Meskipun sudah mengetahui alasan di balik sikap Mas Alex yang tiba-tiba berubah, aku tetap melaksanakan tugasku seperti seorang istri yang baik. Sesuai dengan tekadku kalau aku akan membuat Mas Alex jatuh cinta dengan semua sikapku, Mas Alex adalah suamiku maka aku akan mendapatkan hati suamiku kapanpun waktu yang tepat itu. Seperti yang Mas Alex katakan juga kalau aku tidak akan memberitahukan orang rumah mengenai masalah yang terjadi antara aku dan suamiku. Ini adalah urusanku, di mana aku yang harus menyelesaikannya sendiri. Lagipula Mas Alex pasti tidak akan suka kalau aku mengadukan semua ini pada Bu Sievania, aku tidak ingin dianggap sebagai seorang istri yang suka mengadu pada mertua.
Aku baru saja selesai melaksanakan shalat subuh, aku melihat ke arah Mas Alex yang masih terlelap. Aku pun kembali fokus untuk berdoa, aku berdoa kepada Allah agar setidaknya membuat hati Mas Alex yang keras seperti batu itu menjadi luluh. Beberapa hari terakhir ini, aku baru tahu kalau Mas Alex sangat jarang melaksanakan kewajibannya. Ia sering lalai dalam shalatnya dan setiap aku mencoba mengingatkannya dia selalu kesal, aku pun mendoakan semoga saja ia berubah menjadi seseorang yang bisa patuh pada Allah. Usai shalat subuh, tak ada bosan-bosannya aku mencoba membangunkan Mas Alex. Meskipun aku tahu hasilnya nanti akan seperti apa, tetapi aku memiliki tekad dan harapan barangkali Mas Alex berubah hari ini.
"Mas, udah subuh. Bangun dulu, Mas, shalat subuh dulu." Aku menyentuh lengannya, mengguncangnya pelan hingga sepertinya Mas Alex terganggu.
"Mas, bangun. Shalat subuh itu penting, Mas," ucapku terus mencoba membangunkannya.
Hingga akhirnya Mas Alex bangun, aku sudah tersenyum karena menganggap kalau Mas Alex akan menurut. Namun, saat melihat wajahnya yang tak bersahabat sepertinya yang akan terjadi tak sesuai dengan harapanku.
"Bisa tidak kau jangan ganggu aku? Kalau kau mau shalat ya shalat sendiri, tidak usah mengajak orang lain. Aku masih mengantuk, hari ini aku masuk kerja siang. Jangan ganggu aku!" tukasnya ketus kemudian kembali berbaring.
Aku menghela napas, harus dengan cara apalagi aku mengingatkan Mas Alex? Aku tak ingin Mas Alex mendapatkan dosa karena tidak melaksanakan perintah Allah, tetapi Mas Alex begitu keras kepala dengan tidak mau mendengarkan perkataanku.
"Tapi Mas harus bangun, setidaknya shalat subuh dulu, Mas. Nanti setelah shalat subuh tidurnya bisa dilanjut lagi," ucapku tak menyerah.
Mas Alex lagi-lagi terbangun, pria itu turun dari atas ranjang kemudian berjalan ke arahku. Aku terkejut ketika ia tiba-tiba saja menarik tanganku dan membawaku keluar dari kamar.
"Lebih baik kau di luar saja, dari tadi cerewet sekali!" Setelah membawakan keluar, Mas Alex kembali memasuki kamarnya kemudian mengunci pintunya dari dalam.
Aku membatu di depan pintu kamar kami yang tertutup, pria macam apa yang sudah menikahiku? Aku memang bukan perempuan sempurna, tetapi apakah aku salah jika aku mengharap bisa mendapat seorang pria yang bisa bersikap layaknya seorang imam yang baik? Namun, bagaimanapun sikap Mas Alex, aku tetap mencintainya. Aku benci dengan fakta ini kalau aku mencintainya, tetapi sebuah cinta memang tidak bisa diduga.
Aku memutuskan pergi ke dapur untuk membuat sarapan, aku harus membuat sarapan pagi-pagi karena sebentar lagi aku akan pergi ke kampus. Usai menyiapkan sarapan, aku kebingungan ingin melakukan apa. Sejujurnya aku ingin berganti pakaian, tetapi pakaianku ada di dalam kamar kami. Sedangkan pintu kamar masih dikunci Mas Alex, ingin mengetuk pintu kamar takut kalau Mas Alex akan marah lagi padaku. Hingga aku hanya bisa berdiri di depan pintu kamar kami yang tertutup, hingga aku sedikit mundur saat terdengar bunyi pintu yang terbuka.
Terlihat Mas Alex yang sepertinya habis mandi karena rambutnya basah, pandanganku kembali turun hingga terlihatlah d**a bidang Mas Alex yang tak tertutup apapun. Aku baru sadar kalau Mas Alex ternyata hanya mengenakan handuk sebatas pinggangnya, aku pun memalingkan wajahku. Pipiku terasa panas melihat pemandangan itu.
"Kenapa kau berdiri di depan pintu?" tanya Mas Alex.
"A-aku ingin masuk ke kamar, tapi aku—"
"Masuklah!" ucap Mas Alex kemudian memasuki kamar, meninggalkanku yang hanya terdiam.
Ragu-ragu, aku memasuki kamar, aku mengambil pakaianku di dalam lemari. Aku melirik ke arah Mas Alex yang sedang memakai kemejanya, sesaat pandangan kami bertemu ketika ia juga melihat ke arahku.
"Mengapa kau masih mengenakan hijabmu itu?" Tiba-tiba ia bertanya demikian hingga membuatku terkejut.
"Eum, tidak apa-apa, aku nyaman saja memakainya," jawabku.
Kemudian ia tak bertanya lagi mengenai itu dan itu membuatku lega, tak mungkin 'kan kalau aku mengatakan aku belum siap memperlihatkan rambutku padanya? Beberapa hari setelah kami menikah, aku memang masih tetap mengenakan hijabku baik itu saat tidur ataupun melakukan kegiatan lain. Aku belum siap Mas Alex melihatnya, entahlah meskipun aku sudah menikah dengannya, aku masih merasa canggung.
"Mas, sebelum berangkat Mas sarapan dulu ya. Tadi sarapannya udah aku siapin," ucapku pada Mas Alex.
"Kau makan saja sendiri, aku akan sarapan di luar saja." Mas Alex mengatakan itu ketika ia sedang memasang dasi.
Aku membisu mendengarnya, padahal aku sudah susah payah membuat sarapan, tetapi Mas Alex sama sekali tidak menghargainya. Untuk apa aku berharap kalau Mas Alex akan menghargaiku? Nyatanya ia bahkan sama sekali tidak mencintaiku.
"Mendadak aku ada meeting penting, jadi aku harus segera berangkat. Aku pergi dulu!" Mendengarnya membuatku mendongak, aku tersenyum tipis melihat kepergian Mas Alex. Setidaknya aku mendengar alasannya tidak bisa sarapan bersamaku, itu sudah lebih dari cukup untukku.
Setelah sarapan, aku pergi ke kampus dengan menaiki motorku. Aku sudah janjian dengan Pak Hadi kalau aku akan bimbingan hari ini, beruntung beliau mau sehingga aku tak perlu bersusah payah mengantri bersama dengan mahasiswa lain. Entah apa yang menyerang Pak Hadi sehingga beliau bisa menjadi baik seperti itu, sebenarnya tak hanya aku melainkan juga aku akan bimbingan bersama Nindi juga. Aku berharap semoga urusan skripsiku bisa cepat selesai agar saat aku sudah wisuda, aku bisa fokus mengurus butik milikku.
"Pak Hadi udah ada?" tanyaku pada Nindi.
"Kayaknya belum sih, gue juga baru datang soalnya," jawabnya.
"Syukur deh kalo gitu."
"Oh ya, Ris, lo udah nanya siapa cewek itu sama suami lo?" tanya Nindi tiba-tiba.
"Buat apa gue nanya gitu?" tanyaku balik sambil mengernyitkan dahiku.
"Ya ampun, Risa, biar kita tahu lah suami lo itu selingkuh apa nggak!"
"Mas Alex nggak selingkuh, Ris, lagian gue nggak mau nanya-nanya hal yang sebenarnya nggak terlalu penting."
"Astaga, nggak penting apanya, Ris? Itu penting banget. Kalo lo—"
"Pak Hadi datang," ucapku menghentikan perkataan Nindi.