Ada Sesuatu?

1001 Words
Awan terbangun tengah malam. Tidurnya tidak nyenyak karena perasaan bersalah menggantung di langit-langit kamar. Kalau dipikir-pikir, itu hanya Keina yang bersikap seperti biasa di depan Elang. Namun, batinnya kesulitan menerima perlakuan gadis itu. Dia merindukan Liana dan ingin menghubungi istrinya itu. Waktu yang menunjukkan pukul satu malam menghalangi. Iseng, Awan menekan kontak adik iparnya. Keberuntungan memihak. Setelah dering keempat, terdengar suara dari seberang sambungan. “Kenapa, Kak?” “Masih bangun, Nel?” Onel menjelaskan bahwa dia baru saja akan tidur setelah mencela pemilihan waktu Awan menelepon. Awan berdalih bahwa sekarang masih pukul enam di tempatnya. Mau tak mau Onel maklum karena yang dia ketahui saat ini kakak iparnya masih berada di Inggris. Onel menyampaikan jika menjadi pegawai bengkel sekaligus menunggui toko ternyata memberinya kesulitan tersendiri. Dia yang sebelumnya hanya sibuk di bengkel seharian, membuat pesanan sesuai instruksi atau sesekali mencoba membuat desain produk, harus juga menjaga toko dan mengawasi karyawan selama Awan tidak ada. “Maaf ya, kamu jadi kerepotan.” “Nggak apa sih, aku bisa sekalian belajar manajemen toko. Cuma ya itu, udah semingguan masih belum terbiasa. Ternyata, lebih enak full di bengkel, pikiran nggak terbagi.” “Lagumu, Nel. Emang terbagi kenapa?” “Otakku lagi lancar banget, Kak. Banyak desain-desain yang membuat kepikiran dan minta dieksekusi.” “Wah, keren! Kirim beberapa desain kamu. Jika ada yang oke, kamu boleh membuatnya dan pajang di toko.” “Seriusan?” Awan mengangguk meskipun tahu adik iparnya itu tidak akan menyadari. Onel juga menceritakan pengalaman serunya ketika menjaga toko. Dia menambahkan bahwa kakaknya banyak membantunya agar bisa menyesuaikan dengan tanggung jawab yang harus diemban sementara waktu ini. “Liana di mana?” tanya Awan kemudian. “Lho, Kakak nggak telepon ke sana? Dia pulang jam lima tadi dari toko. Kusuruh pulang awal karena kemarin-kemarin Kak Li lembur.” “Kakakmu dapat banyak orderan pas aku nggak ada. Kliennya laki-laki apa perempuan?” “Perempuan ada, tapi banyakan laki-laki sih. Kayaknya mereka sengaja pakai jasanya waktu Kak Awan nggak ada,” goda Onel. Mereka tertawa bersama. Awan tahu adik iparnya bercanda. Dan dia tidak perlu meminta Onel menjaga Liana karena sangat yakin akan kesetiaan sang istri. Dia justru sedang meragukan dirinya sendiri. Bukannya Awan tidak setia, tetapi interaksi dengan Keina tidak bisa dia hindari karena saat ini berperan sebagai Awan. Hati kecilnya merasa bersalah tiap kali menerima kebaikan Keina dan tidak bisa menampik. Ini seperti simalakama, diterima atau tidak perlakuan dari Keina, sama salahnya. Setelah mengetahui istrinya baik-baik saja dan memberi beberapa masukan untuk Onel, Awan menutup sambungan. Kemudian, dia memaksakan diri tidur. Harapan tidur nyenyak tidak seperti yang Awan bayangkan. Pukul empat pagi dia terbangun. Kali ini, dia memilih menghidupkan TV, mencari siaran yang tidak menarik baginya dengan harapan mata akan bosan dan mengantuk. Sayangnya, setelah satu jam matanya masih segar, bahkan seperti siap memulai hari. Awan akhirnya memilih menuju dapur. Dia membongkar pantri dan menemukan roti tawar. Awan memanggangnya lalu mengolesnya dengan selai nanas. Dia juga membuat segelas orange squash. Ketika matahari mulai membiaskan cahaya, Awan menghubungi Yoko, menanyakan apakah Dex sudah memiliki kabar keterkaitan Bima dalam kasus Elang. Dari seberang sambungan, Yoko mengatakan Dex masih belum menemukan bukti yang memberatkan Bima. Awan menghela napas berat. Dia merasa mundur beberapa langkah. Tadinya, Awan yakin kalau Bima terlibat dan Dex bisa segera mendapatkan bukti. Nyatanya, sampai kini, kasus Elang tidak menunjukkan perkembangan berarti. Perasaan Awan campur aduk hingga sampai di kantor pagi ini. Menurutnya, semua terasa sia-sia meskipun sudah seminggu berada di sini. Nait awalnya menemani sang Mama dan menenangkannya malah membuatnya sibuk karena kecurigaannya pada kecelakaan Elang. Awan menggali kuburnya sendiri. Menjadi Elang membuat perasaannya pelik. Dia harus membohongi Dita, berurusan dengan Keina, serta mengkhianati Liana. Walau yang terakhir sebenarnya tidak, Awan merasa begitu. “Pak, barusan kita mendapat telepon dari polres Jakarta Utara. Bapak diminta ke sana hari ini,” lapor sekteraris Elang. “Ini terkait kasus kecelakaan Bapak kemarin.” Awan mengangguk dan mengatakan akan ke sana setelah makan siang. Dia meminta sang sekretaris mengosongkan jadwal jika tidak ada hal penting. Setelah sekretaris mengangguk, Awan berusaha menyelesaikan berkas-berkas yang menumpuk di meja sebelum makan siang. Awan tidak menyadari waktu yang berlalu karena sibuk menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Dia bahakn tidak menyadari kedatangan Yoko. “Pak, sudah pukul sebelas lewat. Apa Bapak mau makan siang di sini saja?” tanya Yoko ketika sudah berdiri di hadapannya. Awan sempat terkejut lalu mendongak. “Boleh. Pesankan kwetiaw siram ya, Ko. Kamu juga makan siang di sini.” “Baik, Pak.” Ketika makanan sudah datang, Awan menyantapnya sambil mengecek beberapa berkas tersisa. Yoko dengan setia menungguinya sembari menyantap makanannya. Sesekali Awan menanyakan hal-hal terkait berkas yang sedang dibaca. Yoko menjelaskan dengan ringkas dan padat. Jarum pendek menunjuk ke angka satu ketika Awan menutup berkas terakhir setelah memberi catatan. Dia memanggil sekretaris, memberikan review singkat terkait data/laporan yang perlu diperbaiki. “Semua berkas ada di meja. Jika ada yang mencari saya, sampaikan saya tidak kembali lagi ke kantor hari ini,” tutur Awan. Awan kemudian pergi ke polsek Jakarta Utara untuk menemui petugas yang meneleponnya. Setelah melapor di bagian depan, Awan diarahkan ke ruangan Kepala Satuan Lalu Lintas. Awan mengetuk pintu. Seorang pria berusia empat puluhan menyambutnya di ruangan tersebut. “Saya Kompol Erdin Maulana,” ucap Erdin seraya mengulurkan tangan. Awan menyambut uluran tangan tersebut, memperkenalkan dirinya sebagai Waldo Erlangga Pradana alias Elang. Erdin mempersilakan dia dan Yoko duduk setelah mereka berjabat tangan. “Mohon maaf jika kami agak lambat menangani kasus ini. Kami harus mencari supir truk yang menabrak Bapak dan meminta kesaksiannya.” Awan mengangguk sopan. “Tidak masalah, Pak.” “Jadi, Pak Elang. Kasus Anda sudah ditutup dengan keterangan akhir kecelakaan. Pelaku yang menabrak Bapak mengakui kelalaiannya sehingga tidak bisa mengendalikan mobil dan menabrak kendaraan Bapak.” Awan mengangguk, tetapi matanya tidak beralih dari petugas di hadapannya. Erdin menatapnya penuh selidik. “Apa ada yang ingin Bapak sampaikan?” Elang menggeleng pelan. “Bolehkah saya meminta akses untuk kasus ini, Pak?” Mata Erdin menyipit. “Bapak memiliki kecurigaan terhadap sesuatu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD