Perkara Coklat

722 Words
"Kayaknya gue.... punya banyak coklat di rumah" Alfian berkeringat dingin setelah mengatakan itu. "HAH?!" Serempak mereka. Alfian melirik ke arah Kanaya untuk melihat reaksi gadis pecinta manis itu. Dapat di lihat Kanaya asik memakan coklat pemberian Manuel dengan senyum nya yang terlihat sangat bahagia. Kanaya bahagia karena Coklat... "Lo gugup Fi?" Ledek Manuel. Wajahnya tampak menyebalkan, dengan memainkan kedua alisnya naik turun. Alfian mendengus kesal, ia menendang kaki Manuel yang berada tepat di hadapannya, bersebelahan dengan Kanaya duduk. "Awwww..." Semua nya yang berada di meja itu tersentak kaget, mendengar jeritan kesakitan yang berasal dari Kanaya. Alfian panik, melihat mata Kanaya yang berkaca-kaca. Manuel juga terlampau panik. Kanaya jika sedang datang bulan, maka mood nya akan sering berubah. "Sakit..." Lirihnya dengan air mata yang mulai merembes keluar, membasahi kedua pipi mulusnya. "Ehhhh??? Jangan nangis Nay! Apanya yang sakit?? Biar gue sembuhin" Dengan panik Andhara memeriksa tubuh Kanaya secara keseluruhan. "Kaki.... Hiks.... Kaki gue sakit.... Di tendang Alfian... Hiks" Dengan sengsenggukan, Kanaya menjelaskan. "Gak sengaja. Maaf" Alfian terlampau panik untuk meminta maaf secara panjang lebar. "Heh!!! Kanaya emang ngapain elo?" Dengan geram Bianca melotot tajam ke arah Alfian. Manuel dengan segera berlari untuk membeli kue brownies coklat kesukaan Kanaya. Hanya itu yang dapat ia lakukan untuk meredakan tangis Kanaya. "Hiks..... Sakit" Bisma dan Liam tercengang. Bingung ingin melakukan apa, mereka terkejut dengan Kanaya yang menjadi begitu sensitif ketika datang bulan. Manuel kembali dengan banyak sekali brownies coklat yang tampak sangat lezat. Ketika netra yang berair itu melihatnya, tangisnya berhenti di gantikan dengan tatapan berbinar dan senyuman yang lebar. Mood Kanaya bisa cepat berubah dengan coklat.... Hanya Coklat, catat itu. "Nih buat lo semua, makan semuanya abis tu gue anterin pulang biar lo bisa tidur" Dengan nafas yang terengah, efek berlari. Manuel berbicara dengan Kanaya sembari memberikan tas kertas yang berisi segala macam Brownies kesukaan Kanaya. Manuel sudah menebak bahwa Kanaya akan mengalami perubahan Mood, yang akan sulit di hadapi tanpa makanan manis. Oleh sebab itu, ia membeli banyak sekali makanan manis di mobilnya untuk berjaga jaga. Sungguh Kakak yang siaga. "Hiks.... Makasih Ima" Dengan senang Kanaya meraih tas itu, dan mulai memakan satu persatu Brownies itu. Semuanya menghela Napas lega.... ••• Kanaya mengerjapkan matanya, ia melirik ke sekitar kamarnya yang tampak sedikit berantakan. Dan tampak Manuel yang tertidur di sebelahnya, dengan memeluk guling kesayangan Kanaya. Untuk kali ini, ia akan membiarkannya. Kanaya sudah cukup puas dengan perjuangan kakak laki-laki nya itu untuk mengembalikan moodnya seperti biasa. Setelah menghabiskan banyak Brownies yang Imanuel siapkan tadi. Kanaya mengeluh ngantuk, dan kemudian tertidur di pelukan Manuel saat ia di gendong menuju mobil. Dengan sedikit kekuasaan yang keluarga Dananjaya miliki, mereka bisa keluar dengan santai untuk membolos sekolah. Lagi pula, sekolah itu milik keluarga Dirgantara. Jadi ia bisa melakukan apapun. Netra biru terang yang Kanaya miliki menangkap pergerakan di sebelah kirinya. Tampak Manuel yang sedang mengerjapkan matanya. "Dah bangun lo?" Suara berat khas orang bangun tidur, menyapa pendengaran Kanaya. Gadis bermata biru itu memutar bola matanya malas, sungguh pertanyaan yang tak perlu di jawab. "Belom, gue masih tidur!!" Dengan kesal Kanaya bangkit menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah mencuci muka, Kanaya keluar dari kamarnya untuk menuju dapur, untuk memasak sesuatu. Tampak Manuel yang sedang menonton televisi Di ruang tengah. Tampak santai dengan setoples keripik singkong kesukaan Kanaya. Sekali lagi Kanaya biarkan karena Manuel berjasa hari ini. Kanaya membuka kulkas, ia melihat berbagai macam bahan masakan. Kanaya meraih d**a ayam yang telah di bersihkan. Tak lupa ia mengambil bahan bahan yang dibutuhkan untuk membuat Spaghetti. Kali ini Kanaya mengganti daging sapi dengan daging ayam. Setelah 20 menit berkutat di dapur, Kanaya berhasil menyajikan Spaghetti satu porsi, lengkap dengan Jus jambu instant sebagai minumnya. Manuel yang mencium harum makanan, bergegas menuju ke tempat Kanaya berada. Matanya berbinar cerah melihat seporsi besar Spaghetti yang tampak menggugah selera. Kanaya makan dengan tenang tanpa menghiraukan keberadaan Manuel yang tampak meneteskan air liurnya. "Bagi Nay" Pinta remaja itu. Dengan berat hati Kanaya memberikan sepiring Spaghetti beserta garpu, bermaksud agar Manuel menyuap sendiri. Tapi nyatanya..... "Enak banget Nay!! Lo the best kalo soal masak gini" Sepiring Spaghetti yang baru Kanaya makan 2 suap, telah habis tak tersisa Karena Manuel. "IMA ANJ*NG" Umpat Kanaya kasar. Ia sudah cukup bersabar dengan Imanuel yang bertingkah seenaknya di apartemen miliknya. Manuel terperanjat kaget mendengar u*****n Kanaya. Ia mengerjapkan matanya begitu sadar apa yang telah ia perbuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD