Viona dengan kaki kecilnya melangkah menghampiri Gema. "Om malahin Te Anna, Anya jadi nangis," adunya dengan suara khas batita sambil menunjuk Gion.
Gema mengusap kepala Viona. "Terima kasih Sayang sudah cerita ke Om," ucapnya dengan menampilkan senyum dan dibalas senyuman oleh Viona. Gadis kecil itu merasa bangga pada dirinya.
Gema kemudian menatap tajam Gion, bagaimana mungkin adik yang sudah dewasa memarahi orang di depan anak-anak.
"Kamu kalau mau tegur orang harus lihat situasinya. Lanjutkan bimbingan di lantai dua saja kalau merasa terganggu." Gema sekali lihat sudah tahu situasi. Gion pasti merasa terganggu karena mahasiswinya ada yang membawa anak. Bukan hanya satu, tapi kembar tiga.
"Mahasiswa yang lain juga jangan terlalu ribut. Nanti kalian tidak akan selesai bimbingan karena jam 11 kafe ini akan buka."
Gema menatap Vanya yang masih ditenangkan oleh Anna, suara isakan dari gadis kecil itu membuat hati Gema terusik.
Dia mendekati Anna dan Vanya. "Sini coba saya yang gendong." Padahal Gema juga tidak pernah menggendong anak kecil hanya saja perasaannya ingin menggendong Vanya.
"Tapi, dia—" Ucapan Anna terputus karena melihat Vanya dalam pelukannya berbalik dan merentangkan tangannya ke arah Gema. What? Bukannya Vanya sungguh sangat amat susah jika berdekatan dengan orang tak dikenal apalagi digendong, tapi ini di luar dugaan.
Akhirnya Anna menyerahkan Vanya karena sepertinya gadis kecil itu menginginkan digendong Gema.
Apa si Anya penyuka cowok-cowok cakep? Mas Aydan juga cakep, tapi dia enggak mau digendong. Seleranya beda sepertinya, harus yang cakep level tinggi.
Sementara Anna sibuk dengan pemikirannya ternyata Vanya sudah mulai tenang.
"Jangan nangis ya, nanti enggak cantik lagi, namanya siapa kalau Om boleh tahu?"
"Anya."
"Anya jangan nangis ya," Gema menatap Gion yang masih berdiri di sana. Sebenarnya Gion ingin minta maaf, tapi bagaimana cara memulainya.
"Itu adik om mau minta maaf ke Anya." Gema yang mengetahui tingkah adiknya langsung mendekati Gion sambil menggendong Vanya.
Melalui isyarat mata dia meminta sang adik minta maaf.
"Maafin Om," tangan Gion terulur mengusap pipi chubby Vanya yang basah dan gadis kecil itu mengangguk memaafkan.
Anna hanya bisa tercengang bahkan saat Gion yang tadi gadis kecil itu takuti meminta maaf, Vanya dengan begitu mudah memaafkan. Vanya pun mau diusap pipinya oleh Gion, padahal jika ada orang lain tak dikenal mengusap pipi Vanya, gadis kecil itu pasti tidak mau.
Unbelievable.
Memang ini Vanya seleranya beda, cowok-cowok level tinggi asal luar negeri.
Gion menoleh pada Viona yang masih berdiri di sana. Dia menyejajarkan dirinya dengan gadis kecil itu. "Maaf ya, Om sudah buat adiknya nangis." Gion berkata tulus, dia memegang tangan Viona seperti berjabat tangan. Gadis kecil itu berpikir sejenak, lalu mengangguk, memaafkan.
Sementara itu Vela berusaha mendekati Gema. "Om gendong," katanya sambil merentangkan tangan. Gema malah tertawa apalagi ketika Vanya tidak mau melepaskan Gema. "Om ini punya Anya." Suara Vanya naik satu oktaf dan Vela menjadi cemberut karena keinginannya tidak terkabul.
"Kita halus belbagi Anya," ucap Vela. Vanya tampak berpikir keras. Gema terkikik geli melihat ekspresi gadis kecil itu.
"Ya sudah yuk kita duduk sama-sama saja," usul Gema dan diangguki oleh mereka.
"Siapa nama kamu, Sayang?" tanya Gema pada Vela.
"Ela," jawabnya dengan semangat. Viona pun ikut bergabung dengan Gema, Vela, dan Vanya lalu berbincang riang.
Pemandangan ini hanya membuat Anna geleng-geleng, tidak percaya.
Sementara Gion meminta mahasiswanya untuk bimbingan di lantai dua, supaya lebih cepat mereka dipanggil dua-dua.
"Ketiganya siapanya kamu?" tanya Gema kepada Anna yang sudah bergabung dengan mereka. Gema juga memesankan sùsu cokelat untuk Triplet.
"Ini keponakan, Pak. Memang mama mereka sama bibi saya sedang kerja, jadi tidak ada yang menjaga di rumah," jelas Anna. Gema mengangguk sambil memperhatikan Triplet yang sedang meminum sùsu cokelatnya dengan sedotan, sengaja memakai gelas plastik yang ditutup agar tidak tumpah.
Tidak lama kemudian Anna dipanggil untuk bimbingan. Walau tak enak, Anna meminta tolong pada Gema untuk menjaga Triplet. Gema pun menyetujui dengan senang hati.
Gion dari atas merasa lega melihat senyuman di wajah sang kakak saat berinteraksi dengan Triplet, senyuman yang sudah lama tidak Gema tunjukan setelah pernikahan kakaknya itu gagal.
Gion tidak tahu kejadiannya, dia baru kembali ke Singapura dua hari setelah jadwal pernikahan sang kakak karena kala itu ada badai salju di London, jadi tidak ada pernerbangan yang beroperasi.
Sesampai di Singapura dia diceritakan bahwa pernikahan kakaknya gagal karena seorang ART baru di mansion ayahnya—kalau tidak salah ART itu berasal dari Indonesia—gadis itu mencintai Gema dan ia salah mengartikan perhatian Gema yang menganggapnya sebagai adik, akhirnya gadis itu menghancurkan pernikahan Gema dan Yasmin.
Kasihan sekali padahal Gema menjalin kasih dengan Yasmin sudah lima tahun dan Gema sangat mencintai Yasmin.
"Ehm, Pak jadi bimbingan, tidak?" Suara Anna menginterupsi lamunan Gion. Lalu, pria itu menghela nafas panjang.
"Sebelumnya saya minta maaf ke kamu. Mungkin saya sedikit lelah dari jam 8 memeriksa draft skripsi mahasiswa, jadi tadi sempat terbawa emosi."
Anna yang mendengar itu kaget, dosen datar meminta maaf padanya, tapi kenapa wajah pria itu tidak menunjukkan penyesalan. Namanya juga dosen datar jadi wajar.
"Iya Pak, maaf juga kalau mengganggu. Tapi, keponakan saya memang tidak ada yang jaga, jadi saya bawa ke sini, bukan mau pamer."
"Iya tidak apa-apa, saya juga salah."
Begitulah percakapan mereka hingga lanjut pada memeriksa skripsi Anna. Di sana Anna sudah memperbaiki bab satunya, meski masih ada beberapa kesalahan. Nanti bisa lanjut landasan teori di bab dua. Bahkan Gion sangat baik menuliskan teori-teori apa saja yang penting dicantumkan di bab dua skripsi Anna. Seminggu lagi mereka akan bimbingan kembali dan harus sudah selesai.
Anna merasa terharu, ia kira akan susah dengan Gion ternyata tidak. Ya, tapi ini baru bab satu tidak tahu selanjutnya.
Sementara itu terlihat Gema sedang menyuapkan Triplet kue cokelat. Mereka sepertinya sangat gemar cokelat. Namun, Gema hanya memberikan dalam porsi sedikit karena tidak ingin gigi mereka kenapa-napa.
Triplet terlihat gembira dan dengan telaten Gema menyuapkan bergantian, sebenarnya mereka bisa makan sendiri, tapi sekarang ketiganya sedang dalam mode manja.
Anna turun ke lantai bawah melihat Triplet sedang tertawa riang. Tidak biasanya ketiganya tertawa lepas seperti itu bersama dengan orang asing. Apalagi Vanya yang sekarang masih setia duduk di pangkuan Gema, benar-benar ingin memonopoli lelaki itu.
"Tante sudah selesai, yuk pulang," ajak Anna dan ketiganya dengan cepat menggeleng.
"Loh kok enggak mau pulang? Bentar lagi buka kafenya, nanti omnya harus kerja." Anna berusaha membujuk.
Ketiganya tetap menggeleng.
"Ya sudah makan siang di sini saja." Gema memberi usul, dia juga belum mau berpisah dengan triplet.
Akhirnya mereka makan siang di kafe, tapi di ruangan Gema yang cukup luas Anna tentu ikut bergabung begitu juga Gion. Sepertinya di sana hanya Annalah yang merasa canggung, sementara Triplet sangat senang. Gema juga meminta koki di sana memasak makanan sehat dan enak untuk anak usia Triplet.
Setelah selesai makan siang, tawa Triplet hilang dan seketika menangis karena mendengar kata pulang dari tantenya.
Gema berusaha menyejajarkan diri dengan ketiganya. "Sini peluk Om." Mereka langsung memeluk Gema erat.
"Ehm … anak baik dan cantik enggak boleh nangis ya. Kapan-kapan bisa main lagi sama om di sini." Gema mencoba menghapus bekas air mata ketiganya.
Setelah kesusahan membujuk mereka, Triplet akhirnya pulang diantar oleh Gion, mereka juga dibungkuskan makanan dan kue.
Gema tidak mengantar karena dirinya juga merasakan tidak ingin berpisah dari Triplet dan pria itu belum mengetahui apa alasannya.
Di mobil ketiganya tertidur dan dalam perjalanan Anna sedikit melamun. Kalau dilihat-lihat Gema dan triplet sedikit ada kemiripan wajah, dengan Gion juga, tapi mungkin dirinya hanya berpikir berlebihan.
"Terima kasih ya, Pak, sudah mengantar," ucap Anna. Bahkan Gion ikut membantu membawa Triplet ke kasur karena ketiga gadis kecil itu masih terlelap.
"Iya, sama-sama." Gion melihat sekeliling, rumah yang sangat sederhana, tidak ada ranjang dan di sana mereka hanya pakai kasur, tidak ada sofa, televisi, dan masih banyak lagi.
Gion tidak menyangka karena Anna terlihat bukanlah orang susah.
"Saya pergi dulu titip salam buat Triplet."
Anna mengangguk dan tersenyum. Dia merasakan sisi hangat dari dosennya itu.
***
Gema masuk ke dalam rumah dengan perasaan bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena bertemu Triplet, tiga malaikat kecil yang bisa menyembuhkan hatinya. Sedih karena pertemuan mereka tidak lama. Mungkin dia akan meminta Gion untuk menyuruh Anna sering-sering membawa Triplet ke kafenya.
Ketika Gema sampai di ruang televisi dia melihat sang bunda sedang memandangi ponsel sambil tersenyum, sudah sekitar seminggu bundanya sering senyum-senyum sendiri melihat layar ponsel. Awalnya Gema tidak penasaran, namun sekarang dia jadi penasaran.
"Bun," panggilnya. Shopia tersentak kaget ternyata putra sulungnya sudah pulang.
"Kamu ini bukannya salam malah mengagetkan Bunda."
"Dari tadi aku sudah ngucap salam Bunda saja yang tidak menyahut. Assalamu'alaikum Bunda."
"Wa'alaikumsalam, Nak." Shopia mengamati putra sulungnya. Kenapa seperti ada yang berbeda, putranya kali ini lebih cerah tidak ditutupi awan mendung seperti biasa.
"Bunda sedang lihat apa?" tanya Gema penasaran dan duduk di sebelah Shopia.
"Ini loh sekitar seminggu yang lalu Bunda ketemu—"
"Bunda pernah ketemu Vio, Ela, sama Anya." Shopia langsung kaget ternyata Gema tahu nama mereka.
"Iya Nak, pas belanja bulanan sama ayahmu. Kamu kenal?"
"Baru kenalnya Bun, mereka itu ke kafe tadi. Jadi, Triplet ini keponakannya mahasiswi bimbingan Gion."
"Wah, kalau Bunda tahu pasti Bunda susul ke kafe." Shopia tampak kecewa karena tidak bisa bermain dengan Triplet. "Terus?" tanyanya lagi ingin diceritakan tentang ketiga batita lucu itu.
"Gion merasa terganggu dan menegur mahasiswinya karena membawa Triplet saat bimbingan, masalahnya dia menegur agak keras dan membuat Anya nangis. Pas aku keluar ruanganku aku lihat Vio lagi marah ke Gion."
"Astaga Gion! Kenapa enggak tahu situasi!"
Gion yang baru tiba terlihat kaget karena mendengar suara sang bunda dan saat dia menghampiri Shopia, dia langsung kena omelan bundanya itu. Ternyata sang bunda juga kenal Triplet.
"Aku 'kan sudah minta maaf, Bun. Langsung di maafin juga." Walaupun sudah dijelaskan tetap saja Shopia mengomel membuat Gema tertawa. Shopia berhenti mengomeli Gion karena mendengar tawa sang putra sulung. Sudah lama rasanya dia tidak mendengar itu.
"Kenapa, Bun?" tanya Gema karena sang bunda terdiam.
Shopia segera menggeleng. "Bunda ingin diceritakan lagi soal Triplet," pintanya.
Gema pun dengan semangat menceritakan. Shopia dan Gion menyadari hanya dengan menceritakan tiga gadis kecil itu saja, Gema terlihat bahagia.
"Tapi, Nak, kalian ingat Tante Ratih tidak? Dia itu tinggal juga sama Triplet."
Gema dan Gion mengorek memorinya, Gema lebih ingat karena kala itu bertemu Ratih usianya sekitar sepuluh atau sebelas tahun.
"Tante Ratih yang—" Gema menggantung ucapannya dan Shopia langsung mengangguk karena mengerti ucapan Gema.
"Jadi, kalau Bunda simpulkan mahasiswi Gion yang namanya Anna itu, anak majikan Ratih yang diusir dari rumah entah apa masalahnya. Nah, tidak lama mereka ketemu sama mamanya triplet yang ditinggal suami saat hamil. Terus akhirnya Ratih dan Anna ngajak mamanya triplet tinggal bersama." Itulah kesimpulan yang diambil Shopia.
"Tega sekali ayahnya triplet," ungkap Gion. Bisa-bisanya meninggalkan istri sedang hamil anak kembar tiga. Satu lagi yang mengganjal di pikiran Gion, Anna diusir dari rumah, kenapa?
Sementara Gema mengepalkan tangannya kalau dirinya tahu siapa si berengsek ayah dari triplet, dia pasti akan menghajarnya. Ayah macam apa yang seperti itu Gema tidak habis pikir.