Ada banyak alasan saat Allah mempertemukan dua orang yang saling mencintai dan sempat saling memiliki. Salah satunya untuk dipersatukan kembali atau bisa jadi sebaliknya.
***
Malam semakin larut dan hening. Langit pun sepi, tanpa bintang. Seorang diri aku diam di balkon kamar. Sampai tiba-tiba terdengar langkah seseorang masuk. Perlahan kepalaku bergerak, menoleh. Papa, dia yang datang. Pria pensiunan Jenderal itu langsung mendekat dan berdiri di sampingku. Dipeluknya tubuh ini dari samping, hangat terasa berada dalam pelukannya.
"Ini sudah malam. Kenapa belum tidur?" tanya Papa dengan suara bass-nya.
"Aku belum mengantuk, Pa."
"Mau berapa hari lagi kamu tidak tidur, Sayang?"
Aku otomatis terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Perlahan aku merasakan jemari Papa membelai kepala begitu lembut. Satu tetes butiran kristal ini pun akhirnya terjatuh. Berada di posisi seperti ini, berdua saja dengan Papa membuatku tak bisa mengendalikan emosi.
"Papa dengar Reno datang ... dan dia yang membuat kamu kembali seperti ini?" Papa bertanya, kemudian membalikkan badanku menghadapnya.
Cairan bening dalam netraku sekali lagi jatuh. Papa langsung memelukku erat sekali. Dalam hidupku hanya ada dua laki-laki yang selalu mencintai tanpa syarat, Papa dan Bang Fauzan. Di bahu Papa emosiku kembali meluap; terisak melepaskan sesak di dalam d**a.
Adakah yang pernah mengalami masa-masa seperti ini? Setiap kali mencintai, selalu saja ditinggalkan. Takdir baik seperti tidak pernah berpihak. Satu per satu dari mereka ditarik mundur dan pergi menjauh. Mengingat semua itu tangisanku semakin menjadi, tak tertahankan.
"Sabarlah ... Allah masih menunda kebahagiaanmu. Bukankah kamu sendiri yakin, jika Allah telah persiapkan laki-laki terbaik untukmu?"
Papa lepas pelukannya. Menangkup wajahku dengan kedua telapak tangan. Dia seka air mataku yang sejak tadi tak hentinya mengalir. Sorot matanya menyimpan duka yang selalu dia sembunyikan.
"Maaf, selalu buat kalian cemas ...!" Lirih suaraku, kemudian tertunduk.
Aku memang bodoh; tidak berguna; bisanya hanya membebani mereka saja. Seharusnya saat itu Allah biarkan aku pergi.
Papa tidak mengatakan apa pun. Dia kembali mengeratkan pelukannya, seolah mengerti apa yang sedang kupikirkan. Beberapa saat kemudian, Papa lepas pelukannya.
"Istirahatlah ... Ini sudah malam. Jangan menyiksa dirimu seperti ini. Papa sedih, Sayang."
Dikecupnya ujung kepalaku sebelum pergi meninggalkan kamar. Papa selalu berhati-hati setiap kali berbicara denganku. Juga tidak pernah banyak bicara saat kondisiku seperti ini. Sungguh aku pun lelah selalu berhadapan dengan situasi seperti ini. Pikiran selalu kacau, seperti seseorang yang kehilangan arah.
***
Baru saja pukul sembilan, seseorang datang ingin bertemu. Mama yang memberitahu. Sebenarnya masih tidak ingin bertemu dengan siapa pun, tetapi mama bilang Ratna yang datang. Sempat bingung dari mana dia tahu alamat rumahku?
"Kamu tidak mau temui Ratna juga?"
Mama kembali membuatku tersadar. Setelah beberapa saat berpikir, tidak enak juga kalau menolak menemuinya. Barangkali dia ada perlu. Setelah mengatakan aku akan turun, Mama pergi. Sekalian pamit ke kafe di antar Papa.
"Zi pergi, yuk!" ajaknya begitu aku tiba di ruang tamu.
Dahiku mengernyit, bingung. Tanpa kabar dia datang dan langsung mengajak pergi. Rasanya tidak enak kalau harus menolak. Terpaksa aku menyetujuinya. Segera saja aku kembali ke kamar untuk bersiap-siap.
Saat kembali, Ratna sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Rupanya itu Anggi. Dia sempat menyebut namanya.
"Kita mau ke mana?" tanyaku merasa penasaran.
"Udah ikut aja."
Ratna tidak mau memberitahu. Mobilnya mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah. Dia putar musik sedikit kencang. Sembari ikut bersenandung. Sementara aku hanya diam. Menikmati jalanan macet di balik jendela.
"Ini kita sebenarnya mau ke mana?" tanyaku memecah keheningan.
Ratna melirik sekilas. "Ke rumah Anggi. Kita berempat udah lama enggak kumpul. Sepertinya lo lupa, kalau hari ini Anggi ulang tahun. Gue sama Mel sengaja ngajak ketemuan di rumahnya dia. Soalnya kita udah siapin kejutan buat dia."
"Andri," sambungnya lagi.
Mataku membeliak begitu mendengarnya. Apa maksudnya dengan Andri yang dijadikan sebagai kejutan?
"Sadar atau enggak, mereka itu sebenarnya masih saling cinta. Hanya saja gengsi mereka terlalu tinggi. Gue selalu lihat kebahagian di mata Anggi setiap kali bertemu Andri. Sekalipun laki-laki itu selalu bertingkah menyebalkan."
Apa yang dikatakan Ratna sejalan dengan apa yang kupikirkan. Mereka memang terlihat masih saling mencintai. Meski kerap saling mengganggu dan terlihat tidak akur, itu sepertinya hanya cara untuk menyembunyikan perasaan mereka. Itu juga salah satu cara agar mereka bisa tetap dekat.
"Kok, diam?"
"Enggak." Aku menggeleng pelan, "aku mikir kaya gitu juga, Na. Terus kejutannya seperti apa?"
Di balik kemudinya, Ratna terlihat menerawang sembari mengulas senyum. "Lihat aja nanti. Pokoknya sesuatu yang akan membuat mereka kembali bersatu."
Dia kini menatapku. "Gue pengin Anggi bisa bahagia. Seperti Melisa yang juga bahagia, karena akhirnya dia bisa dapetin Reno."
Aku langsung diam begitu dia menyebutkan nama Reno. Entah sengaja atau tidak Ratna mengatakan semuanya. Seperti tidak sedikit pun peduli akan perasaanku. Tak lama laju mobilnya berhenti. Dia bunyikan klakson berulang kali. Sampai Anggi datang untuk membantu membuka gerbang. Kami turun dan Anggi langsung memelukku.
"Akhirnya kita kumpul dengan personil lengkap," ujarnya, kegirangan.
"Mel udah datang?" tanya Ratna.
Anggi mengangguk. Ratna segera masuk tanpa menunggu ajakan dari tuan rumah. Kami pun menyusul. Perempuan bersuara cempreng itu menarik tanganku untuk masuk. Langkah kaki terasa berat saat pintu masuk semakin dekat. Rasanya tidak siap untuk bertemu dengan Melisa.
"Hai, Zi!" Melisa tampak tersenyum. Namun, terlihat kaku sekali.
Aku pun membalas sapaannya. Dia pun bergerak, lalu tiba-tiba memelukku. Hati wanita itu seperti lautan rahasia. Mampu menyembunyikan perasaan terdalamanya yang bahkan bisa tak diketahui siapa pun; penuh dengan kebohongan; tampak baik-baik saja Padahal kenyataannya tidak, aku merasa sakit dan pastinya denhan . Mungkin seperti itu gambaran hatiku dan juga Melisa.
"Gue pikir ... kita berempat gak akan pernah bisa kumpul bareng-bareng lagi." Suara Anggi membuat pelukanku dan Melisa terlepas.
Momen seperti ini memang sudah jarang. Padahal sebelumnya kami dekat tanpa sekat. Namun, sekarang kondisinya jauh berbeda. Bahkan ini yang pertama kalinya berempat kami berkumpul, setelah sekian lama.
"Tunggu! Kalian beneran enggak bawa apa-apa?" tatapan Anggi menyelidik, dengan bibir yang mengerucut.
"Emangnya, lo mau dibawain apa? Tadi lo, enggak pesan apa-apa perasaan, deh!" balas Ratna santai, sembari menikmati camilannya.
"Kejutaaan!"
Kedatangan Andri benar-benar mengejutkan kami semua. Anggi terutama. Dia sampai membeliakan mata, menatapnya seolah tidak suka. Namun, itu tidak benar-benar menunjukkan perasaannya. Karena dalam hatinya, aku yakin dia senang dengan kedatangan Andri.
"Lo pengin kejutan, 'kan? Tuh, kejutannya. Kita bawakan mantan tercinta sebagai kejutannya," ujar Ratna lagi-lagi santai.
"Gue mending enggak dapat kejutan sama sekali. Dibandingkan harus dia yang jadi kejutannya." Anggi bergidik, mendelik, laku hendak pergi. Namun, Andri berhasil mencekal tangannya.
"Jangan dulu pergi. Gue ada sesuatu buat, lo."
Andri keluar dan Anggi mematung tak bergerak sama sekali. Bahkan matanya hanya berkedip pelan. Selang beberapa saat laki-laki itu datang dengan kue cokelat di tangannya. Langkahnya semakin dekat menuju Anggi.
"Selamat ulang tahun, Gi." Laki-laki itu tersenyum, sedangkan Anggi terlihat mati gaya.
"Apa harapan lo di usia sekarang ini?"
Laki-laki itu benar-benar menunjukkan sisi lainnya. Aku bahkan tidak mengira laki-laki menyebalkan seperti Andri akan bisa seserius itu. Jantungku dibuat berdebar menyaksikannya, apalagi Anggi.
"Lo, gak perlu ucapin apa-apa. Cukup ucapin dalam hati, lalu tiup lilinnya," lanjutnya lagi.
Anggi kemudian pejamkan mata. Entah doa apa yang dia minta. Namun, aku yakin itu sangat berarti.
"Aamiin!" Andri mengamini usai lilin itu mati.
Aku dan yang lainnya menahan tawa, melihat Anggi dan Andri yang bersikap tidak seperti biasanya.
"Lo, pasti baper, ya."
Andri mencolek hidungnya dengan cokelat dari kue. Dia kemudian tergelak, membuat Anggi mulai naik darah kembali. Anggi pukul dan cubit lengannya. Hampir saja kue itu jatuh, beruntung Reno cepat menangkapnya. Ratna ikut terbahak melihat mereka yang kembali pada tabiatnya masing-masing. Seperti kucing dan tikus. Sementara itu Reno yang baru saja datang terlihat tidak nyaman. Sama seperti yang aku rasakan.
Diam-diam tanpa sengaja aku melihat Melisa memperhatikan kami. Rasanya semakin membuatku tidak nyaman. Seperti kucing yang diawasi, karena takut mencuri ikan.
Ponsel Reno kemudian berdering. Dia menepi untuk mengangkatnya. Tiba-tiba Melisa ikut beranjak, menghampiri Reno yang sedang berbicara dengan seseorang di balik telepon.
"Laki gue udah gak main basket. Udah, deh! Gak usah ngajak-ngajak laki gue lagi," ujar Melisa setelah merebut ponsel dari tangan Reno.
Reno langsung merebutnya lagi. Lalu memutuskan panggilan itu. Raut wajahnya tampak kesal dan emosi. Tidak jauh dari mereka aku memperhatikannya.
"Kamu kenapa sih? Arsyad cuma ngajak aku main basket." Nada suara Reno tinggi.
"Aku enbgak suka kamu main basket lagi!" tegas Melisa.
"Kenapa? Aku sudah main basket sejak aku kecil. Bahkan sebelum mengenalmu."
Mereka saling bertengkar di teras rumah. Seolah tidak pedulikan kami yang juga ada di sana. Suasana kini jadi mencekam. Anggi dan Andri pun menghentikan aktivitas saling mengganggunya. Rasanya tidak enak menyaksikan pertengkaran seperti itu.
"Itu yang buat Reno susah buat lupain lo, Zi," ucap Andri membuat perasaanku tak menentu.
"Apa maksud, lo?" Ratna menatapnya tajam. Dia selalu menunjukkan perasaan tidak suka, jika masa laluku dan Reno diungkit.
"Gue ngomong apa adanya, Na. Bersama Zizi dia bisa melakukan apa pun yang dia suka. Ruang geraknya tidak pernah dibatasi. Dia bisa menikmati dunianya. Seharusnya Melisa belajar dari Zizi. Seburuk apa pun sikap dan kelakuan Zizi dulu ... yang sangat egois, kasar dan mudah sekali marah, tapi dia mampu memahami Reno dengan sangat baik."
Tenggorokanku mendadak tercekat. Bahkan sulit untuk sekadar menelan ludah. Andri adalah saksi perjalananku dan Reno. Dia tahu semuanya.
"Menuju pernikahan memang selalu dihadapkan berbagai ujian. Hal kecil pun akan menjadi besar. Kalian tenang aja. Itu hanya pertengkaran biasa," ujarku menyela perdebatan mereka.
"Dan kembalinya, lo, adalah masalah besar buat mereka!"
"Na ... apaan, sih?" ujar Anggi dengan sedikit membelalakkan matanya.
"Mel itu sebenarnya udah suka sama Reno dari zaman SMA. Bahkan dari sebelum kalian jadian. Mirisnya Reno malah deketin dan suka sama, lo," ucapnya kasar.
Ternyata mereka juga tahu. Aku merasa bodoh sendiri. Hanya aku yang tidak tahu semua itu.
"Gak usah nyalahin Zizi, Na! Pada kenyataannya memang Reno yang gak bisa move-on." Andri berada di pihakku.
"Iya, Na. Kenapa, lo jadi memojokkan Zizi kaya gini, sih? Kita itu gak bisa mengendalikan perasaan Reno."
"Tapi, seharusnya Zizi bisa mengendalikan diri dan juga perasaannya. Sekarang Reno itu milik Melisa. Sebentar lagi mereka menikah, apa pantas Reno dan Zizi diam-diam masih suka bertemu? Kebayang enggak, sih, kalau Melisa tahu? Lo gak mikir itu, 'kan, Zi?"
Spontan aku menoleh. Bagaimana Ratna tahu? Andri dan Anggi pada akhirnya bungkam. Sementara itu aku hanya bisa diam. Jalan ini memang begitu rumit. Aku pun sulit dan berat untuk menjalaninya. Namun, bagaimana lagi? Ini adalah bagian dari takdir kami.
"Dari dulu, lo itu emang egois. Gak pernah peduli sama perasaan orang lain!"
Melihat sikap Ratna, dia begitu keras membela Melisa. Aku mungkin tidak sengaja telah menyakitinya. Itu pun, karena benar-benar tidak tahu kalau Melisa juga mencintai Reno, tetapi di sini bukan hanya Melisa yang punya hati. Aku pun punya. Sama sepertinya, yang juga merasakan hal yang sama. Aku pun terluka mengetahui semua itu.
Aku mengerti, ada banyak alasan saat Allah mempertemukan dua orang yang saling mencintai dan sempat saling memiliki. Salah satunya untuk dipersatukan kembali atau bisa jadi sebaliknya. Aku hanya diam membiarkan Ratna berkata apa pun yang dia mau.
"Lo, sih, mancing-mancing!" ujar Anggi menyikut Andri.
"Gue ngomong apa adanya, Gi!" Andri kemudian mendekat kepada Ratna, "Na, seharusnya lo tidak menutup mata. Gue yakin lo pun sadar, kalau Reno selama ini tertekan bersama Melisa."
Ratna diam tidak lagi berkomentar. Dia duduk dengan bersandar pada bahu kursi. Anggi turut duduk mendekat kepadanya.
"Kita seharusnya enggak berdebat soal ini. Baik Mel ataupun Zizi, mereka sama-sama sahabat kita."
Aku sungguh menyesal tidak menolak ajakan Ratna. Jika aku tidak ada, sahabat-sahabatku tidak akan saling berdebat seperti ini. Sementara itu, di luar Melisa dan Reno juga masih terlibat pertengkaran. Aku semakin dibuat tidak nyaman.
"Sebaiknya obrolan ini tidak perlu diteruskan. Aku pamit, ya. Maaf sudah menjadi penyebab keributan kalian. Assalamualaikum."
Begitu aku keluar, Reno dan Melisa hentikan pertengkaran. Kami sempat saling menatap satu sama lain. Tanpa mengatakan apa pun, aku pergi begitu saja; melangkah dengan sendu dan membawa luka baru dalam hatiku.