Kenapa?

2059 Words
Mendengar pertanyaan dari petugas di depannya, Awan segera menggeleng. “Saya tidak yakin, Pak. Ingatan saya tentang kejadian hari itu masih samar-samar.” Awan berdaham pelan. “Jika saya ingin melihat laporan juga rekaman terkait kasus saya ini, bolehkah?” Erdin masih menatapnya penuh selidik. Beberapa saat kemudian, dia mengangguk. “Tentu.” Petugas tersebut menghubungi bawahannya untuk mempersiapkan bukti-bukti dan data terkait kasus kecelakaan yang menimpa Elang. Sambil menunggu petugas yang diminta mempersiapkan berkas, Erdin mengajak Awan melihat-lihat mobilnya. Awan mengucapkan terima kasih. Dia dan Erdin berjalan beriringan, sementara Yoko berada beberapa langkah di belakangnya. “Mobilnya sudah bisa Bapak bawa pulang,” jelas Erdin. Mobil Elang terlihat penyok di bagian kanan belakang. Dari bentuk kerusakan, mobil tersebut terhantam cukup keras. Awan membuka mobil dan memeriksa bagian dalam. Tidak ada hal mencurigakan di sana. Hatinya mencelos. Sekali lagi Awan memeriksa seluruh bagian mobil, tetap saja sia-sia. “Mari, Pak. kata petugas, berkasnya sudah siap,” ajak Erdin. Setengan jam kemudian, Awan sudah berada di sebuah ruangan ditemani salah seorang anggota kepolisian yang bertugas. Erdin pamit dan memberi Awan waktu. Dia berkata Awan bisa menemuinya jika ada yang ingin disampaikan setelah melihat semua bukti. Pertama-tama, Awan menonton rekaman supir yang mengaku lalai dan menabrak saudara kembarnya. Berdasarkan data, supir tersebut bernama Andre Murdiansyah. “Saat itu saya sedang menerima telepon dari istri saya. Saya sudah berkendara pelan, tetapi jalanan yang padat ternyata membuatnya tiba-tiba macet. Saat sadar, saya sudah tidak bisa menghindar. Salah saya saat itu saya menambah kecepatan. Tujuannya agar bisa cepat berbelok, ternyata malah menabrak.” Awan memperhatikan gelagat supir truk tersebut. Saat bercerita, dia terus menunduk. Sesekali supir tersebut tampak gugup dan berusaha menyembunyikannya. “Seperti yang pihak Bapak minta, kasus diselesaikan secara damai. Supir bersedia membayar denda atau kerugian, tetapi pihak Bapak menolak karena merasa dia kurang mampu.” Papar petugas di ruangan. Awan mengangguk. Pihaknya memang sengaja tidak ingin membesarkan kejadian ini. Bukan hanya dikarenakan keadaan ekonomi supir tersebut, tetapi Gantari juga ingin masalah ini berbuntut panjang. Awan terus menonton rangkaian video yang ditampilkan. Dia memperhatikan dengan saksama, mencari hal-hal ganjil dari setiap video. Malangnya, video tersebut tidak memberikan banyak petunjuk. “Ini laporan detail mengenai kasus Bapak,” ujar petugas setelah selesai mempertontonkan video dokumentasi kecelakaan. Dia mengingatkan agar Awan tidak memfoto berkas tersebut. Awan kemudian membaca perlahan setiap halaman, mulai dari data Elang lanjut ke kronologis kejadian. Di sana dituliskan waktu terjadi kecelakaan juga awal mula benturan terjadi berdasarkan pendapat dari beberapa saksi. Pernyataan supir mengenai kelalaiannya juga dituliskan di sana. Selain itu, ada juga kesaksian dari pelayan restoran tempat Awan makan siang. Beberapa di antara mereka melihat pertengkaran kecil yang terjadi antara Elang dan Bima. Tidak lama, tetapi cukup membuat Bima merah padam. Awan ingin memberikan perhatian lebih pada kesaksian Bima. Dia berharap bisa menemukan petunjuk di sana. Namun, Bima tidak banyak bicara. Dia hanya menjelaskan kejadian sesuai dengan pertanyaan petugas ketika dipanggil sebagai saksi. Karena itu, tidak banyak informasi