Sekalipun semester depan Intan tak lagi bisa menikmati beasiswa kuliah gratis. Namun, sisa dua bulan ini dia manfaatkan dengan sungguh-sungguh untuk belajar di kampusnya.
Untungnya jadwal kuliahnya selalu pagi dan seusai pelajaran usai, Intan bisa berangkat kerja ke restoran. Kehamilannya masih belum kentara karena ia memang memakai pakaian bermodel longgar. Intan kuatir majikannya tak akan mengizinkannya bekerja bila tahu ia sedang hamil karena pekerjaan kasar yang dijalaninya memang menguras tenaga bagi orang normal. Apalagi bagi wanita hamil muda sepertinya.
"Intan, kalau kamu sudah selesai mengepel restoran, cuci peralatan dapur ya!" perintah manager restoran The Starlight dari ambang pintu dapur. Dia cukup puas dengan pekerjaan Intan yang cekatan dan tidak banyak bicara saat sedang bekerja.
"Siap, Bu Dyah!" jawab Intan sambil buru-buru menyelesaikan lantai yang tersisa untuk dipel olehnya.
Setelah itu dia mengangkat ember dan gagang alat pel untuk dibersihkan di WC belakang restoran. Sesuai perintah manager restoran, Intan melanjutkan pekerjaannya mencuci peralatan dapur serta piring, gelas, alat makan kotor yang menumpuk di wastafel dapur.
Restoran The Starlight cukup populer dan memiliki banyak pelanggan yang sebagian besar bekerja di gedung perkantoran sekitar restoran tersebut. Jam makan siang dan sore jelang malam selalu ramai tamu. Untungnya pekerjaan Intan hanya di dapur selain bersih-bersih. Dia tak perlu menyajikan pesanan makanan minuman tamu.
Suatu hari rombongan mahasiswa-mahasiswa yang sedang merayakan ulang tahun di The Starlight duduk memesan menu dengan heboh. Intan tidak tahu bahwa mereka adalah teman-teman seangkatan kuliahnya.
"Ehh, kayak gue tadi pas ke toilet lihat si Intan di dapur deh lagi cuci piring dianya!" ujar Aldi kepada teman-temannya.
"Masa sih?" sahut Jennifer tak percaya.
Kemudian Alma menimbrung, "Bisa jadi, Al. Dia tuh sekolah di kampus kita 'kan full beasiswa. Artinya ..."
"Kismin dong!" sambar Tony lalu tertawa-tawa mengejek Intan yang artinya miskin.
"Bener si Tony. So ... wajar dong kalo dia ngebabu di restoran!" timpal Vera yang sedang berulang tahun kali ini.
"Kita kerjain aja yuk. Dia kayaknya kerja jadi cleaning service 'kan?" usul Tony iseng yang diiyakan oleh kawan-kawan sepergaulannya itu.
Mereka membuang makanan sisa ke lantai dan sengaja menumpahkan minuman di sekitar tempat duduk agar nampak jorok serta berantakan. Kemudian Vera memanggil manager restoran The Starlight dengan kode lambaian tangan.
Bu Dyah Fermina pun bergegas menghampiri meja nomor 8 itu dan dia sadar bahwa lantainya sangat kotor akibat ulah tamu-tamunya tersebut. Namun, dia mencoba bersikap kalem dan bertanya, "Iya, Mbak. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Ehh ... iya, Bu. Ini lantainya kok kotor banget ya, kami masih mau order hidangan restoran lainnya lho. Apa bisa minta dibersihkan dulu sih?" ujar Vera sealami mungkin sekalipun tujuannya jelas agar Intan membersihkan lantai kotor itu.
"Ohh, tentu saja bisa. Sebentar Mbak, akan saya minta karyawan untuk membersihkan lantai di meja 8. Permisi!" jawab Bu Dyah lalu dia bergegas memanggil Intan di dapur.
Tanpa menyadari tamu-tamu restoran di meja 8 tak lain adalah teman seangkatannya di kampus. Intan membawa alat pembersih lantai di kedua tangannya dan mendatangi meja tersebut. "Permisi—" Dia berucap dan sontak terperangah.
"Hai, Intan!" sapa Aldi sok ramah dengan senyum palsu.
Sementara Alma menyambung dengan pertanyaan, "Jadi lo kerja di sini jadi jongos ya, Tan? Pacar lo yang tajir itu kemana sih?"
"Ohh—bener ... bener lo, Alma! Kemana tuh cowok yang biasa bawa Porsche silver, Lamboo biru? Masa ceweknya dibiarin jadi cleaning service restoran sih?!" timpal Vera dengan nada sindiran yang kentara.
Pertanyaan Vera ditanggapi dengan tawa riuh rekan-rekannya yang ditujukan untuk mencemooh Intan. Namun, Intan diam membisu. Dia tetap menjalankan tugasnya membersihkan lantai yang sangat kotor serta berminyak dan lengket oleh minuman manis yang ditumpahkan dengan sengaja.
"Ada yang pura-pura jadi orang cacat nih, bisu tuli gitu!" sindir Tony terang-terangan sembari melirik tak senang ke arah Intan.
"Udah kaboorrr kali tuh cowok tajir, Intan mendingan sama gue aja deh! Gimana?" balas Aldi sok jadi pahlawan kesiangan.
Kemudian Aldi berdiri lalu tiba-tiba merangkul bahu Intan yang sedang mengepel lantai hingga perempuan itu kaget. Spontan Intan menepis tangan pria tersebut dari tubuhnya seraya memperingatkan, "Tolong jangan kurang ajar. Aku bukan perempuan gampangan, Aldi!"
Merasa dipermalukan oleh Intan, pemuda itu pun berubah menjadi sadis dan mendorong tubuh Intan hingga terjerembap ke lantai. "Heh, dasar perempuan rendahan. Lo tuh harusnya ngerasa terhormat udah gue tawarin jadi cewek gue. Malah sok-sokan kecakepan lo!" seru Aldi sarat amarah lalu mengibaskan kemejanya meninggalkan Intan jatuh terduduk di lantai.
Bukan makian dan hinaan itu yang jadi kekuatiran Intan. Namun, janinnya akibat dia terjatuh ke lantai. Dia hanya berharap kandungannya baik-baik saja karena dia tadi sempat menyangga dengan kedua telapak tangannya sebelum mendarat di lantai.
Teman-teman Aldi pun bukannya kasihan kepada Intan yang dikasari barusan, mereka justru menghibur Aldi.
"Udah, Al. Dia memang nggak pantes buat lo. Mendingan lo sama Mira apa Vina aja, mereka masih jomblo dan yang jelas lebih elit dibanding si onoh tuh!" Vera mengendikkan dagunya ke arah Intan yang berusaha bangkit dari lantai.
Intan pun menulikan telinganya seolah tak mendengar apa pun yang diucapkan oleh anak-anak orang kaya yang sedang berpesta di meja nomor 8 itu. Dia membersihkan lantai hingga bersih lalu kembali ke belakang restoran dalam diam.
Dalam hatinya ia bertanya kepada Tuhan, mengapa dia terlahir begitu menderita? Sejak kecil selalu diremehkan dan dipandang hina karena miskin ditambah statusnya yatim piatu. Tak jarang kata anak haram atau anak wanita malam disematkan kepada dirinya. Sendirian Intan menangis di balik pintu belakang restoran The Starlight yang remang-remang.
Perlahan ia mengelus perutnya yang mulai membuncit sedikit. Kehamilannya masih sangat awal, baru memasuki bulan kedua. Dia belum memeriksakan kondisinya ke dokter kandungan sama sekali karena takut biayanya mahal.
"Kamu yang sehat ya, Nak, di dalam perut mama! Mama sekarang lagi berjuang biar nanti kamu bisa lahir tanpa kekurangan. Kamu harus jadi anak yang hebat dan bersinar terang seperti bintang Orion!" ucap Intan berusaha tegar sembari membelai perutnya berulang kali seolah anaknya di dalam sana bisa mendengar suaranya.
Intan menghapus air matanya lalu ia masuk kembali ke dapur restoran. Jam kerja Intan akan berakhir sekitar setengah jam lagi.
Tanpa ia duga Bu Dyah menghampirinya di dapur seraya berkata, "Tolong lain kali kamu jangan berlaku kasar kepada tamu restoran ya, Intan. Kalau tidak aku harus mengeluarkan surat peringatan atau melakukan PHK. Tadi tamu di meja nomor 8 komplain, katanya kamu berkata kasar kepada salah satu temannya!"
Sekalipun yang dituduhkan kepadanya jelas-jelas tidak benar, tetapi Intan menjawab kalem, "Baik, Bu Dyah. Lain kali tidak akan terjadi seperti itu lagi."
Manager restoran itu pun tadi melihat situasi yang tidak adil terhadap Intan. Namun, posisinya diwajibkan memperlakukan tamu sebagai raja. Dia mengeluarkan dompet dari saku seragam managernya lalu mencabut selembar uang rupiah merah. "Tan, ini buat uang saku kamu, gajian masih agak lama soalnya," ujar Bu Dyah seraya tersenyum tulus.
"Wah, terima kasih banget, Bu Dyah. Semoga kebaikan Ibu dibalas berlipat kali ganda oleh Yang Di Atas!" ujar Intan dengan binar kebahagiaan di wajahnya. Dia ingin menabungnya sebagian untuk periksa USG ke dokter beberapa bulan lagi dan juga membeli s**u ibu hamil agar janinnya mendapat asupan gizi yang baik.