Baru sekitar setengah jam Awan di rumah, bel apartemen berbunyi. Dia pikir Yoko kembali, tetapi merasa sangsi karena asisten itu diberikan akses masuk. Awan mengecek dari interkom, mendapati gadis berambut lurus dikuncir ekor kuda sedang menunggu.
Dia pun membukakan pintu, membiarkan Keina masuk. Gadis dalam balutan box pleat mini dress warna biru dongker beraksen garis di beberapa bagian yang membuat lekuk tubuhnya semakin terlihat itu tersenyum manis.
Langkah kaki Keina terlihat riang dan lincah meskipun mengenakan peep-toe ankle strap platform. Bawahan dan lengan cape dress-nya seolah ikut menari mengikuti hentakan kaki. Dengan santai Keina mengenyakkan tubuh langsingnya yang terkesan mungil di sofa ruang tamu. Kerah V berpotongan rendah menunjukkan belahan d**a, membuat Awan tidak nyaman menatapnya lama.
“Kenapa berdiri di situ, nggak mau duduk dekat aku?” tanya gadis itu santai.
Keina duduk pada sofa panjang. Awan mengambil duduk di sofa tunggal yang berada di sisi kanan gadis itu. Kali ini, dia tidak bisa menjaga jarak terlalu jauh karena perasaannya semakin tidak nyaman jika mengambil tempat di depan gadis yang sedang tersenyum lebar itu.
“Aku nggak jadi nagih Senin, takut malah nggak pasti,” tukas Keina tanpa basa-basi. “Aku harus ke Sidney, Kakak ikut ya?”
Awan terperangah, kehilangan kata-kata. Keina tersenyum geli melihat responsnya. “So, aku tunggu Kakak kemas-kemas dalam waktu satu jam.”
“Kenapa mendadak begini?”
“Ini kan weekend. Dan aku udah cek jadwal sama sekretaris, Kakak free.”
“Tiketnya?” Awan masih mencoba berkelit.
“Udah aku pesan.”
Awan masih mencoba menolak, tetapi Keina mengatakan orang tuanya sedang berada di sana karena Sabtu ada acara kenalan sang Papa. Awan bertanya-tanya dalam hati, apa biasanya Elang akan dengan senang hati pergi dadakan dengan Keina, atau malah menolak.
“Kita nggak harus hadir juga kan?”
“Kakak pikir kenapa tiba-tiba aku berangkat dan harus ke mari?”
Awan mendesah pelan, menyerah. “Kita pulang pakai penerbangan paling pagi hari Minggu.”
“Deal. Satu jam udah selesai kemas-kemas, ya.”
Awan mengemas pakaian seadanya tanpa melupakan satu set jas yang cocok untuk pesta atau makan malam formal. Dia tidak tahu pasti dan malas bertanya lebih lanjut pada gadis yang sedang menunggunya di ruang tamu.
Setengah jam kemudian, Awan keluar membawa koper carry-on berwarna abu-abu. Keina sempat memandang lama Awan yang berbalut kaus putih, jins, dan blazer yang berwarna senada dengan koper.
Awan tiba-tiba merasa kikuk. “Kenapa?”
Keina menatap dari ujung kepala hingga kaki, kemudian menggeleng. Gadis itu bangkit sambil tersenyum cerah, menggandengkan tangannya pada lengan Awan yang tidak memegang koper. “Ayo, berangkat.”
Di dalam mobil, Keina meminta Awan merapatkan kaki. Dia memotret kaki mereka yang sama-sama menggunakan alas berwarna putih. Gadis itu lalu mengunggahkan ke akun i********: miliknya.
“Kita memang soulmate. Nggak janjian, sama-sama pakai putih,” tuturnya seraya tersenyum manis. Gadis itu mendadak menoleh ke arah Awan. “Atau jangan-jangan Kakak sengaja pakai putih biar seragam sama aku?”
Awan tidak menanggapi. Dikiranya, itu akan membuat gadis di sebelahnya diam, ternyata Keina semakin banyak bicara. “Hmmm, Kakak malu-malu, ya. santai aja sih, sama aku. Aku malah suka.”
Awan menggaruk alis. Dia akhirnya memilih membaca berita daring selama perjalanan menuju bandara. Keina masih sibuk memotret beberapa kali, Awan membiarkannya. Kalau dipikir-pikir, ada bagusnya juga Keina memfoto kebersamaan mereka dan mengunggahnya di media sosial. Awan mendapat dukungan bukti keberadaan Elang karena gadis itu selalu menandai saudara kembarnya dalam setiap foto mereka.
Sugguh begitu, Awan hanya bisa menggeleng melihat Keina yang sibuk membalas komentar-komentar foto mereka atau senyam-senyum sendiri ketika membuka galeri yang ternyata didominasi fotonya bersama Elang.
“Nggak capek?” tanya Awan. Rasa penasaran akhirnya tidak terbendung.
Keina terperanjat. Gadis itu menatap Awan selama beberapa detik. Tidak lama, wajah itu berubah semringah. “Apanya? Posting foto, balas komen, atau memperhatikan foto kita?”
“Semuanya mungkin.”
“Nggak, sih.” Keina menyerongkan tubuh agar lebih mudah menatap Awan. “Aku suka setiap waktu yang Kakak luangkan buatku.”
“Nggak membosankan?”
Kali ini Keina menaikkan salah satu kaki, lalu menopang sikunya dengan kaki yang tersilang. “Kakak itu kaku dan sering sinis,” ucapnya pelan. Kala bicara, gadis itu tidak menunjukkan ekspresi kecewa atau sedih, malah tersenyum. “Tapi, justru itu yang bikin aku merasa spesial. Mana ada gadis lain yang dapat perhatian Kakak atau setidaknya Kakak biarin menggelayut manja sama Kakak.”
Awan merasa gadis ini ada benarnya. Hubungannya dengan Elang pun selalu baik karena saudaranya itu peduli, meskipun sering seenaknya. Pada Dita pun begitu. Mulutnya terkesan kasar, tetapi dia akan selalu berdiri paling depan jika ada orang yang menyakitinya.
“Kakak kenapa sih, jadi aneh akhir-akhir ini?”
“Efek kebentur,” jawab Awan asal-asalan.
Jawaban yang salah. Keina jadi mengkhawatirkannya dan bertanya banyak hal. Gadis itu berhenti setelah Awan bertanya, “Apa kita harus batalin aja penerbangan ke Sidney? Kamu kayaknya nggak yakin aku baik-baik aja.”
“No! Aku akan minta Papa siapkan dokter buat periksa Kakak begitu kita sampai.”
Tak ayal, pertengkaran kecil terjadi. Awan harus pura-pura tegas tidak akan mengikuti kemauan Keina jika gadis itu masih memaksa memeriksakannya sesampai mereka di Sidney.
Dengan wajah cemberut, Keina pun mengalah. Dia berjanji tidak akan memaksa Awan cek kesehatan selama mereka di Sidney. “Tapi janji ya, sampai Jakarta harus periksa.”
Awan mengangguk sekenanya supaya Keina berhenti mengoceh.
“Jangan bohong. Kalau Kakak bohong, aku bakal jemput di kantor dan seret Kakak ke dokter.”
Sungguh, Awan merasa Keina dan Elang adalah kombinasi yang aneh. Namun, katanya, semua orang itu aneh. Kita hanya menemukan orang dengan keanehan yang sesuai dan merasa cocok untuk bisa jatuh cinta. Mungkin Elang dan Keina juga begitu, merasa keanehan mereka saling melengkapi sehingga mereka bisa bertahan sampai sekarang.
Alasan perjodohan bisnis memang kuat, tetapi Awan tidak melihat hal tersebut dalam diri Keina. Dengan semua keunikannya, gadis itu menunjukkan perhatian yang tulus.
“Kak, kenapa banyak melamun sih?”
Awan yang kini sudah berada dalam pesawat dikejutkan oleh Keina. Gadis itu tersenyum manis. “Kalau melamun itu tunggu aku nggak ada, biar aku senang karena merasa Kakak ngelamunin aku,” ocehnya.
“Aku ngelamun juga belum tentu kamu tahu.”
“Kalau soal itu sih, gampang.” Keina mengedipkan sebelah mata.
Awan tidak ingin menggubris gadis di sampingnya lebih banyak. Meskipun hanya menggatikan Elang, perasaan bersalah masih menggelayut di dalam dirinya. Rasa bersalah itu membuatnya semakin merindukan Liana.
Pria itu lalu memesan koktail. Dia asal sebut ketika pramugari memberikan pilihan, tidak terlalu peduli pada jenis apa yang akan dia pinum.
“Kakak kenapa pesan koktail sih?” protes Keina. “Kalau besok nggak bangun seharian gimana?”
“Kan acaranya malam.”
“Udah jauh-jauh ke Sidney, masa sih cuma pergi ke acara teman Papa terus pulang.” Bibir Keina mengerucut.
“Memang itu tujuannya kan?”
“Iya … Tapi kan aku juga mau ada waktu buat kita berdua. Kapan lagi,” rengek Keina.
Awan berdalih perlu tidur karena otaknya lelah. Ketika pramugari mengnatarnya koktail yang dipesan, Awan hanya meminumnya sedikit. Keina meminum isi gelas dan hanya menyisakan beberapa tegukan kecil untuk Awan habiskan.
“Nggak boleh banyak-banyak,” titahnya.
Awan tiba-tiba teringat sesuatu. “Kamu udah berapa lama tahu nggak bisa banyak minum alkohol?”
“Udah setahunan kayaknya. Sejak Kakak selalu nolak minum kalau kita makan, aku tanyain Yoko.”
“Harusnya ini bukan rahasia kan? Banyak yang tahu aku nggak bisa minum alkohol.”
“Tapi, kalau aku nggak tanya Yoko, Kakak belum tentu bakal cerita sama aku.”
“Nggak mungkinlah. Dia pasti cerita kalau memang harus.”
Seketika, Awan berharap bisa menarik kembali kata-katanya.