5. Reuni

1032 Words
"Ris, nanti malam bakalan ada acara reuni, lo ikut nggak?" Aku menoleh ke arah Rindi saat salah satu temanku dari SMA itu berkata demikian. "Nggak tahu, Rin." Saat ini aku bersama Rindi sedang berada di sebuah kafe yang tak jauh dari tempat kerja Rindi, jika aku melanjutkan pendidikanku setelah lulus SMA, maka berbeda jauh dengan Rindi yang lebih memilih langsung bekerja. Meskipun jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, tetapi kami sempatkan bertemu jika ada sedikit waktu seperti saat ini. Rindi merupakan sahabat baikku saat di SMA, kami merasa cocok satu sama lain sehingga bisa bersahabat sampai sekarang ini. Nindi juga sudah mengenal Rindi karena kami juga seringkali pergi bersama. "Kok nggak tahu? Anak-anak pada nanyain lo loh, Ris, cuma lo doang yang nggak pernah datang di acara reuni SMA kita," ucap Rindi. "Iya, gue tahu, Rin. Cuma gue masih belum siap aja ketemu sama mereka." Kulihat Rindi berdecak kesal ketika aku mengatakan itu. "Kenapa lo harus takut sama mereka sih, Ris? Lagian bukan salah lo juga. Lo itu sama sekali nggak salah, kalau mereka mau ngelakuin hal buruk ke lo, lo nggak perlu khawatir. Ada gue di sini," ucap Rindi. "Lo aja yang pergi, gue nggak akan pergi. Lagian ada banyak desain yang belum gue gambar, Rin." "Ck, kalau lo terus menghindar begini, yang ada mereka ngira kalau apa yang lo lakuin itu benar, Ris." Aku hanya diam, tak berniat menanggapi kata-kata Rindi karena sejujurnya aku pun bingung. "Lo harus datang, lo buktikan ke mereka kalau lo itu nggak salah." "Nggak penting juga mau gue bener atau salah di mata mereka, Rin. Kalau menurut mereka gue bener ya syukur, tapi kalau mereka nganggap gue salah ya udah lah. Yang penting gue nggak ngerebut siapapun itu," ucapku. "Lo keras kepala banget ya, gue nggak mau tahu. Pokoknya nanti malam gue ke rumah lo buat jemput lo, kita akan ke acara reuni itu. Titik." Aku yakin kalau Rindi pasti akan memaksaku, aku sudah menduga itu. Rindi memang benar-benar keras kepala dan sepertinya aku tak punya pilihan lain selain menyerah. Benar saja dugaanku, saat aku baru saja selesai shalat kemudian mengaji, Rindi sudah datang dengan motornya. Ia menungguku di ruang keluarga sambil bermain dengan Rian, aku menghela napas. Sejujurnya aku tak ingin menampakkan wajahku lagi di depan teman-teman semasa SMA-ku karena aku masih merasa malu. "Nah, siap juga 'kan akhirnya lo, Ris," ucap Rindi ketika aku menghampirinya. "Ya, karena paksaan lo," balasku. "Kakak pergi dulu ya sama kakakmu yang cantik ini, nanti Kakak ke sini lagi buat main sama kamu ya, Rian," ucap Rindi sambil mencium kedua pipi gembul Rian. "Kalian ini mau ke mana? Kenapa terlihat rapi begitu?" tanya bundaku. "Kita mau datang ke acara reuni, Tante, si Risa ini 'kan selama ini nggak pernah datang. Jadi sesekali aku ajakin ke sana," jawab Rindi. "Baguslah kalau kamu menyusul Risa, Rin, Tante juga bingung kenapa dia ini nggak pernah mau datang. Padahal 'kan memperat tali silaturahmi antar teman itu bagus." Aku hanya tersenyum mendengar perkataan bundaku, andai saja bunda tahu apa yang terjadi. Mungkinkah ia tetap mengatakan hal ini? "Kalau gitu Risa pamit ya, Bun," ucapku menyalami tangan bunda. "Rindi juga pamit ya, Tante." "Iya, hati-hati di jalan ya. Pulangnya jangan kemalaman, ingat kalian berdua ini perempuan," peringat bunda. "Siap, Tante. Rindi akan antar Risa dengan selamat, Tante tidak perlu khawatir." "Kakak pergi dulu ya, adik manis." Aku mencium pipi Rian yang sedang sibuk bermain mobil-mobilan, ia bahkan tak mau menatapku saking sedang sibuknya. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Aku dan Rindi langsung naik motornya, Rindi mengendarai motornya menuju tempat reuni yang telah ditentukan. "Rin, tempatnya ada di mana sih?" tanyaku setengah berteriak agar Rindi dapat mendengar suaraku. "Di hotel, Ris, jadi ceritanya ada salah satu teman kita yang nyewa ballroom hotel di sana. Berhubung ayahnya itu kerabat dekat sama si pemilik hotel, katanya dikasih harga murah sih. Jadi kita tinggal datang gratis tanpa perlu ada iuran-iuran lagi. Mantap 'kan?" Rindi balas berteriak. "Oh gitu, siapa teman kita itu?" tanyaku. "Elsa, lo tahu dia 'kan?" Aku mengingat-ingat kembali sepertinya aku pernah mendengar namanya. "Ingat sih, cuma agak lupa." "Masa lo nggak tahu sih, Ris? Itu si Elsa yang anak orang kaya itu, yang orangnya ramah ke semua orang walaupun dari kalangan atas," ujar Rindi menjelaskan. "Oh iya, sekarang gue ingat." Setelah dijelaskan oleh Rindi, barulah aku mengingat siapa Elsa itu. Beberapa saat kemudian, aku dan Rindi tiba juga di parkiran salah satu hotel yang ternyata sangat mewah. Aku dan Rindi langsung turun dari motor kemudian memasuki area hotel, kami terkagum-kagum saat melihat betapa luas dan mewahnya hotel ini. Saat memasuki ballroom hotel, sudah banyak teman-teman sebayaku yang hadir. Berbagai jenis makanan berat, cemilan dan minuman tersusun rapi di atas meja yang telah disediakan. Aku mencari-cari seseorang yang sekiranya aku kenal cukup dekat. "Lo nyari Syifa ya, Ris?" Rindi yang sepertinya tahu isi pikiranku langsung bertanya. "Iya, dia di mana ya?" tanyaku. "Dia nggak sayang, Ris," jawabnya membuatku mengernyit. "Kok bisa?" "Karena dia udah nikah sama salah satu ustad yang ada di pesantrennya, dia dibatasin dengan nggak datang ke acara-acara kayak gini. Lagian dia sekarang udah bercadar, mana mungkin mau kumpul-kumpul bareng teman-teman cowoknya," ucap Rindi. Aku mengangguk mengerti dengan penjelasan Rindi. "Risa 'kan?" Tiba-tiba saja seorang pria datang menghampiri kami. "Iya siapa ya?" tanyaku dengan mata memicing, mencoba mengingat-ingat siapa pria yang ada di hadapan kami. "Astaga, masa lo lupa sama gue sih, Ris?" tanyanya sambil tertawa. "Ris, seriusan lo nggak tahu siapa dia? Dia ini Teguh, Ris," ucap Rindi. "Teguh?" tanyaku tak percaya. "Iya, gue teguh. Muka lo kelihatannya kaget banget sih ngelihat gue," ucap Teguh. "Gimana gue nggak kaget coba, lo kelihatan beda banget." Aku memperhatikan penampilan Teguh dari atas hingga bawah, pria ini terlihat berbeda sekali dengan dulu. Teguh yang dulu sangat dekil dan berkacamata, sedangkan sekarang Teguh terlihat lebih tampan. "Lo juga kelihatannya beda, Ris, sekarang lo udah berhijab. Jadi makin cantik aja," ucap Teguh. "Alhamdulillah." "Awalnya gue nggak ngira kalau itu lo loh, gue juga sempat pangling. Tapi waktu gue ngelihat Rindi, gue jadi yakin kalau itu lo, Ris." Di saat sedang seru-serunya mengobrol, aku tersentak kaget ketika tiba-tiba saja ada seseorang yang menabrakku kemudian ada sesuatu basah yang mengenai hijab yang aku kenakan. Saat aku menoleh, tubuhku mematung. "Upss, sorry. Nggak sengaja jàlang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD