Pembicaraanku dengan Rega terhenti ketika Mami Maura dan Tante Vita datang ke meja milikku.
"Darren, kamu makan siang di sini juga? Hai Rega apa kabar?" tanya Mami Maura sambil bercipika-cipiki dengan Rega.
"Alhamdulillah baik tante. Ini aku sama Bian memang mau makan siang bareng sekalian mau malak oleh-oleh dari Inggris. Tante sudah makan? Kalau belum bareng saja soalnya kita juga baru mau pesan kok."
"Aduh sayang banget soalnya tante sama temen tante baru saja selesai makan padahal kan lumayan bisa makan siang bareng brondong ganteng."
"Bisa saja tante. Kalau Om Bram tahu bisa di seruduk Rega, tan."
"Kamu pikir suami tante banteng apa? Eh, tetapi iya juga sih dia kan suka maen seruduk-seruduk saja."
Astaga kombinasi Mami Maura dan Rega adalah sebuah masalah terlebih pembicaraan diantara keduanya sungguh tidaklah penting yang hanya membuang waktu dan tenaga saja menurutku. Kulihat Tante Vita terus saja menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan sejak tadi.
Ada apa dengannya? Kenapa wanita ini terus saja menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh di wajahku saat ini?
"Eh Vit, kenalin ini Rega sahabat Darren dari SMP."
"Oh, hai Vita."
"Selamat siang aku manggilnya apa nih soalnya kamu masih muda banget kelihatannya." baik Mami Maura, Rega dan Tante Vita kemudian tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan karena aku sendiri tidak mengerti bagian mana yang lucu dari pertanyaan Rega tadi.
"Vita saja."
"Oke,Vita." setelah berbasa-basi sebentar Mami Maura dan Tante Vita pun pamit undur diri karena harus kembali ke kantor dan meninggalkanku serta Rega yang masih saja menatap kepergian keduanya sejak tadi hingga akhirnya kedua wanita tersebut menghilang dari pandangan kami.
"Buset. Temen mami lo cantik banget, seksi lagi."
"Sejak kapan selera kamu jadi tante-tante?"
"Eits, kalau tantenya modelan begini sih masih bisa dibicarakan secara kekeluargaan."
Dasar Rega gila.
***
"Kenapa Vit? Tumben dari tadi diam saja lo."
"Eh, apa mbak?" tanyaku bingung karena sejak tadi aku memang sedang melamun.
"Elo kenapa sih? Keluar dari restoran jadi diem begitu."
"Hm, sorry ya mbak tadinya gw pikir kalau Darren itu satu geng sama A'Muda. Habisnya dia beda banget pas sama Rega."
"Gila lo anak gw tuh! Mereka berdua memang sahabatan dari dulu. Setahu gw sih dari ceritanya Mas Bram kalau cuman Rega orang yang betah buat deket-deket sama Darren selama di sekolah. Elo tahu sendiri kan tuh anak kaya gimana?"
"Oh, syukur deh kalau begitu. Soalnya nih ya mbak, cewek kalau suka sama cowok ganteng mesti saingan juga sama cowok di zaman sekarang. Kasihan kan jadinya karena makin banyak saingan. Oh iya gw lupa mbak kalau A'Muda ngajakin kita buat makan-makan weekend nanti tetapi di rumah elo ya mbak hehehehe."
"Ya sudah nanti gw suruh Bi Asih buat nyiapin semuanya sekalian mas Bram mau ngadain acara syukuran karena Darren sudah balik ke Indonesia. Eh, tetapi bukannya minggu ini ada kondangan si Kevin?"
"Astaga, kenapa gw bisa lupa ya mbak? Mampus deh mana belum nemu pasangan lagi. A'Muda ada stok cowok keren enggak ya mbak?"
"Tanya saja. Lagian kontak handphone dia kan banyak tuh cowok-cowok ganteng macam selebriti."
"Iya, entar gw tanya deh. Lagian comot satu juga enggak akan rugi A'Muda soalnya cowok ganteng koleksi dia kan banyak."
Sesampainya di kantor aku pun langsung menuju ke ruangan A'Muda. Dengan semangat ‘45 aku langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Untungnya saja tidak ada siapa-siapa di ruangan tersebut karena bagaimanapun A'Muda adalah atasan dan aku bawahan. Kami berdua memang bersahabat baik akan tetapi selama di lingkungan kantor aku tetap harus bersikap profesional dan menjaga etika di hadapannya.
"Ada apa? Main masuk tanpa permisi." omel A'Muda yang masih sibuk dengan laptop miliknya.
"Permisi bos."
"Sudah cepetan bilang mau apa elo datang ke sini. Kerjaan gw banyak jadinya enggak ada waktu buat ngeladenin elo."
"Ih, begitu deh AA’ sama Eneng.” ucapku sambil duduk di sofa ruangannya.
“ A' bagi nomor cowok ganteng dong. Mau gw ajakin ke kondangan Kevin sabtu nanti."
"Mau bayar berapa memangnya lo?"
"Biasanya berapaan?" tanyaku penasaran mengenai harga para lelaki sewaannya selama ini.
"2 digit dalam sekali kencan. Durasi 2 sampai 3 jam tetapi harga bisa naik di waktu weekend atau tanggal merah. Oh iya, itu juga tergantung siapa yang elo sewa ya karena ada uang ada kualitas."
Astaga sudah seperti apaan saja.
"Astaga mahal banget A', enggak ada diskon apa?"
"Enggak ada. Lagian mereka memang high quality punya Vit, jadi terjamin dari segi penampilan dan keamanan."
"Gw cuman butuh cowok ganteng kali A' buat gandengan."
"Iya, kualitas kegantengan mereka juga enggak perlu di pertanyaan lagi kok."
"Coba A' tanyain siapa tahu ada yang budgetnya murahan dikit tetapi kualitas tetap sama. Bisa enggak makan gw bulan ini kalau enggak ada potongan harga."
"Memangnya elo butuh yang kaya gimana? Durasi berapa lama?"
"Pokoknya yang ganteng deh A', yang enggak akan malu-maluin gw pas gw gandeng ke pelaminannya si Kevin dan kemungkinan cuman 1 sampai 2 jam saja."
"Ya sudah entar gw kabarin lagi. Sudah Sono buruan elo keluar dari ruangan gw soalnya gw mau cepat nyelesein ini kerjaan biar bisa pergi sama Richard entar malam."
"Pacaran terus lo."
"Iri bilang jomblo." setelah adegan pengusiran tersebut, aku pun segera keluar dari ruangan bosku tercinta dan berharap semoga A’Muda bisa segera menemukan cowok tampan yang aku inginkan.
Biarlah uangku habis yang penting harga diriku tetap ada. Sorry nih ya, masalahnya yang harus aku hadapi adalah si cowok lambe macam Kevin sehingga aku mesti jor-joran untuk membalas dia. Lagi pula kalau pun uangku habis, aku tinggal numpang makan di rumah Mbak Maura. Dia kan kaya sehingga stok nasi di rumahnya pasti tetap akan cukup meski harus menambah satu orang untuk diberi makan.
***
Hari ini adalah hari pertamaku bekerja di rumah sakit milik Daddy. Sejujurnya aku masih ragu dengan ini semuanya terlebih aku tidak suka jika nanti ada yang mengetahui tentang siapa diriku yang sebenarnya dan berusaha mendekatiku hanya karena aku adalah anak dari pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja karena bagaimanapun aku benci diperlakukan demikian.
Saat ini aku sedang berjalan menuju ruang makan untuk sarapan bersama dengan Mami Maura, Daddy dan kedua adik kembarku.
"Selamat pagi sayang." ucap Mami Maura dengan senyum cantiknya.
"Pagi."
"Darren, Daddy mau bicara sama kamu." Daddy melipat koran paginya dan menaruhnya di atas meja makan. Setelah menyesap kopi hitam kesukaannya, dia pun menatapku lekat.
"Daddy harap kamu jangan bersikap seperti biasanya ya son. Maksud Daddy jangan terlalu diam karena takutnya nanti orang-orang akan salah paham dengan sikapmu itu, mengerti?"
"Hm."
"Jangan hanya hm hm saja Darren. Kamu mengertikan maksud ucapan Daddy tadi? Bukan apa-apa, Daddy hanya tidak ingin mereka membicarakan kamu dengan buruk di belakang nantinya."
"Hm." setelah aku mengatakan hal tersebut Daddy pun langsung memakan roti bakarnya dengan wajah yang terlihat sangat kesal atas sikap dan jawabanku barusan untuknya.
Aku menyelesaikan sarapanku dengan cepat karena memang aku tidak ingin datang terlambat. Pantang bagiku terlambat dalam hal apa pun apalagi datang bekerja karena menurutku itu tidaklah profesional. Setelah mencium kedua adikku dan menyalami Mami Maura serta Daddy , aku pun keluar rumah dan segera menyalakan mobil untuk pergi ke rumah sakit.
"Mas, jangan bicara seperti itu ah sama Darren. Mas kan tahu memang dia itu pendiam anaknya."
"Mas tahu sayang cuman mas enggak suka saja kalau nanti orang-orang akan salah paham dan membicarakan dia seenaknya."
"Darren pasti tahu mas bagaimana seharusnya dia bersikap jadi mas tenang saja. Oh iya, aku mau berangkat sekarang soalnya ada meeting pagi dengan Vita. Kamu yang antar anak-anak kan? Kalau begitu aku berangkat. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam sayang. Hati-hati ya.”
Di rumah sakit
Setelah sesi perkenalan singkatku dengan beberapa dokter dan suster di rumah sakit ini, Rega kemudian mengajakku berkeliling karena aku memang belum pernah berkeliling rumah sakit sebelumnya. Selain itu, hal ini juga akan aku gunakan sebagai cara agar bisa lebih mengenal tempatku bekerja nanti. Sepanjang perjalanan dapat kulihat jika banyak wanita baik itu sesama rekan medis ataupun pasien dan kerabatnya sedang menatap ke arah kami berdua sambil berbisik-bisik.
"Aduh, susah sih ya jadi orang ganteng karena bawaannya pasti dilihatin dan diomongin terus seperti sekarang hehehe. Eh Bi, jujur gw senang banget elo akhirnya mau pulang dan bekerja di sini jadinya kan gw enggak sia-sia rajin belajar terus jadi dokter."
"Gila."
"Elo tuh seharusnya bersyukur karena punya sahabat macam gw yang dengan setia menemani elo disaat yang lain menjauh. Kapan sih sikap dingin dan apatis elo itu berkurang meski cuman 0.001% saja? Enggak kebayang gw yang bakal jadi pasangan elo nantinya karena mesti sesabar apa coba dia buat bisa ngehadapin elo yang kaya begini."
"Hm."
"Astaga, ampun deh gw sama elo Bi. Sabar gw Bi sabar." Rega terus saja berbicara selama kami berdua mengelilingi rumah sakit dan dia baru berhenti ketika dua orang dokter wanita menyapanya.
"Selamat pagi dok."
"Pagi Nisa, pagi Sarah. Mau visit pasien ya?"
"Eh iya dok tetapi sudah selesai kok. Ini kita mau ke kantin buat sarapan. Dokter Rega sudah sarapan?" ucap wanita yang berambut pendek.
"Siang banget sarapannya? Lagian jam segini saya sudah sarapan. Oh iya, kenalin ini dokter Darren. Dia dokter baru dan ini hari pertamanya. Kebetulan saya juga lagi mengajak dia berkeliling rumah sakit untuk melihat-lihat dan mengetahui kondisi yang ada, maklum saya kan orangnya baik dan tidak sombong."
"Selamat datang dokter Darren." ucap wanita satunya lagi yang memakai kerudung.
"Iya."
"Maaf ya, dokter Darren ini memang irit bicara jadi maklum kalau jawabnya suka singkat-singkat cenderung susah dimengerti. Lagian sebenarnya juga dokter Darren ini lebih suka berbicara dengan bahasa kalbu, iya kan Bi?" aku hanya diam saja mendengar penuturan kurang ajar Rega tentang diriku kepada dua wanita dihadapan kami saat ini.
Astaga mengapa aku bisa memiliki teman seperti Rega? Dan yang lebih membingungkan lagi, bagaimana bisa kami berdua masih tetap berteman sampai saat ini? Benar-benar sebuah keajaiban dan misteri Ilahi.
Setelahnya kami berdua pun pamit undur diri karena kami juga harus melakukan visit pasien nanti.
"Cantik kan?" tanya Rega setelah kami berdua menjauh dari kedua dokter tadi.
"Siapa?"
"Dokter yang tadi. Elo sukanya yang mana? Dokter Nisa atau dokter Sarah?"
"Maksudnya?"
"Kalau elo suka, entar gw kenalin tetapi sebagai balasannya elo juga mesti kenalin gw sama Vita, bagaimana?" ucap Rega sambil tersenyum lebar.
"Darren? Elo sudah masuk kerja?"