13. Tak Sesuai Ekspektasi

1058 Words
Aku kembali mencoba membangunkan Mas Alex dari tidur nyenyaknya, sebenarnya aku tak tega membangunkannya yang seakan terlelap itu, tetapi aku harus melakukannya karena Mas Alex belum shalat subuh. Sebagai seorang istri sudah kewajibanku juga untuk mengingatkan hal-hal baik pada suamiku, takut-takut kalau dia lupa. "Mas, bangun, Mas belum shalat subuh loh," ucapku berusaha membangunkannya. "Eumm ...." Kulihat dia menggeliat pelan hingga kemudian matanya akhirnya terbuka. "Ada apa membangunkanku?" tanyanya dengan suara serak. "Mas belum shalat subuh." Kulihat dahinya mengernyit. "Memangnya harus sekarang ya?" Aku malah bingung saat ia bertanya demikian. "Shalat subuh memang dilaksanakan di jam-jam seperti ini, Mas, Mas kok nanyanya juga aneh. Kayak nggak pernah shalat subuh aja," ucapku sambil tertawa setengah bercanda. "Oh iya." Dia bangkit kemudian meninggalkanku menuju kamar mandi, aku merasa lega saat akhirnya Mas Alex melaksanakan shalat subuh. Tadinya aku sudah sangat was-was sekali ketika dia menanyakan hal aneh seperti itu. "Kalian beneran mau langsung pergi? Nggak mau nginap dulu beberapa hari lagi di sini?" tanya bunda saat aku dan Mas Alex berpamitan pada kedua orangtuaku untuk pergi ke kediaman Mas Alex. Kami memang sepakat untuk tinggal di sana setelah menikah, sebelum menikah kami sudah sempat membahas hal ini. Jarak rumah Mas Alex dengan rumahku tidak terlalu jauh sehingga aku bisa pergi ke sini kapan saja, lagipula sebagai seorang istri sudah kewajibanku untuk ikut suami ke manapun dia pergi. "Iya, Bun, di sana sudah diisi semua barang-barang yang diperlukan," ucap Mas Alex menjelaskan. Kulihat bunda yang tengah menggendong Rian, bunda sepertinya sedikit tidak rela kalau aku pergi dari rumah ini. Aku sangat mengertil perasaan bunda, maka dari itu aku yang duduk di sampingnya langsung memegang tangannya sambil tersenyum lembut. "Bunda nggak usah khawatir, Risa pasti akan sering-sering ke sini kok," ucapku seakan tahu apa yang bunda khawatirkan. "Janji kamu ya, Ris, sama Bunda." "Iya, Bunda, lagian Risa mana tahan nggak nyapa adik Risa yang lucu ini." Aku menciumi pipi Rian beberapa kali. Setelah berpamitan pada ayah dan bunda, aku dan Mas Alex memasuki mobilnya. Ia mengemudi tanpa suara, sesekali aku meliriknya yang sangat serius mengemudi. Tidak ada pembicaraan di antara kami, aku sebenarnya ingin memulai pembicaraan, tetapi aku bingung bagaimana cara memulainya. Aku tidak tahu apa yang ingin aku bahas dengannya, semuanya masih terasa asing sehingga aku canggung jika berbicara hal yang tidak penting alias berbasa-basi. Sebenarnya dibilang sangat asing juga tidak, tetapi tetap saja aku merasa canggung dengannya. Mas Alex tiba-tiba saja menghentikan mobilnya secara mendadak, hingga hampir saja aku menabrak depan. "Ada apa, Mas?" tanyaku padanya. "Tadi ada kucing menyeberang." Aku mengembuskan napas lega, aku pikir tadi apa. Kemudian suasana kembali hening, hingga akhirnya kami tiba juga di sebuah rumah mewah yang membuatku terpukau saat melihatnya. Aku dan Mas Alex turun dari mobil, aku masih menatap rumah itu dengan takjub. Ini kali pertama aku pergi ke rumah ini karena Mas Alex belum pernah membawaku ke sini, ia mengatakan kalau ia mempunyai rumah, tetapi aku tak berekspektasi kalau rumahnya akan sebesar ini. Namun, melihat pekerjaan Mas Alex yang merupakan pengusaha sukses, seharusnya aku sudah menduga ini sejak awal. "Ayo, masuk!" Suara tegas itu membuatku tersadar dari keterpukauanku. Mas Alex memasuki rumah terlebih dulu, membuatku langsung ikut menyusulnya. Saat akhirnya kami berada di dalam rumah, aku dapat melihat banyaknya perabotan rumah yang sepertinya berharga fantastis. Saat ini aku benar-benar seperti menikahi seorang sultan saja. Tiba-tiba saja ada seorang wanita paruh baya yang datang menghampiri kami, aku menoleh ke arah Mas Alex yang sepertinya akrab dengannya. "Mbok, ini Risa yang sudah saya ceritakan dan ini Mbok Siti, dia yang sudah lama mengurus rumah ini. Dia akan membantu kamu mengerjakan pekerjaan rumah," ucap Alex mengenalkan kami.. "Hallo, Mbok, aku Risa." Aku meraih tangan Mbok Siti dan hendak mencium punggung tangan beliau. "Ya ampun, Nyonya, jangan begitu," ucap Mbok Siti. "Nggak apa-apa, Mbok," ucapku sambil tersenyum saat melihat wajah kaget Mbok Siti. "Mbok, Mama tidak pasang CCTV di sini 'kan?" tanya Mas Alex pada Mbok Siti. "Tidak, Tuan, Nyonya besar sudah lama tidak ke sini lagi," jawab Mbok Siti. Sebenarnya aku bingung dengan apa yang mereka bicarakan, tetapi aku tidak berniat bertanya karena berpikir kalau hal seperti itu bukanlah urusanku. "Baguslah." "Tolong antar dia ke kamar, Mbok, saya harus pergi karena ada banyak pekerjaan yang menanti saya." Aku langsung menoleh ke arah Mas Alex begitu dia mengatakan itu. "Mas Alex akan pergi bekerja?" tahunya terkejut. Bagaimana tidak terkejut? Baru kemarin kami menikah dan Mas Alex tiba-tiba hari ini sudah bekerja, bukankah seharusnya ia mengambil cuti pernikahan? Sama sepertiku yang memilih menutup butik karena ingin libur beberapa hari setelah menikah. "Iya, ada banyak pekerjaan yang harus kulakukan di kantor," ucapnya. "Aku pergi dulu, tolong ya, Mbok." Usai mengatakan itu, ia benar-benar pergi dari hadapanku dan Mbok Siti. Aku menatap kepergian Mas Alex dengan tatapan kecewa. Aku merasa kecewa karena setelah pernikahan kami, Mas Alex tidak tinggal di sini lebih lama untuk menghabiskan waktu bersamaku. Sekadar mengenalkan bagian-bagian rumah ini atau mengobrol bersama. "Nyonya jangan merasa heran, Tuan Alex memang seperti itu. Dia sangat mencintai pekerjaannya, baginya pekerjaan itu nomor satu. Dia tidak mau kalau sampai pekerjaannya terbengkalai kalau ditinggal." Suara Mbok Siti membuatku menoleh ke arah beliau, aku hanya bisa mengulas senyum dan mengangguk paham dengan apa yang Mbok Siti katakan. Walaupun sebenarnya aku tidak ingin paham dengan hal itu, anggap saja aku egois karena ingin suamiku tetap di sini. Namun, aku memang ingin Mas Alex ada di sini, tak apa jika ia memang ingin langsung pergi ke kantornya, tetapi apa tidak bisa ia libur hari ini dan baru esok ia mulai bekerja? "Ayo, Nyonya, saya antar ke kamar," ucap Mbok Siti. "Ah iya, Mbok." Aku mengikuti Mbok Siti yang menaiki anak tangga, hingga akhirnya kami tiba di sebuah kamar yang dalamnya sangat luas dengan kasur ukuran king size. "Mbok sangat senang sekali karena akhirnya Tuan Alex bisa menikah, apalagi Mbok bisa lihat kalau Nyonya ini orang yang baik. Nyonya besar sempat bilang sama saya kalau beliau sangat ingin menjadikan Nyonya menantunya, akhirnya keinginan Nyonya besar tercapai. Saya ikut senang," ucap Mbok Siti. "Mbok udah kerja lama ya sama keluarga Mas Alex?" tanyaku. "Iya, Nyonya, dari Mas Alex kecil sampai sekarang semuanya Mbok yang ngurusin." Aku mengangguk, pantas saja tadi Alex terlihat akrab dengan Mbok Siti. "Mbok berharap kalau Mas Alex bisa melupakan masa lalunya setelah menikah dengan Nyonya." Mendengar perkataan Mbok Siti membuatku menoleh ke arah beliau, aku bingung dengan perkataan Mbok Siti. Apa maksudnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD