Sena kembali ke kamar setengah jam kemudian setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dia merasa aneh saat masuk ke sana. Seperti ada yang beda dari sebelumnya tapi tidak tahu apa. Sesudah memindai sekeliling kamar, pria itu baru menyadari kalau sofa yang tadi ditiduri Kirana sudah tidak ada di tempatnya.
Sena menggeleng sambil tertawa kecil. Laras benar-benar menyingkirkan sofa itu. Dia pikir bundanya akan memindahkannya besok pagi karena sudah malam, tapi ternyata saat itu juga. Memang wanita paruh baya itu tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Sena kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu menjalankan salat Isya sebelum merebahkan diri di samping Kirana. Awalnya pria itu berbaring telentang, tapi kemudian memiringkan badan menghadap istrinya. Sena memandang Kirana yang tampak tenang dan tidak bergerak.
“Na, kenapa kita harus terjebak dalam pernikahan ini? Andai saja kemarin aku tidak mengajakmu ke lokasi KKN, pasti kita tidak akan menikah. Bukannya marah, Ayah sama Bunda malah bahagia melihat kita menikah. Apalagi tadi Bunda bilang ingin segera menimang cucu.” Sena mendesah.
“Aku tidak tahu di mana ujung pernikahan kita ini, Na. Apakah kita akan bercerai atau tetap melanjutkan pernikahan paksa dan tanpa cinta ini? Aku tidak tahu apakah bisa membuka hati dan menerimamu. Bukan aku masih cinta sama Ratih, tapi aku tidak mau dikhianati lagi,” sambung Sena.
“Apa kamu tahu, Na? Dikhianati sama orang yang kita cintai itu rasanya sakit sekali. Sulit untukku bisa percaya sama wanita lagi. Dulu aku sangat percaya sama Ratih sampai aku menutup telinga dengan gosip-gosip yang beredar kalau dia pacaran dengan rekannya sesama model,” lanjut Sena.
“Aku sangat sakit dan kecewa waktu memergoki dia sedang bermesraan dengan pria lain di apartemennya. Sejak saat itu aku memutuskan tidak mau jatuh cinta dan percaya pada wanita lagi. Aku hanya percaya sama bundaku karena beliau sangat baik dan setia. Maaf karena kamu harus terjebak denganku yang tidak bisa mencintaimu, Na. Kamu gadis yang baik. Semoga suatu hari kamu akan menemukan pria yang bisa mencintaimu dengan tulus. Saat itu aku akan melepaskanmu untuk bahagia,” pungkasnya.
Sena merasa lega setelah mengeluarkan isi hatinya walau bisa dipastikan Kirana tidak mendengarnya. Pria itu memadamkan lampu tidur, lalu memejamkan mata.
***
Kirana terbangun saat mendengar alarm gawainya berbunyi. Dia mencari gawai di samping bantal tapi tidak ada. Sesaat gadis itu sadar, dia tidak lagi tidur di sofa tapi di atas tempat tidur. Tidak mungkin ‘kan Sena yang memindahkan dia? Tapi masa dia jalan sendiri dari sofa ke tempat tidur? Dia bukan orang yang punya gangguan tidur berjalan.
“Matikan alarmnya! Berisik sekali!” Suara Sena yang serak tiba-tiba terdengar.
Karena sibuk memikirkan kenapa dia bisa pindah tidur, Kirana sampai lupa mematikan alarm. Tangannya lalu terulur ke nakas di mana asal suara alarm terdengar. Gegas dia ambil gawai lalu mematikan alarm. Gadis itu hendak bangun untuk menjalankan salat Tahajud seperti biasa. Namun, perutnya terasa berat seperti ada yang menindih. Rupanya tangan kiri Sena ada di atas perutnya.
Perlahan-lahan gadis itu mengangkat dan memindahkan tangan Sena. Walaupun hanya tangan, rasanya berat karena perawakan Sena yang tinggi dan badannya jauh lebih besar dari Kirana yang mungil dan kurus. Dia menghela napas lega setelahnya. Kenapa bisa tangan Sena ada di atas perutnya? Pasti pria itu tidak sengaja dan menganggapnya guling ‘kan?
Setelah Tahajud, Kirana membaca Al-Qur’an sambil menunggu waktu Subuh. Begitu azan berkumandang, gadis itu membangunkan Sena. Pagi itu, untuk pertama kalinya Sena menjadi imam salat Kirana karena tidak pergi ke masjid. Sena memang jarang salat di masjid kecuali sedang di luar atau saat salat Jumat. Namun, dia tidak pernah meninggalkan lima waktunya.
Usai salat, Kirana mengulurkan tangan kanan pada Sena. Pria itu mulanya mengernyit tapi kemudian juga mengulurkan tangan kanannya. Kirana meraih tangan suaminya, menyalami lalu mencium punggung tangan tersebut. Sontak Sena pun terkejut. Dia tidak menduga Kirana akan melakukan hal tersebut. Apa gadis itu benar-benar menganggapnya sebagai imam dalam hidupnya?
Entah dorongan dari mana, tiba-tiba Sena mencium kening Kirana. Membuat gadis itu terkejut dan jantungnya berdebar, tapi di saat bersamaan juga tersipu malu. Untuk pertama kalinya, dia dicium oleh pria selain bapaknya.
Sena langsung salah tingkah begitu sadar dengan apa yang dilakukannya. Gegas dia berzikir dan berdoa agar debaran di jantungnya kembali normal.
“Pak Sena, mau minum kopi sekarang atau nanti?” tanya Kirana setelah mereka membereskan peralatan salat.
“Antar saja ke ruang kerjaku. Aku mau mengecek laporanku lagi dan melihat jadwalku hari ini,” jawab Sena.
“Baik, Pak. Saya ke dapur dulu,” pamit Kirana. Gadis itu ke luar dari kamar tanpa menunggu tanggapan dari Sena. Dia masih merasa canggung karena ciuman di kening tadi.
Kirana menyapa Mbok Jum dan Laras yang sudah sibuk di dapur. Dia membuatkan kopi untuk Sena lalu mengantarkannya ke ruang kerja.
“Na, hari ini kamu ke kampus atau tidak?” tanya Sena setelah Kirana meletakkan kopinya di meja.
“Saya belum ada jadwal bimbingan lagi, Pak. Apa Pak Sena ingin saya yang masuk kelas?” tanya Kirana setelah menjawab pertanyaan dosennya itu.
“Iya, kamu yang masuk kelas. Hari ini aku akan ke kantor pusat. Ada rapat dengan rektor dan dekan lain. Setelah ngajar, kamu jangan pulang dulu. Tunggu di ruanganku atau di perpustakaan. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu,” ujar Sena.
Kirana mengangguk. “Baik, Pak.”
“Ingatkan aku kalau sudah setengah tujuh,” pesan Sena sebelum Kirana meninggalkan ruang kerjanya.
“Baik, Pak.” Kirana ke luar lalu pergi ke dapur lagi untuk membantu menyiapkan sarapan.
Pukul 7.00 pagi, semua berkumpul di meja makan untuk sarapan. Kirana melayani suaminya dengan mengambilkan piring dan juga nasi. Setelah itu dia baru mengambil untuk dirinya sendiri.
“Kiran, kamu berangkatnya bareng sama Sena ‘kan?” tanya Laras sambil memandang menantunya.
“Sepertinya tidak, Bun. Pak Sena ada rapat di kantor pusat,” jawab Kirana yang tidak menyadari kesalahannya.
“Kok manggil Sena masih pak sih. Ini di rumah loh, kamu harusnya manggil mas. Harus dibiasakan ya!” tegur Laras.
“Iya, Bun. Maaf.” Kirana jadi merasa bersalah dan tak enak hati karena sudah membuat kecewa mertuanya yang sangat baik hati itu.
“Kami ‘kan masih adaptasi, Bun. Wajarlah masih lupa. Nanti lama-lama Kirana juga akan terbiasa.” Tanpa diduga Sena membela Kirana. Membuat Laras diam-diam tersenyum.
“Bunda ‘kan hanya mengingatkan biar Kiran tidak lupa dan jadi biasa manggil kamu mas. Oh ya, nanti kamu bisa ‘kan antar Kiran dulu ke kampus baru ke kantor pusat?” Laras memandang putra semata wayangnya.
“Bisa sih, tapi mepet waktunya,” timpal Sena setelah melihat jam di pergelangan tangannya.
“Saya naik ojol saja, Pak, eh Mas. Lagian jadwal kuliahnya jam 9.00,” lontar Kirana.
“Kiran, bunda tidak mengizinkan kamu naik ojol. Kamu bareng sama Sena saja, tidak apa-apa waktunya mepet. Orang Indonesia kebanyakan tidak tepat waktu, sekali-sekali Sena telat sedikit juga tidak apa-apa.” Saat Laras sudah bertitah, tidak ada yang bisa menolaknya.
“Iya, nanti aku antar Kirana dulu, Bun,” timpal Sena. Dia lalu beralih pada istrinya. “Setelah ini kamu siap-siap, kita langsung berangkat!”
Kirana mengangguk. “Iya, Mas.” Gadis itu gegas menghabiskan makanannya. Untung saja dia hanya mengambil sedikit nasi, sayur, dan lauk, jadi bisa cepat habis.
Kirana langsung melesat ke kamar setelah makan. Dalam waktu sepuluh menit, gadis itu sudah siap. Dia memang tidak menggunakan banyak riasan. Hanya pelembab, bedak, dan lipstik agar wajahnya tidak terlihat berminyak dan pucat.
Sesudah keduanya siap, mereka pamit pada Hadi dan Laras sebelum pergi. Bekerja dengan doa restu orang tua pastinya akan membawa keberkahan dan kelancaran.
“Kalau Pak Sena buru-buru, saya turun di depan kompleks saja. Nanti ke kampusnya, saya order ojol dari sana,” pinta Kirana setelah mereka meninggalkan rumah.
“Kamu mau aku dipecat jadi anak Bunda?” tanya Sena dengan sengit.