Alya dan Aydan sudah menyelesaikan makan siangnya. Mereka pergi ke kasir untuk membayar. Tanpa sengaja Alya menoleh ke arah Gema yang menatapnya tajam. Namun, Alya bergegas memalingkan muka, merasa aneh saja dengan tatapan mengerikan orang yang tidak dikenalnya itu. Alya segera menggandeng tangan Aydan dan keluar dari kafe.
Sialan! ungkap Gema dalam hati. Dia merasa Alya pura-pura tak mengenalinya. Yang sebenarnya Alya memang tidak ingat karena sudah satu setengah tahun mengalami amnesia. Dia juga tidak berusaha mengingat. Jadi, belum ada kemajuan.
"Al, bagaimana kalau kita atur pertemuanmu dengan keluargaku?" tawar Aydan mereka sudah sampai di rumah dan sebentar lagi Aydan akan pergi karena ada jadwal praktik.
"A—apa keluarga Mas akan nerima status aku?" Alya tiba-tiba gugup. Itulah yang dia takutkan saat menerima Aydan, bagaimana jika orang tua Aydan tak setuju. Di awal Alya memang berusaha menjaga hatinya agar rasa cinta tak terlalu dalam, ia takut hubungan mereka akhirnya kandas karena tidak direstui. Namun, semakin lama bersama tentu rasa cinta itu menjadi tumbuh subur, apalagi dengan segala kebaikan Aydan.
"Jangan paranoid dulu. Ayahku pasti akan terima status kamu. Kalau Bunda mungkin sedikit keras, tapi aslinya beliau penyayang, lama-kelamaan bisa menerima. Kamu jangan takut ya? Kalau tidak dicoba kita tidak akan tahu hasilnya."
Pernyataan Aydan membuat Alya sedikit lega. Mungkin dia memang terlalu takut, bisa saja orang tua pria itu langsung setuju. Tentu Aydan yang baik orang tuanya tentu baik. Setelahnya Alya menyetujui usulan Aydan untuk bertemu keluarga pria itu.
***
Hari ini Anna ada bimbingan kembali setelah dua hari yang lalu bab satunya dicoret habis-habisan seperti kertas yang tak berharga oleh dosen datar. Judulnya bahkan mesti diubah sedikit.
Sayangnya kemarin Alya dan Ratih berpikir bahwa Anna libur karena ini hari Sabtu sehingga mereka menerima tawaran bantu-bantu di acara resepsi pernikahan anak tetangga mereka. Bayaran perorangan juga lumayan besar, sungguh kesempatan emas. Kalau begini siapa yang menjaga Triplet?
"Gimana kalau dititip sama Mpok Salsa saja?" saran Ratih yang dia sendiri tidak yakin menitipkan kepada tetangganya itu. Salsa jelas tidak ikut ke resepsi karena biasanya tidak kuat untuk berdiri lama di suatu acara.
Alya dan Anna juga tidak yakin menitipkan ketiganya. Yang paling mengkhawatirkan dari Triplet itu Vela dan Vanya karena mereka memiliki sisi bertolak belakang.
Vela yang sangat welcome dengan orang lain, jika dia tidak diperhatikan akan mengikuti tukang jualan karena pernah kejadian Vela mengikuti tukang bakso keliling. Untunglah ada tetangga lain yang melihat dan segera membawa Vela pulang.
Berbeda dengan Vanya, dia susah sekali berdekatan dengan orang lain, gadis kecil itu akan menangis jika dalam pandangannya tidak ada orang yang ia kenal.
Ketiga orang dewasa itu menghela nafas bersama. Sementara triplet seakan tidak tahu kegundahan ketiga orang dewasa tersebut, mereka malah sedang asyik bermain.
Anna berpikir coba saja Gion selama minggu depan tidak ada seminar di luar kota maka bimbingan yang dijadwalkan hari Senin tidak akan mungkin pindah ke hari Sabtu.
"Aku bawa saja mereka ke kafe," usul Anna. Dia tidak mau ambil risiko kalau dititipkan seperti itu. Bisa-bisa Vela hilang, Viona mungkin akan mencari Vela hingga tersesat, dan Vanya tidak akan berhenti menangis.
"Loh, bukannya kamu bimbingan?" tanya Alya heran.
"Iya bimbingan di kafe. Ada kafe di dekat kampus namanya Hazer Achilles kafe. Nah kafe itu pemiliknya kakaknya Pak Gion datar. Beberapa mahasiswa yang bakal bimbingan hari Senin disuruh ke sana saja, termasuk aku," terang Anna.
"Tapi, takutnya mereka rewel gitu Ann, nanti malah ganggu kamu bimbingan," Alya tetap ragu.
"Biar anteng nanti aku jajanin mereka. Makanan di sana enak-enak kok, Mbak."
Alya mengangguk dia juga pernah makan di sana dengan Aydan dan memang makanan di sana enak-enak, Triplet pasti suka, bisa jadi pulang dari sana triplet tambah chubby.
"Ayo trio gemas ikut Tante ke kafe," ajak Anna.
"Kape?" Ketiganya kompak menanyakan kafe.
"Tempat makan-makan, Sayang."
"Yeeeee!!!" Ketiganya bersorak gembira.
"Vio, Ela, Anya, ingat pesan Mama, jangan gangguin Tante nanti ya. Jangan pergi ke mana-mana tanpa Tante Anna. Oke, Sayang?"
"Oce, Ma!" jawab mereka semangat.
"Vio jaga adik-adik ya."
"Ciap, Mama." Alya mengecupi ketiga malaikat kecilnya yang sangat penurut. Namun, kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi selanjutnya.
***
Anna dan Triplet bergegas ke kafe menggunakan taksi. Sesampainya di sana, kafe memang belum buka karena setiap Sabtu dan Minggu kafe itu akan buka pukul 11 dan sekarang masih pukul 9. Namun, jika hari biasa kafe buka pukul 7 karena banyak pegawai kantor dan mahasiswa yang akan sarapan di sana.
Ketika Anna dan Triplet masuk, semua mata tertuju pada mereka, khususnya Triplet. Siapa yang tidak gemas ketika ada tiga batita kembar cantik dengan pipi chubby memakai dress pink dan jepit rambut bunga.
Mahasiswa yang sedang menunggu giliran untuk bimbingan segera menghampiri Anna dan Triplet.
"Lucu sekali, Ann, siapanya kamu ini?" tanya seorang mahasiswi.
"Keponakanku, gemas-gemas, 'kan?" Anna tersenyum bangga.
"Gemassss bangettt!!!" Mereka bersorak melihat Vela berputar memamerkan baju baru yang dibelikan Oma Shopia dan Opa Aarash. Vela memang suka menjadi pusat perhatian. Beberapa dari mereka mencubiti pelan pipi Vela dan Viona saking gemasnya
Namun, berbeda dengan Vanya yang sekarang sudah berada di gendongan Anna tampak ingin menangis karena banyak orang yang tak dikenal mendekati mereka. Anna mengatakan pada teman-temannya, Vanya tidak cepat akrab dengan orang lain sehingga mudah menangis.
Anna dan Triplet memilih bangku panjang empuk dan beberapa teman ikut di sana karena ingin berdekatan dengan Vela dan Viona.
Celoteh Vela dan Viona, lalu keributan mahasiswa yang sedang mengantre bimbingan membuat Gion yang duduk tidak jauh dari sana merasa terganggu.
Dia sedang memeriksa draf salah satu mahasiswa yang ada di hadapannya. Mahasiswa yang sedang bimbingan juga melirik kawan-kawan yang bercanda dengan batita lucu.
Awalnya Gion mencoba tidak peduli, dia memang dengar bahwa Anna membawa keponakannya, tapi semakin lama dia kehilangan konsentrasi. Akhirnya Gion menghampiri mereka.
"Kalian di sini untuk bimbingan bukan main! Dan kamu Anna, ini bukan acara memamerkan keponakan-keponakanmu! Kalau tidak niat bimbingan, lebih baik pulang daripada mengganggu!" Suara Gion naik beberapa oktaf membuat Vanya menangis kencang dan Gion tersadar bahwa tindakannya salah, membentak di hadapan anak. Anna sebenarnya ingin membalas, tapi ini akan membuat Vanya semakin terisak.
Duk!
Kaki Gion ditendang oleh kaki kecil, Gion menoleh ke bawah. Ternyata ada gadis kecil yang berwajah sama persis dengan Vanya sedang berkacak pinggang dan menatapnya tajam.
"Jan malahin Te Annaaaa!!!!" Viona, gadis kecil yang selalu ingin menjadi kakak super itu membalas bentakan Gion.
"Jan buat Dek Anya nangisss!!!!" Dia kembali berteriak seperti memarahi Gion dan membuat Gion syok berat. Namun, ekspresinya tidak menunjukkan itu.
Apa aku harus minta maaf? Gion tampak bimbang dia tidak pernah berurusan dengan anak sekecil ini, apalagi tatapan tajam Viona yang menusuk seperti tatapan—seseorang yang ia kenal ketika marah.
"Ada apa ini?" Suara berat pria terdengar dari arah lain. Semua mata beralih kepada pria itu. Pria yang mirip dengan Gion, sangat tampan dan bermata tajam. Dia adalah Gema Hazer Achilles pemilik kafe ini sekaligus kakak dari Gion.