Silaturahmi (1)

1776 Words
Hari ini tepatnya nanti malam, setelah kesepakatan antara Mama Alifa dan Maminya Rafkan. Merupakan pertemuan yang sudah di rencanakan oleh ke dua belah keluarga untuk bertemu, tepatnya bersilaturahmi. Tentunya ke dua belah keluarga sedikit banyaknya harus mempunyai persiapan. Itupun yang sedang di lakukan Alifa dan Mamanya. Saat ini Alifa berbagi tugas dengan sang Mama. Marni yang sedang sibuk membuat cake. Sementara dirinya tengah mengupas beberapa sayuran yang akan di masak nanti sore, untuk di sajikan sebagai menu makan malam nanti. Menjelang pertemuannya dengan keluarga teman Mamanya itu. perasaan Alifa menjadi tidak karuan. Jantungnya berdegup kencang entah karena apa?  Padahal, ini hanya silaturahmi saja kan? Belum apa-apa. "Ma..ini udah selesai," ujar Alifa melirik Marni yang masih sibuk dengan adonan cakenya. "Oh.. Ya udah sana, kamu istirahat aja dulu." Sahut Marni, tanpa menoleh. "Mama.. Gak mau di bantuin?" Alifa menawari Mamanya. "Enggak usah.. Sana gih istirahat."  Alifa pun menganggukan kepalanya, lalu mencuci tangan.  "Eh nak.. Mama perhatiin kamu kayak gugup gitu kenapa?" Mamanya ini memang selalu tahu apa yang Alifa rasakan,  Begitu raut wajah Alifa sedikit berubah Mamanya pasti langsung bertanya kenapa? "Wajah kamu aja pucet gitu, kenapa?" Tanyanya. " Jangan gugup, keluarga temen Mama baik kok.. Orangnya gak terlalu serius." Hebat sekali kan Mamanya? bisa-bisanya tebakannya sangat tepat sasaran. "Apaan sih Mama, siapa yang gugup coba," kilah Alifa. Dan Alifa yang selalu mengelak, walaupun sebenarnya yang di katakan Marni itu sama sekali tidak salah. Sangat tepat sasaran. "Mama tahu banget kamu. kata tidak nya kamu itu, kebalikannya." "Enggak Mama." Alifa masih mengelak. Marni terkekeh, tidak heran dengan Alifa yang selalu seperti itu. Tak mengakui apa yang di rasakannya, pada sang Mama. "Mama.. Alifa masuk kamar dulu ya." Pamit Alifa. Pergi ke kamar, adalah salah satu alternatif paling tepat. Untuk menghindari godaan dari Mamanya. Alifa baru melangkahkan kakinya beberapa langkah, namun harus terhenti kembali oleh Marni yang bersuara lagi. "Alifa.. Anak temen Mama ganteng loh, gak kelihatan duda." Tuh kaaan? Apa Alifa bilang, Mamanya akan semakin menjadi. Alifa berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuat marni tertawa terpingkal-pingkal, Marni hanya ingin membuat hiburan sedikit saja, agar anaknya itu tidak terlalu gugup. Marni sangat tahu jika sudah menyangkut urusan hati Alifa seperti seseorang yang kaku, karena memang setahunya. Putrinya belum pernah bercerita tentang lawan jenis, apalagi sampai mengenalkan padanya. Marni sebagai seorang ibu, sangat bangga kepada Alifa yang bisa menjaga diri dari pergaulan jaman sekarang. Pernah satu hari ada teman arisannya mengatakan, apakah ia tidak malu memiliki anak gadis sudah cukup dewasa, tapi tidak laku. Jangankan calon suami.. Pacar pun Alifa tidak punya, Dan.. Jawabannya marni tidak pernah malu sama sekali, justru marni sangat bangga. Marni bukan tipe ibu yang akan bahagia jika anaknya di ajak jalan oleh seorang laki-laki yang bukan mukhrim, dan belum tentu akan menjadi mukhrim anaknya, lalu.. Pulang larut malam, justru marni akan sedih jika anaknya seperti itu. Dan.. Sekarang, jika memang Alifa berjodoh dengan anak dari temannya itu.. Marni akan sangat bersyukur Alifa sudah di pertemukan dengan jodohnya. *** Rafkan tersenyum melihat putrinya tengkurap sambil memainkan squishi dengan gemas, sesekali di masukkan ke mulutnya. Karena merasa gereget tidak bisa memakan mainannya itu bibir mungilnya sudah melengkung ke bawah matanya sudah berkaca-kaca. Rafkan yakin.. Sebentar lagi akan turun hujan.. Yasna mulai merenghek.. Dengan sigap Rafkan memangku putri tercintanya itu. "Uuuuuhh.. Putrinya ayah gereget yaa..?" Rafkan mencium bibir mungil Yasna beberapa kali, membuat Yasna tidak jadi menangis, malah menyemburkan ludahnya ke wajah Rafkan. "Heehhh... Putri ayah mulai nakal ya awas ya.. " Rafkan menggelitik badan Yasna yang sedang berdiri di pangkuannya itu. Membuat Yasna tertawa, sangat ceria sekali.. "Udah ah ya.. Nanti Yasna pipis.. " Yasna tersenyum dan sekarang malah mengacak rambut ayahnya. "Cucu nenek bahagaia banget kalau udah sama ayah.. " ucap desti yang baru datang, dari arah dapur. Yasna melirik ke arah neneknya sekilas, lalu fokus lagi kepada sang ayah. "Yasna cuekkin nenek ya.. Kalau udah ada ayah.. " kata Desti dengan nada kesal yang di buat-buat. Tapi sang cucu tak mengindahkannya, membuat Desti sangat gemas dengan cucunya. Desti mendekat lalu mencubit pipi gembul Yasna. "Mami.. Kebiasaan banget deh nyubit-nyubit pipi Yasna.. " gerutu Rafkan. "Habis.. Mami gemes banget sama ini anak.." "Iya.. Tapi gak usah di cubit juga kali mi..kalau Yasna kesakitan, sama ada bekasnya gimana coba.." Rafkan mengusap-ngusap pipi Yasna, yang sebenarnya tidak apa-apa, emang pada dasarnya Rafkan sangat apik banget jika sudah menyangkut sang anak. "Ya ampun.. Bapak satu ini" Desti menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan kelakuan sang anak. "Oh ya Raf.. Kamu gak lupa kan nanti  Malam kita ke rumah temen mami itu.. " Desti mengingatkan.. "Iya mi.. Rafkan inget.." jawab Rafkan, sambil menimang-nimang Yasna sesekali menepuk-nepuk pantatnya, sepertinya Yasna mulai mengantuk Rafkan melirik jam yang menggantung di dinding sudah pukul 11 : 10 WIB memang sudah jam tidurnya Yasna. "Yasna tetep ikut ya mi.. " "Iya lah.. Cucu mami tetep ikut, masa mau di tinggalin sama mbok di sini.. " "Kamu libur ke kantornya apa gimana?" Desti heran karena sudah dua hari Rafkan tidak pergi ke kantor. "Engga libur mi.. Cuma di kantor kebetulan lagi gak banyak kerjaan.. Sama aku lagi pengen ngehabisin waktu sama Yasna.. " Maminya tersenyum, Rafkan memang selalu menyempatkan waktu untuk Yasna, jangankan sekarang yang katanya di kantor lagi gak terlalu sibuk, walau tengah sibuk sekali pun Rafkan selalu saja menyempatkan waktu satu atau dua hari benar-benar di pakai hanya bersama Yasna. "Aku tidurin Yasna dulu ya mi.. " "Iya.. " jawab Desti sembari tersenyum. *** Setelah salat isya keluarga Rafkan bersiap-siap untuk pergi ke rumah teman Desti.. Rafkan memakaikan Yasna gaun putih lengkap dengan bando yang di tengah-tengahnya ada bentuk bunga putih, Terlihat sangat menggemaskan di rambut Yasna yang tipis karena baru tumbuh. Rafkan sendiri seperti biasanya memakai tuksedo hitam terlihat sangat rapi menambah kadar ketampanannya, Rafkan terlihat seperti bujangan pada umumnya padahal kenyataannya dirinya sudah pernah menikah dan memiliki anak yang sangat cantik. Rafkan menggendong Yasna, menciumnya gemas..  Yasna menguap, Anak ini sebenarnya sudah waktunya tidur bukan malah harus ikut berkunjung ke rumah orang lain, tapi.. Rafkan tidak tega harus meninggalkan Yasna di rumah bersama asisten rumah tangganya, Bukan Rafkan tidak percaya menitipkan Yasna kepada orang lain hanya saja Rafkan tidak terbiasa menitipkan Yasna kepada siapapun kecuali keluarganya. Rafkan menggendong Yasna keluar dari kamarnya, lalu berjalan menghampiri Papi dan Mami nya yang sudah menunggu di ruang tamu.. "Aaa.. Cucu nenek cantik banget.. " Desti langsung beranjak dari duduknya menghampiri Yasna dan mencubitnya pelan, dan menciumnya gemas,  Yasna yang di perlakukan seperti itu oleh neneknya berceloteh tak jelas, dengan tangan yang memukul-mukul wajah sang nenek karena gemas.. "Ayo kita berangkat.. Keburu malem banget kasihan Yasna.. " Ajak Randi papinya Rafkan, Desti pun menghentikan kegiatannya mengganggu sang cucu, "Iya ayo.. Yasna mau sama nenek?" Desti mengulurkan tangannya Memegang tangan Yasna siap menggendongnya, Tapi Yasna tidak mau dia tidak menyambut tangan Desti.. "Nenek marah loh sama Yasna.. " Desti cemberut, karena sejak seharian ini Yasna tidak mau di gendongnya, Desti berjalan duluan meninggalkan  R afkan Yasna dan Randi.. Rafkan dan Randi menertawakan nenek yang sedang akting marah kepada cucunya itu, "Anak Ayah kenapa gak mau di gendong nenek?"  Rafkan menatap sang anak dengan senyumnya.. Yasna yang tidak mengerti dengan pertanyaan Ayahnya malah tertawa, Rafkan mencium gemas, sambil berjalan keluar rumah di ikuti Randi yang masih tertawa.. Mereka pun masuk ke dalam mobil, Rafkan memilih duduk di jok tengah biar leluasa menggendong Yasna, Randi yang mengemudikan mobilnya karena Yasna tidak mau di gendong oleh orang lain, Mobilnya pun mulai berjalan menuju rumah teman Desti. *** Mereka sudah sampai di pekarangan rumah Marni teman Desti, Rumah yang tidak terlalu besar, bercat moca tapi terlihat sangat nyaman, di halamannya pun tertata rapi. Karena jarak dari rumah Marni ke rumah Desti tidak terlalu jauh mereka hanya menempuh perjalanan 30 menit saja. Yasna sudah terlelap di gendongan sang Ayah, benar saja anak itu tidak bisa menahan kantuknya.. Baru 10 menit berjalan dari rumah dirinya sudah terlelap. Desti, Randi dan Rafkan keluar sudah berdiri di depan pintu utama. "Assalamu'alaikum?" Desti mengucapkan salam sambil mengetuk pintu, Tidak lama pintu pun terbuka.. "Wa'alaikumsalam.. " Wanita paruh baya dengan busana muslimnya yang terlihat sangat matching, tersenyum antusias ketika tamu yang di tunggu-tunggunya datang.. "Sangat tepat waktu Des.. "  Ucap marni sambil mencium pipi kanan dan kiri Desti, lalu menangkupkan tangannya ke arah Randi dan Rafkan.. "Iya nih.. Kasihan cucu tadinya takut kemaleman.. Eeh ternyata udah tidur duluan.. Gak bisa nahan ngantuk dia.. " Desti menjelaskan dengan kekehannya. "Ya ampuuun.. Iya ayo masuk biar di tidurin di dalem.. " Mereka semua pun masuk setelah di persilahkan lalu duduk di ruang tamu, Rafkan membenahkan posisi Yasna senyaman mungkin di gendongannya, "Biar mami aja yang gendong Raf.. " "Nggak usah mi.. Nanti kebangun lagi.."  Marni permisi dulu untuk menjemput Alifa di kamarnya, Alifa yang ada di kamar entah kenapa merasa gugup, jantungnya berdebar kencang padahal ketemu juga belum..  Pintu kamar Alifa terbuka.. "Alifa ayo nak.. Teman mama sudah datang sama anaknya.. " Alifa melirik mamanya, lalu tersenyum sembari menghampiri sang mama. "Gak usah gugup nak.. Santai saja.." bisik Marni di telinga Alifa, "Mama apaan sih.. Alifa gak gugup kok.. " Mamanya terkekeh, anaknya ini masih saja mengelak jelas-jelas kelihatan gugupnya. Marni menggandeng Alifa menuju ruang tamu, Sesampainya di sana yang pertama kali Alifa lihat, seorang pria tampan yang sangat gagah sedang menggendong seorang bayi perempuan yang terlelap di pangkuannya, Apa itu orang yang mamanya ceritakan tempo hari.. Pandangan Alifa bertemu dengan dua mata pria itu,  Dengan cepat merak berdua memutuskan pandangannya, Alifa duduk di samping mamanya di sofa yang bersebrangan dengan keluarga Rafkan, "Ini Alifa ya, cantik banget nak.. "  Ucap desti, Alifa berdiri lagi dari duduknya, menyalami tangan Desti lalu menangkupkan tangan ke arah Randi dan Rafkan, Randi membalas menangkupkan tangan, sementara Rafkan tidak bisa membalasnya karena menggendong Yasna, Alifa duduk lagi di dekat mamanya, "Sebelumnya saya minta maaf Des, pak Randi papanya Alifa tidak bisa hadir karena tadi ada tugas mendadak di tugaskan ke luar kota.. " "Oh iya tidak apa-apa Mar kita paham kok.. " Desti tersenyum ramah, begitu pun dengan Randi, "Oh iya Alifa ini anak teman yang mama ceritain waktu itu sama anaknya.. " Kata marni kepada Alifa, Alifa mengangguk sambil tersenyum Alifa melihat ke arah bayi yeng sadang di gendong Ayahnya, entah kenapa hatinya sangat tersentuh melihat bayi yang sangat cantik itu yang hanya merasakan kasih sayang seorang Ayah tanpa seorang ibu, "Dan, Rafkan ini Alifa yang tempo hari mami ceritain.. " Rafkan pun mengangguk, Rafkan tidak memungkiri rasa tertariknya, sejak pertama kali Alifa masuk ke ruang tamu dengan pakaian syar'i warna marun lengkap dengan hijab panjangnya warna Dusty pink, yang membalut tubuhnya.. Tapi, hatinya pun merasakan keraguan rasanya tidak mungkin gadis sesempurna ini mau menerimanya, apalagi dengan status Rafkan yang merupakan seorang duda dan sudah memiliki seorang anak.. *** ~To Be Continued~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD