Bab 5. Tidur di Sofa

1176 Words
Sena akhirnya mengajak Kirana pergi ke kediaman orang tuanya bakda Magrib. Mereka pulang terlebih dahulu karena Sena ingin segera meneruskan pekerjaannya yang tertunda. Bukannya tidak betah di rumah Utami, tapi dia tidak bisa fokus bekerja karena banyak orang di sana. Tiba di rumah, Sena disambut oleh Mbok Jum, asisten rumah tangganya. Dia mengenalkan Kirana pada Mbok Jum sebelum masuk ke kamar. Sekaligus meminta secangkir kopi diantar ke ruang kerjanya. “Ini kamarku. Letakkan baju-bajumu di lemari! Jangan sampai pas Bunda pulang bajumu masih di luar! Aku mau ke ruang kerja di samping kamar,” ucap Sena setelah mengajak Kirana masuk ke kamar. “Baik, Pak.” Setelah Kirana menimpali, Sena gegas meninggalkan kamarnya. Kirana terpana melihat kamar Sena. Mungkin luasnya tiga atau empat kali lipat dari kamarnya yang sempit. Tempat tidurnya juga berukuran besar. Jauh lebih bagus dan lebih mahal dari miliknya. Dinding kamar itu dua sisi berwarna putih dan dua sisi lainnya hitam. Interior di dalamnya simpel dengan didominasi warna hitam. Tak ada meja rias di sana hanya cermin setinggi Sena yang terletak di samping lemari kaca yang berisi beberapa jam tangan, dan kacamata. Terdapat sofa panjang berwarna hitam di samping jendela kaca yang besar. Setelah puas mengagumi kamar suaminya, Kirana membuka lemari. Dia mencari tempat kosong untuk menyimpan bajunya. Ternyata masih ada dua rak yang kosong, jadi gadis itu meletakkan bajunya di sana. Untung saja Kirana tak membawa banyak, hanya beberapa setel baju dan hijab untuk ke kampus dan di rumah. Tak butuh waktu lama, dia pun selesai menata bajunya. Kirana ingin mandi karena badannya sudah terasa tak nyaman. Dia mencari handuk bersih di lemari, mengambil baju ganti lalu masuk ke kamar mandi. Lagi-lagi gadis itu merasa takjub saat melihat kamar mandi Sena. Bahkan luasnya lebih besar dari kamarnya. Di sana tak ada bak mandi seperti di rumahnya yang digunakan untuk menampung air ataupun gayung untuk mengambil air. Adanya bathtub atau bak mandi untuk berendam, yang kerannya bisa diatur untuk mengeluarkan air panas atau dingin. Karena tidak terbiasa berendam, akhirnya Kirana mandi dengan shower. Awalnya dia bingung bagaimana menggunakannya. Namun, setelah beberapa kali mencoba, akhirnya dia bisa menyalakan dan mengatur airnya jadi hangat. Begini rasanya jadi orang kaya, tak perlu memanaskan air kalau ingin mandi dengan air hangat cukup mengatur dengan keran. Kirana ke luar dari kamar setelah mandi dan menjalankan salat Isya. Di depan kamar, gadis itu bingung mau ke mana dan melakukan apa. Akhirnya dia memutuskan mengetuk pintu ruang kerja suaminya. Setelah Sena mengizikan masuk, Kirana baru berani membuka pintu. Sena sontak mendongak setelah mendengar pintu dibuka. “Ada apa, Na?” tanyanya dengan ekspresi datar. Wajahnya menunjukkan kalau sedang tak ingin diganggu. “Apa Pak Sena butuh bantuan? Saya bingung mau ngapain, Pak,” jawab Kirana. “Kamu keluar dari ruangan ini sudah cukup membantu, Na. Aku harus segera menyelesaikan laporan. Tolong jangan menggangguku!” Ucapan Sena begitu pedas terdengar di telinga siapa pun yang mendengar. Begitu juga di indra pendengaran Kirana. Kalau tak ingat pesan ibunya, dia pasti sudah meninggalkan pria yang begitu ketus dan dingin itu. “Kamu bisa ke bawah nonton TV atau ngobrol dengan Mbok Jum. Mau tidur pun tidak apa-apa. Lakukan saja apa yang kamu mau!” imbuh Sena. Kirana mengangguk pelan. “Baik, Pak. Maaf sudah mengganggu.” Gadis itu pun membalikkan badan. Sebelum dia sempat membuka pintu Sena kembali berbicara. “Tolong bilang Mbok Jum, buatkan kopi lagi untukku!” “Baik, Pak,” sahut Kirana tanpa menghadap ke arah Sena lagi. Dia gegas membuka pintu dan ke luar dari sana. Gadis itu mengelus d**a sambil mengucap istigfar berulang kali saat berjalan ke dapur. Semoga saja Allah terus memberinya kesabaran menghadapi sikap suaminya, begitu doanya dalam hati. “Mbok, tolong ajari saya membuat kopi untuk Pak Sena,” pinta Kirana pada Mbok Jum setelah tiba di dapur. Siapa tahu proses pembuatannya tidak sama seperti yang biasa dia buat. “Tadi Pak Sena minta kopi sebelum saya turun,” imbuhnya. Mbok Jum mengangguk. “Mudah kok. Mas Sena tidak pernah minta macam-macam cuma kopi hitam tanpa gula.” Wanita paruh baya itu kemudian memberi tahu takaran kopi dan juga airnya. Kirana pun langsung mempraktikkannya. “Makasih udah diajarin ya, Mbok. Ini saya bawa dulu ke ruang kerja Pak Sena,” ucap Kirana sambil membawa nampan yang berisi secangkir kopi panas. “Sama-sama, Mbak. Sebelumnya saya minta maaf kalau lancang, kenapa Mbak Kirana panggilnya pak bukan mas sama Mas Sena?” Mbok Jum merasa penasaran. “Oh itu karena saya belum terbiasa, Mbok, jadi masih suka lupa.” Gadis itu beralasan. Mbok Jum pun mengerti dengan alasan yang Kirana katakan. “Ya, Mbak. Kalau sudah kebiasaan memang susah diubah, tapi harus diusahakan agar terbiasa,” ujarnya. “Iya, Mbok. Makasih sudah diingatkan. Saya antar kopi dulu ya biar tidak keburu dingin.” Tanpa menunggu tanggapan dari sang asisten rumah tangga, gadis itu beranjak ke ruang kerja Sena. Kirana mengetuk pintu begitu tiba di depan ruang kerja suaminya. Setelah ada perintah untuk masuk, gadis itu baru membuka pintu. Dengan langkah tenang dia membawa kopi tersebut dan meletakkannya di atas meja. “Ini kopinya, Pak. Masih panas,” ucapnya. “Terima kasih. Kenapa kamu yang antar kopi bukan Mbok Jum?” Sena mengernyit pada istrinya. “Biar saya ada kegiatan di sini, Pak,” jawab Kirana. “Terserah kalau itu maumu. Yang penting kopinya tetap enak.” Entah apa maksud ucapan Sena yang terdengar tidak sinkron di indra pendengaran Kirana. Namun, gadis itu tidak mau ambil pusing. Dia segera ke luar lalu kembali ke dapur sambil membawa cangkir yang kotor. Waktu sudah menunjukkan pukul 9.00 malam, tapi Laras dan Hadi masih belum pulang. Kirana akhirnya memutuskan masuk ke kamar karena sudah mengantuk. Dia tidak berani bertanya pada Sena apakah sudah mau tidur apa belum. Lebih baik menjaga hati agar tidak menerima ucapan pedas dari suaminya. Setelah membersihkan diri, Kirana bingung mau tidur di mana. Kalau tidur di kasur, pasti Sena akan tidur di sampingnya. Akhirnya gadis itu memutuskan tidur di sofa panjang yang ada di kamar tersebut. Dia sadar diri bukan pemilik kamar, jadi lebih baik mengalah tidur di sofa. Lagian sofanya juga empuk dan ada bantalnya di sana. Karena sudah sangat mengantuk, Kirana langsung merebahkan diri di sofa. Membaca doa kemudian memejamkan mata. Tak lama setelah itu, dia sudah terlelap. Begitu Laras pulang, dia bertanya pada Mbok Jum di mana Kirana dan Sena. Asisten rumah tangga itu menjawab kalau Kirana sudah tidur, sedangkan Sena masih di ruang kerja. Laras lalu masuk ke kamar putranya untuk mengecek Kirana. Siapa tahu menantunya itu belum tidur, jadi dia bisa mengobrol terlebih dahulu. Namun, betapa terkejutnya Laras saat melihat menantunya tidur di sofa, tidak di atas tempat tidur. Wanita paruh baya itu kemudian masuk ke ruang kerja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. “Aku sudah bilang jangan ganggu! Kenapa kamu susah dibilangin sih, Na!” kata Sena tanpa melihat siapa yang masuk ke ruangan tersebut. Pandangannya fokus ke layar laptop dan tangannya sibuk menekan tuts keyboard. “Sena, jadi begitu sikapmu sama istrimu? Kamu bahkan menyuruh dia tidur di sofa?” cecar Laras sambil menjewer telinga putra semata wayangnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD