"Mbak Risa, ada seorang pria yang katanya nyariin Mbak di depan," ucap Dinda—salah satu karyawan di butikku.
Aku yang sedang mendata jumlah pembeli di butikku hari inipun menoleh ke arah Dinda. "Siapa dia?" tanyaku.
"Nggak tahu, Mbak, dia nggak nyebutin namanya," jawab Dinda.
"Ya sudah, nanti aku ke sana. Makasih udah ngasih tahu ya, Din," ujarku pada Dinda.
"Iya, Mbak." Dinda pun langsung pergi dari hadapanku untuk kembali bekerja.
Aku beranjak dari tempatku untuk melihat siapa orang yang sedang mencariku. Saat tiba di depan butik, aku melihat seorang pria berdiri dengan memunggungiku sehingga aku tak bisa melihat siapa pria itu. Saat pria itu berbalik, aku terkejut ketika melihat wajahnya.
"Risa ...." Kakiku bergetar saat mendengar suaranya, rasanya aku tak mampu berdiri lagi.
"Mas Rahman," gumamku.
"Risa, aku—"
"Dari mana Mas dapat alamatku?"
"Aku mencari tahu dari tetanggamu, Ris."
"Untuk apa Mas Rahman ke sini?" tanyaku dingin.
"Aku ingin minta maaf atas batalnya pernikahan kita beberapa bulan yang lalu, aku harap kamu memaafkanku," ucapnya.
Aku menghela napas, ketika mengingat hari menyakitkan itu. Di mana Mas Rahman yang begitu saja membatalkan pernikahan kami tepat di hari ijab kabul, bukan hanya sakit yang dirasa melainkan juga rasa malu. Para tetangga selalu mengungkit hal itu, bahkan sampai sekarang ini. Mungkin saja Mas Rahman tidak mengetahuinya atau mungkin saja dia tidak peduli dengan ini sehingga semudah itu membatalkan di saat semua sudah siap.
"Aku sudah memaafkanmu, Mas, sekarang Mas boleh pergi." Sepertinya dia sedikit terkejut saat mendengar aku yang semudah itu memaafkannya.
"Benarkah kamu memaafkanku, Ris? Apakah itu berarti aku masih memiliki kesempatan kedua?" Mendengar pertanyaannya itu aku langsung tersenyum sinis.
"Memaafkan bukan berarti melupakan dan memaafkan bukan berarti menerima kembali, Mas. Bagiku Mas hanyalah masa lalu yang menyakitkan, aku harap Mas bisa mendapatkan orang yang lebih baik dariku. Aku sama sekali tidak tahu alasan Mas yang tiba-tiba membatalkan pernikahan kita itu karena apa dan aku memang tidak ingin mengetahui hal itu. Aku harap Mas tidak datang lagi ke sini, karena setiap kali melihat wajah Mas, aku jadi teringat dengan hari yang menyakitkan itu. Assalamualaikum." Usai mengatakan kalimat panjang itu, aku langsung kembali memasuki butikku.
Aku memilih masuk ke ruangan khusus yang biasanya aku gunakan untuk istirahat, di ruangan ini hanya ada sofa kecil dan juga ranjang kecil yang muat hanya satu orang. Aku duduk di sofa itu sambil mengusap air mata yang tanpa sadar menetes, sejujurnya melupakan seseorang yang amat dicintai itu sangat sulit. Aku sangat mencintai Mas Rahman dan sesulit itu untuk melupakannya, tetapi semudah itu ia datang dan meminta maaf ke sini seakan tak peduli dengan rasa sakitku.
Aku mengenalnya sejak aku masih di bangku SMA, Mas Rahman dikenalkan oleh ayahku karena dia adalah anak dari sahabat ayahku. Kami dijodohkan dan akan menikah beberapa bulan yang lalu, Mas Rahman juga begitu baik padaku. Aku jatuh cinta saat pertama kali dikenalkan padanya, sayangnya ia membuatku dan keluargaku kecewa karena ketidakhadirannya di hari yang seharusnya menjadi hari akad nikah kami. Dalam lubuk hatiku, aku sudah memaafkannya, tetapi aku tak pernah melupakan luka yang ia torehkan. Terlebih-lebih ia meninggalkanku di hari pernikahan kami karena seorang wanita yang sudah dekat dengannya, wanita mana yang tak sakit hati saat pria yang ia cintai malah lebih memilih orang lain?
Tok ... tok ... tok ....
"Mbak Risa ...."
"Iya, sebentar, Din!" teriakku dari sini.
Aku langsung menghapus air mataku, setelah dirasa tak ketahuannya lagi kalau aku habis menangis, aku pun membuka pintu dan di sana Dinda berdiri sedang menungguku.
"Ada apa?" tanyaku.
"Itu depan ada yang nungguin Mbak, dia—"
"Suruh pulang aja, Din, Mbak nggak mau ketemu sama orang itu," ucapku sebelum Dinda selesai menyelesaikan perkataannya.
"Mbak yakin?" tanya Dinda yang dibalas anggukan olehku.
"Sedari tadi saya menunggumu di depan, mengapa tak kunjung ke depan juga?" Tiba-tiba terdengar suara berat dan dingin yang membuat aku dan Dinda menoleh, aku terperangah saat melihat pria yang tak lain adalah Alex yang kini berdiri di hadapanku.
"Mas Alex kenapa ada di sini?" tanyaku terkejut.
"Kau lupa kalau kita akan pergi ke bengkel untuk mengambil kendaraanmu?" Mendengar pertanyaannya membuatku langsung teringat.
"Astaghfirullahaladzim, maaf saya lupa, Mas," ucapku.
Kemarin sebenarnya Alex ingin mengantarku, tatapi dia ada urusan mendesak yang tidak bisa ditinggal. Aku ingin meminta alamat bengkelnya saja pada Alex, tetapi pria itu sama sekali tidak memberikanku alamatnya dan mengatakan kalau biar bersama dia saja ke sananya.
"Ck, saya tunggu di luar." Tanpa melihat ke arahku lagi, Alex langsung pergi keluar dari butik milikku.
"Din, Mbak keluar bentar ya. Tolong jagain butik," ucapku pada Dinda.
"Iya, Mbak."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aku bergegas menyusul Alex karena tak ingin ia menungguku lama, aku tak melihat Alex berada di depan butikku, tetapi aku melihat mobil pria itu yang tak jauh dariku. Aku berpikir kalau Alex pasti berada di mobil itu, aku pun berjalan mendekati mobil itu.
"Masuk!" terdengar suaranya dari dalam mobil.
Aku pun langsung memasuki mobilnya dan duduk di bangku penumpang belakang, Alex tak banyak berkomentar. Mungkin saja ia sudah paham alasanku memilih duduk di sini. Kurasakan mobil yang kutumpangi ini mulai dijalankannya.
Beberapa saat kemudian, kami akhirnya tiba juga di sebuah bengkel besar di mana tak hanya ada motor saja di sana, melainkan juga beberapa mobil yang sedang diperbaiki. Saat Alex melepaskan safety belt-nya, aku langsung turun lebih dulu dari mobil kemudian Alex menyusulku.
Pria itu berjalan memasuki area bengkel sambil mengkode mata padaku kalau aku harus mengikutinya.
"Pak, motor yang kemarin diperbaiki di mana?" tanya Alex pada seorang bapak-bapak yang sedang memperbaiki motor lainnya.
"Ada, Mas, sebentar ya." Bapak-bapak itu menghentikan kegiatannya, beliau pergi dan sepertinya untuk mengambil motorku.
Beberapa saat kemudian, bapak-bapak itu datang sambil mendorong motorku yang sudah selesai diperbaiki.
"Semuanya habis berapa, Pak?" tanyaku bersiap mengeluarkan dompet dari dalam tas kecilku.
"Semuanya—"
"Biar saya saja yang bayar," ucap Alex mengeluarkan sebuah kartu dan memberikannya pada bapak-bapak itu.
"Baik, ditunggu ya," ucap bapak itu menerima kartu yang Alex berikan kemudian pergi ke tempat pembayaran.
Beberapa saat kemudian, bapak itu kembali dan mengembalikan lagi kartu itu pada Alex.
"Semuanya habis berapa? Nanti tolong kasih tahu ya, Mas Alex, biar saya ganti," ucapku.
"Tidak perlu." Aku terkejut dengan perkataannya.
"Nggak bisa gitu, Mas, biar bagaimanapun juga saya harus ganti."
"Saya ikhlas membantu kamu, saya masih ada pekerjaan. Saya akan pergi, kamu bisa pulang sendiri dengan menggunakan motor kamu 'kan?" Refleks aku mengangguk.
Setelah itu, ia benar-benar pergi meninggalkanku yang masih tertegun dengan apa yang ia lakukan. Aku tak percaya kalau Alex tiba-tiba menjadi baik padaku, mungkinkah sebenarnya sifat aslinya seperti ini? Dan saat pertemuan pertama mereka, Alex ketus karena kami baru saling mengenal. Namun, tetap saja aku merasa tidak enak jika dia yang membayarkan ini semua, aku tak ingin berutang budi padanya.
"Pak, tadi motor ini habis berapa ya buat memperbaikinya?" tanyaku pada bapak-bapak itu.
"Tiga juta, Mbak." Jawaban dari bapak itu benar-benar membuatku terkejut, aku bertekad untuk mengembalikan uang Alex yang meskipun jumlahnya tak seberapa bagi dia yang merupakan orang kaya, tetapi bagiku, aku sudah berutang besar padanya.