Silaturahmi (2)

2045 Words
Pertemuan dua keluarga ini benar-benar di selimuti suasana penuh kehangatan dan ke akraban, Terkecuali antara Rafkan dan Alifa yang masih menyimpan berjuta pertanyaan dalam hatinya masing-masing. "Seperti yang kita ketahui di dalam islam. Menikah itu merupakan salah satu perintah yang harus di segerakan." Jantung Alifa berdegup kencang ketika mendengar ucapan sang Mama.  "Jadi begini Alifa, maksud kami mempertemukan Alifa sama Rafkan. Bukan ingin menjodohkan, Kalau menjodohkan itu cenderung memaksa ya, tidak menerima penolakan." Kekeh Desti, "Kalau tujuan kita bertemu tidak lain untuk bersilaturahmi. Ya.. Ini kalau ya kalau. Nggak ada paksaan sana sekali. Kalau misalkan Alifa sama Rafkan berkenan Satu sama lain. tanpa merasa di paksa oleh siapapun ya.. Alhamdulillah, kalau misalkan salah satu dari kalian tidak bersedia. Atau dua-duanya ingin mencari lagi yang di luar sana, tidak jadi masalah juga. Silaturahmi di antara keluarga kita tentu tidak akan putus gara-gara ini, bukan begitu Mar?" Desti menoleh pada Marni, usai mengucapkan maksudnya. "Iya, Jadi bagaimana Alifa?" Mendapat pertanyaa tiba-tiba seperti itu, sontak saja Alifa melirik cepat pada Mamanya. Mamanya ini kenapa to the point sekali? Kalau Alifa boleh jujur tentang perasaannya, sebenarnya sejak Mamanya menceritakan cerita tentang Rafkan, Alifa sudah merasa tertarik dengan sosok Rafkan. Maksud tertarik di sini, Alifa mengagumi Rafkan dari segi apapun, Dan sekarang..ketika melihat orangnya langsung, dengan putrinya yang berada di gendongannya, entah kenapa Alifa merasa ingin menjadi bagian dari mereka, Alifa ingin membantu meringankan beban yang di pikul Rafkan, bukan berarti Alifa mau karena Alifa kasihan, bukan karena itu saja. Ada semacam keyakinan dalam hatinya bahwa Rafkan merupakan sosok yang tepat untuk menjadi imamnya. Sementara Rafkan, yang melihat Alifa diam tidak ada pergerakan, Rafkan yakin kalau Alifa tidak akan bersedia. Ya, Rafkan juga sadar diri.. Bukan pria bebas lagi, ia sudah punya seorang anak yang begitu ia sayang. Rafkan pun mencari seorang wanita untuk di jadikan istri dan ibu dari anaknya. Alifa memejamkan matanya masih dengan kepala yang sedikit menunduk, mamanya dan keluarga Rafkan tidak ada yang bersuara mereka begitu sabar menanti jawaban dari Alifa. "Inn syaa Allah Alifa bersedia,"  Alifa mengatakannya dengan yakin, Jangan tanya seberapa kaget Rafkan mendengar jawaban Alifa yang di luar dugaannya, Apa Alifa bercanda? Rafkan masih belum percaya dengan jawaban yang Alifa berikan. Marni tersenyum mendengar jawaban anaknya, begitu pun dengan kedua orang tua Rafkan. Tapi, tidak dengan Rafkan.. Rafkan tidak senang? Rafkan tentu senang dengan jawaban dari Alifa,  dirinya hanya belum percaya dengan jawaban Alifa. "Bagaimana dengan jawaban kamu Nak?" Desti bertanya pada Rafkan. "Emmm.. Mi sebelumnya ada yang mau Rafkan tanyakan dulu sama Alifa, Boleh?" "Boleh, tanyakan nak.. Apa yang ingin kamu tanyakan, bukan begitu Mar?" Desti meminta persetujuan Marni. Marni tersenyum sembari menganggukkan kepalanya."Iya Boleh tanyakan saja."  Jantung Alifa kembali berdegup kencang saat mendengar Rafkan ingin bertanya. Membuat Alifa menduga-duga apa yang ingin Rafkan tanyakan, tapi.. Alifa tidak bisa menebak apa yang akan di tanyakan oleh Rafkan. Apa jangan-jangan Rafkan yang tidak bersedia kepada dirinya? Ahhh... Kalau itu terjadi, betapa malunya Alifa, apalagi dirinya yang sudah menjawab Iya. Rafkan menarik nafas, lalu menghembuskannya perlahan. "Begini Alifa, apa kamu yakin dengan jawaban yang kamu berikan? saya tidak mau kamu menyesal nantinya.. Jika iya kamu yakin dengan jawaban yang kamu berikan barusan, apa kamu mau menerima kami? Seperti yang sudah Kamu ketahui. Saya berstatus duda dan sudah memiliki seorang putri.. Saya takut kamu malu menikah dengan seorang duda yang sudah memiliki anak." Alifa merasa begitu terharu dengan perkataan Rafkan,  Justru Alifa merasa begitu yakin setelah Rafkan berbicara barusan.. "Aku yakin dengan jawaban aku mas, aku akan menerima mas dan anak mas, aku akan menyayanginya seperti menyayangi anak ku sendiri.. Dan, aku tidak akan mempermasalahkan status mas, perjaka atau duda sama saja, yang aku impikan sejak dulu, aku hanya ingin punya seorang imam yang bertanggung jawab, dan menyayangiku.. Dan yang paling utama mampu membuatku lebih dekat dengan Allah, hanya itu.. " Alifa berucap masih dengan kepalanya yang menunduk.. Entah keberanian dari mana Alifa bisa bicara seperti itu. Perasaan Rafkan begitu lega, setelah mendengar ucapan Alifa.. Para orang tua yang menyaksikan hanya tersenyum. "Jadi.. Bagaimana dengan jawaban Rafkan?" mama Alifa kembali bertanya, semua orang pun sudah mengerti pada saat Rafkan bertanya tadi secara tidak langsung dia sudah menjawab 'YA' Tapi berbeda dengan Alifa yang masih takut-takut jika Rafkan mengatakan tidak bersedia, mungkin saking nervous nya menjadi tidak conect, Rafkan tersenyum.. "Tisak ada alasan berkata  'tidak' Untuk seorang wanita sholeha yang mempunyai hati begitu tulus." ucap Rafkan tidak kalah yakin, dengan jawaban yang di berikan Alifa. Sudut bibir Alifa terangkat, betapa leganya perasaan Alifa. Rasanya sangat plong, sangat ringan, pokoknya.. Alifa tidak bisa menggambarkan perasaan bahagianya. Marni, Desti dan Randi pun sangat bahagia anak-anak mereka merasa cocok satu sama lain, "Alhamdulillah.. Kalau kalian merasa cocok, aduuuh seneng banget ini." Marni berkata sambil bertepuk tangan, sebagai pengungkapan dari rasa senangnya. "Lebih dari bahagia ini mah." sekarang giliran Desti yang antusias. Gara-gara Desti yang terlalu antusias, Yasna terusik, anak itu merengek tangannya yang bergerak-gerak, seperti tak nyaman. Rafkan  menbenarkan posis Yasna agar semakin nyaman. sembari mengusap-usap tangannya. Alifa yang melihat, cara Rafkan memperlakukan Yasna hatinya kembali menghangat. Hanya perlakuan kecil, namun berefek besar pada perasaan Alifa. "Mami sih." desis Rafkan. "Iya..iya maaf sini sama nenek sayang, aduh cucu nenek.. Cup..cup," Desti mengambil sang cucu dari pangkuan Rafkan.  Beberapa saat kemudian, Alhamdulillah-nya Yasna kembali tenang, usai Desti menenangkannya. "Oh ya.. Bu Marni kita mau adakan acara lamarannya kapan? Bukankah Lebih cepat lebih baik?" tanya Randi, untuk memastikan. Marni berfikir sejenak.. "Emmm.. Kalau menurut saya, gimana kalau langsung acara nikah saja, sekarang kan sudah sama seperti lamaran," Kemudian Marni melirik Alifa. "Gimana Menurut Alifa? itu hanya saran Mama, kalau misalkan Alifa mau ada acara lamaran dulu. Ya.. kita adain." Alifa tersenyum pada sang Mama, "Alifa ikutin saran Mama." Putusnya. "Beneran gak papa Alifa?" kali ini Desti yang bertanya, untuk memastikan sekali lagi. Alifa mengangguk sembari tersenyum ke pada Desti sebagai jawaban. "Ya sudah, kalau begitu Kita tentukan tanggal pernikahanya, tapi.. sebelumnya, apa ini gak apa-apa. Tanpa kehadiran Papanya Alifa?" Belum sempat Marni menjawab pertanyaan Randi, terdengar ada yang mengucap salam dari arah pintu, Marni merasa tidak asing dengan suaranya. Begitu mirip dengan suara suaminya, namun hatinya tak begitu yakin, pasalnya Papa Alifa sedang ada pekerjaan di luar kota. Beranjak dari duduknya. Marni berjalan ke arah pintu, membukakan pintu seraya menjawab salam. Dan ternyata.. Benar saja yang datang Rahman. Rahman tersenyum ke arah Marni, meskipun garis lelah di wajahnya tak dapat di sembunyikan. Namun selalu berhasil Rahman tutupi dengan senyuman di wajahnya. Apalagi mengeluh, satu kalimat pun sama sekali tidak pernah keluar dari mulut Rafkan. "Papa sudah pulang?" Marni bertanya masih dengan senyum yang belum memudar dari wajahnya, karena terlampau senang. Setelahnya ia menyalami tangan suaminya. "Sudah ma."jawabnya, " Tamunya udah datang Ma?" Lanjut Rahman lagi. "Sudah Pa, Papa nggak jadi ke luar kota?" Tanya Marni, untuk menjawab rasa penasarannya. "Alhamdulillah di undur Ma. Jadinya besok papa ke luar kotanya.. " Jawab Rahman. "Ya sudah Pa, ayo masuk. Tamu kita, sudah menunggu." Rahman mengangguk. Rahman dan Marni pun masuk ke ruang tamu, Rahman tersenyum pada Randi dan keluarganya kebetulan mereka sudah lama saling mengenal, mereka pun sering bertemu jika di ajak oleh istri-istrinya pergi ke acara yang sama.. Rafli pun menyambut Rahman dengan senyum ramahnya, mereka semua bersalaman. Alifa pun menyalami tangan sang papa. "Kamu datang di waktu yang sangat tepat." Ujar Randi, begitu melihat kedatangan Rafkan. "Oh ya? Jangan-jangan sudah ketinggalan pelajaran banyak nih." Candanya seraya terkekeh. Kemudian duduk di samping Alifa. Posisi duduk Alifa saat ini berada di tengah-tengah ke dua orang tuanya. Perasaan Alifa begitu bahagia, saat momen seperti ini bisa di hadiri oleh Papanya. Membuat kebahagiaannya, terasa begitu lengkap. "Aduh sebelumnya saya minta maaf nih belum bersihin badan." Ucap Rahman, yang merasa tidak enak. "Ahh.. Tidak apa-apa santai aja kayak sama siapa aja." Randi berucap dengan kekehannya. "Ya sudah.. Jadi sudah sampai mana barusan?" "Begini pa.. Seperti yang sudah mama ceritakan waktu itu, dan barusan ternyata Alifa sama Rafkan merasa cocok mereka bersedia untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, barusan.. Pak Randi menawarkan mengatur waktu untuk acara lamaran, tapi menurut mama tidak usah di adakan acara lamaran mending kita langsung fokus ke acara pernikahan dan Alifa setuju. Terus barusan kita lagi mau nentuin tanggal pernikahannya pa,  Nah.. Sekarang kan udah ada papa, jadi papa sama pak Randi yang nentuin waktunya..!!" jelas marni pada Rahman, Rahman mengabgguk mengerti. "Tunggu sebentar, kita tanya dulu pak Rahman setuju apa nggak-nya putrinya sama Rafkan, jangan langsung di suruh nentuin tanggal ?" ucapan Desti membuat Rahman terkekeh. "Saya sudah setuju dari mamanya Alifa sama ibu berencana mempertemukan putri saya sama nak Rafkan.. Saya berkata seperti ini karena saya tahu nak Rafkan anak yang baik dan bertanggung jawab.." Perasaan Rafkan kembali lega, sudah mendapat restu dari kedua orang tua Alifa. "Nah kan semuanya sudah pada setuju. Jadi kapan tanggal pernikahannya?" sahut Randi, Rahman berfikir. "Bagaimana kalau tiga minggu lagi, sepertinya waktunya cukup untuk mempersiapkan semuanya?" Rahman mengeluarkan idenya, Marni Desti dan Randi pun mengangguk. "Ide bagus." Sahut Rafli, menyetujui perkataan Rahman. "Ya sudah deal ya, tiga minggu lagi dari sekarang, nanti kita bicarain lagi so'al ini lebih lanjut. Sekarang kita makan dulu udah pada laper nih.. pasti,"  "Iya nih. Kebetulan dari rumah. Gak sempet makan." Canda Desti. Walaupun memang kenyataannya seperti itu. Namun membuat tawa semua orang yang berada di sana pecah. Kecuali Alifa dan Rafkan. "Ayo Des, pak Randi, nak Rafkan kita ke ruang makan. Takut ke buru dingin banget makanannya."  "Biar Yasna sama Mami aja yang jagain. sana kamu!" Desti memerintah Rafkan, Yang mau mengambil Yasna dari gendongannya. "Biar Rafkan aja Mi. Mami aja yang makan," Rafkan tak mau kalah. Alifa yang melihat perdebatan antara ibu dan anak itu, langsung menyela pada saat itu juga. "Tante sama mas Rafkan makan aja, biar emmmh--" ucapannya tiba-tiba terhenti, karena tidak tahu nama anaknya Rafkan. "Namanya Yasna." Kata Marni yang mengerti, anaknya tengah kesulitan untuk menyebut anak bayinya siapa. Alifa tersenyum malu, namun itu hanya terjadi selama beberapa detik saja. Tidak mau semakin salah tingkah. "Biar Yasna sama Alifa aja." Alifa meneruskan ucapannya. "Manggilnya Mami aja Nak.. Inn syaa Allah Tiga minggu lagi resmi jadi mantu Mami, kan?" Koreksi Desti. pipi Alifa memanas mendengar kata menantu yang keluar dari mulut Desti. "I-Iya Mami." Panggil Alifa yang terdengar masih sangat kaku saat mengucapkannya. Tentu saja, karena baru permulaan kan? Namun dalam hatinya merasa begitu bahagia. Menambah kebahagiaan Alifa semakin berlipat-lipat. "Emm.. Boleh kan Yasna sama Alifa dulu?" Tanyanya lagi, memastikan. "Emang Alifa gak mau makan Nak?" tanya Desti. "Alifa sudah makan Mi barusan ba'da salat isya." Desti tersenyum ramah pada Alifa. Setelahnya Desti menoleh pada Rafkan. meminta persetujuan, bukan Desti tidak percaya kepada calon menantunya itu.. Melainkan Rafkan yang apik, hanya membolehkan Yasna di gendong oleh keluarganya saja. Rafkan mengangguk menyetujui, Desti tersenyum setelah mendapat persetujuan dari Rafkan, beranjak dari duduknya lalu menyerahkan Yasna ke pangkuan Alifa dengan hati-hati. Yasna sedikit terusik, tapi tangan lembut Alifa dengan sigap mengelus badan Yasna pelan.. Yasna pun berhasil pulas kembali. "Ya sudah.. Biarkan Yasna sama Alifa dulu, mari kita ke ruang makan dulu.. "Ajak marni, semuanya pun mengangguk lalu mengikuti Marni ke ruang makan. Sebelum pergi ke ruang makan, Rafkan melihat ke arah Alifa sebentar. Rafkan memperhatikan gerakkan Alifa yang begitu lemah lembut memperlakukan putrinya.. Rafkan berdo'a di dalam hatinya 'Semoga Alifa orang yang tepat yang Allah kirimkan untuknya dan Yasna. *** Ketika semua orang sudah pergi ke ruang makan, Alifa memandangi wajah Yasna begitu lekat, membelai pipi chubynya dengan sayang.. Alifa berfikir, apa yang ada di fikiran ibunya Yasna sampai harus meninggalkan bayi perempuan selucu ini, apalagi pada waktu anak ini baru lahir betapa rapuhnya dia, betapa sangat butuhnya buaian dari seorang ibu.. Tapi apa kenyataan yang harus di terima bayi secantik ini, hanya merasakan buaian seorang Ayah dan nenek. Hati Alifa terasa sakit ketika memikirkan hal itu, tidak terasa Air matanya menetes.. Alifa cepat-cepat menghapus Air mata itu dengan tangannya yang bebas, Setelahnya Alifa menundukkan sedikit kepalanya lalu mencium bibir mungil Yasna dengan sangat lembut, dalam hatinya Aira berjanji jika dia memang di takdirkan berjodoh dengan Rafkan selain memenuhi kewajibannya seorang istri, Alifa janji Akan sangat menyayangi Yasna. Meskipun Yasna tidak lahir dari rahimnya, Alifa akan berusaha menjadi ibu yang baik buat Yasna.. Sekarang pun, Alifa merasa sudah menyayangi Yasna.. Sekali lagi Alifa mencium bibir mungil Yasna, sekarang dengan kedua pipinya, harum khas bayi yang menyeruak di indra penciumannya mampu menenangkan hatinya. *** ~To Be Continued~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD