di Persimpangan Dilema

1832 Words
"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. Qaf 50: Ayat 16). *** "Teh, ada tamu." Bibi melongok di daun pintu, membuatku terkejut. "Siapa, Bi?" "Anu, emmm ... itu." Wajah Bibi kuperhatikan gugup. Siapa sebenarnya yang datang? Bibi benar-benar aneh. Daripada penasaran segera aku menghampirinya. "Siapa sebenarnya yang datang, Bi?" tanyaku memastikan dan Bibi hanya melihatku tanpa menjawab. "Bibi ini, enggak jelas. Ya, sudah aku turun saja, Bi." Aku balik ke kamar; mengganti jilbab dengan jilbab instan yang tergeletak di atas tempat tidur dan langsung pergi. Begitu sampai di ruang tamu, kulihat seseorang tengah duduk seorang diri dengan tangan menopang kepala. Aku menoleh, Bibi langsung tertunduk. "Maaf, Teh. Tadi ...." Belum selesai Bibi bicara aku langsung pergi menemuinya dengan napas yang tak beraturan. Begitu menyadari kedatanganku, kepala laki-laki itu terangkat. "Ada apa lagi, No? Sudah aku tegaskan, jangan pernah menemuiku lagi! Apa peringatanku masih kurang jelas?" "Dua bulan lagi aku menikah, Zi," katanya menghiraukan amarahku. Aku langsung terdiam mendengar kabar itu. Kulihat sepasang netranya berkaca-kaca, hingga akhirnya satu tetes cairan beningnya terjatuh. Luar biasa, ini kabar yang luar biasa. Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak. Ribuan belati seolah baru saja menancap tepat di ulu hati. Lidah sungguh kelu. Mata pun rasanya perih menahan air yang siap meluncur kapan saja. "Apa kamu tidak ingin mencegahnya, Zi?" Aku tidak mampu menjawabnya. Tidak! Sungguh aku tidak bahagia mendengar itu, tetapi bagaimana bisa aku mencegahnya? Allah, buat aku mengerti. Ini adalah jalan-Mu. Buat aku menerima ketentuan-Mu dengan ikhlas. "Zi, tolong cegah aku! Jangan biarkan pernikahan itu terjadi!" Reno berdiri dan menatapku sangat serius. Aku tidak ingin terjebak oleh tipu daya setan untuk merebut kembali Reno dari Melisa, apalagi mengikuti hasrat dan menjadi jahat dengan mengambil yang bukan hakku. Meski hati ini terus meronta untuk kembali bersamanya. "Kenapa aku harus mencegahnya?" tanyaku, memberanikan diri untuk menatapnya, "Bukankah keputusan untuk menikahi Melisa, itu keputusanmu sendiri?" "Itu karena aku pikir kamu sudah menikah, Zi." Ada sesuatu yang tidak pernah bisa aku mengerti dari Reno. Dia tidak pernah main-main dalam mengambil keputusan. Lantas kenapa sekarang dia seperti sedang bermain-main? Dia seperti bukan Reno yang aku kenal dulu. Laki-laki bertubuh atletis itu terlihat begitu frustrasi. Mungkin takdir kami memang bukan untuk bersama. Aku pun hanya bisa pasrah. Kehilangan bukan sesuatu yang baru bagiku. Sebelumnya pun aku sudah pernah merasakan kehilangan yang lebih menyakitkan dari sekadar ini. "Aku takut, Zi ...!" Reno terisak dengan suara yang bergetar. "Apa sebenarnya yang kamu takutkan?" Reno tidak langsung menjawab. Tatapannya nanar, dengan cairan bening kembali jatuh basahi pipinya. "Aku hanya ingin menikah satu kali seumur hidup, Zi." "Semua orang menginginkan itu. Apa sebenarnya maumu?" "Setelah menikah aku hanya ingin mencintai istriku. Aku takut gagal melakukannya." Aku mendengkus dan memalingkan wajah. Reno benar-benar sudah hilang akal. Sekali lagi aku tegaskan untuk dia tidak lagi menggangguku. "Tapi aku masih mencintaimu, Zi!" Hatiku sungguh sakit mendengar kalimat itu. Jika bisa jujur, aku pun merasakan hal yang sama. Bagaimana ini? Allah, Engkau membuat jalanku tidak sejalan dengannya. Buat dia mengerti dan ikhlaskan hati ini. "Bagaimana jika aku membatalkan semuanya. Mau kah kamu menikah denganku, Zi?" Spontan aku mendongakkan kepala. Rasanya aku tidak percaya dengan apa yang diucapkan Reno. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu? Bagaimana pula aku akan menikahi seseorang yang telah mengkhianati sahabatku? "Omong kosong apa ini, Reno? Istigfar, No! Pernikahan adalah hal yang sakral. Tolong jangan pernah main-main!" "Aku tahu! Itu sebabnya aku hanya ingin menikah denganmu!" katanya keras kepala. "Kamu sudah meminta Melisa kepada kedua orang tuanya. Jangan menjadi pengecut dan bertindak bodoh seperti itu!" Emosiku semakin memuncak. Reno sudah gila. Aku tidak habis pikir, dia akan segila itu. Fahri melakukan itu padaku, bagaimana bisa dia akan melakukan hal yang sama pada Melisa? "Aku tidak pernah mau menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak mengerti dan tidak mau menghormati arti sebuah pernikahan. Sekalipun aku mencintai orang itu. Ingat itu, No!" sambungku dengan berat hati. Reno terduduk lemah, dengan napasnya yang terlihat naik-turun. "Zi, andai saja aku tahu akan batalnya pernikahanmu sebelum aku melamar Melisa." Aku turut terduduk tanpa menanggapi lagi. Allah, sungguh jalan-Mu begitu rumit untukku mengerti. Beri petunjuk untukku melewati semuanya. Jangan biarkan aku melangkah pada jalan yang salah. "Aku sebenarnya terpaksa menikahi Melisa, Zi." Tiba-tiba kembali dia bersuara. "Apa maksudmu?" tanyaku sungguh terkejut dan tidak mengerti maksud dari perkataannya. "Melisa sakit. Dia terkena gagal ginjal. Satu setengah tahun yang lalu kami bertemu di salah satu pusat perbelanjaan. Dia sendiri dan dalam keadaan pingsan. Aku segera membawanya ke rumah sakit. Dari situ aku merasa iba melihatnya. Selama dia tak sadarkan diri. Aku menemaninya hampir satu minggu. Setelah sadar dia bilang ingin menikah sebelum dia harus pergi dari dunia ini." Lagi, aku dibuat terkejut. Secara otomatis cairan dalam sepasang netraku mengalir deras. Entah sejak kapan dia sakit, aku tidak pernah mengetahuinya. Reno pun terus bercerita, hingga satu kenyataan lagi membuat d**a ini sesak. "Iya, dia sudah menungguku sejak SMA, Zi," ujarnya sekali lagi membenarkan. "Aku iba melihatnya tak berdaya. Dia selalu saja berkata tentang kematian. Hingga saat itu dia menyatakan perasaannya lagi dan aku tak punya pilihan selain berkata, ya," sambungnya lagi. Menyatakannya lagi? Itu artinya Melisa pernah menyatakan perasaannya kepada Reno? Aku masih belum mengerti. Reno tiba-tiba saja menoleh; menatapku, lalu berjalan menuju pintu yang sedari tadi terbuka. Dia duduk di kursi depan. Aku mengekorinya dan duduk di kursi yang satunya lagi. "Maaf, Zi ... dulu waktu kita masih SMA, Melisa sempat menyatakan perasaannya." Satu lagi kenyataan yang akhirnya aku tahu, ternyata Melisa sudah menginginkan Reno sejak masih denganku. "Tepatnya sehari sebelum kelulusan. Di parkiran sekolah, saat aku menunggumu sedang mengambil sesuatu yang tertinggal di kantin. Melisa menghampiriku." Reno diam, menjeda kalimatnya. Seperti ada sesuatu yang dia tahan. Aku masih menunggu dia melanjutkan kalimatnya. Meski sakit mendengar kenyataan, bahwa Melisa sudah lama mengincar Reno. 'Sekolah sebentar lagi berakhir. Aku harap bukan hanya sekolah yang selesai, tapi hubunganmu juga,' katanya lalu pergi. Dan itu bukan yang pertama kali dia menyatakan perasaannya, Zi." Melisa, sahabatku? Dia sudah mengkhianatiku? Bagaimana bisa? Cairan bening ini tak bisa lagi kubendung, terus mengalir dengan bebas. "Dan doa itu akhirnya tembus ke langit, No," responsku sembari tersenyum dengan menarik satu sudut bibir. Kenapa semua orang selalu mengkhianatiku? Apa aku tidak layak untuk bahagia tanpa ada seorang pun yang mengusik? "Lalu bagaimana bisa kamu melamar Melisa?" Aku sedikit tertarik dengan ceritanya. Rasa penasaran memaksaku untuk bertanya lagi padanya. "Dia baik. Dia selalu memberiku perhatian. Setelah tidak denganmu, aku tidak pernah lagi menjalin hubungan dengan wanita manapun. Melisa datang di waktu yang tepat. Di saat aku hampir saja gila saat mendengar kabar tentang pernikahanmu. Dia mengisi waktu dan pikiranku yang kosong karena kehilanganmu, Zi," jelasnya, kemudian melirikku. "Aku pikir tak ada salahnya menikah dengan dia. Setidaknya aku bisa memberikan dia semangat untuk tetap bertahan," lanjutnya lagi. Hening sesaat. Terdengar Reno menghela napas beratnya. Sementara aku memilih tetap diam, membiarkannya bercerita. "Semenjak aku melamarnya dia berubah. Melisa mendominasiku. Bahkan melarangku ini dan itu. Hingga berteman pun harus seizin dia, apalagi semenjak aku bertemu denganmu. Dia semakin over protective. Kamu tahu, 'kan? Aku tidak suka terlalu diatur." "Dia hanya takut kamu pergi meninggalkannya, No." Aku berusaha untuk kembali tenang. "Aku jadi merasa kurang nyaman, Zi." Aku diam. Bingung harus menjawab apa. Tidak ingin terlalu ikut campur dengan hubungan mereka. Seperti apa pun cara Melisa memperlakukan Reno. Itu adalah haknya. Aku pun lelah dengan semua ini. Aku masih saja terus memikirkan perihal Melisa yang sudah tertarik pada Reno sejak dia masih denganku. Bagaimana bisa Melisa seperti itu? Allah, rencana-Mu sungguh luar biasa. Bahkan, untuk hal sekecil ini pun aku tidak mengetahuinya; bertahun-tahun semua tertutup rapat, baru detik ini semua terbuka. "Aku dilema, Zi." Aku tetap diam tanpa meresponsnya. Sungguh aku tidak tahan dengan semua ini. Aku bingung seperti apa harus bersikap. "Apa yang harus aku lakukan? Melisa selalu mengancamku dengan mengatakan tentang kematian, yang membuatku tak memiliki pilihan lain." Ada apa dengan Melisa? Kenapa dia seperti itu? Apa karena dia benar-benar menginginkan Reno dan takut dia akan berpaling? "Aku ingin hidup bersamamu, Zi. Sungguh aku mencintaimu." Sesak d**a ini mendengar kalimat itu, tapi apa yang bisa kulakukan? Tidak ada! Seperti apa pun kenyataannya aku tidak ingin menjadi jahat dengan membalas berkhianat pada Melisa. Baik dan buruk, dia adalah sahabatku. Seraya mengucap basmalah dalam hati, mataku terpejam. "Lanjutkan pernikahanmu dengan Melisa." "Tidak, Zi!" Reno langsung menolak. "Bagiku kamu masih yang terbaik. Aku telah mengambil keputusan yang salah. Hanya karena iba melihatnya," sambungnya. Mataku yang semula terpejam, kembali terbuka. "Menurut siapa, No? Menurutmu? Bagaimana dengan Allah?" "Zi, menurutmu untuk apa Allah mempertemukan kita kembali?" Reno malah berkelit dengan mengajukan pertanyaan konyol. "Allah ingin menguji kesetiaanmu terhadap Melisa dan keluarganya." "Tidak!" Laki-laki itu menyangkal. "Allah tidak ingin terlambat memberi tahu, jika kamu pilihan yang tepat untukku. Kamu adalah nama yang selalu aku sebut dalam setiap doaku, Zi." Entah sadar atau tidak Reno mengatakan itu semua. Apa dia tidak pernah berpikir bagaimana Melisa dan keluarganya? Aku memilih kembali menutup mulut. Rasanya benar-benar lelah terus berdebat dengannya, Reno tetap saja keras kepala. "Zi, bagaimana jika Melisa setuju?" Aku langsung menjawab dengan tegas. "Aku yang tidak setuju, No!" "Kenapa?" "Aku tahu kamu laki-laki yang bertanggung jawab. Tolong, jangan kecewakan Melisa dan keluarganya. Cukup aku yang merasakan pahitnya dikhianati." Air mata Reno jatuh tepat di depan mataku. Itu bukti, bahwa dia sangat mencintaiku. Namun, bagaimanapun takdirnya bukanlah aku; pun sebaliknya. Sekeras apa pun kami berusaha untuk bersama. Tanpa restu-Nya itu mustahil. Kalaupun harus bersama, aku tidak ingin ada yang terluka dan untuk itu rasanya tidak mungkin. "Lalu bagaimana denganmu?" "Kamu tidak perlu cemas. Allah sudah mengatur semuanya. Dia tahu dan lebih tahu, kapan saatnya aku untuk bahagia." Aku pergi meninggalkannya. Setelah pertemuan itu, selama berhari-hari aku hanya berdiam diri di kamar. Tak kubiarkan seorang pun masuk. Aku hanya ingin sendiri saja. Dalam hening malam aku mengadu. Meluapkan segala emosi yang sempat tertahan. Iman dan juga hatiku kembali diuji. Apa sesungguhnya rencana Allah untukku? Kenapa selalu mempertemukan aku lagi dengannya? Jalan ini membuatku dilema. Tak ada yang baik-baik saja, jika berada di posisiku. Siapa pun itu. Rasanya aku ingin menangis dan menjerit. Kala hati ini merasakan sesak yang luar biasa. Rasa sakit yang terkadang sulit untuk kutahan. Bahkan hampir saja aku ingin menyerah. Aku tahu, Allah tidak akan menguji seorang hamba melampaui batas kemampuannya. Aku hanya bisa meyakinkan hati dan diri, jika Allah saja percaya aku mampu melewati semuanya. Kenapa aku masih saja ragu dan terus mengeluh? Oh, Allah, maafkan diri ini. Aku masih saja merintih pada-Mu. Meratapi semuanya dengan berlebihan. Aku masih harus belajar membiasakan diri untuk semua ini. Aku masih duduk, terpaku menatap atap-atap rumah dibalik jendela kamar. Pikiranku masih tentang Reno, yang membuatku semakin berdosa karena terus memikirkannya. Tiba-tiba saja terdengar suara nyaring dari benda yang tergeletak di atas tempat tidur. Langsung aku beranjak dan meraihnya. [Beri aku satu kesempatan lagi, Zi.] Reno, dia yang mengirimnya. Segera aku menghapusnya dan mematikan benda tersebut, lalu menaruhnya pada laci nakas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD