Bab 2. Mendadak Nikah

1274 Words
Sena dan Kirana tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. Keduanya saling melirik dan memberi kode lewat mata. Seolah saling bertanya apa yang harus mereka lakukan? Menikah? Hal yang masih jauh dari angan-angan keduanya. Apalagi mereka tidak saling mencintai. Menikah bukan perkara main-main yang bisa diputuskan begitu saja. Masa hanya karena kepergok berduaan langsung disuruh menikah saat itu juga. Sama sekali tidak masuk akal. "Pak, apa tidak ada cara lainnya? Warga di sini membutuhkan apa saja? Saya akan memberikannya. Mengaspal seluruh jalan di sini pun akan saya lakukan asal tidak menikah." Sena mencoba bernegosiasi dengan Pak Kadus dan warga. Dengan kekayaan keluarganya, dia yakin bisa memenuhi kebutuhan para warga. "Kami tidak membutuhkan apa pun, Mas. Mereka ingin Mas dan Mbak bertanggung jawab atas perbuatan yang sudah kalian lakukan, yaitu dengan menikah," timpal Pak Kadus. "Tapi kami tidak melakukan apa pun, Pak. Kami hanya tidur sambil menunggu hujan reda. Iya 'kan, Na?" Sena menoleh pada gadis berhijab yang terlihat gelisah di sampingnya untuk meminta dukungan. "Be—nar, Pak. Demi Allah, kami tidak berbohong!" Kirana menjawab dengan gugup. "Tidak perlu menyebut nama Allah dengan mulut munafik kalian!" sergah seorang warga. Kirana semakin gelisah mendengar teriakan para warga yang tidak percaya pada mereka. Sena tidak tega melihat asdosnya itu. Dia harus melakukan sesuatu. "Pak, izinkan saya dan dia membicarakan soal ini terlebih dahulu," pintanya pada Pak Kadus sambil menunjuk Kirana yang ketakutan. Pria paruh baya itu mengangguk. "Kalian bisa bicara di ruang tamu," sahutnya seraya menunjuk pintu masuk rumahnya. Sena mengajak Kirana beranjak dari pendopo. Meskipun merasa risi karena diawasi oleh para warga, keduanya tetap berjalan ke ruang tamu Pak Kadus. Sena meminta Kirana duduk sebelum dia mulai bicara. "Na, kamu lihat 'kan reaksi warga tadi? Kita tidak punya solusi selain menikah. Aku pikir tidak masalah kalau kita nikah, nanti bisa cerai setelah itu. Yang penting kita bisa pulang. Toh itu hanya nikah siri, tidak tercatat. Kamu juga tidak akan dicap sebagai janda karena tidak ada orang lain yang tahu." Sena mengungkapkan pemikirannya. Kirana memandang pria dewasa yang duduk di sampingnya itu dengan tatapan heran. "Pak, ijab kabul itu perjanjian dengan Allah bukan perkara sepele meskipun hanya menikah siri. Jangan sampai kita mempermainkan hal itu, Pak!" Gadis itu memperingatkan sang dosen. Sena balas menatap tajam Kirana. "Terus maumu bagaimana? Kita beneran nikahnya? Atau kamu punya solusi lain agar kita bisa pulang?" Kirana menggeleng karena pikirannya pun buntu. Yang jelas dia tidak mau mempermainkan pernikahan. Sena menyugar rambutnya dengan resah. "Na, kita tidak punya banyak waktu. Kita harus segera membuat keputusan. Coba kamu pikirkan sebentar dalam keadaan tenang," lontarnya. "Pak, bagaimana kalau kita salat Magrib dulu. Siapa tahu kita bisa dapat petunjuk setelah salat," usul Kirana. Sena menyetujui usulan Kirana. Dia lalu bicara Pak Kadus. Meminta agar mereka diberi waktu untuk beribadah. Setelah mendapatkan izin, kedua orang itu melaksanakan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. Kirana berdoa dengan khusyuk dalam sujud panjangnya. Memohon petunjuk atas masalah yang sedang dihadapi. Sesudah mengadu pada Sang Pencipta, hatinya jadi lebih tenang. "Pak, kalau memang jalan satu-satunya kita harus menikah, saya ingin keluarga kita ada di sini." Kirana mengatakannya setelah mereka kembali duduk bersama. "Oke, kalau itu kemauanmu. Kamu hubungi keluargamu. Aku akan menghubungi keluargaku," putus Sena. "Pak, bagaimana ini? Ponsel saya tidak ada sinyal," keluh Kirana setelah mencoba menghubungi ibunya. "Punyaku juga, Na. Aku akan coba pinjam ponsel sama Pak Kadus atau warga." Sena kembali bicara dengan Pak Kadus. Dia berhasil meminjam ponsel milik pria paruh baya itu. Tentu saja Sena memberikan uang sebagai pengganti uang pulsa. Sena menghubungi Hadi, ayahnya. Dia menjelaskan secara ringkas kejadian yang menimpanya dan meminta mereka datang ke sana. Pria itu juga meminta salah seorang sopir keluarga menjemput ibu dan adik-adik Kirana di rumahnya. Setelah itu Kirana menghubungi Utami, ibunya. Awalnya Utami bingung, tapi setelah Sena bantu menjelaskan apa yang terjadi, ibu Kirana baru mengerti. Sena meminta Utami dan kedua anaknya menunggu sopir yang akan membawa mereka ke lokasi di mana Sena dan Kirana berada. Sambil menunggu kedatangan kedua keluarga, Kirana terus berzikir agar hatinya lebih tenang. Gadis itu tidak tahu bagaimana pernikahannya nanti. Apakah mereka akan terus bersama atau berpisah seperti yang dikatakan Sena. Yang jelas dia akan menjalani takdir yang telah digariskan untuknya. Orang tua Sena tiba terlebih dahulu di dusun tersebut. Sena mengenalkan mereka pada Pak Kadus, para warga, dan juga Kirana. Setelahnya Sena meminta sopir mengurus ban mobilnya. Dengan diantar dua warga, sopir tersebut pergi ke tempat di mana mobil Sena berada. “Sena, bunda senang akhirnya kamu nikah meskipun dengan cara seperti ini. Allah mengabulkan doa bunda. Apalagi calon istrimu cantik dan baik seperti dia. Bunda senang sekali,” tutur Laras yang justru tampak bahagia bukannya marah atau kecewa. “Ayah juga senang, Bun. Allah selalu punya cara di luar perkiraan kita untuk menyatukan dua orang yang berjodoh. Ayah ingin kamu dan istrimu menjalani rumah tangga seperti pernikahan pada umumnya. Sekarang tidak masalah nikah secara agama dulu, nanti kamu bisa mengajukan isbat nikah agar pernikahan kalian sah di mata negara.” Hadi ikut menimpali. Dia pun tak marah karena memang sudah sangat menginginkan putra tunggalnya melepas masa lajang. Usia Sena sudah 35 tahun, tapi sama sekali belum punya keinginan untuk menikah. Hadi tidak mempermasalahkan penyebab Sena dipaksa menikah oleh warga. Diam-diam dia justru berterima kasih pada mereka. Kalau tidak begini entah kapan putranya itu akan melepas masa lajang. Kirana langsung memeluk dan meminta maaf pada Utami setelah ibunya tiba. Sesudah itu memperkenalkannya pada Sena, Hadi, Laras, Pak Kadus, dan warga. Meskipun terkejut dengan kenyataan yang ada, Utami memberikan restu pada putri sulungnya untuk menikah. Dia percaya kalau ini jalan takdir yang harus dijalani Kirana meskipun dengan cara yang tak biasa. Setelah semua berkumpul, Sena dan Kirana dinikahkan oleh Karno—kakak kandung almarhum bapak Kirana yang sengaja diajak Utami untuk menikahkan putrinya. Seorang kiai setempat kemudian mendoakan pernikahan Sena dan Kirana. Laras dan Utami tak dapat menahan rasa haru melihat putra dan putrinya menikah. Walaupun hanya nikah siri tapi pernikahan itu sah secara agama. Kini Sena sudah menjadi suami yang harus bertanggung jawab atas Kirana, istrinya. Para warga satu per satu meninggalkan pendopo setelah pernikahan terjadi. Kedua keluarga tidak langsung pulang karena masih bermusyawarah. Mereka memutuskan malam ini Sena menginap di rumah Utami. Hari-hari selanjutnya, Sena dan Kirana akan tinggal di kediaman Hadi. Sena memang masih tinggal dengan kedua orang tuanya. Setelah dirasa cukup, mereka pun berpamitan pada Pak Kadus. Hadi meminta maaf karena putranya sudah membuat kegaduhan di sana sekaligus berterima kasih atas semuanya. Sena dan Kirana pulang semobil berdua. Ban mobil Sena sudah diganti oleh sopir, jadi mereka bisa mengendarainya lagi. “Na, sepertinya kita harus meneruskan pernikahan ini. Setidaknya untuk sementara waktu. Kamu lihat sendiri tadi ayah dan bundaku senang sekali karena aku menikah.” Sena memecah keheningan di mobil sebab sejak tadi keduanya tak saling bicara. Ini merupakan pembicaraan pertama mereka setelah resmi menjadi suami istri. “Aku ingin merahasiakan pernikahan kita. Di kampus, kamu tetap jadi asdosku. Kita hanya jadi suami istri di depan keluarga. Di luar itu kita bukan siapa-siapa,” sambung Sena. “Jangan khawatir, aku akan tetap memberimu nafkah sebagai suami dan membayarmu secara profesional sebagai asdosku. Kita hanya perlu berakting mesra di depan keluarga. Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu atau meminta hakku sebagai suami. Kalau suatu hari kamu menemukan pria yang kamu cintai, bilang saja. Aku akan melepasmu untuk menikah dengannya,” tandas Sena. Kirana sontak menoleh ke arah Sena. “Apa menurut Pak Sena pernikahan kita hanya main-main?” “Jujur saja aku tidak punya ekpektasi apa pun pada pernikahan kita, Na. Sebelum ini terjadi, aku sama sekali tidak ingin menikah,” aku Sena. Kirana terkesiap mendengar pengakuan Sena. “Kenapa Pak Sena tidak ingin menikah? Apa Pak Sena penyuka sesama jenis?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD