Aku masih terdiam, belum menjawab pertanyaan Bu Sievania. Aku bingung karena jika ditanya apakah aku bahagia, aku cukup bahagia karena bisa menikah dengan orang yang aku cintai. Namun, aku tak sepenuhnya bahagia karena Mas Alex menikahiku hanya karena Bu Sievania, tetapi itu tak lantas membuatku mengatakan semua hal itu pada Bu Sievania.
"Aku bahagia, Ma," ucapku akhirnya.
"Syukurlah, Mama berpikir Alex tidak memperlakukanmu dengan baik. Beruntung karena ia memperlakukanmu dengan baik." Aku hanya tersenyum tipis karena pada kenyataannya, Mas Alex sama sekali tidak memperlakukanku dengan baik. Ia memang tidak menyakitiku secara fisik, tetapi hatiku ia sakiti dengan sikapnya yang begitu dingin padaku.
"Ma, waktu tadi Kak Alexa bicara, tadi aku sempat mendengar kalau dia menyebut nama Clara. Clara itu siapa?" Karena tidak bisa bertanya pada Alex, aku bertanya pada mertuaku.
Kulihat wajah mertuaku itu menegang saat mendengar pertanyaanku dan itu membuatku semakin penasaran, sebenarnya siapa wanita itu? Mengapa mertuaku nampak seperti ini ketika aku bertanya tentangnya.
"Dia hanya masa lalu Alex, bulan orang yang penting," ujar Bu Sievania singkat.
"Tapi—"
"Lebih baik kamu ke kamar menyusul Alex, dia sepertinya menunggumu," ucap Bu Sievania yang tak ingin aku terus membahas tentang Clara.
"Baiklah, kalau begitu Risa ke kamar, Ma." Aku menyerah, akhirnya aku pergi menuju kamar Mas Alex.
Malam ini aku dan Mas Alex menginap karena Bu Sievania yang memaksa kami, kami pun tidak bisa menolak. Aku memasuki kamar Mas Alex, aku mengernyit saat tidak menemukan Mas Alex di kamarnya. Ketika memasuki kamar, aku melihat pintu kamar mandi yang tertutup. Aku mengira kalau Mas Alex berada di kamar mandi, akhirnya aku duduk di tepi ranjang.
Baju Mas Alex ada di atas ranjang, membuatku yang suka bersih-bersih pun merasa gatal tangannya jika tidak merapikan itu. Aku hendak melipat celana bahan dan juga kemeja Mas Alex saat merasakan sesuatu yang tebal ada di saku celana Mas Alex, aku pun mengeluarkan benda yang ternyata dompet Mas Alex.
Entah mengapa aku yang biasanya tidak penasaran, menjadi penasaran dan kini membuka dompet milik Mas Alex. Aku sama sekali tidak ingin mengecek jumlah uang Mas Alex, melainkan hal lainnya. Ketika dompet itu berhasil aku buka, aku melihat sebuah foto seorang wanita yang ada di dalam dompetnya. Aku menatap lama foto wanita itu, aku yakin ini adalah orang dari masa lalu suamiku. Hatiku sesak saat melihat foto itu di dompet suamiku, aku tak menyangka kalau Mas Alex masih menyimpan foto wanita lain di dompetnya.
"Kami menikah cukup baru dan aku sama sekali tidak tahu menahu tentang dia dan masa lalunya." Aku terus menatap foto itu lama hingga aku terkejut ketika sebuah tangan menarik dompet yang aku pegang.
"Berhenti bersikap lancang dengan membuka dompetku!" Aku mendongak mendengar suara dingin itu.
"Kalau kau butuh uang bisa katakan padaku, jangan sekali-kali menyentuh dompet ini." Mas Alex mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya kemudian memberikannya padaku.
"Ambil ini, untuk kebutuhanmu." Aku tak menerima kartu itu, aku bahkan menggelengkan kepalaku.
"Aku bukan ingin mengambil uang dari dompet Mas, aku hanya ingin memastikan foto wanita yang ada di dompet Mas," ucapku.
"Apa dia yang namanya Clara, Mas?" tanyaku pelan.
"Mas belum bisa melupakan dia?"
Mas Alex sama sekali tidak menjawab beberapa pertanyaan dariku dan itu membuatku kecewa, lagipula apa yang aku harapkan? Mas Alex sama sekali tidak menganggapku, ia tidak akan pernah peduli jika hatiku terluka karenanya. Aku tak tahu bagaimana hubungan Mas Alex dan wanita masa lalunya berakhir, yang jelas kini yang menjadi istri Mas Alex adalah aku. Mungkin aku tahu kalau Mas Alex gagal move on, tetapi akan aku pastikan kalau aku dan Mas Alex tidak akan pernah berpisah.
"Sudah kukatakan untuk tidak ikut campur dengan urusan pribadiku, aku sudah mengingatkanmu beberapa hari yang lalu."
"Mas, aku ini istri kamu. Mana mungkin aku diam aja saat melihat foto itu di dompetmu, aku tahu Mas mungkin belum cinta sama aku. Tapi apa Mas nggak bisa coba mencintaiku dengan perlahan? Aku akan menunggu meskipun mungkin itu butuh waktu lama." Terserah saja jika saat ini aku seperti mengemis cintanya, aku hanya ingin Mas Alex tahu kalau aku benar-benar mengharapkan pernikahan ini bisa berjalan sebagaimana semestinya.
"Aku yakin jika kita sama-sama berusaha, kita akan bahagia, Mas." Mas Alex malah memalingkan wajahnya, enggan menatapku dan itu membuatku tersenyum pedih.
"Aku menikahimu karena Mama, bukan karena keinginanku. Kalau saja Mama tidak memaksaku, aku tak akan menikahimu." Kata-kata itu seakan memberi tekanan padaku kalau aku hanyalah menantu kesayangan Bu Sievania, tetapi bukan istri dari suamiku.
"Berhenti membahas hal yang membuatku pusing atau aku akan pergi dari sini." Aku membisu, bahkan ketika Mas Alex mengambil baju dari dalam lemari kemudian pergi ke kamar mandi untuk memakainya.
"Butuh waktu berapa lama untuk membuat hati Mas Alex luluh? Bahkan aku tak bisa mengambil jarak dekat bersamanya," gumamku terduduk di tepi ranjang.
Saat Mas Alex keluar dari kamar mandi, aku pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Aku akan melaksanakan shalat isya. Setelah shalat isya, aku duduk di atas ranjang sambil memainkan ponselku, karena aku tak membawa buku gambarku, aku menggambar desain melalui ponselku.
Aku merasa kalau saat ini aku seperti sendirian di sini, padahal ada Mas Alex yang duduk di sofa tak jauh dariku. Kami sama-sama diam membisu, aku pun tak berani lagi mengajaknya bicara ketika ia membuatku terluka dengan kata-katanya tadi. Hingga aku dan Mas Alex kompak menoleh ke arah pintu yang terbuka, di sana ada Kak Alexa yang langsung menghampiri Mas Alex.
"Gue dapat kabar tentang Clara," ucap Kak Alexa pada suamiku.
Aku menunggu dengan penasaran respon dari Mas Alex, tetapi dia sama sekali tidak bersuara.
"Jangan bicara di sini, kita bicara di luar saja." Mas Alex berdiri kemudian berjalan keluar dari kamar.
"Alex dan Clara akan kembali bersama, pastinya kamu akan dicampakkan setelah itu," ucap Kak Alexa padaku kemudian menyusul Mas Alex yang sudah keluar dari kamar terlebih dulu.
Dadaku sesak mendengarnya, ketakutan mulai menghantuiku. Aku merasa khawatir kalau apa yang Kak Alexa katakan tadi jadi kenyataan, aku tidak tahu wanita bernama Clara itu ada di mana. Mungkin aku jahat karena berharap agar Clara tidak muncul dalam kehidupan kami lagi, karena jika sampai dia muncul, bisa dipastikan aku tidak akan bisa tahan melawan masa lalu Mas Alex yang begitu ia cintai itu. Aku takut, pernikahan kami tak berlangsung lama karena wanita itu.