Freepare

2051 Words
Setelah persetujuan antara kedua belah pihak dua hari yang lalu. terutama persetujuan antara Rafkan dan Alifa.. Rencananya Pernikahan mereka akan di gelar tiga minggu lagi, Tapi.. Itu hanya rencana Awal, Ada perubahan rencana dari pihak Rafkan meminta agar acaranya di percepat, karena satu minggu lagi Rafkan harus pergi ke Bandung untuk peresmian pembukaan cabang perusahaannya di sana. Dan.. Rencana itu di setujui oleh pihak Alifa. Jadi, acaranya deal di laksanakan enam hari lagi sebelum Rafkan pergi ke Bandung. Entah berapa hari Rafkan di sana karena harus menata dan membenahi dulu segalanya, Rafkan tidak bisa memastikan berapa lamanya dia di sana. Maka dari itu agar dirinya tenang selama di Bandung, Rafkan memilih melaksanakan pernikahannya terlebih dahulu. Kedua keluarga sedang sibuk mempersiapkan segalanya, akad nikah beserta resepsi akan di laksanakan di salah satu hotel mewah di Jakarta. Dan semua biayanya di tanggung oleh Rafkan,  Rafkan sendiri yang membiayainya keluarganya pun tidak mengeluarkan uang sedikitpun, hanya membantu mempersiapkan yang bisa di kerjakan oleh tenaga saja. Hari ini rencananya Alifa dan Rafkan akan fitting baju di butik yang sudah Mami Desti pilihkan. Saat ini Alifa dan Marni sudah menunggu Rafkan dan Maminya di depan butik. Tidak lama, mobil Fortuner putih yang Marni tahu adalah milik keluarga Rafkan berhenti tepat di parkiran butik. Pintu tengahnya terbuka, Marni dan Alifa melihat Desti turun dari sana dengan Yasna di gendongannya. Perasaan Alifa merasa sangat bahagia ketika melihat bayi cantik itu. Desti berbicara sebentar dengan sopirnya. Setelah Desti selesai bicara.  sopirnya melajakukan mobilnya menuju rumah kembali. Melihat mobilnya pergi lagi, membuat Alifa bertanya-tanya. ke mana Rafkan? Batinnya. Saat pandangan Desti menemukan keberadaan Marni dan Alifa, ia tersenyum seraya berjalan mendekat ke arah mereka. "Hallo Yasna.. Cantik banget.." Marni menoel pipi Yasna. Anak itu tersenyum, membuat siapapun yang melihatnya, gemas. Alifa tersenyum ke arah Yasna, Yasna membalas senyum menggemaskan lagi.. Yasna termasuk anak yang murah senyum, sangat beda dengan sang Ayah yang kebalikannya. Iya, jarang sekali tersenyum. "Oh ya.. Rafkan minta maaf datang agak telat. Dia masih ada meeting, katanya. setelah selesai dia nyusul ke sini."  Mendengar penuturan Desti, membuat pertanyaan dalam hati Alifa terjawab. Membuat Alifa lega. Tentu seja. "Iya.. Gak papa Des." "Mami boleh gak Yasna Alifa yang gendong." Rasanya Alifa tidak kuat untuk tetap biasa-biasa saja melihat ke lucuan Yasna. "Oh boleh dong Nak, boleh banget.. Dia baru bangun tidur makannya rambutnya acak-acakan gini,"   Kata Desti sambil membenarkan rambut Yasna yang tipis itu, lalu memindahkannya ke pangkuan Alifa. Yasna tidak menolak ketika berada di gendongan Alifa, padahal anak itu biasanya hanya mau di gendong sama orang yang ada di rumahnya. "Ya sudah, ayo kita kita masuk," ajak Desti.  Marni dan Desti berjalan duluan di ikuti Alifa di belakangnya. Alifa mencium gemas pipi Yasna, sementara Yasna anteng memainkan boneka kecil yang di bawanya dari rumah. Saat masuk ke dalam butik khusus bridal ini yang di dalamnya berisi gaun bridal yang cantik-cantik. Membuat Alifa terheran-heran sekaligus takjub melihatnya. "Hey Desti, oh ini calon menantu sama besannya ya?" Seorang wanita seumuran Desti mengenakan hijab modern, dengan pakaian yang sangat modis. Menghampiri mereka.. Lalu mencium pipi kiri kanan Desti, kemudian melakukan hal yang sama pada Alifa dan mamanya. "Aduh Yasna udah nempel aja sama mama barunya.. " Anggun mencubit pipi Yasna pelan, Yasna tertawa dengan celotehan tidak jelasnya. "Oh ya.. Baju pengantin yang kamu pesen udah jadi, mau langsung lihat sekarang?" Tanya Anggun pada Desti, "Boleh,"  "Ya sudah kita ke lantai dua." Desti, Marni dan Alifa mengangguk, lalu mengikuti langkah kaki Anggun. Setelah sampai di lantai dua, Anggun menunjukkan tiga gaun mewah warna putih, merah, dan warna perak.. Yang di pakaikan di manekin. Mata Alifa sampai tidak berkedip melihatnya. gaun yang bawahnya sedikit mengembang dengan ekor yang tidak terlalu panjang dengan payet simple, di tambah sentuhan mutiara membuatnya benar-benar elegan. Alifa merasa gaun ini terlalu mewah untuk dirinya. "Bagus banget Des,"  "Iya, aku sengaja pilih desain yang gak terlalu ribet biar Alifa nyaman pakainya.. Oh ya..Alifa sendiri gimana suka nggak? " "Emmm... I..iya Mi suka.. " Alifa menjawab tergagap, karena melamun.. "Ya sudah Alifa cobain gih. Ayo Yasna sama Oma dulu." Desti mengambil Yasna dari gendongan Alifa, di luar dugaan Desti. Yasna malah menangis kencang, Karena tidak mau di ambil dari gendongan Alifa. Alifa buru-buru mengambil lagi Yasna dari gendongan Desti, Lalu menimang-nimangnya agar tangisannya berhenti. "Alifa cobain nanti aja ya Mi." "Iya, Yasna biasanya betah sama Oma. Mentang-mentang mau punya Bunda, Omanya di lupain." Desti memasang wajah marah di depan wajah cucunya, sontak saja membuat Yasna semakim menangis kencang. Desti tertawa tangannya mengusap-usap kepala Yasna, tidak tahu kenapa menurut Desti cucunya terlihat lebih menggemaskan jika sedang menangis, nenek yang satu ini, memang benar-benar. Tangisan Yasna masih belum mereda, karena ini Alifa pamit sebentar untuk menenangkan Yasna ke lantai bawah. "Mi.. Alifa ijin bawa Yasna ke bawah ya, siapa tahu lebih tenang." "Ya udah, dia kalau udah nangis memang gitu susah banget diemnya, hanya Ayahnya yang bisa diemin," sahut Desti. Alifa membawa Yasna ke lantai satu, lalu keluar dari butik,  Alifa membawa Yasna duduk di tempat duduk yang ada di sana. "Suut.. Udah sayang nangisnya cape loh, udah ya." Alifa mengecup pipi Yasna beberapa kali, setelahnya Alifa tersenyum di depan wajah Yasna. Alifa menampilkan senyum cerianya agar Yasna berhenti menangis. Tangisan Yasna pun mulai reda, Yasna menatap ke arah Alifa sangat lekat. Layaknya anak kecil pada umumnya yang suka memperhatikan dengan detail wajah orang yang baru di lihatnya. "Pinter banget.. Nangisnya berhenti, jadi kelihatan cantiknya kalau berhenti nangis." Alifa memposisikan Yasna berdiri di pangkuannya. Yasna memegang wajah Alifa.. Wajah lucunya masih datar, tangisannya sudah berhenti. Yasna memukul-mukul wajah Alifa pelan. "Aww sakiit..." Alifa pura-pura kesakitan, sembari pura-pura menangis, Yasna yang melihat raut wajah Alifa, tertawa lepas. Yasna memukul Alifa lagi, Alifa melakukan hal yang sama seperti barusan. Yasna semakin keras tertawa, dan Alifa sangat bahagia melihat wajah ceria Yasna. Tangan mungil Yasna berhenti memukul wajah Alifa dia memasukan tangannya ke dalam mulutnya. "Ba..Ba..Ba...Ba.. " Celoteh Yasna, karena itu yang baru bisa ia ucapkan. "Apa..sayang? Yasna bicara apa?" Alifa mengangkat Yasna ke atas, lalu mencium perut Yasna gemas.. Yasna tertawa lagi karena geli, sampai menjerit.. bahagia. Tanpa Alifa sadari, ada seseorang yang memperhatikannya. Rafkan memperhatikan Alifa dari dalam mobil. Dia sudah memarkirkan mobilnya sebelum Alifa keluar dari butik dengan putrinya yang tengah menangis. Rafkan sudah bersiap keluar dari mobilnya karena sedikit panik melihat anaknya menangis. Namun, Rafkan mengurungkan niatnya ingin melihat apa yang akan Alifa lakukan.. Dan... Yang Rafkan lihat, Cara Alifa menenangkan Yasna begitu sabar, Alifa memperlakukan Yasna penuh kasih sayang, Rafkan bisa melihatnya dari sorot mata Alifa ketika menatap Yasna. Senyum terukir di bibir Rafkan dia jadi semakin yakin pada Alifa. Alifa memang orang yang tepat untuk jadi istri dan ibu buat Yasna, bahkan buat adik-adiknya Yasna di masa yang akan datang. Rafkan turun dari mobilnya, Alifa masih belum menyadarinya karena terlalu fokus dengan Yasna. Setelah jaraknya agak dekat dengan Alifa Rafkan mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum?" "Wa'alaikumsalam," Alifa terhenyak setelah tahu siapa yang mengucap salam. "Yasna ngerepotin ya, maaf ya.. "  ucap Rafkan, yang merasa tidak enak. "Nggak kok, aku gak ngerasa di repotin sama sekali.. " Alifa berusaha biasa-biasa saja, padahal jantungnya berdegup kencang. Walaupun jaraknya dengan Rafkan tidak terlalu dekat. "Yasna habis nangis ya?" tanya Rafkan, "Iya mas.. Tadi, Yasna lagi di gendongan Alifa.. Pas mami nyuruh Alifa nyobain baju, mami ngambil Yasna.. Tiba-tiba Yasna nangis kenceng banget. " Alifa bercerita, tanpa menatap Rafkan,  Rafkan mengangguk mengerti.. Alifa mengusap-ngusap pipi Yasna, Yang belum menyadari kehadiran Ayahnya. Yasna sibuk memainkan hijab Alifa.. Bolehkah Alifa menggigit pipinya? Alifa gemas sekali dengan anak ini. "Ma...ma..ma..ma.." Yasna kembali berceloteh, "Bukan nak, bukan Mama." Kenapa Alifa merasa sedikit sakit saat Rafkan mengatakan 'Bukan mama'  "Tapi manggilnya Bunda." lanjut Rafkan lagi. Ternyata Rafkan belum menyelesaikan perkataannya. Pantas saja suudzan tidak di perbolehkan. Sekarang, kebalikannya hati Alifa menghangat.. Rafkan memanggilnya Bunda untuk Yasna. "Emmm.. Gak papa kan? Biar Yasna terbiasa?" Rafkan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena canggung. Memang baru kali ini mereka mengobrol agak banyak. Alifa mengangguk dengan kikuk, mengiyakan permintaan Rafkan, tentu saja Alifa tidak keberatan. Yasna melihat ke arah Rafkan, Yasna tersenyum mendapati Ayahnya yang juga tersenyum ke arahnya. Badannya langsung tidak mau diam, di gendongan Alifa. Rafkan sengaja mendiamkan Yasna sebentar, membuat Yasna menjerit. Alifa yang melihat ekspresi wajah Yasna terkekeh. Sementara Rafkan sudah tertawa lepas, ke dua tangannya ia ulurkan ke arah putrinya.  Yasna menyambutnya dengan senang, Rafkan mengambil Yasna dengan hati-hati karena tidak ingin  bersentuhan dengan Alifa sebelum sah. Rafkan mencium ke dua pipi anaknya berkali-kali. "Anak Ayah kenapa nangis hm?"  Yasna malah tertawa di tanya seperti itu, Rafkan jadi gemas sendiri. "Ya udah, ayo masuk lagi," ajak Rafkan pada Alifa. Alifa mengangguk sembari beranjak dari duduknya. "Mas Rafkan duluan," katanya. "Enggak. di mana-mana perempuan yang harus duluan." Alifa tersenyum, namun tak terlihat oleh Rafkan, karena kepalanya yang menunduk. Pada akhirnya Alifa yang berjalan duluan, di ikuti Rafkan dan Yasna di gendongannya, yang tetap menjaga jarak dengan Alifa. Mereka layaknya keluarga kecil yang bahagia, dengan seorang putri di tengah keluarganya. Mereka telah sampai di lantai dua, Desti dan Marni yang menyadari kehadiran anak-anaknya tersenyum. Yang mereka lihat pun memang benar, anaknya ini begitu serasi walaupun tidak jalan bergandengan mesra. Karena memang tidak harus seperti itu, sudah tunangan bukan berarti bebas berbuat sesuka hati kan? karena tunangan baru memikat, masih belum halal kita tidak boleh menyalah artikan atau pun menyalah gunakan hal itu. "Baru pulang Raf?" tanya Desti, Rafkan menghampiri sang mami lalu menyalami tangannya. "Iya Mi." "Ma.. " panggil Rafkan, tangannya terulur tangannya pada Marni. "Eh iya Nak." Marni tergagap. Sedetik kemudian ia mengambut uluran tangan Rafkan. Setelah itu Rafkan juga menyalami tangan Anggun. "Oh ya.. Raf ini gaun yang akan Alifa kenakan pas hari H nanti, menurut kamu gimana?" Rafkan melihat ke arah yang di tunjuk mainya, dia menatap satu persatu dengan teliti gaunnya. "Bagus," kata Rafkan sembari tersenyum. Senyuman yang teramat kalem. Namun, membuat Alifa panas dingin rasanya. "Ya udah, kalau gitu Alifa cobainnya sama Mamanya di bantu anggun juga, kamu biar sama mami.. Gak boleh saling lihat dulu pake baju pengantinnya nanti aja kalu udah sah." semua orang tertawa kecil. Dan beberapa saat kemudian, Alifa dan Rafkan masuk ke ruang ganti yang berbeda untuk mencoba pakaian pengantinnya. *** Rafkan dan Alifa telah selesai mencoba baju untuk mereka kenakan di hari pernikahannya, dan Alhamdulillah gaun punya Alifa maupun tuxedo Rafkan sangat pas di badan mereka. Jadi tidak.ada yang harus di perbaiki kembali. Ke dua keluarga sudah tenang untuk urusan baju sudah selesai, Dan untuk persiapan yang lainnya Rafkan sudah menyerahkan semuanya pada Wedding organizer, di bantu beberapa vendor. Jadi dia tinggal menerima hasilnya saja. Sekarang mereka sudah ada di luar butik, akan pulang. Yasna sudah tidur kembali di gendongan sang Ayah, Yasna memang masih tidur siang dua kali atau bahkan bisa lebih kalau di bawa naik mobil, setiap mobil berjalan dia pun terlelap. "Kamu sama Alifa bareng kita aja.. " Desti menawarkan mengantar Marni dan Alifa. "Gak usah Des.. Lagian gak searah kan, kasihan kamu sama Rafkan harus muter-muter." Marni menolak di sertai senyum. "Eh gak papa.. Ayolah, lagian gak ada taksi juga kan." Desti sedikit memaksa. "Iya Ma, nanti ke buru sore kalau nunggu taksi." Timpal Rafkan. Marni menatap Alifa, meminta pendapat.. "Alifa ikut kata Mama aja." jawab Alifa yang mengerti tatapan bertanya dari sang Mama. Marni membuang nafas. "Ya sudah kalau gitu, beneran ini gak ngerepotin?" Marni masih merasa tidak enak, padahal Desti teman baiknya sejak dulu. "Ya enggak lah," Ucap Desti seraya terkekeh. "Sini Raf, Yasna biar sama Mami." Rafkan mengangguk, sembari menyerahkan Yasna dengan hati-hati takut anaknya terbangun. Yasna sudah ada di gendongan Desti, Rafkan masuk ke dalam mobilnya terlebih dahulu. Saat Desti mau masuk ke dalam mobil Alifa memanggilnya. "Mi..Boleh gak Alifa yang gendong Yasna?" Desti tersenyum, "Boleh Nak." Desti lebih mendekatkan posisinya dengan Alifa, agar lebih mudah memindahkan Yasna. Yasna terusik.. Setelah berada di gendongan Alifa, "Uh sayang.. Bobo lagi ya." Alifa menepuk-nepuk pelan p****t Yasna, dan Yasna pun terlelap kembali. Desti, Marni dan Rafkan bisa melihat Alifa begitu menyayangi Yasna. Mereka semua pun masuk ke dalam mobil, Alifa duduk di jok tengah dengan Marni. Alifa betul-betul tulus menyayangi Yasna bukan karena ingin cari perhatian pada Rafkan atau Desti.  Alifa ingin memberikan kasih sayang terbaik layaknya seorang ibu pada anaknya. Alifa ingin mengganti rasa kasih sayang yang belum Yasna dapatkan sejak lahir. Meski bukan dari seorang ibu kandung, tapi Alifa akan berusaha memberikan yang terbaik dalam segala hal. *** ~To Be Continued~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD