"Zayn, tunggu aku!" panggil seorang gadis berambut pirang bergelombang yang berlari-lari kecil di koridor depan ruang kuliah.
Pemuda yang menenteng tas ransel hitam di bahu kirinya itu membalik badan dan menunggu hingga gadis tadi berhenti di hadapannya. "Ada apa, Lea?" tanya Zayn cuek.
Azalea, teman sekelas kuliah Zayn itu bertanya, "Apa kau ingin mengunjungi perpustakaan?"
"Yap, apa kau mau ikut?" sahut Zayn singkat seraya meneruskan perjalanannya menuju sayap barat area kampusnya.
"Tentunya. Bisakah kau membantuku belajar anatomi tulang manusia?" pinta Azalea dengan nada manja sambil bergelanyut di lengan pemuda itu.
Dan Zayn membiarkan Azalea berlaku sok mesra dengannya. Tak ada ruginya pikir Zayn. Gadis itu berasal dari keluarga konglomerat asal Perancis, dia berkenalan dengan Azalea pada awal perkuliahan karena mereka duduk bersebelahan.
"Aku ini guru yang galak, apa kamu tidak takut?" Zayn melirik tajam ke wajah Azalea dengan sengaja. Mereka memasuki gedung perpustakaan dengan rak-rak buku tinggi menjulang yang nyaris menyentuh plafon atap ruangan satu lantai yang luas tersebut.
Gadis berambut pirang sepunggung itu menyeret tangan Zayn ke salah satu sudut perpustakaan lalu mendorongnya ke tembok. Dia mengalungkan kedua tangannya ke leher Zayn lalu memagut bibir pria itu dengan bersemangat.
Bagi Zayn yang ingin cepat melupakan Intan, kelakuan liar Azalea mendukung usahanya. Dia merengkuh pinggang gadis itu hingga tubuh mereka menempel satu sama lain. Suara bibir yang beradu seru terdengar pelan.
Pemandangan tak senonoh sepasang muda-mudi bermesraan di sudut perpustakaan tadi membuat pengunjung yang kebetulan melewati tempat itu buru-buru berlalu dan menunda mencari buku di sisi tersebut.
"Apa kau ingin menginap di tempatku malam ini, Lea?" tawar Zayn coba-coba. Dia tahu bahwa Azalea sedang kasmaran kepadanya.
"Bolehkah?" balas gadis itu menelengkan wajahnya seakan tak percaya dengan tawaran Zayn.
Namun, pemuda itu menganggukkan kepalanya yakin. "Aku tinggal sendirian di rumah keluargaku, lainnya hanya pegawai saja. Jadi—"
"Aku akan datang ke rumahmu sebelum makan malam nanti, Darling. Tunggu saja!" jawab Azalea lalu dia melepaskan dirinya dari dekapan Zayn yang begitu maskulin.
Kemudian mereka berlaku santai dengan berjalan bersebelahan di lorong perpustakaan mencari buku textbook bahan kuliah. Beberapa pengunjung lainnya memerhatikan dengan tatapan menilai pasangan tersebut.
"Zayn, buku karangan Getty and Sissons ini bagus kurasa. Apa kau sudah membacanya?" ujar Azalea sambil menyerahkan sebuah buku mengenai anatomi yang agak tebal.
"Pernah baca sekilas, itu digunakan juga oleh Prof. Calvin Chadwick juga untuk materi presentasi kuliah. Oke, mari kita baca juga!" balas Zayn lalu menaruh buku rekomendasi Azalea ke tumpukan buku yang akan mereka baca.
Di perpustakaan itu, pengunjung dapat menggunakan keranjang atau troli seperti di supermarket untuk membawa buku yang ingin dibaca langsung atau dipinjam dengan dibawa pulang.
Zayn dan Azalea pun duduk bersebelahan di meja dekat jendela yang mengarah ke jalan raya sisi barat kampus mereka. Memang otak pemuda itu encer dan bisa dikatakan jenius, dia membantu Azalea belajar materi kuliah bersamanya hingga gadis itu paham sepenuhnya.
"Sudah cukup sore, apakah kau mau pulang ke rumah sekarang, Zayn?" ujar Azalea seraya memeriksa jam tangannya.
"Hmm, kau benar, Lea. Mari kita pulang sekarang!" Zayn melingkarkan lengan kokohnya ke pinggang gadis itu lalu tangan kanannya mencubit dagu runcing Azalea, "jangan lupa dinner dan kencan kita malam nanti, Manis!" pesan Zayn dalam bahasa ibu Azalea sebelum menautkan bibir mereka berdua rapat-rapat.
Sembari menata napasnya yang terengah Azalea menjawab perkataan Zayn dalam bahasa Perancis juga, "Apa kita kini berpacaran, Zayn?"
"Apa perlu kau pertanyakan, Sayangku? Tentu saja iya!" jawab Zayn yang membuat gadis asal Perancis itu tersenyum dengan binar bahagia di tatap matanya.
Mereka berdua berpisah di parkiran mobil kampus dengan mobil masing-masing. Mobil yang mengantar jemput Azalea dengan sopir pribadi yang menunggunya sepanjang hari itu bermerk Bughati yang harganya puluhan milyar rupiah, Zayn mengetahui hal itu.
Dia pun secara spontan membandingkan Intan yang miskin tak memiliki apa-apa dengan Azalea yang diback-up penuh oleh orang tuanya dengan kekayaan unlimited. Senyum sinis itu terukir di wajahnya saat mobil yang dikendarai oleh Joseph Zucker melaju di jalanan kota Jenewa, Swiss.
'Intan ... gue akan anggap lo sebagai kesalahan di masa muda gue yang masih belum tahu dunia luas. Untung saja saat lo bilang hamil, gue kagak mau tanggung jawab. Kalo gue tetep di Jakarta pasti nggak akan ketemu Azalea yang super tajir ortunya!' batin Zayn merasa bangga dengan keputusannya meninggalkan Intan.
Kemudian Zayn berbicara kepada Martin asistennya, "Tin, gue ada kencan makan malem di rumah. Suruh koki masakin hidangan yang mewah dan lezat. Tamu gue bukan orang sembarangan. Paham lo?"
"Siap, Mas Zayn. Nanti aku sampaikan ke Chef Alfredo langsung sesampainya kita di rumah," jawab Martin patuh dari bangku samping sopir.
"Good," tukas Zayn puas. Dia melihat pemandangan kota Jenewa yang masih diselimuti lapisan salju tebal. Belum ada sebulan ia menetap di Swiss.
Dalam hatinya Martin merasa bahwa tuan mudanya itu cepat sekali berpindah ke lain hati. Dia mengetahui kisah Zayn dan Intan yang tersembunyi cukup lama dari keluarga Pradipta. Memang benar pepatah orang Jawa "lanang memang milih, wedok menang nolak" yang artinya kaum laki-laki memiliki hak memilih pasangannya, sedangkan kaum perempuan punya hak menolak yang tidak disukai.
Sesampainya Zayn di rumahnya, dia langsung masuk ke kamar tidurnya membawa sendiri ransel kuliahnya. Dia ingin mandi sebentar lalu beristirahat untuk memulihkan staminanya yang terkuras dari pagi hingga sore di kampus tadi. Malam ini dia akan membuat gadis konglomerat keturunan Perancis itu takluk dalam jerat pesonanya.
Sekitar pukul 19.30 waktu Swiss, pintu kamar Zayn diketok dari luar oleh pelayan rumahnya. Tamu yang telah ditunggu-tunggu olehnya telah tiba. Pemuda tampan itu mengenakan kaos lengan panjang model turtleneck warna hitam yang membungkus tubuh berotot padatnya yang elok dengan sempurna.
"Tuan Muda, Miss Azalea telah tiba dan menunggu Anda di ruang tengah," ujar pelayan wanita berusia sekitar 30 tahunan itu kepada Zayn di depan pintu kamar.
"Baiklah, aku akan ke sana," jawab Zayn dalam bahasa Inggris. Hanya Martin saja yang berkebangsaan Indonesia selain dirinya. Pegawai di rumahnya yang jumlahnya selusin itu berasal dari daratan Eropa dengan kewarganegaraan yang berbeda-beda.
Zayn melangkah anggun menuruni tangga dari lantai 2. Dia bertukar tatapan mesra dengan Azalea yang duduk di sofa menantikannya. Setelah mereka berdiri berhadapan, Zayn memeluk gadis cantik bermata biru seperti boneka Barbie itu lalu mencium bibirnya dalam-dalam hingga Azalea mendadak limbung dan segera berpegangan di d**a pacar barunya.
"Apakah kau sudah meminta izin ke papa mamamu untuk tidak pulang malam ini, Lea Sayang?" tanya Zayn menatap wajah kekasihnya dengan pandangan yang teduh dan memabukkan.
Azalea tertawa pelan, dia pun menjawab, "Tidak. Mana berani aku minta izin seperti itu ke papa mamaku, Zayn. Ohh ... apakah ucapanmu tadi siang serius untuk mengajakku bermalam di sini?"
Namun, pertanyaan santai dari Azalea ditanggapi oleh Zayn dengan serius. "Aku tak pernah bercanda untuk hal pribadi seperti itu, Lea. Sudahlah, kita makan bersama, mengobrol, dan kau bebas pulang ke rumahmu kapan pun!" ujarnya lalu berjalan sendiri ke arah ruang makan meninggalkan gadis itu berdiri sendirian di ruang tengah dengan syok dan tak enak hati.
Dengan menyesal Azalea menggigit bibirnya lalu bergegas mengejar Zayn dengan berlari-lari kecil di atas sepatu high heels 12 cm. Dia berseru, "Zayn, tunggu aku—"
Ketika pemuda jangkung berparas oriental itu mendadak berhenti dan membalik badannya, Azalea membentur tubuh Zayn dengan keras. "Aaarrgghh!" pekiknya.
Sebelum gadis itu terjatuh ke lantai keras, Zayn menangkapnya dan merengkuh tubuh ramping itu ke dekapannya. Ketika mata Azalea terpejam karena takut jatuh, Zayn mendaratkan kecupan-kecupannya di kelopak mata dan hidung mancung gadis itu lalu tertawa geli. "Hey, kau kenapa senang sekali melemparkan dirimu ke pelukanku, Nona Perancis?" guraunya.
Wajah Azalea tersipu malu karena teguran Zayn lalu dia menegakkan tubuhnya di lantai seraya menjawab, "Kupikir kau marah padaku, Zayn. Damai ya, kita makan malam dan habiskan malam bersama seperti yang kau inginkan."
"Good. Aku suka gadis manis yang penurut!" balas Zayn lalu menggandeng tangan Azalea ke meja makan serta mengecup punggung tangannya dengan senyum sejuta pesonanya yang memikat.