18. Tak Dianggap

1052 Words
Menjelang malam, aku pergi ke rumah mertuaku dengan menaiki taksi. Karena tidak mungkin aku naik motor ke sana karena itu pasti membuat mertuaku curiga, tidak butuh waktu lama hingga akhirnya aku tiba juga di rumah keluarga Bu Sievania. Bukan pertama kalinya aku pergi ke sini karena sudah beberapa kali ini Bu Sievania memintaku ke sini, tetapi tetap saja aku merasa was-was dan sedikit canggung ketika tiba di sini. Aku bahkan ragu untuk masuk, untung saja Bu Sievania keluar dari rumahnya dan menghampiri. Beliau mengajakku masuk, sedari tadi beliau tidak berhenti merangkul bahuku. Aku merasa disayangi oleh Bu Sievania, sepertinya jika untuk urusan mertua, aku beruntung memiliki mertua sebaik Bu Sievania. Saat tiba di rumah Bu Sievania, beliau menyambutku dengan hangat. Dia langsung menanyakan keberadaan Nas Alex yang awalnya aku bingung ingin menjawab apa, tetapi kemudian aku memilih menjawab kalau Mas Alex sedang ada urusan dan memintaku ke sini lebih dulu sedangkan ia nanti akan menyusul. Walaupun sebenarnya aku tak tahu di mana Mas Alex berada saat ini. "Kenapa dia ada di sini, Ma?" Aku dan Bu Sievania kompak menoleh ke arah Kak Alexa—kakak iparku yang baru pulang entah dari mana. "Kamu kenapa nanyanya gitu? Risa ini menantu Mama, nggak ada salahnya dia ke sini. Mama yang minta dia ke sini," ucap Bu Sievania. "Ck, buat apa sih dia diajak ke sini, Ma? Ganggu pemandangan aja." Deg. Hatiku terasa diremas saat mendengar perkataan Kak Alexa, dari dulu Kak Alexa memang tidak menyukaiku. Setiap kali kami bertemu, Kak Alexa selalu sinis dan memandang rendah aku. "Kamu kalau ngomong itu yang sopan, datang-datang langsung bilang gitu. Hargai Risa sebagai adik ipar kamu." "Sampai kapanpun aku nggak pernah nganggap dia itu istri Alex, Ma, yang cocok jadi istri Alex itu Clara bukannya dia!" "Alexa!" teriak Bu Sievania. "Mama nggak suka ya kamu bahas masa lalu, lagipula Clara sudah pergi. Dari dulu juga Mama nggak setuju hubungan Alex sama dia, sudahlah! Sekarang Alex itu sudah hidup bahagia sama Risa. Kamu jangan mengusik kehidupan adik kamu dengan berkata sinis pada Risa," tegur Bu Sievania tegas pada Kak Alexa. "Mama yakin Alex bahagia? Aku dengar Alex terpaksa nikah sama perempuan ini karena Mama yang ancam." Aku hanya menunduk mendengarnya, aku baru tahu alasan Mas Alex menikahiku karena pria itu yang mengatakannya sendiri. "Alexa! Lebih baik pergi ke kamarmu! Makin dibiarkan omongan kamu ini semakin tidak masuk akal!" Kudengar Kak Alexa berdecak kemudian segera pergi meninggalkan kami. "Kamu jangan dimasukkan ke hati ya omongannya Alexa tadi, dia begitu karena mungkin saja belum bisa terima Alex putus dengan mantannya. Tapi kamu tenang saja, Mama yakin kalau Alex sudah melupakan masa lalunya." Aku mengangguk dan tersenyum tipis, sebenarnya aku ingin membahas Clara yang baru aku dengar itu dengan detail, tetapi aku menahan diri untuk tidak menanyakannya. "Mau bantu Mama buat masak makan malam?" "Boleh, Ma," jawabku. "Ayo kita ke dapur!" Bu Sievania merangkul bahuku dan mengajakku menuju dapur. Kami berdua berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malam, Bu Sievania banyak berbicara sedangkan aku hanya menjadi pendengar saja. "Mama senang banget karena kamu yang jadi menantu Mama, Mama tuh udah klop banget sama kamu. Mama suka masak, kamu juga suka masak. Nggak kebayang kalau misalkan orang lain yang jadi menantu Mama, pasti Mama nggak akan sebahagia sekarang. Mama beruntung banget karena kamu jadi menantu Mama," ucap Bu Sievania yang membuatku tersenyum. "Aku juga beruntung karena punya mertua baik seperti Mama," balasku. "Ah, kamu bisa aja bikin hati Mama bahagia. Padahal Mama ini cerewet banget loh, yakin masih anggap Mama baik?" "Mama cerewet demi kebaikan, menurut aku itu sama sekali nggak masalah." "Makanannya udah hampir matang ini, kamu mau shalat maghrib dulu 'kan?" tanya mertuaku yang aku balas anggukan. "Iya, Ma." "Ya udah, kamu langsung ke kamarnya Alex aja, kamarnya ada di lantai atas. Kamar paling tengah," ucap Bu Sievania yang membuatku terdiam. Meskipun ini bukan pertama kalinya aku ke rumah ini, tetapi aku tak pernah memasuki kamar Mas Alex karena saat itu aku ke sini hanya berkunjung sebentar tanpa melihat keadaan rumah ini lebih dalam. "Kenapa diam?" tanya Bu Sievania saat aku kebingungan ketika diminta naik menuju kamar suamiku sendiri. "Eum, itu Ma, Risa nggak apa-apa pergi ke kamar Mas Alex?" "Ya nggak apa-apa, Sayang, kamu 'kan menantu Mama. Alex itu suami kamu, nggak ada larangan kalau istri nggak boleh pergi ke kamar suami. Udah sana, biar semua ini Mama yang ngurus dulu." Aku mengangguk. Aku berjalan keluar dari area dapur, menaiki anak tangga dan mencari-cari keberadaan kamar Mas Alex. Ragu-ragu aku membuka pintu kamar Mas Alex, kamar ini tidak dikunci. Saat membuka pintu itu, kamar Mas Alex sangat luas sekali. Tidak banyak barang yang ada di sini, kamarnya bahkan tidak terlalu mencolok di antara kamar-kamar orang lain. Kamar ini terlihat simpel dengan warna cat dinding yang putih dan barang-barang seadanya. Aku memilih duduk di tepi ranjang sambil terus menjelajahi ruangan ini dengan mataku. Hingga saat terdengar adzan maghrib berkumandang, aku melepaskan hijabku kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Usai melaksanakan shalat maghrib, aku keluar dari kamar. Bu Sievania menghampiriku dan mengajakku ke ruang makan, di sana semua anggota keluarga sudah berkumpul termasuk suamiku. Saat aku menatapnya, ia hanya melengos membuat sebagian kecil hatiku merasa sesak. Saat melihat Kak Alexa, ia menatapku dengan sinis seakan keberadaanku di sini begitu mengganggu. Aku merasa tak dianggap di sini, yang menganggapku ada hanyalah Bu Sievania dan juga Pak Dave—ayah mertuaku. Meskipun ayah mertuaku itu terkesan dingin, tetapi aku melihat kalau ia bukan karena tidak menyukaiku, melainkan karena sifatnya memang seperti itu. Beliau merupakan sosok yang tidak banyak bicara, mungkin saja sifat Mas Alex menurun dari beliau. "Risa, ayo duduk di samping Alex," ucap Bu Sievania. "Iya, Bu." Aku langsung duduk di samping suamiku yang tak mau menatapku, mungkinkah ia marah karena kejadian di mana Nindi memarahinya? Entahlah, aku tidak bisa menerka-nerka apa yang saat ini Mas Alex pikirkan karena ekspresi wajahnya sama sekali tidak terbaca. Kami makan malam dalam diam, hingga ketika akhirnya makan malam itu selesai, Mas Alex juga Kak Alexa memilih pergi ke kamarnya, sedangkan Pak Dave katanya pergi ke ruang kerja. Tinggallah kami berdua di dapur sedang membereskan bekas makan malam. "Risa, apa Alex memperlakukan kamu dengan baik?" tanya Bu Sievania tiba-tiba. Aku terdiam mendengarnya, jika ditanya begitu, sejujurnya aku ingin menjawab kalau pernikahan kami begitu flat sesuai dengan sikap Mas Alex yang begitu dingin padaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD