Bab 3. Tidur Sekamar

1384 Words
Sena terkesiap mendengar pertanyaan Kirana yang terkesan menuduhnya sebagai penyuka sesama jenis. “Pemikiran dari mana itu? Aku pria normal, Na. Kalau kamu mau bukti aku normal atau tidak, ayo kita cari hotel! Apa jangan-jangan itu trikmu biar aku memberi nafkah batin sebagai suami?” sergahnya. Kirana yang awalnya penasaran jadi kalang kabut karena ditantang Sena. “Bukan, Pak. Demi Allah, saya tidak ada niat seperti itu. Saya hanya penasaran kenapa Pak Sena tidak ingin nikah. Dari yang saya tahu biasanya para penyuka sesama jenis itu lebih suka melajang daripada menikahi wanita,” jelasnya. Berharap Sena tidak salah paham lagi. Sena tersenyum sinis. “Kamu ini cerdas, Na, karena itu aku jadikan asisten dosen. Tapi kenapa perkara tidak mau menikah langsung dikaitkan dengan penyuka sesama jenis. Teori dari mana itu?” Pria itu menggeleng berkali-kali. Tak habis pikir dengan pemikiran gadis yang baru saja dinikahinya itu. Wajah Kirana memerah karena malu. Dia sebenarnya tadi hanya asal bicara. Lupa kalau pria di sampingnya itu sangat cerdas dan berhasil membuatnya mati kutu. “Kita cari makan dulu ya. Aku lapar banget,” cetus Sena setelah mereka memasuki area kota. Dia terakhir makan di lokasi KKN bersama para mahasiswa, dan itu sudah siang tadi. Sekarang sudah sangat larut, bahkan hampir tengah malam. Wajar kalau Sena merasakan lapar apalagi setelah tadi beradu argumen dengan warga. “Tapi nanti kita pisah dari rombongan, Pak. Bagaimana kalau saya buatkan nasi goreng setelah sampai rumah?” Kirana yang merasa keberatan, coba untuk bernegosiasi. “Aku laparnya sekarang, Na. Kelamaan nanti kalau kamu mesti masak dulu,” tolak Sena. Mereka baru menempuh setengah perjalanan, kalau harus menunggu lebih lama perutnya akan semakin sakit. Sena pun memutuskan menghubungi bundanya. Memberi tahu kalau dia mau cari makan terlebih dahulu. Tanpa diduga, Laras dan yang lainnya juga merasa lapar. Akhirnya rombongan tiga mobil itu pun berhenti di salah satu warung bakmi Jawa yang masih buka. Mereka memilih menyantap mi godok yang sangat cocok dinikmati saat cuaca dingin, apalagi setelah hujan. Setelah makan, mereka kembali meneruskan perjalanan. Sekitar setengah jam kemudian, sampailah mereka di depan rumah Utami. Rumah sederhana yang ada di pinggiran kota. Meskipun tingkat ekonomi keluarga Kirana jauh dari mereka, Hadi dan Laras tidak mempermasalahkan hal itu. Yang mereka lihat Kirana adalah gadis yang baik dan sopan, serta berasal dari keluarga baik-baik. Itu yang paling penting. Karno, Utami, Kirana, Sena, Hadi, dan Laras pergi ke rumah Pak RT walaupun sudah lewat tengah malam. Mereka memberi tahu Pak RT bahwa Kirana dan Sena sudah menikah secara agama. Jadi, kalau Sena menginap di rumah Bu Utami tidak akan menimbulkan fitnah. Sore nanti mereka akan mengadakan pengajian dan syukuran dengan mengundang para tetangga. Sekaligus memperkenalkan Sena sebagai suami Kirana. Pengantin baru dadakan itu hanya bisa diam dan pasrah dengan keputusan para orang tua. Setelah dari rumah Pak RT, Hadi dan Laras langsung pamit pulang. Mereka berjanji akan datang sebelum acara pengajian dengan membawa bingkisan untuk dibagikan pada para tetangga. Malam itu, Sena tidak diizinkan pulang oleh Hadi. Dia harus menginap di rumah istrinya. Setelah acara pengajian, Sena dan Kirana baru boleh pulang ke rumah Hadi. Sena memasuki rumah sederhana Utami. Rumah yang baru diplester bagian depan dan dalamnya itu mempunyai tiga kamar dengan berlantaikan semen yang diaci. Di ruang tamu yang juga dijadikan ruang keluarga itu ada sebuah televisi tabung. Di ruangan berikutnya ada ruang makan, dapur, dan satu kamar mandi di belakang. Dara—adik bungsu Kirana—yang biasanya tidur dengan sang kakak, malam ini harus tidur di kamar ibunya karena Kirana akan sekamar dengan Sena. “Maaf kalau Pak Sena tidak nyaman di sini,” ucap Kirana setelah mengajak suaminya masuk ke kamar yang hanya berukuran 2x3 meter dengan kasur tipis di atas lantai yang beralaskan tikar. “Tidak apa-apa. Di mana aku taruh tas ini?” Sena mengangkat tas ransel yang berisi laptop dan tas jinjing yang berisi pakaiannya. Kirana melihat sekeliling kamar di mana tempat yang sekiranya kosong. “Di sini saja, Pak.” Dia menunjuk ke meja pendek yang ada di samping kasur. “Pak Sena, mau mandi?” tanya Kirana setelah Sena meletakkan kedua tasnya di samping meja. “Kenapa memangnya? Mau ngajak aku mandi bersama?” tanya Sena dengan ekspresi datar. Kirana menggeleng. “Bukan begitu, Pak. Saya panaskan air dulu kalau Pak Sena mau mandi. Di sini soalnya tidak punya pemanas,” jelasnya. “Kelamaan, Na. Aku mandi air dingin saja.” Sena kemudian membuka tas jinjing yang selalu ada di mobilnya. Tas yang berisi beberapa potong pakaian dan perlengkapan mandi. Tas darurat kalau tiba-tiba dia harus menginap di luar rencana, seperti malam ini contohnya. Sena masuk ke kamar dalam keadaan menggigil. Dia langsung meringkuk di atas kasur tipis. Pria itu tidak biasa mandi dini hari dengan air dingin, jadi wajar kalau merasa kedinginan. “Pak, bisa tolong dilepas sebentar kaosnya?” pinta Kirana yang duduk di ujung kasur. Sena sontak memandang Kirana dengan tatapan curiga. “Kenapa? Kamu mau lihat perutku kotak-kotak apa enggak?” “Astaghfirullah, Pak. Kenapa dari tadi Pak Sena nethink terus sama saya. Padahal saya cuma mau ngolesin minyak kayu putih biar Pak Sena tidak kedinginan. Ya sudah kalau tidak mau, saya bikinin teh panas saja.” Kirana yang merasa kesal bangkit dari duduk. Saat akan beranjak, tangannya ditahan oleh Sena. “Maaf, Na. Tolong olesi punggungku.” Sena akhirnya duduk membelakangi Kirana lalu membuka kaos. Tampak punggung yang tegap, berotot, dan pelukable. Membuat Kirana sampai menelan saliva karena mengagumi keindahan makhluk di depan matanya. “Na, katanya mau ngolesin punggungku pakai minyak kayu putih. Mana buktinya? Makin kedinginan ini aku ga pake baju. Jangan-jangan kamu malah terpesona melihat punggungku ya,” celetuk Sena. “Tuh ‘kan, Pak Sena nethink lagi sama saya. Ini botol minyaknya baru, Pak, jadi agak susah dibuka.” Kirana beralasan. Gadis itu lalu mengoleskan minyak kayu putih ke seluruh punggung Sena. Untuk pertama kalinya Kirana menyentuh pria selain adik dan bapaknya. Seharusnya tidak masalah ‘kan karena Sena sudah menjadi suaminya dan mereka halal saling bersentuhan. “Sudah selesai. Silakan dipakai lagi kaosnya, Pak. Itu ada selimut kalau masih kedinginan. Saya buatkan teh panas dulu biar badan Pak Sena jadi hangat.” Kirana meletakkan botol minyak kayu putih di atas meja dan mengambil baju ganti sebelum beranjak ke dapur. Kirana memanaskan air di atas kompor. Sambil menunggu mendidih, dia ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena sudah terbiasa mandi dengan air dingin, gadis itu tidak merasa kedinginan. Tepat saat Kirana ke luar dari kamar mandi, airnya mendidih. Gadis itu mematikan kompor lalu mengambil cangkir. Memasukkan teh celup, dan gula pasir, lalu menuangkan air panas ke dalam cangkir. Dia kemudian mengaduk dengan sendok sampai gulanya larut. Setelah itu membawanya ke kamar. Kirana terkejut saat melihat Sena duduk dengan selimut menutupi punggung. Pria itu tampak asyik dengan gawainya. Entah dengan siapa berkirim pesan? Tidak mungkin dengan Mbak Kunti ‘kan? “Ini tehnya, Pak. Silakan diminum, tapi pelan-pelan karena masih panas.” Kirana meletakkan cangkir berisi teh panas di atas meja. Setelah itu duduk di ujung kasur. Sena mendongak. kemudian meletakkan gawainya. Dia mendekat ke meja lalu mengangkat cangkir itu dan langsung menyesapnya. “Kirana, kamu mau buat mulut dan lidahku kebakar!” seru Sena begitu sensasi panas masuk ke mulutnya. Lidah jadi kebas dan tenggorokannya panas. “Tadi saya ‘kan sudah bilang pelan-pelan karena masih panas, Pak. Bukannya minum pakai sendok, Pak Sena malah langsung dari cangkir. Pak Sena yang minum kok saya yang disalahkan. Coba tadi disendok terus diminum pasti enggak akan kepanasan, Pak,” sergah Kirana yang tidak terima disalahkan karena dia memang tidak salah. “Kalau sudah habis tehnya, tidak udah dibawa ke dapur cangkirnya, Pak. Saya sudah ngantuk, mau tidur.” Kirana kemudian bangkit. “Mau ke mana kamu?” Sena menatap mahasiswinya itu. “Saya ‘kan tadi sudah bilang mau tidur, Pak. Apa saya kurang jelas ngomongnya?” sahut Kirana. “Memangnya kamu mau tidur di mana?” tanya Sena. “Di depan TV, Pak,” jawab Kirana. Sena menggeleng. “Kamu tidak boleh tidur di luar. Nanti ketahuan kalau pernikahan ini hanya sandiwara!" katanya. "Saya tidak berani tidur sekamar dengan pria!" jawab Kirana. Sena menatap wajah Kirana yang polos. Berada satu kamar dengan seorang gadis, membuatnya berdebar. Walaupun pernah pacaran, tak sekali pun dia sekamar dengan pacarnya. Baru kali ini. Hingga tanpa disadari muncul perasaan yang belum pernah dirasakannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD