BAB 4

1580 Words
Pagi ini saat ingin pergi ke kantor tiba-tiba saja ada seorang wanita yang akan melahirkan di pinggir jalan. Langsung saja aku yang melihatnya berusaha untuk menolong wanita tersebut dan membawanya ke rumah sakit bersama dua orang warga lainnya yang juga turut membantu. Saat ini aku tengah mengurus administrasi wanita tersebut karena pihak rumah sakit hanya akan melayani jika masalah administrasi sudah diselesaikan. Saat ingin kembali ke ruang persalinan aku melihat Darren dan Rega, temannya yang tempo hari yang aku temui di restoran bersama Mbak Maura dan langsung saja aku pun pergi mendekati keduanya untuk menyapanya. "Darren, elo sudah masuk kerja?" tanyaku berbasa-basi. Lagi pula mau apalagi dia di sini dengan jubah dokternya kalau bukan untuk bekerja? "Hai Vita, apa kabar. Kamu sakit?" jelas ini bukan suara Darren karena Darren tidak mungkin akan bersikap ramah dan banyak bicara seperti itu. "Hai Rega, bukan gw yang sakit tetapi orang lain. Tadi saat gw mau berangkat ke kantor ada seorang wanita hamil yang ingin melahirkan di pinggir jalan jadinya gw bawa ke sini untuk dapat pertolongan. Lagian kan kasihan kalau sang ibu dan bayinya harus melewati proses persalinan di pinggir jalan seperti itu." jawabku jujur. Tidak bisa aku bayangkan jika wanita itu benar-benar akan melahirkan bayinya di pinggir jalan. Jalan yang padat dengan kendaraan dan asap knalpot belum lagi kondisinya yang kotor dan sedikit becek akibat hujan semalaman. "Begitu rupanya. Terus keadaan wanita tersebut bagaimana sekarang?" belum sempat aku menjawab pertanyaan Rega, handphone milikku berbunyi dan memunculkan nama Mbak Maura di layarnya. Setelah izin untuk mengangkat telepon sebentar aku pun sedikit menjauh dari keduanya. "Hallo assalamualaikum mbak." "......" "Gw di rumah sakit Mas Bram. Tadi... (cerita soal wanita tadi)." aku pun mulai menceritakan kejadian tadi pagi yang menimpaku kepada Mbak Maura hingga akhirnya cerita tersebut selesai dan kami pun memutuskan sambungan telepon. "Ya sudah deh mbak, maaf ya. Nanti siang gw usahain ke kantor deh kalau semuanya sudah selesai di sini. File-nya gw kirim via email saja ya." "......" "Iya. Waalaikumsalam." Setelah selesai, aku pun kembali menemui Rega dan Darren yang sejak tadi terus saja memperhatikan diriku dalam diam. "Maaf, tadi Mbak Maura telepon." "Enggak apa-apa, santai saja. Terus sekarang kamu mau langsung ke kantor atau bagaimana?" tanya Rega kembali sementara Darren tetap saja memilih diam seribu bahasa dan hanya menatapku datar. "Gw kayanya masih tetap di sini sampai suami wanita itu datang. Lagi pula enggak mungkin kan kalau gw tinggal begitu saja? Nanti siapa yang nungguin dan mengurus semua keperluannya kalau gw pergi? Cuman masalahnya dari tadi gw belum bisa menghubungi suaminya. Semua telepon gw enggak di angkat begitu pun semua pesan yang gw kirim juga belum di balas. Oh iya, sekalian gw mau lihat bayinya. Semoga saja baik sang ibu dan bayi keduanya selamat dan sehat." doaku dengan tulus. *** Setelah melakukan visit pasien aku pun hendak kembali ke ruanganku namun di dekat ruang operasi aku melihat jika Tante Vita masih berada di sana dalam keadaan yang tengah menangis. Awalnya aku ingin mengabaikannya namun sulit karena bagaimanapun aku masih memiliki perasaan dan hati nurani meski harus akui jika aku jarang menunjukkannya kepada siapa pun. Aku langsung mendekati dan memberikannya saputangan milikku untuk dia gunakan. Tante Vita kemudian mengadahkan kepalanya yang tertunduk ke atas dan terlihat cukup terkejut dengan kedatanganku saat ini. Aku lalu duduk di sampingnya dalam diam dan tiba-tiba saja tangisan Tante Vita justru makin keras terdengar. "Keadaan ibu dan bayinya kritis. Sang ibu mengalami pendarahan dan harus di operasi. Suaminya juga belum datang sampai saat ini. Bagaimana ini Darren? Bagaimana kalau hal buruk terjadi kepada mereka berdua nanti?" aku hanya bisa terdiam dan mendengarkannya sambil terus mengelus punggungnya perlahan serta berharap jika apa yang aku lakukan saat ini dapat menenangkan dirinya yang terlihat cukup kacau. Setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untuk Tante Vita namun tiba-tiba saja wanita ini justru memelukku erat. Baiklah atas nama kemanusiaan akan aku biarkan dia memelukku seperti ini. "Darren, biasanya operasi melahirkan berapa lama? Mengapa dokternya belum keluar juga?" "Tergantung keadaan." "Elo tuh ya jawabannya enggak pernah panjang dan jelas jadinya suka bikin kesel." ucapnya masih dengan air mata yang berlinang. Wanita dan air matanya adalah perpaduan yang membuatku bingung. Bagaimanapun aku bukan tipe pria yang suka melihat wanita menangis terlebih aku juga bukan orang yang pandai menghibur seseorang ketika bersedih. Namun untuk pertama kalinya aku justru berusaha menenangkan seorang wanita ketika dia sedang menangis seperti ini karena biasanya aku akan pergi dan cenderung tidak peduli ketika ada yang demikian di dekatku. Handphone tante Vita berbunyi dan dapat kulihat tertera nama A'Muda di sana, pacarnya kah? tanyaku di dalam hati. Masih sambil memelukku, tante Vita kemudian mengangkat telepon dari pria tersebut. "Halo waalaikumsalam A'" "......" "Iya, gw masih di rumah sakit. Maaf A' kayanya gw enggak bisa ke kantor hari ini." "......" "Enggak tahu tetapi yang pasti mereka masih di ruang operasi sekarang." "......" "Yasudah, oke. Assalamualaikum." setelahnya tante Vita kembali menaruh handphone miliknya di kursi yang berada di sampingnya sambil tetap memelukku erat dan tidak lama dia pun kembali menangis sesegukan. Hingga beberapa saat kemudian dapat kudengar deru napasnya yang telah kembali tenang namun kedua matanya tetap mengeluarkan air mata. "Tadi A' Muda yang telepon. Elo masih ingat dia enggak? Dia itu temen Mbak Maura juga." Entahlah aku lupa dan aku pun juga tidak ingin mengingatnya karena tidak penting untukku. "Hm." "Hm apa nih? Hm tahu atau enggak tahu?" "Enggak." "Dasar. Ya sudah nanti kalau ketemu juga gw yakin kalau elo bakal ingat. Secara A’Muda itu punya wajah yang sulit untuk di lupain begitu saja." Apa maksud perkataan wanita ini? Entah berapa lama aku menemani tante Vita di sini. Untung saja hari ini aku belum bekerja 100% dan hanya berkeliling rumah sakit sambil melakukan visit ke beberapa pasien sehingga tidak akan mengganggu pekerjaanku ketika menemaninya seperti saat ini. Tidak lama muncul seorang pria tampan dan semakin lama pria tersebut semakin medekat ke arah kami berdua. "Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya pria itu. Tante Vita yang menyadari kehadirannya pun langsung memeluk pria tersebut. Mengapa mudah sekali untuknya memeluk pria lain seperti ini? "Sudah jangan menangis. Sudah makan siang?" "Belum. AA’ enggak bawa makanan apa?" "Enggak, tadi buru-buru ke sini sehabis meeting. Belum selesai juga operasinya?" "Belum. Suaminya juga belum datang terus warga yang ikut nolong malah pulang." "Ya sudah tunggu saja kalau begitu mungkin sebentar lagi selesai. Kita berdoa saja." setelah mengatakan hal tersebut pria yang dipanggil AA’ tadi akhirnya menyadari keberadaanku yang sejak tadi hanya terdiam sambil menyaksikan keduanya bermesraan. "Kamu Darren anak Bram dan Maura kan?" aku hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaanya barusan kepadaku. "Muda, teman orangtuamu dan Vita. Sudah lama kita tidak bertemu dan sepertinya terakhir kali adalah di pesta pernikahan orangtuamu." "Oh begitu." jawabku singkat dan padat seperti biasanya. "A’, jangan cari perkara. Di gorok mbak Maura nanti." Apa lagi maksudnya perkataan wanita ini? Sungguh dia selalu berhasil membuatku bingung dengan segala tingkah dan ucapannya selama ini. "Gw setia kali." pintu ruangan operasi terbuka sehingga membuat Tante Vita yang melihatnya langsung berdiri dan menanyakan keadaan pasien tersebut beserta bayinya. "Syukurlah, keadaan ibu dan bayinya selamat. Untung saja pasien segera dibawa ke rumah sakit sehingga bisa mendapatkan pertolongan secepatnya." "Alhamdulillah." ucap kami bertiga serempak. "Maaf, apa suami pasien sudah datang?" "Belum dokter. Selain itu juga saya belum berhasil menghubungi suaminya sampai saat ini." "Baiklah jika demikian. Setelah keadaan pasien membaik kami akan segera membawanya ke ruang rawat inap. Kalau begitu saya permisi dahulu." *** A'Muda sudah kembali ke kantor beberapa saat yang lalu karena ada meeting dengan klien penting lainnya sehingga aku pun harus kembali sendirian di ruangan bercat putih dengan bau obat yang sangat tidak kusukai selama ini. Aku kembali mencoba menghubungi suami dari wanita yang pagi tadi aku tolong. Entah ini usahaku yang keberapa kalinya namun seperti sebelumnya semua panggilan dan pesanku tidak mendapatkan respons atau jawaban apa pun darinya. Hingga menjelang malam, akhirnya panggilanku diangkat. "Halo, apa benar ini Mas Ridwan suami dari Mbak Lala?" "......" "Syukurlah. Begini mas, (cerita mengenai kejadian pagi tadi)" Setelahnya aku pun menceritakan kembali semua kronologi kejadian tadi pagi. Di mulai dari pertama kali melihat Mbak Lala yang ingin melahirkan di pinggir jalan hingga saat ini di mana Mbak Lala yang sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa. Suami Mbak Lala ternyata sedang bekerja dan selama itu juga dia tidak diperkenankan untuk melihat handphone sehingga baru tadilah dia bisa mengangkatnya. Sejam kemudian suami mbak Lala akhirnya datang dengan wajah penuh keringat karena sepertinya beliau datang kemari sambil berlari, terlihat dari nafasnya yang juga tersengal-sengal. Mas Ridwan langsung mengucapkan terima kasih kepadaku dan tidak lupa selalu mengucap syukur atas bantuanku. Setelahnya beliau langsung masuk ke dalam kamar inap untuk bertemu istrinya sementara bayi mereka masih berada diruangan khusus karena memang bayi tersebut lahir sebelum waktunya sehingga butuh penanganan ekstra. Setelah berbincang sebentar dengan Mas Ridwan dan Mbak Lala, aku pun pamit undur diri dan barjanji akan datang lagi esok hari. Saat berjalan ke arah parkiran aku bertemu dengan Darren yang sepertinya juga ingin pulang. Aku mendekatinya untuk sekadar menyapa, bagaimanapun hari ini dia telah sangat membantu untuk menenangkan diriku yang mengalami ketakutan. "Elo sudah mau pulang? Sama siapa? Bawa mobil?" "Bawa mobil." Astaga, bisa tidak sih dia banyakan dikit ngomongnya? "Sudah makan malam?" tanyaku dan langsung mendapat jawaban dengan cara Darren menunjukkan jam tangan miliknya yang menandakan sudah pukul 10 lewat. "Gw belum makan dan kalau elo belum makan juga ayo kita makan bareng tetapi kalau sudah ya enggak apa-apa." aku langsung berbalik badan dan hendak pergi meninggalkannya namun belum ada 5 langkah, tanganku justru telah dicekal oleh Darren. "Mau makan apa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD