6

413 Words
Kadang, karena lo adalah objek fantasi gue sebelumnya. Gue masih mikir, lo itu nyata atau masih jadi objek fantasi gue _____ Mentari, masih memakan somaynya dengan pelan. Entahlah, rasanya nafsu makan Mentari hilang begitu saja. Mungkin, karena Mentari makan hanya sendiri. Karena, biasanya ketiga temannya itu pasti berceloteh didekat Mentari, bahkan ketika makan. Mentari bahkan baru ingat kalau ia meninggalkan Wanda entah dimana. "Kak Mentari ya?" Mentari menoleh dengan heran, gadis berwajah manis, rambut digerai indah, Mentari tebak. Pasti anak kelas sepuluh, soalnya masih polos gitu mukanya, nah pas udah jadi senior baru deh tuh kelihatan belangnya "Iya, gue Mentari" perlu diketahui Mentari itu tidak terlalu akrab dengan anak kelas sepuluh. Dia punya teman seperti Wanda, Valerie, dan Naya itupun karena mereka berteman semenjak SMP. Mentari memang agak susah berbaur dengan orang baru. Nah mungkin kalau Mentari lama mengenalnya baru deh Mentari lebih santai "Boleh duduk disini kak?" cewek manis itu tersenyum ramah sambil membawa sepiring somay ditangannya "Oh,boleh. Duduk aja" Mentari menatap gadis itu dengan ramah Gadis itupun duduk dihadapan Mentari, tapi dia tak langsung memakan somaynya malah menatap Mentari dengan senyum yang membuat Mentari ngeri sendiri "Mmm kak, aku boleh nanya?" Mentari mulai wanti-wanti nih. Bukannya tadi niatnya mau duduk semeja ,terus makan doang. Loh,kenapa sekarang jadi nanya begini Dengan pasrah Mentari menganggukkan kepalanya "Seriusan loh kak. Aku gak nyangka kak Raja pacaran sama kakak. Aku kira dia bakal pacaran sama Angel. Mereka cocok loh, Angel cantik,baik, pintar anak olimpiade juga. Di kimia tepatnya" gadis itu berbicara dengan semangat, entah siapa cewek ini, dan entah siapa cewek bernama Angel itu. Kenapa dia tiba-tiba disebut dan diseret di hubungan Mentari. Lagian. Emangnya kenapa kalau si Angel itu cantik, baik segala ikut olimpiade dibawa-bawa. Perlu dibilangin sepertinya nih cewek. Kalau Mentari itu gak perduli sama sekali. "Taunya malah, kayak mimpi aja kakak yang jadian sama kak Raja. Keberuntungan kakak tuh ajib banget loh" keberuntungan? Hmmm, Mentari rasa memang dia beruntung banget. Raja sampai melirik bahkan mau pacaran sama Mentari. Cewek yang bahkan gak berani ngelakuin hal baru, cewek aneh yang tiap hari datang ke sekolah dengan rambut kuncir kuda. Cewek yang kata teman-temannya kerajinan banget sampai ngelanggar satu peraturan aja belum pernah. "Lo gak makan?" tanya Mentari berusaha sabar Gadis itu menggeleng "gak kok, aku kenyang kak. Yaudah aku pergi dulu ya" gadis itu, tanpa rasa bersalah berlalu meninggalkan Mentari "Kenyang p****t lo. Makan doang kaga. Kenyang ngoceh iya lo" jengah rasanya, cewek tadi itu pasti cuma mau manas-manasin hubungan Mentari dan Raja Pada akhirnya Mentari benar-benar kehilangan nafsu makannya. Gadis itu meneguk air mineral dihadapannya dengan rakus "haha! Cewek sialan!. Kalau lo mau bilang gue ga pantes sama Raja. Bilang aja. Ga perlu bertele-tele pakai sok makan semeja sama gue"Mentari mulai mengomel. Ia tak habis fikir, kenapa banyak sekali orang-orang yang mengurusi urusannya. Teman?bukan!, saudara, bukan. Repot banget. Mentari meninggalkan kantin, dengan perut yang tidak kenyang sama sekali. Bel masuk berbunyi. Membuat Mentari dengan semakin cepat melangkahkan kakinya lebih cepat. ___ "Tar. Lo pulang bareng kita aja. Kaki lo kan sakit tuh" Valerie dan Naya berdiri disamping meja Mentari dan Wanda, sementara Mentari mengemasi alat tulisnya, setelah selesai Mentari memakai tasnya lalu berdiri menatap kedua sahabatnya itu "Ga bisa. Gue kan bawa sepeda. Kalian tenang aja. Gau bisa kok pulang sendiri" Mentari meyakinkan kedua sahabatnya itu dengan senyumnya "Sorry ya guys. Gue duluan, gue ada les piano. Bye" dengan terburu-buru Wanda berjalan keluar kelas "Tuh anak" kesal Naya menatap Wanda yang berlari melalui jendela kelas "Jadi gimana?" tanya Valerie lagi "Ga bisa. Gue pulang naik sepeda aja. Ga perlu khawatir ya" Mentari menepuk pipi kedua sahabatnya. Pipi Naya yang tembem mulai bergetar karena tepukan Mentari di pipinya, Mentari lalu keluar kelas menuju parkiran "Huftt!" Mentari menggelmbungkan pipinya menahan nafas lalu mengeluarkannya kasar "Aihhh, gue ga bisa goes sepedanya kaki gue pasti sakit. Tapi, kalau sepedanya ditinggal, kak Farah pasti ngomel" yah tak ada pilihan lain, daripada kakaknya mengomel karena sepeda yang biasanya dipakai keliling komplek itu hilang tiba-tiba Mentari menatap sekeliling parkiran, masih banyak yang nongkrong di depan gerbang, apalagi di taman depan. Wah mereka sepertinya tidak tau jam pulang sekolah. Mentari mengelurkan sepedanya dari barisan sepeda lain, ada enam sepeda termasuk sepeda Mentari. Tapi, hanya sepeda Mentari yang jelas sepeda cewek. Soalnya ada keranjang didepan, dan tempat bonceng dibelakang. Warnanya pink pula. Harusnya Mentari tau, kakaknya itu tak bisa lepas dari warna pink. Mulai dari furnitur kamar, baju, warna lemari, aksesoris bahkan hal-hal terkecil sekalipun. Mungkin kalau ada closet warna pink Farah pasti rela membelinya. Tapi anehnya Farah itu cewek tomboy yang suka warna pink. Dan itu sangat aneh menurut Mentari Mentari mencoba menggoes sepeda itu, namun baru keluar parkiran, Mentari sudah mengaduh kesakitan. Apalagi menggoes sepeda itu pergerakan kaki yang paling dominan. Terbukti, perban kaki Mentari melebar dengan warna merah. Itu artinya darah di lutut Mentari keluar makin banyak saat Mentari menggoes sepeda. "Ga bisa" Mentari mendesah lelah, ia mulai menyusun rencana Sepatu berwarna hitam tepat dihadapan Mentari, dekat sekali dengan ban sepedanya membuat Mentari langsung mendongak menatap siapa pemilik sepatu itu "Turun dulu" Raja memegang setang sepeda Mentari, hingga gadis itu turun Raja masih memegangnya "Ehh mau ngapain!" seru Mentari spontan saat Raja menaiki sepeda berwarna pink itu "Nganter lo pulang. Udah ayo" ujar Raja santai"kalau lo gak ada yang anter ke sekolah. Jangan sungkan minta gue yang anter" Mentari menatap Raja spichles"tapi, motor lo?" "Udah gue suruh Ipong yang bawa. Dia kan tetangga gue" Pandangan beberapa anak mulai fokus pada dua sejoli itu. Apalagi melihat Raja yang rala menaiki sepeda berwarna pink itu "ayoo Tar"tangan Raja menuntun lengan Mentari untuk segera duduk. Dengan malu Mentari duduk diboncengan Raja, dan dalam sekejap Mentari dapat melihat punggung tegap itu, bersamaan bau parfum Raja yang beraroma,,,,Vanila? Mentari tak perduli yang jelas Mentari suka bau parfum itu. Sekarang Mentari mulai bingung harus dimana ia berpegangan Raja mengayuh sepeda itu dengan pelan, bukan karena Mentari berat atau apa. Hanya saja, Raja ingin menikmati momen ini Sepeda itu keluar dari area sekolah, dan sekarang mereka mulai menikmati keadaan ini, mereka banyak menjumpai teman sekolah yang juga baru pulang, yang jelas Mentari masih kebingungan harus berpegangan pada apa. Pegangan pada pinggang Raja begitu?wahhh itu kayaknya ide yang bagus. Tapi Mentari malu. " pegangan aja. Takutnya lo jatuh" perkataan Raja menyadarkan Mentari. Kalau mungkin saja cowok itu juga menyadari kebingungan Mentari sedari tadi, dengan ragu tangan Mentari terulur menyentuh pinggang Raja. Dan pada saat itu wajah Mentari memerah sempurna Hihhhh pinggangnya ya Allah- Mentari menggelengkan kepalanya kuat Haha bunda pasti iri nih, gue pulang bawa cogan- Mentari mulai terkikik geli, membayangkan Bundanya akan bengong kalau melihat Raja "Kok ketawa, ada yang lucu ya?" Raja menaikkan sebelah alisnya sambil terus mengayuh sepeda "Hah? Engga kok" Mentari mengutuk otaknya yang suka sekali berkhayal "Kaki lo. Gapapa?" Mentari melirik kakinya yang terlihat berdarah dibalik perbannya, bukan karena betadin tapi murni karena darah yang keluar saat Mentari menggoes sepeda "Gapapa, nanti gue obatain" Mentari tersenyum canggung meski Raja tak melihatnya Mereka terdiam setelahnya, Raja sibuk dengan kayuhan sepedanya. Sementara Mentari sibuk menatap punggung Raja yang terlihat menarik, rambut Raja yang sedikit berantakan. Semuanya menarik Mentari menaikkan sebelah alisnya bingung saat Raja tiba-tiba berhenti Apotek? Raja menghentikan sepedanya di depan apotek. Pria itu lalu menyuruh Mentari untuk turun "Tunggu sebentar ya" Raja meninggalkan Mentari yang memegang sepeda itu. Entahlah Mentari masih bingung dengan apa yang akan dilakukan Raja Suara motor dan mobil membuat Mentari mengalihkan pandangannya pada jalanan yang tampak ramai, jauh dari fikiran Mentari, kapan sebenarnya kota Jakarta itu punya waktu tidur Raja menatap Mentari yang serius menatap jalan raya. Pria itu berjalan menghampiri Mentari, menepuk pundak gadis itu hingga membuat Mentari sedikit terkejut dengan ekspresi berlebihan. Berbalik menatap Raja. Dengan tangan memegang d**a dan mata membulat Raja menahan senyumnya karena tingkah Mentari. Sementara Mentari meringis mengingat ekspresi konyolnya "Maaf ya lo jadi kaget" Hanya diam, Mentari menggigit bibirnya Keduanya kembali menaiki sepeda itu dalam diam. Raja meletakkan dua bungkusan yang tadi dibelinya di keranjang sepeda, beberapa obat, seperti betadin, cairan antiseptik, kapas dan perban. Mungkin Mentari juga tak sadar kalau Raja sempat mampir di minimarket sebelah apotek untuk membeli air mineral dan es krim "Kenapa berhenti lagi?" kali ini Raja menghentikan sepedanya di taman komplek dekat rumah Mentari. Entah untuk apa "Turun dulu ya" Dengan patuh Mentari pun turun dari sepeda itu, diikuti Raja yang turun lalu mengambil dua bungkusan di keranjang sepeda, Raja memegang tangan Mentari lalu berjalan menuju ayunan, ditaman itu sepi, mungkin hanya empat anak laki-laki dan satu anak perempuan yang tengah bermain jungkat jungkit dan perosotan "Selonjorin kakinya" perintah Raja yang langsung diikuti Mantari, gadis itu meringis saat merasakan perih ketika lutut kirinya di luruskan. Raja duduk bersila sementara Mentari duduk diatas ayunan "Raja, nanti celana lo kotor" Mentari menatap miris celana abu-abu Raja "Gapapa, gue punya banyak celana abu-abu" pria itu tampak tak perduli,ia malah membuka salah satu plastik, lalu menyodorkan es krim pada Mentari, dengan bingung Mentari mengambil es krim itu "Buat gue?" "Makan aja" Raja tersenyum sebagai jawaban, kemudian dengan semangat Mentari membuka es krim itu lalu memakannya Sementara Raja ia malah fokus membuka perban di kaki Mentari "Ini lukanya gede. Sakit ya?"Raja mendongak sebentar menatap Mentari lalu kembali fokus pada luka gadis itu Raja mengeluarkan sebotol air mineral dari kantung plastik lalu menyiramnya pada lutut Mentari, menuangkan antiseptik pada kapas kemudian menyapukkannya pada kaki Mentari yang berdarah Semua itu tak luput dari perhatian Mentari. Kenapa Raja begitu sempurna? Dia baik,tampan, pintar, ga suka gombal kayak cowok jaman sekarang Meskipun kemarin Mentari tau kalau Raja itu merokok, Mentari bisa menerimanya, jujur Mentari sangat terkejut cowok seteladan Raja merokok. "udah"Raja menepuk celananya yang kotor saat ia berdiri, ia menatap Mentari yang menatap lurus kearah Raja, Raja tau kalau sedari tadi Mentari menatap Raja "Jangan ngeliatin gitu" Raja tersenyum pada Mentari, sinar senja yang tepat berada dibelakang Raja. Membuat pria itu tampak seperti bercahaya "Lo bercahaya" ucapan Mentari berhasil membuat senyum terukir di bibir Raja Pria itu duduk disebelah Mentari"gue boleh jujur" Mentari masih menatap lurus pada Raja"lo masih kayak delusi buat gue" Raja menaikkan sebelah alisnya"delusi?" "Gue ga tau apa alasan lo nembak gue. Sampai kita pacaran, gue--ngerasa lo diluar genggaman gue. Gue masih ngerasa kalau gue adalah orang yang selalu ada dibelakang lo. Natap lo dari jauh. Ini--kayak mimpi" Mentari tersenyum tipis "Lo tau gue butuh keberanian besar untuk nembak lo" Mentari menatap Raja lekat, wajah pria itu meski dari samping terlihat menarik"gue boleh jujur?" Jantung Mentari mulai menabuh genderang perang. Ia mulai deg degan "Akkh!" entah darimana datangnya bola yang mengenai wajah Raja. Pria itu terkejut bukan main Mata Mentari melotot. Mentari langsung menatap anak kecil yang menatap takut-takut Raja "Maaf kak ,Bayu gak sengaja" anak bernama Bayu itu menunduk takut Jadilah Mentari tidak tega mengomelinya,Mentari mengambil bola yang jatuh dihadapan Raja "Jangan ngenain orang lagi loh. Temen kakak kan jadi kesakitan" Anak-anak itu hanya menunduk patuh "nih"Mentari menyodorkan bola itu pada anak bernama Bayu "Makasih kak" anak-anak itu tersenyum kearah Mentari kemudian berlari pergi Dengan panik Mentari menatap wajah Raja"sakit?" Raja menutup sebelah matanya yang kemasukan debu saat bola itu mengenai wajahnya "gapapa, kelilipan doang" "Jangan dikucek" Mentari langsung menyingkirkan tangan Raja yang semula ingin digunakan untuk megucek mata kirinya "Buka matanya" dengan patuh Raja membuka matanya meski perih, hembusan pelan mengenai matanya, Mentari meniup mata Raja pelan, hingga mata Raja tak seperih sebelumnya "Udah gapapa kan?" "Gue, baru sadar kalau lo punya bola mata yang cantik" gugup, Raja yang memperhatikan mata Mentari dengan intens membuat Mentari benar-benar gugup "Mmm, pulang yuk" Mentari segera menegakkan tubuhnya, lalu berjalan menjauh dari Raja Aihss Raja. Lo gak bagus buat kesehatan jantung gue Tbc...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD