Aku berusaha tidak terlalu memikirkan hal yang sebenarnya membuatku penasaran yaitu pria bernama Alex yang tiba-tiba saja mengantarku ke kampus. Mungkin saja tadi Alex tak merasa kasihan saat melihatku dengan kendaraan yang mogok, makanya ia membantuku. Namun, itu masih terasa aneh karena aku dan Alex sama sekali tidak dekat dan bahkan pria itu terlihat tidak menyukaiku di pertempuan pertama kami, lantas mengapa tiba-tiba saja Alex dengan baik hatinya membantuku? Padahal, kalau dia mau, dia bisa saja pura-pura tidak melihatku. Sebenarnya apa yang aku pikirkan? Tak seharusnya aku selalu berpikiran negatif pada orang lain.
"Mungkin saja aslinya dia orang yang baik, Risa, hanya saja dia tidak mau menunjukkan kebaikannya itu di pertemuan pertama." Aku bergumam pelan.
"Sebenarnya ada apa denganku? Mengapa aku malah memikirkannya? Ini benar-benar aneh."
"Risa!" Sebuah suara membuatku membalikkan tubuhku, hingga aku melihat Nindi—sahabatku yang kini berlari menghampiriku.
"Ada apa, Nin? Kenapa lo lari-lari begitu?" tanyaku.
"Itu, kita harus cepetan ke ruangannya Pak Hadi, beliau kebetulan lagi ada di sini."
"Beneran?" tanyaku tak percaya.
Pak Hadi merupakan salah satu dosen pembimbing kami yang cukup sulit ditemui karena Pak Hadi orang yang super sibuk, selain karena ia dosen yang memiliki jadwal padat, mungkin kesibukannya juga karena ia menjadi kepala bidang akademik prodi kami.
"Iya, serius. Tapi ya gitu deh, rame banget yang ngantri," ucap Nindi.
"Ya udah, ayo kita ke sana. Nggak apa-apa deh nunggu, yang penting kita kebagian ketemu sama Pak Hadi," ujarku.
Akhirnya aku dan Nindi berjalan menuju ruangan Pak Hadi, benar saja apa yang Nindi katakan tadi. Di depan ruangan Pak Hadi sudah banyak mahasiswa yang mengantri untuk mengajukan judul pada Pak Hadi. Kebetulan, Pak Hadi menjadi dosen pembimbing bagi beberapa mahasiswa, salah duanya adalah aku dan Nindi.
"Rame banget," komentarku saat melihat antrian panjang itu.
"Maklum aja sih, Pak Hadi jarang ada di ruangannya. Begitu dapat kabar kalau Pak Hadi datang, ya mereka yang pengen cepat-cepat nyelesaiin skripsinya langsung ke sini. Kayak kita gini lah. Ayo kita juga ikutan antri, keburu yang lain datang lagi." Aku mengangguk, aku dan Nindi pun mengantri di belakang salah satu mahasiswa yang setidaknya aku kenal namanya, tetapi tidak begitu akrab.
"Eh, Risa, Nindi, kalian juga mau bimbingan skripsi?" tanya Agung padaku saat ia berbalik dan sepertinya ia memang menyadari keberadaanku dan Nindi.
"Iya nih, mumpung Pak Hadi ada di ruangannya," jawab Nindi.
"Lo udah sampai mana, Gung?" tanyaku.
"Baru sampai bab pembahasan doang nih, lama banget kalau sama Pak Hadi. Beliau slow respon, jadi kita harus ekstra sabar nunggu. Lo sendiri udah bab berapa?" tanya balik Agung.
"Baru bab dua nih," jawabku.
"Lah lo mah enak, gue masih awal-awal gini. Lo gimana, Nin?"
"Gue sama kayak Risa," jawab Nindi.
"Wah, bisa sama sih? Jangan-jangan kalian kerjasama ya? Kan nggak boleh," ucap Agung.
"Sembarangan aja kalau lo ngomong, kami tuh memang ngerjain bareng, tetapi judul kamui 'kan beda, isinya juga beda." Nindi langsung ngegas, aku hanya tersenyum mendengarnya.
"Serius itu, Ris?" Aku hanya mengangguk.
"Gue pikir si Nindi ini nyontek lo lagi, kalau dia mau nyontek lo, jangan dikasih, Ris. Biar dia usaha sendiri," ucap Agung.
Nindi memukul lengan Agung hingga membuat lelaki itu meringis, aku hanya tertawa melihat mereka yang seperti ini.
"Sembarangan lo kalau ngomong, lo pikir gue sebodoh itu apa!?" tukas Nindi ketus.
"Ya udah sih, nggak usah mukul gue juga bisa kali." Agung mengusap lengannya yang dipikul oleh Nindi.
"Ngapain lo elap-elap gitu?" tanya Nindi.
"Takut rabies gue habis dipukul sama lo." Aku tertawa mendengarnya, sedangkan Nindi sepertinya sangat kesal pada Agung.
"Gung, lo kayaknya belum pernah ngerasain tendangan maut gue ya?" tanya Nindi.
"Hehehe, sorry Nin. Gue cuma bercanda aja kali, gitu aja marah lo."
"Makanya jangan jahil sama Nindi, lo kayak nggak tahu Nindi aja, Gung,'" timpalku.
"Iya juga ya, salah gue gangguin macan betina kayak Nindi—aduh!" Agung berteriak kesakitan ketika tiba-tiba saja Nindi menendang lututnya.
"Keterlaluan lo, Nin, sakit lutut gue."
"Salah lo cari masalah sama gue, gue tadi udah peringatin lo ya." Sepertinya Nindi tak mau disalahkan karena menurutnya yang cari masalah duluan tadi Agung.
"Kalian ini sehari saja sepertinya nggak bisa akur ya, hati-hati nanti jodoh," ucapku membuat Agung dan Nindi langsung menatapku kemudian menatap satu sama lain.
"Gue sama dia? Ogah ya, Ris! Yang ada nanti gue ditendang tiap hari sama macan betina ini," ujar Agung.
"Lo pikir gue mau sama lo? Idih, nggak sudi gue sama cowok lembek kayak lo!" Agung menganga mendengar perkataan Nindi.
"Woy, Gung! Giliran lo tuh yang masuk." Kami menoleh ke arah seorang lelaki yang baru saja keluar dari ruangan Pak Hadi.
"Hah!? Seriusan gue nih?" tanya Agung.
"Iya."
"Cepat amat," ucap Agung.
"Lo sibuk pacaran sama Nindi sih makanya nggak sadar gitu," celetuk salah satu teman Agung.
"Ih, gue sama Nindi nggak pacaran. Enak aja! Kalaupun hanya ada satu cewek di dunia ini dan itu cuma Nindi doang, mending gue nggak usah sama dia." Nindi kesal, aku langsung menahan Nindi dengan memegang tangannya ketika Nindi akan menendang Agung lagi.
"Udah, Nin," tegurku.
"Tapi dia nyebelin banget, dia pikir cuma dia doang yang nggak suka? Gue juga nggak suka dia ya!" Nindi menggebu-gebu saat mengatakannya, aku memahami perasaan kesal Nindi saat ini.
Sepanjang menunggu Agung selesai dengan bimbingannya, aku mendengar gerutuan dari Nindi. Aku hanya bisa menenangkan Nindi dengan mengusap lengannya, mereka ini memang hobi sekali bertengkar. Terkadang aku heran, karena sangat jarang mereka akur. Tiap ketemu pasti selalu saling meledek, takutnya ada salah satu yang jatuh cinta di antara mereka.
"Giliran lo yang masuk tuh, Nin," ucap Agung begitu ia keluar dari ruangan Pak Hadi.
"Ya, gue tahu," balas Nindi sinis.
"Ris, gue ke dalam dulu ya," ucap Nindi padaku.
"Iya, Nin, semoga nggak ada yang salah sama bab dua lo."
"Aamiin." Nindi pun masuk ke ruangan Pak Hadi, aku jadi deg-degan karena setelah Nindi keluar pasti aku yang akan masuk. Aku khawatir kalau nantinya bab dua yang kukerjakan banyak kesalahan, karena sepengamatan kami, Pak Hadi itu sangatlah perfeksionis.
"Semoga saja semua berjalan dengan baik." Aku bergumam pelan, menatap pintu ruangan Pak Hadi yang tertutup rapat.
Beberapa saat kemudian Nindi keluar dari ruangan Pak Hadi, itu berarti giliran aku yang masuk ke sana. Aku menjadi gugup, kakiku terasa lemas saat aku memasuki ruangan Pak Hadi.
"Duduk!" Suara berat Pak Hadi terdengar begitu aku berada di hadapannya, aku pun langsung duduk di kursi yang telah ada.
Aku menyerahkan kertas berisi bab dua yang sudah aku kerjakan pada Pak Hadi, Pak Hadi mulai mengecek isi bab yang aku kerjakan.
"Apa ada kesulitan saat mencari materi referensinya?" tanya Pak Hadi.
"Ada, Pak, mungkin saat saya mencari materi yang berkaitan dengan judul skripsi saya," jawabku lugas.
"Ada banyak kesalahan dalam bab dua ini, saya sudah memberikan tanda di mana kamu harus memperbaikinya. Saran saya, lebih baik kamu mencari materi yang lebih spesifik lagi. Yang saya garis bawahi ini sama sekali tidak nyambung dengan judul skripsimu, jangan lupa perbanyakan referensinya. Saya melihat di sini hanya ada dua referensi saja," ucap Pak Hadi yang kudengar dengan baik sarannya.
"Baik, Pak. Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk kami." Aku menerima kertas bab dua ku yang diberikan oleh Pak Hadi.
"Kamu menyindir saya yang jarang datang?" tanya Pak Hadi membuatku terdiam sejenak.
"Tentu tidak, Pak, bukan itu." Aku heran juga mengapa Pak Hadi teramat peka dan sensitif.
"Kalau begitu silakan keluar, masih banyak mahasiswa yang ingin menemui saya," usir Pak Hadi.
"Iya, Pak, terima kasih." Aku pun langsung keluar dari ruangan Pak Hadi dan menemui Nindi.
"Gimana, Ris?" tanya Nindi.
"Banyak yang harus gue revisi, Nin," jawabku.
"Apa-apa aja?"
"Nanti gue ceritain, mendingan lo masuk duluan. Nanti Pak Hadi marah lagi karena lo lama," ujarku yang dibalas anggukan oleh Nindi.
Aku memilih menunggu Nindi di sebuah bangku yang tak jauh dari gedung dosen, tak lama aku menunggu Nindi yang akhirnya keluar dari ruangan Pak Hadi. Nindi menghampiriku sambil tersenyum cerah, dapat aku rasakan aura kebahagiaan yang terpancar di wajahnya. Aku menduga kalau Nindi pasti mendapatkan komentar yang baik mengenai bab dua yang ia kerjakan.
"Lo dapat kabar baik ya?" tanyaku.
"Iya, gue senang banget karena gue nggak perlu ngerivisi bab dua. Gue cuma perlu ngelanjutin skripsi gue aja," jawabnya sambil tersenyum bahagia.
Aku pun turut bahagia saat melihat Nindi bahagia, mendengar kabar baik itu seakan menghilangkan rasa sedihku karena untuk bab duaku masih banyak yang harus direvisi.
"Selamat ya, gue ikutan senang dengarnya," ucapku.
"Makasih, Ris. Lo juga nggak boleh nyerah, gue yakin lo juga pasti bakalan bisa lanjut ngerjain bab selanjutnya," ujar Nindi memberiku semangat.
"Aamiin, makasih, Nin."
"Oh ya, lo habis ini mau ke mana?" tanya Nindi.
"Gue mau langsung ke butik, tadi Dinda kirim pesan kalau di butik lagi banyak pelanggan," jawabku.
"Wah, kebetulan banget. Gue juga mau ke butik lo, tadi nyokap nitip buat dibeliin hijab di butik lo," ucapnya.
"Kebetulan sekali, motor gue mogok tadi. Gue numpang bareng lo ya?"
"Iya, ayo." Aku dan Nindi pun berjalan menuju area parkiran mobil, Nindi dan aku memasuki mobil milik gadis itu.
"Kalau motor lo mogok, tadi lo naik apa ke sini, Ris?" tanya Nindi memulai pembicaraan sambil mengemudikan mobilnya.
"Tadi ada yang nganterin gue."
"Siapa? Bokap lo?" Aku langsung menggelengkan kepalaku.
"Bukan, tapi Alex," ucapku tanpa sadar.
"Alex? Alex siapa, Ris? Lo dekat sama cowok? Kok nggak cerita sama gue sih?" tanya Nindi menatapku penuh penasaran.
Aku yang sadar sudah keceplosan pun langsung mengelak, "Bukan, tapi dia itu anaknya salah satu pelanggan di butik gue. Dia nggak sengaja ngelihat gue dorong motor dan akhirnya nawarin tumpangan ke gue," jelasku.
"Oh gitu, orangnya gimana, Ris? Ganteng nggak?" tanyanya lagi.
"Apaan sih, Nin? Kenapa lo nanya-nanya hal kayak gitu."
"Ya barangkali dia ganteng 'kan, kan lumayan kalau misalkan dia jadi sama lo," ucap Nindi.
"Huss, lo ngomong apa sih, Nin?" Aku langsung menegur Nindi saat ia sudah bicara hal yang tak ingin kudengar.
Nindi hanya tertawa, kemudian ia memilih fokus menyetir. Beberapa saat kemudian akhirnya kami tiba di depan butik milikku, aku dan Nindi langsung turun dari mobilnya. Kami berjalan memasuki butik milikku yang saat ini sedang ramai pelanggan.
"Wah, ramai banget ya. Bisa untung banyak nih lo, Ris," ucap Nindi.
"Alhamdulillah, Nin," balasku merasa bersyukurlah dengan apa yang aku miliki sekarang ini.
"Eh, Nak Risa." Aku terkejut saat melihat Bu Sievania yang kini berjalan menghampiriku.
"Assalamualaikum, Bu Sievania," sapaku.
"Waalaikumsalam, kamu baru saja pulang kuliah ya?" tanya Bu Sievania.
"Iya, Bu." Aku menjawab dengan sopan.
"Teman kamu ya?" tanya Bu Sievania sambil melihat Nindi.
"Iya, Bu."
"Ya sudah, kalau begitu Ibu mau keliling dulu lagi ya."
"Iya, Bu, semoga cocok dengan beberapa gamis." Aku tersenyum saat Bu Sievania pergi untuk memilih beberapa gamis.
"Ris, itu siapa?" tanya Nindi berbisik di telingaku.
"Beliau salah satu pembeli yang sering ke sini, Nin," balasku.
"Oh gitu, kelihatannya perhatian gitu ke lo ya," ucap Nindi.
"Masa sih? Kayaknya biasa aja gitu." Aku mengernyit heran.
"Nggak, dia kalau natap lo kelihatan beda gitu loh, Ris."
"Udah ah, katanya lo mau milih hijab buat nyokap lo?" Aku langsung mengalihkan pembicaraan.
"Ah ya, lo benar juga. Ayo dong bantuin gue pilih hijab," pinta Nindi.
"Ayo, gue bakalan tunjukin hijab model terbaru yang ada di sini." Aku berjalan terlebih dulu menuju lemari di mana di sana banyak model hijab yang ditata rapi.
"Mama nggak terlalu suka sama warna yang terlalu jreng, Ris," ucap Nindi.
"Iya gue tahu, yang gue mau ambil itu hijab di bawahnya." Aku mengambil hijab yang menurutku sangat cocok dipakai oleh mamanya Nindi.
Setelah mendapatkan hijab yang diinginkan, Nindi langsung pamit pulang karena tadi mamanya menelepon dan meminta Nindi untuk segera pulang karena minta diantar ke suatu tempat. Aku pun mengantar Nindi sampai keluar butikku.
"Lo memang paling bisa deh pilih hijab buat nyokap gue, makasih ya, Ris."
"Sama-sama, makasih juga udah mampir dan beli toko di butik gue ya. Oh ya, makasih juga karena udah nganterin gue," ucapku.
"Santai aja kali, Ris, lo kayak sama siapa aja sih?"
"Ya udah, gue balik dulu ya."
"Waalaikumsalam." Aku mengingatkan Nindi untuk mengucap salam sebelum pergi.
"Hehe, lupa gue. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati ya, Nin."
Nindi mengangguk, ia langsung masuk ke mobilnya kemudian menjalankan mobilnya. Baru saja aku ingin masuk ke butikku, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan butikku. Refleks aku membalikan tubuhku untuk menatap mobil itu. Aku terkejut saat melihat pria yang keluar dari mobil itu yang tak lain adalah Alex. Mendadak aku menjadi gugup ketika Alex melepaskan kacamata hitamnya kemudian berjalan ke arahku.
"Kau sudah pulang?"
Aku terkejut saat Alex berbicara kepadaku, aku yang tidak ingin terlalu geer pun menoleh ke belakang. Mencari-cari sosok di belakangku yang berangkali diajak bicara oleh Alex, tetapi tak satupun aku melihat seseorang di belakangku.
"Aku berbicara denganmu," ucap Alex seakan tahu kebingunganku sedari tadi.
"Motormu sudah selesai diperbaiki," ucap Alex lagi.
"Benarkah? Di mana aku bisa mengambilnya? Terima kasih karena sudah membantuku," ucapku begitu tulus.
"Nanti akan kuantar kau ke alamatnya," ujar Alex kemudian memilih memasuki butikku. Meninggalkanku yang tertegun dengan sikap Alex yang kini berubah tak seperti pertemuan pertama kami.