Bab 4. Ajak Pulang Istrimu!

1288 Words
Kirana nyaris tidak bisa tidur karena gelisah. Bagaimana tidak gelisah, untuk pertama kalinya dia tidur dengan pria setelah beranjak dewasa. Bahkan dengan adik kandungnya saja tidak pernah. Kirana terpaksa tidur di kasur yang sama dengan Sena karena pria itu melarangnya tidur di luar. Kirana akhirnya berbaring membelakangi Sena agar sang dosen tidak berpikiran macam-macam lagi padanya. Berbeda dengan Kirana, Sena tetap bisa tidur karena badannya teramat lelah. Bahkan dengkuran halusnya terdengar oleh Kirana. Meskipun awalnya Sena juga gelisah, tapi rasa kantuk dan lelah lebih menguasai dirinya. Kirana membangunkan Sena saat azan Subuh berkumandang. Pria itu terkejut saat membuka mata karena bukan wajah bundanya yang dia lihat, tapi mahasiswinya. Untung saja, otak cerdas Sena langsung mengingat kalau kemarin mereka dipaksa menikah dan status mereka sekarang suami istri. “Pak Sena, mau salat di rumah atau di masjid?” tanya Kirana setelah Sena bangun. “Kenapa memangnya?” Sena mengernyit sambil memandang Kirana. “Kalau mau ke masjid bisa bareng sama adik saya Dimas, Pak,” jawab Kirana. “Ya sudah, aku salat di masjid saja,” putus Sena usai melihat kondisi kamar Kirana yang sempit. Dia pun ke luar kamar untuk mengambil wudu. Setelah dari kamar mandi, Sena melihat Dimas sudah menunggunya. Mereka pun pergi masjid bersama. “Kiran, meskipun kamu terpaksa menikah dengan Pak Sena, kamu tetap harus menjalankan kewajibanmu sebagai istri. Layani semua kebutuhan Pak Sena seperti istri melayani suaminya. Meskipun belum ada cinta di antara kalian, ibu yakin seiring waktu rasa cinta itu akan tumbuh.” Utami menasihati Kirana saat putri sulungnya itu membantunya di dapur setelah menunaikan salat Subuh. “Iya, Bu. Tolong doakan kami,” pinta Kirana seraya memandang sang ibu. “Tanpa kamu minta pun, ibu selalu mendoakanmu dan adik-adikmu,” timpal Utami. “Terima kasih, Bu.” Mata gadis itu jadi berkaca-kaca. “Itu suamimu sudah pulang dari masjid, sana disambut. Tawarkan mau minum apa. Tapi kalau kamu sudah tahu minuman kesukaannya langsung dibuatkan saja,” titah Utami begitu tahu Sena dan Dimas masuk ke rumah. “Iya, Bu. Aku tinggal sebentar.” Kirana beranjak menghampiri Sena di kamar. “Pak, mau minum teh atau kopi?” tawarnya. “Kopi hitam saja. Nanti tolong bawa ke depan ya. Aku mau ngetik laporan,” sahut Sena. Sesudah membuat kopi, Kirana membawa ke ruang depan. Sena sudah duduk di sana dengan laptop menyala di hadapannya. “Ini kopinya, Pak. Masih panas ya,” ucapnya sambil menekankan kalimat terakhir agar tidak terjadi seperti peristiwa semalam. “Ya, makasih.” Sena berkata tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. “Pak, nanti saya mau ke kampus ambil motor. Hari ini Pak Sena ada dua jadwal ngajar. Pak Sena mau mengajar sendiri atau saya yang masuk kelas?” tanya Kirana. “Kamu saja yang masuk kelas. Materinya kamu cek sendiri di silabus. Aku sedang banyak kerjaan hari ini,” jawab Sena. “Oh ya, Pak Sena mau mandi pakai air panas atau dingin?” Kirana bertanya lagi. “Dingin saja.” Sena mendongak lalu menatap Kirana. “Apa ada lagi yang mau kamu tanyakan? Aku sedang butuh konsentrasi sekarang.” Kirana menggeleng. “Tidak ada lagi, Pak.” “Bagus! Oya, Na. Ingatkan aku kalau sudah pukul setengah tujuh,” pinta Sena sebelum kembali mengetik. “Baik, Pak.” Kirana pun meninggalkan Sena. *** Kirana berangkat ke kampus bersama Sena. Sebenarnya Utami meminta mereka libur karena nanti ada acara di rumah. Namun karena Sena sedang banyak pekerjaan, jadi Kirana yang menggantikan Sena mengajar. Kirana akan pulang setelah mengajar, sedangkan Sena janji pulang sebelum Asar. Kebetulan Kirana tidak ada jadwal bimbingan skripsi, jadi ke kampus hanya untuk mengajar dan mengambil motor yang kemarin dia tinggal karena mengikuti Sena kunjungan ke lokasi KKN. Kirana terkejut saat tiba di rumah sudah ada tenda putih di depan rumahnya, lengkap dengan rumbai-rumbai di setiap sisinya. Tadi dia melihat mobil katering di depan gang, apa mungkin ibunya memesan katering? Rasanya tidak mungkin. Setelah memarkirkan motor, dia masuk ke rumah. Lagi-lagi gadis itu terkejut. Ruang depan sudah dihias sedemikian rupa sehingga tampak mewah. Di sana juga ada Hadi dan Laras yang sedang berbicara dengan Utami dan Karno. Kirana lalu menyalami ke empat orang itu dengan penuh takzim. “Kirana, kamu pulang sendiri? Sena mana?” tanya Laras pada menantunya. “Iya, Bu. Pak Sena masih sibuk waktu saya pamit. Tadi katanya mau pulang jam 2.00,” jawab Kirana. “Kamu ini loh sama suami kok manggilnya masih pak, ganti jadi mas dong. Kalau di kampus tidak apa-apa manggil pak, kalau di rumah jangan ya,” tegur Laras. “Oh ya panggilnya bunda saja seperti Sena jangan bu,” titahnya. “Iya, Bu eh Bun. Maaf, saya belum terbiasa,” kata Kirana sambil menunduk. Laras tersenyum lalu memegang bahu Kirana. “Makanya mulai dibiasakan ya.” Kirana pun mengangguk. “Iya, Bun.” Tanpa diduga, Laras sudah menyiapkan segalanya untuk acara sore itu. Uang memang membuat segalanya mudah dan cepat. Dalam hitungan jam dia bisa menyewa tenda dan memesan katering, padahal harusnya dilakukan beberapa hari sebelumnya. Wanita paruh baya itu bahkan menyewa jasa make up artist untuk merias Kirana. Dia ingin menantunya tampak cantik hari itu meskipun acaranya hanya sederhana. Sena terpaksa pulang lebih cepat karena Laras terus menghubungi dan memintanya segera pulang ke rumah Kirana. Dia yang punya acara, jadi seharusnya sudah ada sebelum acara dimulai. Begitu alasan yang dikatakan oleh Laras. Karena tak ingin terus mendapat teror, Sena pun memutuskan pulang. Nanti malam dia akan lembur menyelesaikan laporan yang diminta oleh rektor. Sena terkejut melihat penampilan Kirana yang sangat berbeda dari biasanya. Gadis itu tampak semakin cantik dan anggun dengan riasan natural dalam balutan gamis warna putih yang dihiasi payet dan mutiara. Di atas kepala yang tertutup hijab putih ada mahkota kecil. Membuat Sena terpukau. Pria itu bahkan sampai beberapa kali menelan salivanya. “Sena, istrimu cantik ‘kan? Makanya diperlakukan dengan baik biar tidak diambil orang. Pria yang normal pasti akan tertarik kalau melihatnya.” Laras mengompori putra tunggalnya. “Cantik dari mana? Biasa saja!” sangkal Sena yang bertentangan dengan isi hatinya. Dia gengsi mengakui kekagumannya karena tidak mau membuat Kirana besar kepala. “Mata anak kita sepertinya tidak normal, Yah. Masa Sena bilang Kirana biasa saja. Padahal menantu kita sangat cantik.” Laras mengadu pada suaminya. “Dia itu gengsi saja, Bun. Biarkan sajalah! Nanti lama-lama juga bakal mengakui,” timpal Hadi. Sebelum acara dimulai, Sena diminta mengenakan jas. Dia dan Kirana akan duduk di pelaminan agar semua yang datang bisa melihat keduanya. Pria itu menurut saja, karena percuma juga melawan. Lebih baik mengikuti saja apa yang diinginkan orang tua agar acaranya cepat selesai dan dia bisa kembali tinggal di rumah sang ayah. Banyak sekali tamu yang datang sore itu karena penasaran dengan pria yang menjadi suami Kirana. Berita pernikahan Kirana yang mendadak memang menjadi bahan pembicaraan warga. Banyak yang menduga Kirana sudah hamil karena itu cepat-cepat dinikahkan. Namun, tak sedikit pula yang mengatakan itu sudah jalan takdir Kirana karena kalau Allah sudah menghendaki sesuatu terjadi pasti akan terjadi dan tak ada yang bisa menghalangi. Setelah acara pengajian dan syukuran selesai, Sena sudah tak sabar ingin pulang ke rumah orang tuanya. Dia tidak suka berbasa-basi dan malas bersikap ramah pada setiap orang. Selain itu ada pekerjaan yang menunggu. “Bun, apa aku boleh pulang dulu? Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan dan besok pagi harus kuserahkan sama rektor.” Sena berusaha meminta izin baik-baik pada bundanya dengan mengutarakan alasannya. Berharap Laras akan mengizinkan dia pergi. “Ajak istrimu sekalian kalau mau pulang!” titah Laras. “Kirana bisa ‘kan bareng sama Bunda dan Ayah? Lama nanti kalau nungguin dia siap-siap, Bun.” Sena coba membujuk sang bunda. Namun, Laras menggeleng. “Bunda tidak mau tahu, kamu harus pulang bersama istrimu! Atau kamu pilih tinggal di sini dan tidak pulang,” tegasnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD