Sekali Murahan Tetap Murahan

1115 Words
Setelah kuliah pagi berakhir, Intan menemui kepala bagian akademik untuk menghadiri surat panggilan yang diterimanya kemarin di alamat panti asuhan domisilinya. "Selamat pagi. Silakan duduk, ini benar Intan Malika Kahiyang ya?" sapa Pak Widagdo Prasojo, kabag akademik kampus tempat Intan berkuliah. Intan berjabat tangan lalu duduk di sofa seberang Pak Widagdo, dia menjawab, "Selamat pagi, Pak Wid. Benar, saya Intan. Kemarin siang ada surat yang dikirim dari kampus ke tempat tinggal saya. Ada apa ya?" "Baik. Memang benar surat tersebut dikirim untuk Mbak Intan. Sebelumnya saya mau meminta maaf karena harus menyampaikan kabar buruk. Jadi beasiswa penuh untuk Mbak Intan dicabut dari pusat. Silakan untuk semester berikutnya, kalau kuliah ingin dilanjutkan bisa dibayar dengan pembiayaan mandiri," tutur Pak Widagdo Prasojo dengan nada tenang. Dia hanya penyambung lidah dari dekanat dan juga bagian administrasi mahasiswa. Seperti mendengar petir di siang bolong, Intan sontak terkejut. Dia langsung berkeringat dingin dengan jantung berdegub kencang. Biaya kuliahnya per semester pun bukan nominal kecil, itu adalah universitas swasta favorit di Jakarta. Kemudian Intan pun bertanya, "Maaf, Pak Wid. Apa alasan pencabutan beasiswa saya ya?" "Hmm ... jadi kondisi Mbak Intan yang sedang hamil itu menjadi pertimbangan bahwa beasiswa yang kemarin diberikan tidak bisa diberlakukan lagi. Ada laporan bahwa Mbak Intan sedang hamil, kalaupun tidak benar laporan tersebut ... silakan minta surat keterangan dokter dari rumah sakit publik dilengkapi hasil lab. yang menyatakan sebaliknya," terang kepala bagian akademik kampus itu sambil menatap Intan simpatik. Akhirnya Intan tak bisa mengelak lagi, dia memang sedang hamil. Tak ada dokter yang mau berbohong dengan diagnosa palsu untuk membantunya. Maka Intan pun tak memaksa lagi untuk mempertanyakan pencabutan beasiswanya. "Baik, Pak Wid. Kalau begitu saya permisi," pamit Intan bersalaman dengan Pak Widagdo lalu keluar dari ruang tamu akademik. Tubuhnya serasa lemas karena kini bukan hanya harus menabung untuk biaya persalinan buah hatinya, Intan juga harus bekerja untuk membiayai kuliahnya semester baru yang tersisa dua bulan lagi dari sekarang pendaftaran ulangnya. Ketika akan turun melalui tangga manual depan ruang dekanat. Intan tak sengaja bertemu dengan mamanya Zayn. Sedikit curiga wanita itu yang membuatnya kehilangan beasiswa. Namun, Intan memilih tidak bereaksi berlebihan. Dia hanya menganggukkan kepala dengan senyuman tipis kepada Nyonya Selvi Ratna Pradipta. "Pastinya kamu sudah diberi tahu bukan kalau beasiswa kuliah untukmu dihentikan seterusnya?" ujar mama Zayn dengan dagu terangkat tinggi menatap Intan dengan sorot mata jijik. Dada Intan serasa dipukul kencang mengetahui bahwa benar biang keladi pencabutan beasiswa kuliahnya adalah mama Zayn. Dia menghela napas dengan berat lalu berusaha menjaga harga dirinya. Intan menjawab dengan tenang, "Saya sudah tahu, Bu Selvi. Permisi." "TUNGGU!" seru wanita itu bernada tajam. Langkah Intan pun terhenti, dia membalik badannya untuk mengetahui apa yang akan dikatakan oleh mama Zayn kepadanya. "PLAKK!" Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Intan hingga menyisakan rasa perih dengan bekas memerah. "Jangan sok-sokan jadi perempuan! Oya, jangan pernah hubungi puteraku lagi seterusnya, kamu itu hina, tak pantas bersanding dengan Zayn!" cemooh Nyonya Selvi dengan wajah sinis. Isak tangis tak terelakkan lagi oleh Intan, lahir dan batinnya tersiksa karena dihina begitu rupa. Dia memegangi pipinya dan terdiam mendengar wanita di hadapannya itu merepet dengan kata-kata pedas yang memerahkan telinga. "Saya bukan w************n seperti yang Anda tuduhkan, Bu!" ucap Intan membela dirinya sendiri. Nyonya Selvi menuding wajah Intan. "Lha, buktinya kamu mau ditiduri laki-laki sampai hamil sebelum sah menjadi suami istri. Buktinya sangat jelas 'kan?" Intan pun merasa tak ada perlunya dia terus mendengarkan hinaan mama Zayn. Dia bergegas melangkah menjauh. "Sekali murahan tetap murahan. Anak yatim piatu pastinya anak haram lah. Kelakuan orang tua kamu itu juga menurun ke kamu, Intan. Dasar p*****r!" maki Nyonya Selvi yang membuat hati Intan serasa tersayat sembilu. Namun, dia enggan membalas perkataan itu. Kemudian Intan berlari keluar dari gedung akademik dan bergegas menuju ke halte bus depan kampusnya. Pikirannya kalut menerima penghinaan dari mama Zayn mengenai asal usulnya. Seorang anak yang dibuang ke panti asuhan oleh orang tuanya sejak bayi memang mirip dengan anak haram, tetapi bila diperkatakan langsung akan begitu menyedihkan. Intan terduduk sendirian sambil mengusap air matanya dengan kertas tissue di halte yang sepi pagi jelang siang itu. Mobil sedan mewah yang dinaiki oleh Nyonya Selvi melewati halte bus itu dan mama Zayn melihat Intan yang sedang menangis di sana. Dia mendengkus geli seraya berkata ke sopirnya, "Hari gini masih berharap ada cerita Cinderella, Pak Totok. Naif sekali mantan pacarnya Zayn itu." "Mas Zayn sekolahnya lama ya di Swiss, Bu Selvi?" tanya sopir pribadi itu sembari mengemudikan mobil. "Lama, Pak. Sengaja nggak saya izinin pulang. Biar saya dan suami yang nengokin dia ke Swiss nanti. Jangan sampai Zayn kena bujuk rayu perempuan murahan tanpa masa depan itu tadi!" jawab Nyonya Selvi sinis sembari melihat pemandangan ibu kota dari balik kaca jendela mobilnya. Pak Totok yang tidak tahu duduk persoalannya secara pasti memilih untuk diam, takut salah bicara. Para pelayan di rumah keluarga Pradipta memang menggosipkan tuan muda mereka telah menghamili seorang perempuan sebelum berangkat kuliah ke Swiss. Bahkan, isu miring yang didengarnya. Ada usaha menggugurkan kandungan perempuan itu oleh Nyonya Selvi. Dia sebagai kalangan rakyat jelata merasa tindakan semacam itu berdosa besar. "Oya, antar saya ke kantor Pak Bram ya. Ada beberapa urusan penting yang perlu saya bicarakan," titahnya yang diiyakan langsung oleh Pak Totok. Sementara itu Intan yang sudah naik bus kota untuk pulang ke panti asuhan tempat tinggalnya masih merasa sedih. Banyak sekali beban pikiran yang menggelanyuti dirinya. Dia harus segera mencari pekerjaan agar bisa tetap bertahan hidup. Tidak mungkin bila ia memberatkan Bunda Kartini dengan biaya kuliahnya. Adik-adiknya yang masih kecil di panti asuhan jauh lebih membutuhkan pembiayaan dibanding dirinya. Bisa makan dan tidur gratis hingga saat ini di rumah beliau membuat Intan merasa banyak berutang budi. Ketika seorang loper koran menawarkan koran atau majalah dagangannya kepada Intan. Perempuan itu membeli seeksemplar untuk dibaca di bagian lowongan pekerjaan. Dalam perjalanan bus kota itu Intan mencoba mencari pekerjaan paruh waktu yang mungkin tersedia untuknya dalam iklan surat kabar nasional. "Sebuah restoran membutuhkan tenaga bersih-bersih dan cuci piring. Syarat minimal pendidikan SMP, jujur, rajin. Gaji 750.000 per bulan tanpa libur. Jam kerja 13.00 sampai 20.00 WIB." Intan membaca pelan iklan lowongan pekerjaan itu dan segera mencatat nomor kontak pemasang iklan tersebut. Dia mengirimkan pesan untuk menanyakan apakah lowongan pekerjaan tadi masih tersedia. Tak berapa lama, pesan balasan pun diterima Intan. Ternyata pekerjaan itu masih tersedia dan Intan bisa datang langsung ke alamat restoran itu mulai besok siang untuk langsung bekerja tanpa wawancara. Tentu saja Intan membalas dengan antusias pesan tersebut dan akan masuk kerja mulai besok siang hingga malam sesuai jam kerja yang tertulis di koran tadi. Sangat murah upahnya, tetapi setidaknya dia bisa sembari mencari peluang kerja lainnya. Tidak mudah memang mendapatkan pekerjaan dengan latar belakang pendidikan lulusan SMA di ibu kota yang keras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD