Alfian mengendarai mobil miliknya menuju Apartemen Kanaya. Setelah mendengar penjelasan dari 'calon mertua' nya. Alfian bersorak senang dalam hati.
Tak butuh waktu lama, Alfian tiba di apartemen Kanaya. Dengan tidak sabaran Alfian memencet bel pintu Apartemen Kanaya.
Ia sedikit merapikan penampilan nya, dengan gugup. Butuh sekitar lima menit untuk Kanaya membuka pintu itu.
Dengan penampilan Kanaya yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah, ia menatap Alfian dengan kening berkerut.
Ngapain buaya kesini batinnya bertanya-tanya.
"Ekhemm....." Alfian berdehem untuk menarik perhatian Kanaya yang tampak sedang memikirkan sesuatu. "...Bareng" kata Alfian singkat. Saking gugup nya, ia tak bisa banyak berkata kata.
"Gue mau berangkat sendiri, mending lo pergi" Kata Kanaya acuh. Ia keluar dari Apartemen dan menutup pintunya dari luar. Meninggalkan Alfian yang terdiam di depan pintu Apartemen nya dengan tampang bodoh.
"Kenapa?" Tanya Alfian setelah sadar, dan berlari untuk menyamai langkah nya dengan Kanaya.
Menurut Alfian, Kanaya tampak mengeluarkan aura seram tak kasat mata. Yang membuat Alfian merasa sedikit takut. Kanaya hanya melirik kearah laki laki yang menjadi pilihan orang tuannya ini. Mungkin bagi sebagian orang, Alfian adalah sosok yang mendekati kata sempurna.
Alfian itu TAMPAN di tambah lagi ia berasal dari keluarga yang baik dan terkenal memiliki banyak harta. Alfian juga mempunyai otak yang terbilang cerdas, dan itu menambah nilai plus dalam dirinya.
Tapi bagi Kanaya, Alfian tak lebih dari serangga pengganggu yang orang tuanya hadirkan untuknya. Alasan utama kenapa ia di jodohkan adalah agar Kanaya ada yang menjaga.
Tapi menurut Kanaya sendiri, alasan itu terlalu konyol.
"Gue nanya..." Lamunan Kanaya buyar akibat suara berat Alfian yang berada di telinga kirinya. Membuat Kanaya sedikit geli akibat napas panas Alfian yang menerpa kulit lehernya.
"Gak papa, gue males sama lo.." Kanaya menggeser tubuhnya ke arah kanan lift.
Mereka saat ini berada di dalam lift menuju lantai bawah.
"Males?" Tanya Alfian dengan menaikkan sebelah alisnya, pertanda ia bingung dengan perkataan Kanaya.
"Ck!!! Gak usah banyak omong bisa gak?" Kanaya jadi kesel sendiri denger ucapan Alfian.
Haaaaaaah........
Hari ini, hari pertama Kanaya kedatangan tamu bulanan, jadi ia sedikit sensitif. Ditambah lagi, semalem Kanaya habis menonton film, dengan alur yang menurutnya sangat sedih.
Kira kira begini ringkasan alurnya.
Ada sepasang suami istri yang hidup harmonis, sang istri saat itu sedang hamil tua, lebih tepatnya 8 bulan. Tinggal menunggu 1 bulan lagi, agar mereka bisa bertemu sang buah hati pertama mereka.
Namun tanpa di sangka, saat sang istri sedang keluar untuk membeli keperluan rumah, ia memergoki sang suami yang sedang berciuman mesra dengan perempuan lain. Hal itu membuat sang istri terbakar rasa cemburu hingga melabrak sang perempuan.
Bukannya membela sang istri, suami itu malah membela perempuan selingkuhan nya, dan lebih parah nya lagi sang suami mendorong istrinya hingga jatuh. Hal itu menyebabkan bayi yang di kandung istrinya harus mati, akibat bentrokan.
Mengingat film yang ia tonton semalam, membuat Kanaya semakin terbakar amarah. Ia sebagai kaum wanita tidak terima akan hal itu.
Entah itu karena pengaruh mood dari efek datang bulan, atau memang Kanaya bersimpati dengan wanita yang ada di film itu.
"Gue pernah bu-"
"DIEM BISA GAK!?" Teriak Kanaya kesal.
Ia langsung berjalan cepat menuju mobilnya, tanpa menghiraukan Alfian yang terkejut.
Gue salah apa??? Batin Alfian bertanya tanya.
•••
Setelah insiden di lift tadi, kini Alfian sedang merenung di bawah pohon belakang sekolahnya. Ia berpikir kembali apa yang telah ia perbuat hingga membuat Kanaya menjadi sangat kesal dengannya.
Padahal niat awalnya, ia ingin mendekatkan diri lagi dengan Kanaya. Tapi malah berakhir mengenaskan.
"Oyy... lesu amat!! Gak dapet jatah lo?" Dengan tidak berperasaan Bisma datang menepuk keras pundak Alfian yang sedang galau.
"Jatah jatah... Matamu!!" ketus Imanuel yang mendengar ucapan Bisma. "Ada yang lagi jadi kakak posesip nich" Dengan suara yang di buat buat agar terdengar centil, Bisma membalas.
Dengan kesal, Imanuel memukul kepala belakang Bisma.
Tanpa menghiraukan keributan yang kedua teman gilanya lakukan, Liam duduk di samping Alfian.
"Kenapa?" Tanya Liam.
"Gak tau ada apa, tapi tiba tiba Kanaya marah ke gue" Adu Alfian.
Mendengar ucapan Alfian, Imanuel segera mengecek ponselnya untuk melihat kalender. "ya pantes lo di amukin..." Alfian menatap Imanuel sengit. Buru buru Imanuel melanjutkan ucapannya, "... Tu bocah lagi datang bulan, suka menjelma jadi iblis dia kalo lagi kedatangan tamu bulanan" Jelas Imanuel.
"Kayaknya bukan cuma sih Kanaya doang deh yang ganas pas datang bulan, nyokap gue setiap bulan suka ngelempar golok ke bokap kalo kesel" Jelas Bisma.
Mereka menatap tak percaya ke arah Bisma, "Bokap lo masih idup?" Tanya Manuel mewakili semuanya.
"Masih lah, orang golok mainan" Jawab Bisma santai.
Dengan kesal Liam menendang kaki Bisma yang berdiri tepat di hadapannya. Mereka pergi menginggalkan Bisma yang meraung kesakitan.
Temen bangs*t Umpat Bisma dalam hati.
•••
Kanaya menatap para laki-laki tampan di hadapannya dengan jengah. Tangan mungil gadis itu sibuk menyuapkan coklat ke mulutnya.
Coklat adalah obat dari segala permasalahan mood Kanaya. Dan tentu saja Manuel mengetahui itu lebih baik dari Alfian.
Berbeda dengan Kanaya yang acuh kepada para laki-laki di hadapannya, Bianca justru sibuk mengagumi ciptaan Tuhan yang sangat indah ini.
Semakin hari Manuel semakin tampan saja, Bianca jadi tidak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta lebih dalam.
Andhara menatap Bianca dengan tatapan jijik, seolah ia tau apa yang Bianca pikirkan. Sedangkan Laurent sendiri sedang menenangkan pikirannya yang sedang kalut, ia mencoba tetap menjaga sikap ketika di tatap sedemikian rupa oleh Bisma.
Bisma itu tampan, namun gebetannya banyak. Uniknya ia belum pernah berpacaran, bisa di sebut playboy kelas cupu.
"Kenapa sih, ngeliatin gue mulu? Gak pernah liat orang cantik lo?" Sinis Kanaya ketika melihat Alfian yang sedari tadi menatapnya terang terangan.
"Elah Nay, galak amat... Ntar gak ada yang suka lohhh" Canda Bisma.
"Bukan urusan lo juga" Ketus Kanaya.
Bisma bungkam. Benar kata Imanuel, Kanaya akan menjadi iblis ketika datang bulan. Bahkan menurut Bisma, Kanaya lebih dari iblis.
"Dek makan lagi nih coklat nya, yang banyak biar mood lo agak bagusan dikit" Manuel dengan pengertian (?) memberikan banyak coklat. Manuel tidak mau jika akan ada korban lagi selain dirinya.
Kanaya pernah melempar Manuel dengan vas bunga ketika laki-laki itu tak sengaja memakan kue coklat kesukaan Kanaya.
Miris...
"Berisik Ima!! Tanpa lo suruh juga bakal gue makan nih coklat" Dengan kasar Kanaya menghabiskan seluruh coklat yang Imanuel berikan untuknya.
"Kek macam lo Nay" Celutuk Andhara yang sedari tadi mengamati Kanaya.
"Lo lebih parah dari gue!! Diem!" Tukas Kanaya.
"Ekhemm.... " Deheman Liam mengalihkan perhatian semuanya.
Laki laki tampan itu jengah dengan pertengkaran manusia manusia tidak berguna ini.
"Fian cepet omongin ke Kanaya, gue gak mau nemenin lo lagi!" Liam memberikan tatapan tajam ke arah Alfian, seolah menyuruhnya segera berbicara.
"Ekhemm." Dehem Alfian "Kayaknya gue.. ...."
Bersambung....