang jelas saya cari pekerjaan tetap dulu. Belum tentu Pak Sena mempekerjakan saya lagi setelah saya lulus,” sahut Kirana.
“Ada loh pekerjaan tetap yang bisa saya berikan. Apa kamu berminat?” cetus Guntur sambil tersenyum lebar.
Mata Kirana langsung berbinar-binar. “Kalau cocok saya mau, Pak, tapi apa dulu pekerjaannya?” Gadis itu tampak sangat antusias.
“Menjadi istri dan ibu dari anak-anak saya,” kata Guntur seraya memandang Kirana intens agar tahu bagaimana reaksi gadis itu.
Tanpa diduga, Kirana justru tertawa. Dia menganggap Guntur sedang bercanda. “Pak Guntur, bisa saja. Menjadi istri dan ibu itu sudah menjadi kodrat seorang wanita bukan sebuah pekerjaan, Pak,” ucapnya di sela tawa.
“Iya, benar. Tapi ‘kan istri itu kalau di rumah tetap bekerja. Selain mengurus rumah juga merawat dan mendidik anak-anak. Kebanyakan mereka tidak diberi uang pribadi oleh suaminya. Kalau kamu jadi istriku nanti, aku akan memberi uang pribadi di luar uang untuk keperluan rumah tangga,” jelas Guntur.
“Apa kamu akan jadi istrinya, Na?” Tanpa Kirana dan Guntur sadari, Sena sudah ada di depan pintu ruangannya yang sejak tadi terbuka lebar.