7. Ajakan Makan Siang

1063 Words
Entah mengapa aku berpikir kalau takdir sepertinya ingin selalu membuatku bertemu dengan Alex, ya Alex, pria yang merupakan anak salah satu pelanggan tetap di butikku. Awalnya aku menganggap kalau pertemuan kami ini biasa-biasa saja, terapi semakin lama entah mengapa kami jadi sering bertemu. Ditambah, kalau aku tidak salah menyangka, sikap Alex padaku jauh lebih lembut ketimbang biasanya. Aku berusaha untuk menampik semua itu karena aku tidak ingin ada lagi kesalahpahaman termasuk urusan hati, sudah cukup satu pria yang membuatku kecewa di masa lalu. Aku tak ingin kekecewaan itu kembali terulang lagi, aku tidak ingin jadi perempuan yang geer hanya karena sikap seorang pria yang berubah padanya. "Kenapa lagi dia di sini?" gumamku saat melihat Alex yang berdiri di depan butik milikku. Aku heran karena Bu Sievania tidak ada di sini, aku tidak akan heran jika ibunya Alex ada di sini karena mengira pasti Alex akan menjemput ibunya. Namun, hari ini Bu Sievania tidak ada di sini, itu membuatku merasa heran dengan kehadiran Alex. Awalnya, aku biasa-biasa saja dan lebih memilih untuk tak terlalu ambil pusing dengan kehadiran Alex, tetapi semakin lama aku semakin tak dapat mencegah kakiku untuk melangkah ke arahnya. "Maaf, Pak Alex ke sini nyari siapa ya?" Aku pun langsung bertanya padanya. "Saya sedang mencari beberapa pakaian untuk mama saya," ucapnya. "Loh? Bu Sievania-nya mana, Pak?" "Mama saya sedang sibuk, makanya meminta saya yang ke sini," jelasnya membuatku paham alasan ia ke sini. "Lalu, kenapa Bapak tidak masuk saja dan memilih sendiri pakaiannya?" tanyaku karena aku sedari tadi sudah mengamati kalau Alex ini sudah cukup lama berdiri di depan butikku. "Eum, anu ... masalahnya tidak ada satupun pria yang masuk ke sana. Tidak mungkin saya masuk ke sana sendirian di antara semua perempuan yang ada." Mendengar pertanyaannya membuatku sedikit tercengang, kemudian aku tertawa karena mengira kalau perkataannya itu begitu lucu. "Butik ini terbuka untuk umum, Pak, tak hanya perempuan saja yang bisa masuk. Pria juga bisa, lagipula di dalam tak hanya ada pakaian perempuan, pakaian pria pun ada seperti kemeja dan baju koko," tuturku menjelaskan. Beberapa waktu yang lalu aku memang membuat desain pakaian baru, bukan pakaian untuk kaum perempuan saja, melainkan juga untuk para lelaki. Karena aku mengira kalau butikku akan semakin ramai juga aku menambahkan pakaian-pakaian pria yang juga gemar dicerca para pembeli. Apalagi sebentar lagi sudah masuk bulan ramadhan, pasti akan ada ibu-ibu yang mencari baju koko untuk anak ataupun suami mereka. "Ya, saya tahu itu," ucapnya yang membuatku menaikkan sebelah alisku. "Lantas, kalau sudah tahu kenapa tidak langsung masuk saja, Pak?" "Bisakah kamu bantu saya mencarikan pakaian untuk mama saya?" Pria itu terlihat gelisah saat mengatakannya. "Boleh kok, Pak Alex ingin ikut masuk juga? Saya takut kalau pilihan saya salah nanti—" "Saya yakin pilihan kamu itu tepat, pilih saja tiga helai pakaian. Saya tunggu di sini," ujar Alex yang langsung memotong perkataanku. "Baiklah, saya akan pilihkan tiga gamis. Bu Sievania tidak request ingin model dan warna apa untuk gamisnya, Pak?" Pak Alex hanya menggelengkan kepalanya. Aku kembali memasuki butikku, mengambil tiga gamis keluaran terbaru yang baru saja aku selesai kukerjakan beberapa hari yang lalu. Bu Sievania pasti suka dengan gamis yang aku pilihkan, karena sejujurnya saja aku sudah sangat sering membantu Bu Sievania dalam memilih pakaian untuknya. Usai memilih, aku kembali keluar dari butikku. Menghampiri Alex sambil membawa tiga gamis yang sangat cantik yang sudah aku masukkan ke dalam paper bag. Saat aku menghampiri Alex, ia terlihat sedang sibuk berbicara dengan seseorang melalui telepon. Aku dapat menebak kalau yang saat ini berbicara dengannya adalah Bu Sievania, nada suaranya terdengar kesal saat berbicara dengan ibunya. Aku hanya diam, menunggu sampai Alex selesai bicara karena tidak mau mengganggu. Saat aku melihat Alex sudah menyimpan ponselnya, aku menghampirinya. "Ini, Pak, untuk biayanya nanti ditransfer saja ya. Bu Sievania sudah tahu nomor rekening saya, biasanya begitu," ujarku sambil memberikan paper bag itu padanya. Dia menerima paper bag itu, "Terima kasih." "Kamu sudah makan siang?" Aku mengerjap ketika Alex menanyakan hal itu. "Belum, sebentar lagi saya akan makan." Meskipun sempat bingung, aku tetap menjawab pertanyaannya. "Ayo makan siang dengan saya." Lagi dan lagi aku terkejut saat mendengar ajakannya. "Bagaimana maksudnya, Pak?" tanyaku mencoba meyakinkan kalau telingaku saat ini sedang tidak tuli. "Ck, saya yakin kalau kamu tidak tuli," ujarnya berdecak. Mungkin kesal karena aku pura-pura tidak mendengar perkataannya. "Ah, bukan maksud saya begitu, Pak. Hanya saja saya ingin memastikan kalau saya tidak salah dengar apa yang—" "Kamu tidak salah dengar, saya memang mengajak kamu makan siang bersama," ujarnya memotong perkataanku. "Tapi saya—" "Mama saya yang meminta saya untuk mengajak kamu, saya harap kamu tidak menolak karena itu bisa membuat mama saya kecewa." Aku terdiam, meskipun aku bukan siapa-siapa Bu Sievania, tetapi aku sudah cukup dekat dengan beliau. Undangan makan siang dari beliau tidak mungkin aku tolak, karena itu termasuk tidak sopan. Akhirnya aku mengangguk, mengiyakan ajakan makan siang itu. Sejenak aku melihat senyum Alex sekilas, aku sempat tertegun karena saat pria itu tersenyum, ia terlihat jauh lebih tampan. Aku langsung menggelengkan kepala kemudian menunduk, apa yang aku lakukan? Tak seharusnya aku mengagumi ketampanan seorang pria yang bahkan bukan siapa-siapaku. Kami tidak ada ikatan apa-apa, sangat berdosa hatiku memujinya. Segera aku beristighfar dalam hati, meminta maaf kepada Allah karena sempat memuji makhluknya yang bukan mahramku. "Apa yang kau pikirkan? Ayo masuk." Aku langsung tersadar, kulihat Alex hendak memasuki mobilnya. "Sebentar, saya ambil tas dulu." Alex hanya mengangguk kemudian memasuki mobilnya. Aku pun memasuki butikku untuk mengambil tas. "Din, Mbak mau keluar sebentar. Titip butik ya," ucapku pada Dinda yang sedang menggantung gamis-gamis di lemari. "Mbak mau makan siang sama calon suami ya?" tanyanya tiba-tiba. "Huh?" Aku kebingungan dengan perkataan Dinda. "Nggak usah pura-pura gitu, Mbak, aku tahu kok kalau Mbak lagi dekat sama anaknya Bu Sievania," ujar Dinda sambil tersenyum. "Huss, kamu bicara apa sih, Din? Pak Alex itu bukan calon suaminya Mbak. Lagian Mbak mau fokus menyelesaikan skripsi Mbak dulu, nanti kalau masalah itu." "Ah, Mbak. Jangan bilang gitu, nanti kalau ada yang lamar juga pasti mau 'kan?" goda Dinda yang membuatku melotot saat mendengarnya. "Udah ah, bicara sama kamu ini bikin tensi darah Mbak naik aja, Mbak pergi dulu. Titip butik ya, assalamualaikum ...." "Waalaikumsalam, hati-hati kencannya ya, Mbak!" teriak Dinda membuatku melotot ke arahnya, ia hanya tertawa kemudian pura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Aku menggelengkan kepala, apalah maksud Dinda tadi. Mana mungkin aku dan Alex .... tidak, mengapa aku malah memikirkannya? Ini semua gara-gara Dinda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD