Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Hari yang di tunggu-tunggu oleh dua keluarga akhirnya akan segera tiba. H-1 menjelang pernikahan Rafkan dan Alifa. Itu artinya hanya tinggal satu hari menjelang hari H nya tiba. Segala persiapan sudah 99% selesai. Tinggal menunggu waktu penyelenggaraan saja yang tinggal beberapa jam lagi.
Saat ini yang Alifa rasakan sangat campur aduk, mungkin sama dengan yang di rasakan semua wanita pada umumnya menjelang hari pernikahan tiba.
Nanti malam Alifa beserta keluarga besarnya, akan berangkat ke hotel yang akan menjadi tempat di langsungkannya acara akad nikah dan resepsinya.
Setiap salat lima waktu yang selalu Alifa kerjakan ditambah dengan salat sunat yang di kerjakannya. Ia selalu berdo'a agar segala sesuatunya di lancarkan di hari pernikahannya. Alifa pun berdo'a semoga Rafkan adalah orang yang tepat untuk dirinya, Semoga Rafkan adalah jawaban atas do'a yang selalu dirinya panjatkan setiap waktunya.
"Alifa udah siap?"
Alifa melihat ke arah pintu kamar yang telah terbuka, ia mendapati sang Mama yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Sudah Ma." Jawab Alifa.
Seakan menemukan hal yang tidak biasa dari raut wajah anaknya.
Marni berjalan ke arah putrinya, setelahnya ia duduk di samping Alifa.
"Apa yang kamu rasakan sekarang? Kamu bisa bicarain sama Mama, biar lebih tenang." Marni bertanya seperti itu karena melihat raut wajah Alifa yang terlihat sedikit muram.
"Alifa gak papa, cuma.. Sedikit deg-degan aja Ma." Sahutnya, sambil melihat sekilas ke arah sang mama.
Marni yang mendengar keluhan sang anak tersenyum, kemudian merangkul Alifa mengusap-ngusap pundaknya.
"Itu biasa nak. Setiap calon mempelai akan merasakan hal itu, kamu gak usah terlalu memikirkannya. Yang perlu kamu lakukan saat ini, banyak berdo'a aja supaya acaranya di lancarkan."
Alifa pun mengangguk, dia sedikit rileks sekarang.
"Ya sudah.. Ayo kita berangkat mobil jemputan sudah di depan." Ujar Marni sembari beranjak dari duduknya.
***
Hari H pernikahan adalah hari yang paling di tunggu-tunggu oleh setiap mempelai pengantin beserta keluarga besarnya. Begitu juga dengan Alifa dan Rafkan. Usai melaksanakan Salat subuh penata rias langsung melaksanakan tugasnya, untuk menyulap tubuh Alifa.
Sementara, Alifa yang tidak biasa dandan berlebihan sehari-harinya, merasa tidak nyaman mengetahui banyaknya berbagai jenis, yang entah apa. Di pasangkan pada wajahnya. Dia sudah berkali-kali ingin mengecek keadaan wajahnya, karena takut akan terlihat menyeramkan. Mengingat banyak sekali printilan yang sudah melekat di wajahnya ini. Namun sang penata rias terus mencegah. Katanya kalau kata leluhur orang sunda dulu,
Pamali kalau saat pengantin wanita berias banyak bercermin, auranya tidak akan terlihat, membuat pengantin tidak bercahaya. Mitosnya.
Sampai Alifa berganti pakaian dengan gaun putih yang di peruntukkan untuk acara akad, dia sama sekali belum di perbolehkan bercermin. Hingga semuanya telah melekat pada tubuhnya. Barulah dia di perbolehkan oleh semua crew wardrobe.
Sangat menyebalkan, bukan!
Dengan Ragu, Alifa melangkahkan kakinya ke depan cermin besar yang baru saja di buka. Memang sedari tadi cermin besarnya di tutup oleh kain. Agar Alifa tak mengintip sedikitpun.
Beberapa langkah lagi, dirinya akan sampai di depan cermin, Alifa memejamkan mata. Saking takut melihat penampilannya.
"Udah, buka matanya Alifa." Ujar bu Martha sang penata rias.
"Takut menyeramkan Bu," jawab Alifa, masih dengan mata terpejam.
Semua orang yang berada di sana, tertawa akibat ulah Alifa.
"Yang ada, kamu jadi terkejut." Ucap Ratna, yang menata khimar Alifa.
Alifa membuka matanya sedikit, mengintip pantulan dirinya di cermin. Bayangannya belum terlalu jelas, menambah satu inci matanya mengintip, terlihat gaun putih bersih di pantulan cerminnya. Tentu saja, karena Alifa yang menata agak kebawah. Memberanikan diri membuka matanya, Alifa benar-benar kaget melihat bayangannya sendiri. Seolah tak percaya dengan apa yang tengah ia lihat.
Wajahnya yang terpoles dengan makeup natural, simple namun terlihat elegan. Pakaiannya yang di balut gaun putih berpotongan sederhana, sesuai dengan keinginan dirinya, tetap menunjukkan kesan mewah, serta khimar syar'i yang di kreasikan sedemikian rupa tapi tetap terlihat simple. Lengkap dengan veil yang menjuntai tidak terlalu panjang namun tetap sangat cantik.
"Cantik banget kan." Bu Martha berucap setelah dirinya berdiri di belakang Alifa.
Alifa menatap Bu Martha dari pantulan cermin, bibirnya mengukir garis senyum. Senyum yang biasanya cantik, terlihat semakin cantik dengan penampilannya saat ini.
Terdengar suara pintu di buka, dan masuklah Marni. Dia melangkahkan kakinya mendekati Alifa..
Setelah sampai di dekat Alifa mata Marni melotot, karena kaget melihat wajah anaknya. Dia memegang ke dua sisi pundak Alifa.
"Eh? Ini Alifa anak Mama?" Wajahnya menatap Alifa dengan pandangan tidak percaya.
"Iya Mama, itu anaknya."
"Aaaaaa.... ya ampuuun, anak mama cantik bangeeet." teriaknya, yang langsung memegang ke dua sisi kepala Alifa.
Tapi entah kenapa.. Alifa malah terharu. Alifa memeluk sang Mama. Air matanya benar-benar tidak terbendung lagi.
Marni pun sebenarnya ingin menangis dengan kencang, namun dengan sekuat tenaga ia berusaha menahannya. Di satu sisi, seorang ibu ingin melihat anaknya menikah, melihat anaknya berumah tangga.Tapi di sisi lain melepaskannya pun tidak semudah yang di bayangkan, Memang.. di tinggalkan ini, tidak dalam konteks di tinggalkan selamanya dan tidak akan pernah kembali.
Tapi.. coba bayangkan saja, yang tadinya selalu ada di rumahnya setiap waktu, jika pergi pun akan pulang ke rumah. Menghabiskan banyak waktu dengannya, Dan.. jika sudah menikah, tentu saja sang anak akan ikut dengan suaminya. Karena semua orang pun tahu, seorang perempuan yang sudah menikah harus mengikuti ke mana pun pergi suaminya.
Marni yakin.. semua ibu di dunia ini, merasakan apa yang dirinya rasakan saat ini di hari H pernikahan anaknya. Marni akan berusaha merelakannya, demi masa depan anak satu-satunya ini.
Marni mati-matian menahan air matanya, dia tidak ingin Alifa bertambah sedih jika dirinya pun menangis.
Tangan marni mengusap-ngusap punggung Alifa.
"Loh.. kok anak Mama nangis sih, hey.. gak boleh nangis, masa udah cantik gini nangis. Nanti make up nya berantakan loh." Marni membuat nada suaranya seriang mungkin.
"Alifa minta maaf sama mama, Alifa banyak dosa sama Mama," ujar Alifa tiba-tiba.
"Pintu maaf seorang ibu selalu terbuka buat anaknya nak."
"Sudah jangan nangis, nanti Rafkan kira kamu terpaksa lagi nikah sama dia, " hibur Marni pada anak semata wayangnya, meski dia pun ingin menumpahkan air matanya.
Alifa mengurai pelukannya.. dia terkekeh bersama tangisannya, kedua tangannya mengusap sudut matanya.
Marni tersenyum menenangkan pada Alifa.
Terdengar pintu kamar di buka, Alifa dan Marni berbarengan melihat ke arah pintu.
"Mempelai pria sudah datang nyonya." beritahu salah satu pelayan hotel, kemudian beranjak lagi setelah mendapat jawaban dari Marni.
Marni memegang pundak Alifa, lalu menghapus sisa air mata di sudut mata Alifa..
"Siap ya?"
Sejak pelayan hotel memberitahukan Rafkan sudah datang, saat itu juga jantung Alifa kembali berdetak cepat.
Di tambah pertanyaan mamanya barusan, membuat Alifa semakin tidak karuan.
Alifa menganggukkan kepalanya sedikit ragu. Marni membimbing Alifa duduk di tepi ranjang, dia menggenggam ke dua tangan Alifa seolah mentransfer kekuatan darinya.
"Kita berdo'a ya.. semoga akadnya lancar."
"Aamiin Ma," Alifa memejamkan matanya sebentar, Rasa gugupnya sedikit berkurang. Karena tangan sang Mama yang terus menggenggamnya, membuat Alifa merasa tenang.
***
Rafkan sudah duduk di depan penghulu, dengan sang papi di sampingnya.. serta maminya yang menggendong Yasna berada di belakangnya. Di sini tidak terlalu banyak yang hadir, hanya kedua keluarga besar dari pihak Rafkan dan Alifa di tambah dengan kerabat dekatnya.
Rafkan merasakan jantungnya yang berpacu lebih cepat, Ini bukan pertama kali untuknya tapi.. entah kenapa kali ini dia merasa lebih gugup.
Mereka sedang menunggu Rahman, papanya Alifa.
Dan.. tidak lama Rafkan melihat seseorang yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya.
Rahman duduk di samping penghulu yang posisinya berhadapan dengan Rafkan.
Sungguh... Rafkan benar-benar bertambah gugup.
"Bisa kita mulai sekarang?" Suara penghulu menginterupsi, yang di angguki oleh semua orang yang hadir di sana.
Setelah penghulu memberikan pengarahan dan membacakan do'a, kini tiba saatnya ijab qobul, tangan kanan Rahmah dan Rafkan saling berjabatan.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan ananda dengan anak saya Alifa Najma Naufalyn binti Rahman dengan maskawin seperangkat alat salat dan emas putih 23 karat di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Alifa Najma Naufalyn dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
Dengan suara yang lantang dan satu tarikan nafas Rafkan mengucapkannya.
Kenapa mas kawinnya 23 karat? Karena tanggal lahir dan usianya Alifa 23.. itu Rafkan sendiri yang berinisiatif.
Setelah kata..
SAH!!
Perasaan Rafkan benar-benar lega, dia bahagia, sangat-sangat bahagia, dirinya telah sah jadi seorang suami.
Kali ini Rafkan akan berusaha menjaga rumah tangganya, dia tidak akan membiarkan masa lalunya terulang lagi. Ya.. Rafkan akan berusaha sebisa dirinya. bibirnya mengukir senyum yang sangat tipis, sehingga orang lain tidak menyadarinya.
Mereka semua yang hadir mengangkat kedua tangannya, membacakan do'a yang di pimpin oleh penghulu.
Sementara itu di kamar hotel, Alifa menangis di pelukkan sang Mama. Ini adalah air mata bahagianya..
Sekarang statusnya sudah berubah, dia sudah menjadi seorang istri.
Penantian panjangnya berakhir hari ini saat Rafkan mengucapkan ijab qobul, Allah menjawab do'anya hari ini.
Marni mengurai pelukkannya, kedua ibu jarinya menghapus air mata Alifa.
Kemudian tersenyum lembut kepada sang putri.
"Selamat sayang.. sekarang kamu sudah sah menjadi seorang istri, mama do'akan rumah tangga kalian selalu di berkahi Allah nak."
"Aamiiin Ma," ujar Alifa di tengah tangisannya.
"Sudah, sekarang kita turun ya.. jangan biarkan suami kamu menunggu lama." Marni tersenyum geli, yang menulur pada Alifa yang mengulum senyumnya.
Alifa keluar dari kamar bersama mamanya, Marni menggandeng tangan Alifa mulai berjalan pelan..
Mereka menuruni tangga, ketika sampai di anak tangga terakhir jantung Alifa dua kali lipat berdegup kencang.
Keluarga besar dan kerabat-kerabatnya banyak yang berbisik-bisik.. mengatakan 'Alifa cantik banget' , 'pangling banget' dan mereka terus memuji Alifa.
Ketika sudah sampai di dekat Rafkan, Alifa benar-benar sudah tidak tahu lagi keadaan jantungnya.
Rafkan menatap sekilas wajah wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya. Batinnya mengakui bahwa Alifa cantik, sangat cantik. Rafkan tersenyum tipis pada Alifa. Kemudian mengalihkan lagi pandangannya,
Seraya berdehem sangat pelan.
Alifa duduk di kursi di samping Rafkan dengan di bantu Marni, karena.. sedikit kesulitan dengan gaun yang ia kenakan.
"Silahkan.. sekarang bertukar cincin." Seru penghulu kepada Alifa dan Rafkan.
Sepasang cincin berlian putih yang sengaja sudah di siapkan di meja..
Rafkan ingat, dia sendiri yang membeli cincin itu, dengan membawa cincin Alifa. Karena tidak mau pergi berduaan.
Rafkan meraih kotak cincin itu,mengambil punya Alifa. Badannya sedikit di miringkan agar menghadap istrinya,
Meskipun sebenarnya gugup, Rafkan menutupinya dengan sangat baik sehingga terlihat biasa-biasa saja.
Rafkan meraih jari lentik Alifa yang terlukis penuh oleh hena putih, membuat jari-jari putih itu semakin cantik. Tubuh Alifa menegang. karena baru kali ini bersentuhan dengan laki-laki selain Papanya. Tangannya berkeringat dingin bahkan sedikit bergetar, Rafkan pun bisa merasakannya. Ternyata Alifa benar-benar gugup melebihi dirinya,
Tahu Alifa seperti itu Rafkan semakin melawan rasa gugupnya.
Rafkan memasukkan cincin itu perlahan, sampai tersematlah cincin itu di jari manisnya Alifa begitu pas, terlihat sangat cantik di jari manisnya.
Dan.. sekarang giliran Alifa menyematkan cincinya pada jari Rafkan. Namun rasanya Alifa tidak sanggup, jarinya gemeteran karena rasa gugup.Rafkan yang mengerti mengulurkan kembali kedua tangannya, meraih tangan Alifa menggenggamnya dengan erat.
Alifa tersentak mendapati perlakuan Rafkan.
Apalagi.. orang-orang di belakang mereka banyak yang sudah berdehem jadi-jadian membuat Alifa semakin gugup saja.
Perlahan Alifa mengangkat wajahnya yang menunduk.. dan mata Alifa bertemu dengan sepasang mata Rafkan yang menatapnya menyorotkan ketenangan, senyumannya pun tak kalah menenangkan.
Seakan mendapat keberanian dari Rafkan, Alifa pun mengambil cincin dari kotak yang ada di depannya.. dia meraih tangan Rafkan lalu meyematkan cincinnya, yang sama pasnya di jari Rafkan. Walaupun sebenarnya rasa gugupnya tidak hilang 100% . Minimal Alifa tidak mempermalukan dirinya di hadapan orang lain.
Kini kedua cin-cin itu tersemat di antara dua orang yang akan memulai membangun rumah tangganya.
"Alifa cium tangan Rafkan." Marni berujar.
Ah... iya Alifa sampai melupakan sesuatu yang sangat penting itu.
Tapi... kenapa. harus di ingatkan sama mamanya, Alifa bertambah malu.
Dengan sedikit gugup, Alifa mengulurkan tangannya meminta tangan Rafkan, tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
Tidak mau membuat Alifa menunggu
Rafkan menyambut tangan Alifa.
Alifa sedikit menundukkan kepalanya. Dia mencium tangan suaminya..
"Cium dong keningnya," celetuk seseorang lagi yang entah siapa.
Mata Alifa terbelalak, dia kaget dengan apa yang barusan di dengarnya.
Tapi, tidak dengan Rafkan. Yang Alifa lihat suaminya ini menampilkan wajah tenangnya. Ah.. kata suami saat mengucapkannya, apa ya.. rasanya Alifa tidak bisa mendeskripsikannya yang pasti hatinya benar-benar membuncah bahagia.
Dan lagi... Alifa di buat sangat kaget ketika, bibir Rafkan sudah menempel di keningnya.
Rafkan memejamkan matanya saat mengecup kening Alifa,
mata Alifa pun ikut terpejam walaupun awalnya kaget.
Cukup lama Rafkan mengecupnya..
Setelah Rafkan melepaskan kecupannya, terdengar tepuk tangan dan sorak-sorak yang sangat heboh dari keluarga besarnya..
Sungguh Alifa sangat-sangat malu,
Rafkan yang melihat pipi Alifa sangat merah entah mengapa membuatnya bahagia. Walaupun sebenarnya barusan dia juga sangat malu tapi mau bagaimana Rafkan tidak punya pilihan.
Walaupun rasanya saat ini yang di rasakan Rafkan dan Alifa sangat campur aduk, pada intinya mereka sangat bersyukur pada Allah telah di pertemukan dengan jodohnya, yang mudah-mudahan tidak hanya di dunia tapi kelak nanti di akhirat.
***
~To Be Continued~