Bu Sievania mengirimkan pesan dan memintaku nanti malam untuk berkunjung ke rumahnya bersama dengan Mas Alex, saat ini aku sedang berada di butikku. Aku berusaha menghubungi nomor Mas Alex, tetapi tidak ada satupun panggilan yang dijawab olehnya. Hal itu membuatku sejujurnya merasa sedih, padahal ini bukan kali pertama aku diabaikan melainkan sangat sering. Namun, rasanya tetap menyakitkan ketika kita diabaikan oleh seseorang yang kita cinta, setidaknya aku ingin Mas Alex mengangkat panggilan dariku agar aku bisa memberitahunya tentang isi pesan Bu Sievania. Meskipun mungkin saja Mas Alex mendapatkan pesan yang sama dari ibu mertuaku itu, tetapi aku tetap saja ingin setidaknya berbincang dengan suamiku.
Suamiku itu sampai saat ini hatinya masih keras, walaupun aku sudah berusaha keras, ia masih tidak mau menganggapku ada. Bahkan, akhir-akhir ini ia tidak mau sarapan bersamaku lagi, ia akan langsung pergi dari rumah dan memilih sarapan di luar. Tiap kali ia melakukan hal itu padaku, aku hanya bisa bersabar. Meskipun sejujurnya hatiku tak sekuat itu untuk terus bersabar di saat seseorang yang dicintai, malah berlaku demikian.
"Mbak Risa, kok melamun?" Aku tersentak dari lamunanku kala mendengar suara Dinda.
"Ah, nggak kok," ucapku.
"Buktinya ini semua pelanggan masih di sini, mereka dari tadi nungguin Mbak Risa yang diam aja." Aku tersadar, tatapanku mengarah ke depan hingga ada banyak orang yang terlihat mengantri di depanku.
Berhubung aku hanya memiliki satu pegawai yaitu Dinda, terkadang kami suka gantian menjadi kasir. Di saat tidak sibuk dengan desainku, maka aku yang berada di tempat ini.
"Ah, maaf ya ibu-ibu," ucapku penuh sesal.
"Lagi mikirin apa sih, Nak Risa? Dari tadi melamun terus. Pasti mikirin suaminya ya? Pengantin baru sih gini ya." Terdengar celetukan yang suaranya sangat kukenal.
"Nggak kok, Bu, tadi lagi mikirin tugas skripsi aja," ucapku mengelak.
"Ibu beli apa aja?" tanyaku mengalihkan pembicaraan karena takut ibu-ibu itu nantinya kembali bertanya aneh-aneh.
"Ini tadi Ibu beli gamis satu sama hijabnya tiga," ucap Bu Didi.
Aku pun mentotal semua barang yang Bu Didi beli, mengatakan total harganya pada beliau yang langsung membayar.
"Makasih udah datang ke sini ya, Bu, mungkin kapan-kapan boleh mampir sini lagi," ucapku ramah pada salah satu pelangganku.
"Pastinya Ibu akan ke sini lagi, semua barang yang kami jual bagus-bagus. Ibu suka dan selalu puas kalau beli di sini, pokoknya semua barang kamu ini premium, beda dari butik dan toko lainnya." Aku tersenyum mendengar pujian itu.
"Alhamdulillah, terima kasih Ibu," ucapku sambil mengulas senyum.
Ponselku yang aku letakkan di atas meja kasir berdering, membuatku langsung menatap ponselku yang hidup. Di layar ponselku tertera nama Mas Alex di sana, sontak saja aku langsung mengambil ponselku.
"Din, tolong gantiin Mbak bentar ya. Mbak mau angkat telepon dulu," ucapku pada Dinda.
"Hem, pasti mau mesra-mesraan sama suaminya," tutur Dinda yang sepertinya tadi sempat mengintip sedikit ke layar ponselku.
"Apa sih kamu, Din? Udah ah, tolong gantiin Mbak sebentar ya." Aku mengabaikan Dinda yang lagi-lagi meledekku, aku memilih pergi ke ruanganku untuk menerima panggilan dari Mas Alex.
"Assalamualaikum, Mas," sapaku ceria pada Mas Alex.
"Kenapa tadi kamu meneleponku?" Mas Alex sama sekali tidak menjawab salamku, ia malah langsung bertanya.
"Salamku dijawab dulu, Mas," tegurku. Kudengar suaranya kalau ia tengah berdecak, membuatku sedikit takut kalau ada kata-kataku yang menyinggungnya.
"Kelamaan, katakan saja apa yang ingin kau bicarakan denganku? Saat ini aku sedang sibuk," ucap Mas Alex membuatku membisu beberapa saat.
"Mengapa kau malah diam? Jika memang tidak ada yang ingin kau katakan, aku akan menutup panggilan ini."
"Tunggu dulu, Mas." Aku langsung menahan Mas Alex yang ingin menutup panggilan ini.
"Tadi Mama mengirimkan pesan padaku, beliau meminta kita malam ini berkunjung ke rumah."
"Aku juga mendapat pesan itu dari Mama," ucap Mas Alex. Benar dugaanku kalau ternyata ibu mertuaku juga pasti mengirimkan pesan pada suamiku.
"Eum, apa bisa sehabis pulang kantor Mas Alex menjemputku di sini? Motorku saat ini sedang ada di bengkel, Mas," ucapku hati-hati.
"Aku tidak bisa, aku akan pulang sedikit terlambat. Lebih baik kau datang lebih dulu saja ke rumah Mama, ada banyak taksi ataupun kendaraan umum lainnya. Kau bisa naik salah satunya, jangan manja untuk diantar." Aku terdiam mendengar kata-katanya yang terdengar sedikit menyakitkan.
"Aku masih ada pekerjaan, intinya kita bertemu di rumah mama saja." Tut. Tanpa berpamitan lagi, panggilan itu diputuskan secara sepihak. Aku menatap nanar ponselku, kemudian aku menghela napas. Merasa kalau kehidupan pernikahanku saat ini sangat menyedihkan.
"Sampai kapan aku harus berusaha untuk membuat hati Mas Alex luluh?" gumamku merasa putus asa.
"Mbak ...." Aku terkejut ketika mendengar Dinda tiba-tiba saja berdiri di depan ruanganku.
"Ada apa, Din?" tanyaku.
"Di luar ada Mbak Nindi yang katanya mau ketemu sama Mbak," ucap Dinda.
"Astaga, aku lupa kalau mau nemenin Nindi. Ya udah Mbak keluar ya, tolong jaga butik ya, Din." Aku mengambil tas yang ada di mejaku, memasukkan ponselku ke dalam tas.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati, Mbak." Aku mengangguk sebelum benar-benar pergi.
"Maaf gue sempet lupa kalau hari ini mau nemenin lo, Nin," ucapku begitu berada di depan Nindi.
"Ya ampun, Ris, lo udah kayak nenek-nenek yang pikun aja. Padahal kayaknya baru tadi pagi loh gue ngehubungin lo," balas Nindi.
"Ya sorry, Nin, namanya juga manusia. Nggak luput dari salah dan lupa."
"Terserah lo aja deh, ayo kita berangkat sekarang." Aku mengangguk, hingga akhirnya aku dan Nindi memasuki mobilnya.
"Lo nggak lagi sibuk 'kan ya gue paksa lo buat nemenin gue?" tanya Nindi saat mobil sudah berada jauh dari butikku.
"Nggak kok, gue tadi lagi jagain butik aja. Sama sekali nggak lagi ngerjain desain, lagian di butik udah ada Dinda. Aman deh," jawabku.
"Baguslah."
"Bentar lagi makan siang nih, nanti sekalian makan siang ya?" Aku hanya mengangguk.
Beberapa saat kemudian, aku dan Nindi tiba di sebuah pusat perbelanjaan. Nindi memintaku menemaninya membeli hadiah untuk mamanya yang sedang ulang tahun, aku juga berniat membelikan hadiah untuk mama Nindi karena aku sudah cukup mengenal keluarga Nindi. Kami menyusuri toko yang menjual perabot rumah, kata Nindi mamanya paling suka ketika diberikan hadiah yang bisa dipakai dan berguna untuknya, terkhusus peralatan dapur.
"Kayaknya semua benda udah Mama punya deh, gue jadi bingung mau kasih hadiah apa," ucap Nindi membuatku menoleh ke arahnya.
"Ini aja kali, Nin, katanya beberapa barang di dapur rumah lo udah banyak yang nggak berfungsi 'kan? Termasuk yang ini," ucapku sambil menunjuk panci yang sepertinya bagus dan paling laris karena menjadi incaran ibu-ibu.
"Terlalu berat nggak sih ini tuh kalau buat hadiah?" tanyanya.
"Iya juga ya, nanti ribet juga kita bawanya."
"Mending ke toko lain aja nggak sih? Sesekali coba pilih hadiah lain buat nyokap gue," ucap Nindi.
"Boleh, ayo kita cari hadiah lainnya. Barangkali 'kan ada barang yang bagus, hadiah nggak mesti harus perkakas dapur."
Kami berdua keluar dari area toko perkakas dapur, saat ini kami malah kebingungan ingin memilih hadiah seperti itu.
"Astaga, sekarang gue bingung mau beliin apa coba," ucap Nindi.
"Secara rata-rata semua barang itu udah dimiliki sama nyokap gue."
Tiba-tiba saja Nindi menghentikan langkahnya di sebuah toko perhiasan, Nindi berdiri lama di depan kaca yang menampilkan perhiasan-perhiasan berharga fantastis itu.
"Waktu gue ke mall sama Mama, gue sempat lihat Mama tuh merhatiin lama banget sama itu." Nindi menunjuk sebuah perhiasan gelang yang terlihat sangat cantik.
"Lo punya uang buat beli itu?" tanyaku yang dibalas anggukan oleh Nindi.
"Punya, gue sempat nabung sih. Apa itu aja ya?"
"Gelangnya bagus, gue yakin nyokap lo pasti bakalan suka deh kalau lo ngasih hadiah itu," ucapku memberi komentar ketika ikut melihat perhiasan itu.
Hingga akhirnya, Nindi benar-benar membeli perhiasan itu. Aku salut pada Nindi yang begitu rela menyisihkan uang jajannya untuk membeli membelikan mamanya perhiasan mahal, Nindi memang sangat menyayangi mamanya sehingga tak mengherankan kalau ia rela mengeluarkan kocek besar demi memberi hadiah mamanya.
"Kita cari makan dulu deh ya," ucapnya.
"Ke sana, yuk! Biar gue yang traktir." Nindi menunjuk sebuah restoran mewah yang tak jauh dari kami.
"Lo masih punya uang emangnya?" tanyaku.
"Masih ada kok, kebetulan beberapa waktu lalu gue sempat dapat kerjaan buat ngedesain gaun punya orang. Ya lumayanlah hasilnya buat jajan," jawabnya.
Kami akhirnya memasuki restoran mewah itu, kata Nindi kita harus sesekali menikmati hasil kerja keras kita dengan memakan makanan yang lezat. Aku hanya mengiyakan saja, kapan lagi aku bisa memakan makanan mewah apalagi ini ditraktir.
"Lo pesan apa, Ris?" tanya Nindi.
"Gue ngikut lo aja," jawabku. Berhubung ia yang mau meneraktirku, lebih baik aku menyamakan dengan menu yang ia pesan saja.
"Yakin mau sama? Nanti lo nggak suka lagi," ucapnya.
"Nggak, gue suka semua kok. Kecuali yang diharamkan Allah."
"Bisa aja lo, Ris." Nindi memanggil salah seorang pelayan membuat pelayan itu menghampiri kami.
"Mbak, kami pesan steak with black pepper sauce sama minumnya lemon te with honey. Terus jangan lupa kasih tambahan french fries ya," ucap Nindi.
"Baik, ditunggu ya, Kak. Pesanannya akan segera diantar setelah siap." Kami mengangguk dan membiarkan pelayan itu pergi dari hadapan kami.
"Ris, gimana hubungan lo sama suami lo?"
"Tumbenan lo tiba-tiba nanya itu, Nin," ucapku sambil mengernyit.
"Ya gue penasaran aja sih."
"Hubungan gue sama Mas Alex baik-baik aja kok," ucapku.
"Yakin? Tapi kenapa semenjak lo menikah, gue perhatiin lo makin kurus ya?" Refleks aku melihat ke arah tubuhku begitu mendengarnya.
"Masa sih? Kayaknya gue sama aja deh kayak sebelum nikah," ucapku.
"Beneran, gue merasa lo beda, Ris. Nggak ada yang lo sembunyiin dari gue 'kan?" Aku menjadi gugup mendengar pertanyaan Nindi, apalagi ketika ia menatapku dengan tatapan penuh intimidasi.
"Kalau ada apa-apa cerita aja sama gue, Ris, jangan dipendam sendirian. Kita ini udah temenan dari lama loh," ucapnya.
"Iya, tapi untuk sekarang gue baik-baik aja kok." Aku mencoba meyakinkan Nindi agar ia tidak bertanya macam-macam lagi.
Nindi sepertinya menyerah, buktinya ia tidak lagi menanyaiku macam-macam. Hal itu membuatku merasa lega, karena kalau sampai Nindi terus mendesakku maka aku takut kalau aku akan keceplosan. Bukannya aku tidak mempercayai Nindi, hanya saja aku merasa takut membuat Nindi khawatir. Biarlah ini menjadi urusanku, aku tak ingin orang lain merasakan sakit ini.
"Ris, lihat ke arah pintu masuk," ucap Nindi tiba-tiba membuatku refleks menoleh ke belakang.
Tubuhku membeku ketika melihat suamiku memasuki restoran ini bersama dengan seorang wanita cantik yang tak kukenal.
"Lo yakin kalau hubungan lo sama suami lo baik-baik aja, Ris?" tanya Nindi membuatku kini menatapnya.
"Ini nggak bisa dibiarin, gue harus kasih dia pelajaran." Nindi berdiri dari duduknya, aku sontak saja langsung menarik tangannya dan memintanya untuk duduk kembali di tempatnya.
"Jangan, Nin." Aku menggelengkan kepalaku, meminta Nindi untuk tidak melakukan hal itu.
"Gue akan ceritain semua yang terjadi, tapi gue mohon lo jangan pernah ke sana," ucapku membuat Nindi akhirnya menyerah kemudian kembali ke tempat duduknya.
Akhirnya aku menceritakan hal yang aku alami, tentang pernikahanku dan tentang Mas Alex yang tidak mencintaiku.
"Gíla! Pernikahan macam apa yang lo jalanin sama dia, Ris? Kok ada cowok bréngsek kayak dia!?" Nindi terlihat begitu emosi.
"Lo harus lihat, Ris, bisa-bisanya dengan santainya dia bawa wanita lain makan di luar sementara lo sama sekali nggak dia anggap." Nindi terlihat geram saat melihat Mas Alex dan juga seorang wanita yang bersamanya.
"Udah, Nin."
Pembicaraanku dan Nindi terhenti ketika ada seorang pelayan yang mengantar pesanan kami. Aku akhirnya meminta Nindi untuk makan saja, tetapi tatapan Nindi tak henti menatap ke arah Mas Alex yang pura-pura tidak melihat kami.
Dalam hati aku tersenyum miris, Mas Alex benar-benar tak mau menganggapku ada. Kehadiranku sama sekali tidak dipedulikan olehnya, tetapi memangnya apa yang bisa aku lakukan selain diam? Marah-marah pun percuma, karena itu hanya mempermaluknku saja.
"Ayo pulang, Ris." Setelah membayar makanan itu, Nindi tiba-tiba saja menarik tanganku dan mengajakku pergi saat melihat Mas Alex keluar restoran tanpa wanita itu.
"Nin," tegurku saat Nindi berjalan menghampiri Mas Alex.
"Hei lo cowok bréngsek!" pekik Nindi membuat Mas Alex menoleh ke arah kami.
"Buat apa lo nikahin Risa kalau ternyata lo nggak cinta sama dia?" Aku menarik tangan Nindi, meminta agar ia berhenti.
"Udahlah, Ris, gue udah gedeg banget. Gue benci sama cowok bréngsek yang udah nyakitin hati teman gue."
"Apa maksud perkataanmu itu?" tanya Mas Alex pada Nindi.
"Nggak usah pura-pura nggak tahu deh lo, gue udah tahu alasan lo nikahin Risa itu karena apa. Lo benar-benar keterlaluan, lo cowok gíla yang pernah gue temuin! Bisa-bisanya lo nyakitin hati teman gue!" Untung tempat ini sepi sehingga kami tidak perlu merasa malu karena tidak ada yang menonton.
"Asal kamu tahu saja, urusan saya dengan Risa itu urusan pribadi. Kamu sebagai orang luar tidak berhak ikut campur," ucap Mas Alex menatap Nindi tajam. Kemudian tatapannya kini mengarah padaku.
"Beritahu temanmu itu untuk tidak terus berkicau, membuat telingaku sakit saja saat mendengarnya!" tukas Mas Alex kemudian benar-benar pergi dari hadapan kami.