"Ratih!?" Aarash dan Shopia sama-sama terkejut melihat Ratih menggendong batita yang wajahnya sama persis dengan Vela dan Viona.
Mereka kembar tiga? Lucu sekali. Apa mereka cucu Ratih?"
"Kak Shopia, Mister Aarash," sapa Ratih sedikit canggung. Sudah lebih dua puluh tahun tidak bertemu sepasang suami istri itu.
"Bagaimana kabarmu, Ratih?" tanya Shopia. Ada perasaan menyesal dan sedih pada diri Shopia. Kalau saja waktu itu mereka tidak salah pilih pasti keadaan menjadi berbeda.
"Baik Kak cuma ya ini kadang repot gara-gara Triplet, apalagi kalau Ela sudah kabur." Ratih menatap Vela yang sedang memegang satu batang cokelat dan dua lainnya dipegang oleh Aarash. Dia tahu Velalah si biang kerok.
Buktinya Vela sekarang menggoyangkan cokelat batang yang ia pegang hendak pamer pada Ratih.
"Tuh 'kan, Kak, Mister." Ratih menunjuk aksi Vela yang membuat Shopia dan Arash tertawa.
"Opa buka," pintanya pada Aarash.
"Ela sayang itu harus dibayar dulu," cegah Ratih membuat Vela cemberut karena keinginannya tidak terpenuhi.
"Ini saya sudah selesai belanjanya, kamu gimana, Ratih?"
"Saya mau beli baju buat mereka, tapi belum sempat karena Ela sama Vio malah kabur."
"Ela pelgi, aku ikutin," Viona yang tadi diam bersuara kalau dirinya mengikuti Vela.
"Iya, Sayang." Shopia mencium gemas pipi Viona. Padahal dari tadi gadis kecil itu diam, tapi setelah disebut, Viona seperti membela diri.
"Beli baju di mana? Kami ikut saja untuk mengawasi mereka," tanya Aarash.
"Itu Mister ada cuci gudang diskon besar-besaran." Ratih menunjukkan tempatnya. Kalau ditanya tentang Vanya entah sejak kapan anak itu tertidur dalam gendongan Ratih.
Shopia dan Ratih sibuk memilih baju untuk ketiganya. Yang Shopia dengar Triplet bukan cucu kandung Ratih. Namun, ibu triplet tinggal bersama Ratih dan anak dari majikan Ratih terdahulu.
Sementara Aarash duduk di bangku yang tidak jauh dari sana sambil mendekap Vanya yang tertidur pulas.
Rasanya begitu nyaman mendekap gadis kecil itu. Apa memang dia sudah sangat ingin mempunyai cucu sehingga hatinya tergerak dan begitu senang melihat Viona, Vela, dan Vanya. Aarash juga bisa melihat binar bahagia Shopia ketika memilih baju untuk ketiga batita tersebut.
Vanya terbangun dari tidurnya tampak dia sedang berada di pangkuan opa asing. Vanya biasanya akan menangis kencang ketika bersama orang yang baru ia lihat, tapi anehnya dia kembali memejamkan mata.
"Kamu ngantuk sekali ya, Sayang?" tanya Aarash dan dijawab gumaman tak jelas dari Vanya.
Setelah selesai berbelanja tentu Shopia ngotot ingin membayar semua baju yang dibeli dan Ratih hanya bisa mengiyakan.
Kemudian, mereka harus berpisah karena hari semakin sore.
"Salim dulu Nak, sama Oma, Opa," perintah Ratih. Viona dan Vela pun langsung bergerak menyalami tangan Shopia dan Aarash, lalu mencium pipi oma dan opa itu, membuat Shopia dan Aarash tidak ingin berpisah. Vanya pelan-pelan juga ikut menyalami. Menurut Ratih, Vanya sebenarnya menyukai Shopia dan Aarash hanya saja mereka orang baru jadi Vanya masih malu.
Shopia dan Ratih saling bertukar nomor telepon dan alamat rumah. Shopia sangat berharap kalau Ratih sekeluarga mau berkunjung ke rumahnya.
"Belum apa-apa aku sudah kangen sama mereka," ungkap Shopia melihat foto-foto dia dan Triplet di ponselnya.
"Aku juga." Aarash yang sedang menyetir mobil pun merasakan hal yang sama.
"Semoga Ratih mau ya main ke rumah kita, tapi sebenarnya hubungan aku dan Ratih masih dalam kecanggungan." Shopia tak yakin Ratih ingin mampir ke rumahnya. Namun, kalau pergi ke sana juga pasti canggung apalagi niatnya hanya bertemu Triplet.
"Apa karena kita terlalu ingin punya cucu makanya jadi senang sekali melihat Vio, Ela, dan Anya?" tanya Shopia.
"Bisa jadi, Sayang." Mereka berdua berpikir putra-putranya entah kapan menikah. Gema sudah 32 tahun, tapi dia mengalami trauma karena gagal menikah tidak ada tanda-tanda pria itu ingin mencoba hubungan serius kembali, memiliki kekasih saja tidak.
Sementara Gion anak itu sudah 29 tahun, tapi tambah tidak ada harapan karena sikapnya yang cuek dan jarang berekspresi.
Pasangan suami istri itu saling menghela nafas pasrah. Apa harus mereka yang mencarikan jodoh untuk kedua putranya?
Sementara dalam taksi Ratih juga memikirkan tentang shopia dan Aarash, tidak menyangka mereka pindah ke Jakarta, tadi dia pikir keduanya hanya liburan.
Bagaimana kabar dia?
Ratih, buat apa kamu pikirkan suami orang. Ratih bermonolog sendiri dalam batinnya.
"Oma, main lagi cama Oma Opa?" tanya Vela semangat. Ia ingin main kembali dengan Shopia dan Aarash. Baru juga berpisah anak itu sudah menanyakan.
"Lain hari, Sayang. Oma juga tidak tahu." Ratih mengusap rambut Vela dan tersenyum menenangkan.
***
Siang ini rumah sederhana itu kedatangan seorang dokter tampan bernama Aydan Ghufran. Dia adalah kekasih Alya, calon papa triplet.
Mereka sudah berpacaran selama setengah tahun. Alya bertemu Aydan pada saat dia memeriksakan putri-putrinya ke dokter anak. Aydan adalah dokter spesialis anak.
Aydan dengan gigih mengejar Alya agar perempuan itu mau menjadi kekasihnya dan berlanjut menjadi pendamping hidupnya. Hampir setengah tahun juga Aydan mengejar, alhasil dengan semangat juang yang tinggi, Aydan berhasil meluluhkan hati Alya, perempuan manis dan sederhana pencuri hatinya sejak pertama kali bertemu.
"Halo, princess-princess-nya om," sapa Aydan kepada Triplet.
"Aku bukan cess, aku Pio!" Viona terlihat kesal siapa itu princess kenapa namanya diubah.
Aydan terkikik geli, Viona memang sedikit galak, tapi menggemaskan.
"Iya, Vio sayang." Aydan mengusap rambut Viona. Vela pun melangkah mendekat ingin ikut diusap oleh om tampan. Tentu Vanya tidak mengikuti Vela dan Viona.
Aydan sangat tahu susahnya mendekati Vanya bahkan selama setahun ini ketika mengobrol Vanya hanya mengangguk dan menggeleng.
Gadis kecil itu seperti anti pada orang baru, Aydan yang sudah setahun saja sangat sulit dekat dengan Vanya.
"Mas, ini diminum." Alya membawakan teh hangat untuknya.
"Terima kasih, Al." Aydan tersenyum mengusap rambut Alya, membuat perempuan itu merona.
"Mas Aydan sudah makan siang?"
"Belum, 'kan Mas mau makan masakan calon istri," ungkapnya kembali membuat Alya merona. Dia mengajak Aydan untuk makan siang bersama, Triplet pastinya ikut bergabung.
Jangan salah, Viona, Vela, dan Vanya sudah terbiasa makan sendiri dengan peralatan makan lucu kembar tiga. Tentu masih sering berantakan, tapi semakin lama semakin baik.
Baru saja mulai makan siang, ponsel Alya berdering dan tertera nama Anna di sana.
"Mbaaaaak, draft skripsiku bab satu ketinggalan, bentar lagi aku bimbingan sama Pak Gion datar. Tolong anterin Mbak."
"Kok bisa lupa!? Ya sudah Mbak ke sana."
Panggilan telepon di tutup. Aydan yang tahu situasi mengantarkan Alya ke kampus Anna mereka meminjam motor tetangga karena Aydan sendiri membawa mobil. Kalau perjalanan dengan mobil pasti akan terjebak macet.
Setelah sekitar hampir lima belas menit perjalanan, Aydan dan Alya sampai di fakultas ekonomi dan bisnis, kemudian bertemu Anna. Gadis yang awalnya tampak cemas langsung tersenyum senang melihat Alya datang.
"Lain kali jangan begini lagi ya, Ann."
"Siap, Ndoro Ratu."
Setelahnya mereka bergegas pulang. Di perjalanan Aydan melihat sebuah kafe yang cukup ramai dekat kampus itu.
"Al, kita ke sana yuk, perutku sudah lapar banget lagian kita jarang keluar berdua kayak gini," ajak Aydan.
"Boleh, Mas." Alya juga sudah lapar.
Mereka memasuki kafe itu. Alya memesan nasi goreng dan Aydan nasi bakar.
"Pantesan rame ya Mas masakan di sini enak," ungkap Alya menyuapkan nasi gorengnya.
"Tapi, tidak seenak masakan calon istriku." Aydan mulai menggombali Alya membuat perempuan itu terkikik geli.
"Ini mau nyobain nasi bakar, nggak?" tawar Aydan dan Alya pun mengangguk. Aydan dengan lembut menyuapkan pada Alya. Mereka tersenyum saling tatap penuh cinta.
Namun, keduanya tidak sadar seorang pria sedang menatap kemesraan mereka dengan pandangan tajam. Pria itu pemilik kafe di sana, Gema Hazer Achilles. Tentu dia kenal sekali Alya, pembantu bodoh yang dulu sangat mencintainya hingga menghancurkan pernikahannya.
Ck. Rupanya dia sudah bahagia dengan pria lain.
Gema mengepalkan tangannya. Perasaan tidak terima itu muncul dalam hati Gema. Entah karena dendam atau karena hal lain.