Satu minggu berlalu. Sikap Zizi masih membuat Alfian bertanya-tanya. Dia telah berhasil mematahkan hatinya. Semula dirinya merasa begitu percaya diri, jika gadis itu akan menerimanya. Namun saat mendengar penolakan keras darinya, hatinya benar-benar hancur. Petir seolah telah menyambar tubuhnya. Saat dalam perjalanan pulang, Alfian membelokkan mobilnya menuju kafe milik Siska, ibunya Zizi. Ia berharap Zizi tidak ada di sana. Agar dia bisa lebih leluasa berbicara dengan ibunya. Ia juga berharap Siska bisa meyakinkan putrinya. "Maaf. Saya mau bertemu, Tante Siska. Apa dia ada di sini?" Alfian bertanya pada seorang karyawan perempuan. "Ibu, ada di ruangannya. Tunggu sebentar saya panggilkan." Perempuan itu lantas pergi. Alfian menunggunya di meja nomor lima, duduk dengan perasaan cemas. P

