"Eh, maksud lo apa-apaan ya ngelakuin hal itu sama Risa!?" Aku langsung menarik tangan Rindi ketika ia akan membalas perlakuan Rona kepadaku.
"Kenapa lo yang marah? Dia aja nggak marah kok ke gue? Ya 'kan?" Aku hanya diam, sama sekali tidak menanggapi pertanyaan Rona.
"Sekarang penampilan si jàlang kita udah beda ya, sok-sokan tertutup padahal hatinya busuk." Rona melihatku seakan menilai penampilanku.
"Jaga omongan lo ya!"
"Lo kenapa sih? Dari tadi ikut campur mulu? Toh, si jàlang ini sama sekali nggak masalah gue mau ngatain dia kek atau apa. Kenapa lo yang sewot?"
"Masalahnya yang lo hina ini teman gue!"
"Oh teman, masih mau ya temenan sama cewek perebut pacar orang kayak dia?"
"Risa nggak ngerebut pacar lo ya! Memang dasar aja kalian udah selesai, dasar cewek gagal move on!" maki Rindi.
"Lo benar-benar ya—"
"Rona, dari dulu lo nggak pernah berubah ya? Masa lalu biarlah berlalu, toh, Risa juga nggak jadi nikah sama mantan lo itu," ucap Teguh membuat Rona menatapnya.
"Oh ya? Gue lupa fakta itu, rasain. Itu namanya kualat!" Rona sengaja menabrak bahuku saat ia ingin pergi bersama teman-temannya.
"Ris, lo nggak apa-apa 'kan?" tanya Rindi khawatir.
"Gue nggak apa-apa kok," jawabku sambil tersenyum.
"Kita pulang aja yuk, nggak enak gue ngelihat lo yang dibegitukan sama Rona."
"Lo sendiri yang bilang kalau gue nggak salah, kenapa kita harus pulang? Kalau pulang, itu menandakan kita yang kalah. Lo kemarin bilang kalau melawan orang-orang itu harus berani, jangan takut," ucapku membuat Rindu terdiam.
"Salah gue yang bilang gitu ke lo," ucap Rindi sambil meringis.
"Teman-teman gue pada manggil dia, gue ke sana dulu ya? Kalau ada apa-apa atau misalnya mereka gangguin kalian lagi, kalian tinggal panggil aja gue," ujar Teguh.
Kami mengangguk dan membiarkan Teguh pergi, hingga saat hanya kami saja yang berdua, saat ini kami kebingungan ingin melakukan apa. Acara akan dimulai lima belas menit lagi, sejujurnya aku tak tahu susunan acara reuni ini apa saja karena ini baru pertama kalinya aku mengikuti acara reuni. Selain karena masalah dengan Rona, aku juga tidak memiliki banyak teman, teman dekatku hanya Rindi dan Syifa. Sejujurnya dulu aku juga dekat dengan teman-teman sekelasku, hanya saja mereka mendadak menghindariku karena masalahku dengan Rona. Mereka menjauhiku karena tidak ingin ikut campur masalahku dengan Rona, hanya Syifa dan Rindi saja yang setia di sampingku meskipun ada gosip demikian.
"Risa ya?" Tiba-tiba saja ada seorang gadis cantik yang memakai pakaian seperti princess menghampiri kami.
"Itu Elsa," bisik Rindi di telingaku.
"Gue Elsa," ucap gadis itu sambil mengulurkan tangannya padaku.
Aku terkejut, karena merasa mana mungkin orang kaya seperti Elsa mengajakku yang biasa ini berkenalan. Namun, saat mengingat kembali perkataan Rindi kalau Elsa ini orang baik yang tak pilih-pilih saat berteman, aku pun menyambut uluran tangannya dengan ramah.
"Kenapa lo tahu gue?" tanyaku.
"Jelas aja gue tahu, dari sekian banyaknya teman seangkatan kita. Hanya lo yang nggak pernah datang ke acara reuni," jawabnya sambil terkekeh.
Aku hanya tersenyum kecil, merasa malu karena masalah seperti itu aku jadi dikenal.
"Ah ya, selain lo ada juga satu teman kita yang nggak pernah datang. Kalau yang itu gue maklum sih, dia udah nikah sama anak kyai pula," ujarnya. Aku tahu yang Elsa maksud, dia adalah teman yang tadi sempat kami bahas.
"Oh ya, kalian nikmati aja hidangan yang tersaji di sini ya. Sebelum acara dimulai, makan dulu sampai kenyang. Gue ke sana dulu ya." Aku dan Rindi mengangguk, membiarkan Elsa pergi dari hadapan kami.
"Elsa benar-benar baik ya, meskipun banyak yang nggak mau ngedeketin gue karena masalah itu. Tapi dia berbeda," ucapku.
"Kan apa yang gue bilang, dia itu memang baik, Ris."
"Yuk kita ke stand makanan, udah diizinin tuh sama yang buat acara," ajak Rindi.
Kami pun menuju stand makanan, beberapa orang yang mengenalku menyapaku. Kebanyakan yang menyapa adalah teman-teman sekelasku yang memang tidak terlalu ambil pusing dengan masalahku dan Rona.
"Gíla, makanannya enak banget tahu, Ris," ucap Rindi.
"Masya Allah, Rin, bukan gíla," tegurku.
"Hehehe, iya ya. Lupa."
"Enak banget makanannya, pasti makanan di sini mahal-mahal. Gue nggak akan mampu beli meskipun pakai gaji gue selama seminggu," ujar Rindi.
Aku tersenyum, aku ikut menikmati makanan bersama dengan Rindi. Saat aku menoleh ke arah depan, aku terkekeh melihat seseorang yang tak seharusnya ada di sini. Orang itu menghampiri Rona, aku menghela napas. Untuk apa aku harus merasa terkejut? Bukankah dia memang sangat peduli pada Rona? Lagipula kami sudah batal nikah, untuk apalagi aku memikirkannya? Namun, jujur saja saat melihat wajahnya, aku kembali teringat dengan kejadian menyakitkan dan memalukan itu.
"Kenapa, Ris?" Aku tersentak saat Rindi menyentuh bahuku.
"Gue nggak apa-apa kok." Rindi sepertinya tidak percaya dengan perkataanku, ia ikut menoleh ke arah depan hingga ia dapat melihat Mas Rahman di sana.
"Bukannya itu Rahman? Calon suami lo? Ralat, maksudnya mantan calon suami lo?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk.
"Oh, jadi dia balikkan sama Rona?" Aku hanya mengangkat bahu acuh, dalam hati aku berdecih. Kalau memang ia kembali pada Rona, untuk apa dia meminta kembali padaku kemarin? Dasar buaya! Aku menyesal pernah mencintainya setulus hatiku.
"Lo masih cinta sama dia, Ris?"
"Hah!?"
"Lo masih ada rasa ke dia?"
"Nggak, ngapain juga gue gagal move on sama dia? Masih banyak cowok di luaran sana yang mau sama gue," ujarku penuh percaya diri.
"Baguslah, itu berarti kau bukan wanita bodoh yang masih mengharapkan seseorang dari masa lalumu." Bukan ... bukan Rindi yang membalas perkataanku, Rindi bahkan juga terkejut mendengar itu. Aku dan Rindi sontak menoleh ke samping, betapa terkejutnya aku ketika melihat seorang pria yang beberapa waktu ini aku temui tengah berdiri tegap di sampingku sambil memegang segelas minuman.
"Pak Alex kenapa ada di sini?" tanyaku. Dia berdecak saat aku lagi dan lagi memanggilnya pak, hanya saja aku tak ingin memanggilnya dengan sebutan 'mas' karena aku sadar kalau aku tak sedekat itu dengannya.
"Saya hanya ingin melihat saja acara sepupu saya di sini, barangkali nanti teman-temannya membuat kekacauan di hotel saya," ujarnya.
"Ris, itu sepupunya Elsa yang gue ceritain. Lo kok bisa kenal dia sih?" bisik Rindi.
"Nanti gue ceritain sama lo," balasku berbisik.
"Ternyata kamu salah satu temannya Elsa ya? Baguslah, kalau begitu saya tidak perlu takut lagi." Usai menyatakan itu, dia langsung pergi. Meninggalkan kami yang kebingungan dengan perkataannya.
"Maksud dia apa sih, Ris? Kalian dekat ya?"
"Nggak!" Aku langsung menggeleng.
Pertanyaanku, sejak kapan dia ada di samping kami, apa sedari tadi dia ada di sini dan mendengar semua obrolanku dengan Rindi?