Jangan jadi orang yang hanya mampir. Tanpa berniat menetap
___
"Gina, bagi contekan Gin. Urgent!"
"Nyontek mulu lo. Punya otak pake gayaan ya?" ketus Gina
"Ya Allah Gin. Pelit amat" Valerie nampak memelas. Ia mulai panik sekarang, tak ada Mentari yang bisa dimintai contekan seperti biasa. Satu-satunya otak yang bisa dipercaya itu Mentari. Yah mungkin Mentari telat atau mungkin tidak masuk dan itu bencana bagi ketiga temannya. Dan lima menit lagi Ms April akan datang.
Heran! Sudah tau pekerjaan rumah. Masih saja dikerjakan di sekolah. Apa anak SMA jaman sekarang pada tau baca doang. Tapi tidak mengerti maksudnya. Atau, karena pernah baca meme yang bilang 'pr itu emang pekerjaan rumah. Tapi sekolah itu kita anggap rumah kedua. Jadi ga salah dong kalau ngerjain pr di sekolah' pokoknya sejenis itulah maksudnya.
Ada juga anak yang paling malas dikelas, bisa jadi anak yang mendadak rajin dan tiba-tiba mengisi bukunya yang kosong menjadi terisi tinta mendadak. Anak yang paling lamban nulisnya, bisa jadi paling cepat. Itu kalau tulisannya masih bagus sih, kalau seperti ceker ayam yah mungkin bisa jelas dilihat kalau itu kerjaan mencontek
Suara sepatu yang menggema. Berhasil membuat mereka yang tengah menulis berhenti mendadak. Yang masih berkeliaran di bangku teman, mulai grasaka grusuk kembali ke tempat duduknya
"Kumpulkan tugas kimia kalian"suara itu lebih menyeramkan daripada suara Lord Voldemort yang lagi ngejen berusaha mengekuarkan si kuning
"sekarang!" bagai disambar geledek, banyak yang mendesah pasrah dan mulai mengomel tak jelas
"Gue belum selesai" desis Valeria pasrah
"Selamat berjemur Val" Naya tersenyum mengejek Valerie
"Emang lo udah?"tanya Valerie dengan wajah panik
Naya menggeleng polos. Gadis itu menunjuk bukunya yang masih tak ternodai tinta barang setetes
"Setidaknya, gue punya temen buat dihukum"Valerie tersenyum setelahnya. Yah setidaknya Valerie punya teman untuk berjemur
"lagian, Mentari kemana sih. Kan kalau tuh anak ada. Kita bisa nyontek di dia"
Suara pintu yang diketuk membuat perhatian teralihkan pada ambang pintu. Disana Mentari berdiri dengan nafas yang sedikit tak teratur
Ms April. Memperhatikan Mentari dari atas hingga ujung kaki, dan dia menemukan ada yang salah dengan kaki Mentari. Darah, kaki Mentari berdarah tepat di lutunya, dahi gadis itu juga berdarah membuat sebagian orang bertanya ada apa dengan penampilan Mentari. Apa gadis itu terkena bahaya atau di jambret di jalan.
"Mentari, kenapa dengan kaki kamu?"
"Maaf Ms. Saya diserepet motor"
"Kalau begitu, kamu boleh pergi ke UKS dulu. Sebelumnya tolong kumpulkan tugas kamu" Ms April menghampiri Mentari yang masih berdiri dengan kaki kiri ditekuk diambang pintu
Mentari segera melepas tasnya, lalu mengambil bukunya, disana sudah ada tugas kimia yang semalam Mentari kerjakan, gadis itu menyodorkannya pada Ms April. Guru berumur dua puluh tujuh tahun, cantik dan modis.
"Luka kamu cukup parah, tolong Wanda antarkan Mentari ke UKS"
Wanda mengangguk, lalu menuntun Mentari keluar dari kelas
Ms April kembali menatap muridnya yang tampak sedikit bernafas lega
"Bagi yang merasa tidak mengumpulkan tugas. Silahkan keluar, berdiri di bawah tiang bendera. Sampai jam pelajaran saya selesai"
Kembali, suara menggerutu dan makian terdengar
"Cepat!" teriak Ms April. Dan dalam sekejap semuanya sudah berlari menuju lapangan. Perlu diketahui, Ms April adalah guru berwajah manis namun berhati sadis. Menurutnya peraturan yang dia terapkan sama sekali tak boleh dilanggar. Jadi, kalau ada yang melanggar, mungkin hukuman yang berbicara.
"Aihhh. Itu guru sadis banget. Muka doang semanis gula. Hatinya malah pait banget"gerutu Hilman, pria yang kalau dihukum paling semangat mengomelnya. Tapi, tetap aja besok pasti diulang lagi kesalahannya
"Kenapa sih. Gue harus belajar segala kimia lagi!..gue kan pengen jadi pelukis, gimana ceritanya belajar kimia" Intan nampak mulai nimbrung menggerutu
Sinar matahari pagi tidak terlalu buruk, jadi kedelapan orang yang sedang berdiri dibawah tiang bendera itu harusnya berterimakasih pada Ms April. Yang diam-diam mungkin memperdulikan kesehatan anak muridnya. Itupun kalau benar-benar niatnya Ms April sih.
"Bodo Tan, bodo. Diem aja lo pada. Hayati aja ini sinar matahari gratis" ketus Naya
__
Mentari nampak mulai meringis saat petugas UKS mengoleskan betadin pada lutut Mentari, sementara dahi gadis itu sudah dibersihkan dan di beri plester.
"Lo, kenapa bisa luka-luka gini sih Tar?" sebenarnya Wanda penasaran sedari tadi, tapi melihat Mentari yang meringis terus-terusan membuat Wanda mementingkan Mentari lebih dulu sampai ke UKS dan segera diobati
Mentari menatap Wanda sekilas. Lalu gadis itu kembali menatap lukanya yang sedang diberi perban
"Telat, terus ga ada yang anter. Jadi gue pakai sepeda aja. Taunya malah keserepet motor. Udah itu yang nyerepet ngomel-ngomel.." dengus Mentari saat mengingat wajah ibu-ibu yang mengomelinya. Padahal Mentari tau itu ibu-ibu yang salah. Sudah lampu sen ke kiri, eh malah belok kanan. Malah yang di salahin Mentari yang nubruk dari belakang. Ibu-ibu jaman sekarang Mentari rasa sama ganasnya dengan preman pasar. Mungkin rasa keibuannya sudah hilang
"Lo naik sepeda?, gila! Kerajinan banget lo" heran rasanya, saat tau Mentari naik sepeda. Hanya untuk pergi kesekolah. Kalau Wanda sih mendingan tidak usah pergi sekolah kalau sudah tau telat.
"Ya habisnya kan ada ulangan harian dari pak Dino. Kalau gue gak masuk. Ulangan susulan dong"
Wanda hanya mangut-mangut"gue kira lo beneran gak masuk tau. Yang paling panik tuh Val sama Naya"
"Kenapa emang?"Mentari memegang dahinya yang sudah dipleater
"Iyalah. Kan biasanya mereka nyontek di lo. Kalau ada tugas"
"Gue saranin. Jangan keseringan. Jatohnya mereka kaya manfaatin otak lo. Paham" nasihat Wanda
Bukannya menjelek-jelekkan teman atau apa. Wanda hanya takut teman-temannya kebiasaan nyontek. Malah nantinya keterusan entah sampai kapan
"Gitu ya?"
Wanda mengangguk sebagai jawaban
"Udah. Jangan banyak gerak dulu ya kak" ujar adik kelas,salah satu anggota PMR yang bertugas saat itu dengan ramah
"Makasih ya" balas Mentari tersenyum
Wanda membantu Mentari turun dari ranjang UKS. Tepat saat itu bel keluar main berbunyi. Keduanya berjalan beriringan dilorong. Mulai banyak siswa siswi yang bergerombolan keluar, di depan kelas, banyak yang duduk di kursi panjang yang disediakan didepan kelas. Sekedar mengobrol, atau bertukar gosip apa hari ini
Mungkin paling banyak akan pergi ke kantin, bagaimanapun juga perut kadang selalu diprioritaskan. Tepat saat Mentari dan Wanda melewati lapangan basket. Langkah mereka terhenti karena sorakan yang begitu menulikan telinga
"Yaelahhh baru liat anak IPA satu main basket aja teriaknya heboh banget. Apalagi liat Ji Chang Wook yang shirtles depan mereka" Wanda menggelengkan kepalanya tak habis fikir. Mungkin, agak benar juga kata Jukri kalau cewek itu ribet. Orang kelakuannya begitu, dikit-dikit teriak, udah gitu suara lebih parah dari teriakan ibu-ibu hamil yang lagi ngejen mau melahirkan
Mentari mulai clingak clinguk penasaran saat mendengar Wanda yang mengatakan kalau yang lagi main basket itu anak IPA 1 karena itu adalah kelasnya Raja
"Itu beneran yang main anak IPA satu?" Mentari melirik Wanda yang mulai bersedekap
"Iya, kenapa?Mau liat Raja main basket" Wanda menaikkan sebelah alisnya menatap Mentari yang mengangkat senyumnya lebar. Sudah jelas itu yang dimaksud Mentari. Ngeliatain cowoknya main basket
Tanpa memperdulikan Wanda, dengan sedikit tertatih karena kakinya yang diperban Mentari berjalan kearah lapangan basket, gadis itu berdiri dipinggir lapangan, dan suara teriakan para cewek sudah mulai kembali membuat telinga Mentari seakan mau pecah ,dibelakangnya Wanda sudah berdiri di belakang Mentari ,sedikit berjinjit karena tubuh Wanda yang pendek, tidak seperti Mentari yang tingginya bahkan 160 cm
Mata Mentari mengikuti pergerakan cowok yang tengah memakai seragam basket, tanpa lengan, celana diatas lutut, keringat bercucuran, wajah tegas dan serius. Satu hal yang dapat Mentari pastikan kalau Raja itu ganteng disetiap keadaan
"Lap tuh iler!" ejek Wanda saat melihat Menatari tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Raja yang tengah mendirble bola, tubuh Raja yang jangkung dan sorot matanya yang tegas sudah pasti meluluh lantakkan perempuan
"Dia beneran pacar gue ya Wan?" Mentari tersenyum kearah Wanda yang menatap datar Mentari
"Tau, lo juga yang di tembak"
Suara jeritan beberapa cewek yang meneriaki nama Raja mulai terdengar, saat Raja berhasil memasukkan bola ke ring, bukan karena Raja berhasil memasukkan bola sebenarnya yang membuat para cewek hirteris, lebih tepatnya karena seragam basket Raja yang sedikit tersingkap memperlihatkan otot perut Raja yang wahhhh
"Ihhh ganjen banget sih ini cewek-cewek" Mata Mentari terasa ingin keluar menatap mata memuja para cewek untuk pacarnya itu
"Uluhhh cemburu. Baru juga dua hari pacaran. Udah cemburu aja. Tabah-tabah deh lo, pacaran sama cowok populer kayak Raja" bisik Wanda yang entah sejak kapan berdiri disamping Mentari
Mentari hendak membalas ucapan Wanda, namun alisnya terangkat bingung saat ia melihat ekspresi Wanda yang aneh, mata membulat dan mulut terbuka. Dan entah kenapa Mentari merasakan suasana yang tadinya heboh terhenti seketika, menjadi sedikit sunyi
Hanya suara hembusan nafas yang terengah-engah yang terasa berhembus di kepala Mentarai
Mentari memalingkan wajahnya pada Wanda, mencoba kembali menatap kedepan lapangan
Mata Mentari membulat sempurna, saat bukan pemandangan lapangan yang ada didepannya, namun leher seseorang yang berkeringat, dengan jantung berdegup hebat Mentari mendongak menatap siapa yang berada didepannya dengan jarak yang sangat dekat
Raja, pria itu yang tengah berdiri dihadapan Mentari, dengan posisi kedua tangan berada dibelakang kepala Mentari dan bola berwarna oranye ditangannya
Astaga, sumpah Mentari baru sadar kalau ternyata ia hampir terkena bola basket, dan Raja menangkap bola basket yang hampir mengenai kepalanya
Raja memundurkan tubuhnya, lalu melempar bola itu kembali ke tengah lapangan, permainan kambali berlanjut, tapi Raja masih berdiri dihadapan Mentari, menatap lurus pada gadis itu
Entahalah, pertandingan basket tak lebih menarik bagi para penontonya malah lebih menarik, melihat apa yang akan dilakukan kedua sejoli yang kabarnya sudah berpacaran itu. Meskipun permainan basket berlanjut, namun ada banyak mata yang malah melirik Raja dan Mentari
"Ini kenapa?" tangan Raja menelusuri plester di dahi Mentari
Wajah Mentari memerah. Ia tau ia dan Raja sedang jadi pusat perhatian saat ini"oh, gara-gara keserempet motor"
Raja menaikkan sebelah alisnya, pria itu membalikkan badannya menatap ke lapangan basket
"Jefri!"teriaknya lantang, lantas cowok tinggi bernama Jefri itu menoleh
"Apaan!?" teriaknya balik kearah Raja
"Gue out bentar" Jefri hanya mengangguk dengan dua jempol diacungkan di kedua tangannya
"Tancap, bos ku!!" teriak Ipong
"Duilehh si Raja. Gas teros Ja!"
Teman-temanya terkekeh saat Raja menarik tangan Mentari keluar dari lapangan
"Tuh kan mereka beneran pacaran" para cewek mulai histeris sendiri saat melihat Raja menggandeng tangan Mentari yang di genggam Raja
"Aihhh cogan soult out mulu perasaan"
"Sialan! Gue ditinggal" Wanda mulai menggerutu dan keluar dari lapangan dengan mulut komat kamit tak terima ditinggalkan Mentari
Raja tampaknya belum sadar kalau lutut Mentari juga terluka, dengan sedikit cepat Raja menarik Mentari
"Raja, pelan-pelan"
"Sakit"suara Mentari berhasil menghentikan langkah Raja, pria itu menatap wajah Mentari yang meringis
" kenapa?"tanya Raja heran
"Pelan-pelan jalannya. Kaki gue sakit" balas Mentari tidak enak
Spontan, Raja menatap kaki Mentari, pria itu memandang lutut Mentari dengan wajah tampannya
"Lo beneran diserempet, terus kenapa ga balik pulang aja"
"Ga bisa. Ada ulangan soalnya" balas Mentari
"Oh"
What the.. Oh, oh si k*****t ,ya Allah. Gitu banget oh doang- Mentari mulai mengomel tak jelas
"Balik ke kelas. Lebih baik lo diem di kelas kalau sakit" nasihat Raja
"Gue laper" cicit Mentari
"Yaudah. Nanti lo ajak temen lo makan. Mumpung masih jam keluar main. Gue masih mau latihan"
"Gue pergi dulu" Raja berlalu, meninggalkan Mentari yang melongo tak habis fikir
"Temenin gue ke kantin kek. Malah nyuruh temen gue. Ini dia pacar gue apa bukan sih?" Mentari benar-benar heran sekarang
"Sabar. Ga perlu romantis kok. Cukup Raja milik gue aja" Mentari tersenyum pada akhirnya
Lagian. Mereka baru pacaran dua hari, mungkin Raja masih canggung padanya. Apalagi Raja kan tidak pernah pacaran sebelumnya.
TBC
AN: THANKS YANG MAU BACA CERITA ABAL-ABAL INI. HIHI