yang Awan dapatkan dari kesaksiannya. Awan mencerna setiap halaman perlahan, memahami situasi yang digambarkan juga mencatat dalam benak informasi yang dirasa penting. Dia tidak memerlukan kertas karena informasi yang perlu diingat tidak banyak. Fakta itu membuat Awan frustrasi. Harapan mendapat petunjuk dari data-data mengenai kecelakaan Elang mulai meredup. Namun, Awan tidak menyerah. Dia terus membuka halaman, membaca semua keterangan, bahkan yang menurutnya tidak penting sekali pun, seperti halaman data pribadi pelaku dan saksi. Awan terus membaca dengan saksama dan terperinci karena masih berharap ada yang bisa dia dapatkan dari laporan tersebut. Nolan merupakan salah satu saksi yang dipanggil karena pergi ke restoran bersama Elang. Berdasarkan keterangannya, Nolan bersama Elang kurang lebih setengah jam. Dia baru saja mengunyah beberapa gigitan kala mendapat panggilan dari gudang. Seperti yang Awan ketahui, hal tersebut sudah dikonfirmasi oleh pegawai gudang yang menelepon. Waktu keberangkatan dan perkiraan dalam perjalanan sesuai. Awan hampir menyerah ketika matanya menangkap kata ‘alkohol’ dalam laporan tersebut. Di sana, Nolan berkata bahwa dia dan Elang sempat minum anggur. Awan hanya menyesap sedikit, tetapi Nolan yakin anggur tersebut masuk ke dalam tubuhnya. Awan terdiam sesaat. Pernyataan yang baru saja dibaca terdengar tidak masuk akal. Dia yakin Elang bukan orang yang sering minum alkohol karena tubuhnya memang tidak tahan dengan minuman tersebut. Awan tiba-tiba gamang. Dia ingin bergegas mencari tahu mengenai kejadian ini tetapi juga merasa perlu membaca laporan hingga selesai. Pantatnya yang sudah sedikti terangkat dari kursi kembali menempel di sana. Pikiran Awan sudah tidak seratus persen tertuju pada laporan. Dia terlanjur penasaran dengan fakta Elang mengonsumsi minuman beralkohol. Sisa laporan dibaca scanning demi menuntaskan rasa penasarannya. Awan langsung berdiri setelah membaca kalimat terakhir dalam laporan. Dia berterima kasih dan bermaksud meninggalkan ruangan tersebut. Langkahnya ditahan oleh sang petugas. “Pak, ini barang-barang yang kami temukan di dalam mobil.” Petugas tersebut menyodorkan sebuah plastik transparan besar yang didalamnya terdapat beberapa plastik transparan kecil. Awan menyambutnya seraya berterima kasih sekali lagi. Dalam perjalanan menuju mobil, Awan menelepon Dex. “Tolong periksa daftar pesanan makan siang Elang dan Nolan di hari kecelakaan. Nolan bilang, dia sempat minum anggur bersama Elang.” Ketika sampai di mobil, telepon dari Dex masuk. Si detektif menerangkan bahwa memang ada pesanan anggur hari itu. Dia bahkan mendapatkan keterangan dari pelayan yang mengingat mereka. Pelayan itu bersaksi bahwa pria berkacamata yang memesan minuman tersebut, dua gelas. Keterangan yang didapat membuat Awan semakin bingung. Dia bertanya-tanya dalam hati, apakah Nolan tidak mengetahui hal tersebut. Rasa-rasanya, tidak mungkin. Dita yang selalu banyak bicara dan sangat mempercayai sang suami pasti sudah menceritakan tentang dirinya dan Elang. Mereka berdua adalah hal yang paling dekat dengannya. Awan yakin, di antara cerita-cerita adiknya pada Nolan, pasti ada hal terkait hal-hal seperti ini. “Ko, berapa banyak orang yang tahu bahwa Elang tidak suka minum minuman beralkohol?” tanya Awan di perjalanan pulang. Yoko tetap menyupirinya pulang. Terkait mobil, mereka sudah menghubungi pihak asuransi. Pihak kepolisian juga bersedia memberikan informasi terkait kronologis kecelakaan. Awan meninggalkan kantor polisi setelah memastikan semua akan diurus dengan baik. Yoko berpikir sejenak, lalu menjawab, “Saya kurang pasti, Pak. Ini bukan hal yang dirahasiakan, tetapi Pak Elang juga tidak pernah mengumbar informasi ini. Dia hanya akan menjelaskan ketika ada klien atau kenalan mengajaknya minum. Sementara, Bapak lihat sendiri, tidak banyak yang berani berinteraksi di luar urusan pekerjaan pada Pak Elang.” Awan mengenang kembali masa tujuh belas tahun mereka. Dikarenakan bukan tahun kabisat, Papa dan Mama membuat pesta di tanggal dua puluh delapan. Seperti biasa, Dita sibuk mengambil peran dan mengeluarkan pendapatnya tentang konsep pesta tersebut. Pesta berlangsung hingga lewat tengah malam karena Awan ingin melewatkan pergantian umurnya. “Heran, lo kok hobinya norak!” cela Elang. “Biarin norak, yang penting happy. Lagian, lo nggak sedih apa, orang ngelewatin tujuh belas pas tanggalnya, ada yang sampai ke menit-menitnya, kita tanggal aja nggak ada.” “Biasa aja!” “Lang, lo yakin kita udah tujuh belas? Coba lo hitung deh, dari kita lahir ada berapa tanggal dua sembilan Februari muncul di kalender? “Empat,” jawab Elang setelah berpikir sesaat. “Jadi, bukannya kita harusnya baru empat tahun lebih dikit ya, sekarang?” “Ulang tahunnya yang cuma bisa dirayakan pas tanggalnya. Kita juga tumbuh normal,” sanggah Elang. “Tapi kan, penanda tambah usianya waktu kelahiran. Tuh, bener yang ingat sampai ke menit-menit.” “Sakit!” jawab Elang akhirnya. Mereka lalu sama-sama menaiki tangga setelah tamu terakhir pulang. awan sudah berganti pakaian dan bersiap tidur kala Elang menepuk jidatnya. Awan yang kaget langsung duduk. “Tua lo cuma beberapa menit, jangan seenaknya.” “Tetap aja gue lahir duluan,” balas Elang sambil terkekeh. “Sekarang kita udah tujuh belas, lo mau cobain ini nggak?” Elang mengeluarkan botol kaca kehijauan berleher panjang. Dari label, Awan mengenalinya sbeagai anggur putih. Tidak tanggung-tanggung, dia juga sudah menyiapkan dua gelas flute. Elang memamerkan seringai bangga di wajah. “Ini bukannya gelas sampanye, Bro?” tanya Awan dengan wajah datar. Wajah bangga elang berubah sengit. “Udahlah. Yang penting itu bukan gelasnya, tapi ini.” Elang mengangkat botol anggur ke udara. Elang sudah membuka segel ketika ragu menyergapi Awan. “Tunggu, Bro, lo nggak nyolong koleksi anggur Papa kan?” Elang langsung membekap mulut Awan, menaruh telunjuk di depan bibir. “Ngomong jangan nyaring-nyaring.” “Kalau gitu, gue nggak mau.” “Eh, tenang aja! Yakin gue Papa nggak bakal marah. Ini juga nggak ditaruh di tempat tersembunyi kan? Emang, narohnya di gudang bawah, tapi nggak pernah dikunci. Artinya bebas akses. Udah tujuh belas ini kita.” Karena terus dipaksa, Awan akhirnya ikut minum. Elang menuang anggur sampai sejari mendekati bibir gelas, membuat Awan menggeleng. Dia mengajak bersulang lalu menggak habis isi gelas dalam beberapa tegukan. Awan hanya menyesap sedikit kemudian menaruh sisanya di meja. “Kalau lo mau protes, sabar. Ntar gue habisin pelan-pelan,” cerocos Awan. Beberapa menit tidak mendapat respons, dia mendekati Elang. Saudara kembarnya sudah terlelap. Awalnya. Awan menggelenge-geleng dan ikut tidur. Namun, keesokan harinya, Elang masih belum bangun meskipun matahari sudah tinggi. Awan khawatir dan mengguncang tubuh saudara kembarnya. Setelah menyemprotkan air ke wajah Elang, baru pria itu bangun. Pun masih terlihat lesu. “Lo kenapa sih?” tanya Awan. Tubuh Elang terasa berat. Dia bersusah payah memindahkan badannya dari posisi baring agar bisa duduk bersandar. “Gue tidur jam berapa?” Awan mengedikkan bahu. “Yang jelas, habis minum lo langsung tidur.” “Kayaknya gue pingsan,” ucap Elang. Awan tidak percaya jika segelas alkohol bisa berefek besar terhadap seseorang. Namun, kondisi Elang memang terlihat aneh. tubuhnya seperti lemah. Dia terlihat lunglai. “Gue kayak nggak punya tulang,” ujar Elang kemudian. “Minum anggur kok gini banget? Lo gini juga nggak, Wan?” “Biasa aja sih, gue.” Sejak kejadian itu, Elang menjauhkan diri dari apapun yang berbau alkohol. Dia jera pada pengalaman pertama yang pahit pada minuman tersebut. Mengingat hal tersebut, Awan sangsi saudara kembarnya meminum minuman tersebut. “Kamu pernah lihat Elang minum?” Awan bertanya pada Yoko. Pria itu menggeleng cepat. “Pak Elang hanya akan minum jika memang momen tersebut tidak bisa ditolak, seperti sedang merayakan sesuatu. Biasanya pun, dia hanya akan meminum sedikit. Terlebih jika siang hari.” Yoko menceritakan kejadian tahun lalu saat Elang diundang makan siang oelh seorang klien. Klien tersebut sangat menyukai minuman beralkohol. Hari itu dia mengundang Elang sebagai bentuk ramah tamah rekan bisnis dan perayaan kejra sama yang baru dimulai. Dalam perayaan tersebut, klien mengajak Elang bersulang dan mendoakan kerja sama baik mereka dengan bersulang segelas sampanye. Dengan lembut, Elang menolak. Pria itu menjelaskan perihal tubuhnya yang tidak merespons minuman beralkohol dengan baik dan efek buruk yang bisa saja terjadi jika dia memaksa minum. “Pak Elang menjelaskan dengan sopan dan sebaik-baiknya, jadi kllien maklum dan tidak jadi memesan anggur untuk menemani makan siang mereka.” Dari penjelasan Yoko, jelas kalau Elang masih menghindari minuman tersebut. Tubuh saudaranya itu memang tidak ‘berteman’ dengan minuman yang memberi efek mabuk itu. Awan kembali teringat omelan sang Papa saat mengetahui dia dan Elang minum anggur putih dari koleksinya di gudang. Sesuai dugaan Elang, Mahawirya tidak memarahi mereka minum karena sudah tujuh belas tahun. Yang membuatnya marah tentu saja tindakan Elang yang diam-diam mengambil salah satu botol koleksinya. “Itu bentuk pencurian. Papa nggak mau anak Papa jadi pencuri, apapun bentuknya,” terang Mahawirya. “Nggak perlu Papa ingatin, Elang pasti sudah jera, Pa.” Ada tawa yang berusaha Awan tahan. Dia teringat momen saat Elang kesulitan bangun karena anggur putih yang mereka minum. Seharian itu dia tidak memiliki tenaga untuk melakukan apapun. Syukurnya, peristiwa nahas tersebut terjadi di hari Minggu. Hari itu, Elang akhirnya merebahkan tubuhnya sharian agar esoknya dia bisa ke sekolah seperti biasa. “Apapun momennya, Wan, ingatkan gue buat nggak minum. Tapi kalau ingat ini, rasa-rasanya nggak mungkin gue bakal minum lagi.” Elang bicara pada Awan, tapi kaklimatnya lebih tertuju untuk diri sendiri. Peristiwa lalu memberikan Awan keyakinan yang tidak tergoyahkan. “Jadi jelas, nggak mungkin Elang minum alkohol siang itu,” gumam Awan. “Analisis kamu, Ko?” “Penyebab Pak Elang kurang berhati-hati hari itu bisa apa saja, tetapi saya yakin Pak Elang tidak akan minum alkohol di siang hari. Berkali-kali saya mendengar penolakannya terhadap klien terkait minum.  Karena itu juga saya selalu menemani Pak Elang saat ketemu klien, dia takut tidak bisa menolak tawaran mereka dan tidak bisa berkendara sendiri. “Yang harus kita pertanyakan sekarang, Ko,” ujar Awan kemudian. “Kenapa Nolan berbohong?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD