“Timing?” tanya Yoko heran.
Kali ini, Yoko kurang paham apa yang Awan maksudkan. Karena pengganti bosnya itu tidak memasukkan Nolan dalam daftar pelaku yag dicurigai, pasti bukan itu yang dimaksud.
“Dia baik semenjak kabar akan diadakan rapat direksi. Kemungkinan berharap dipertimbangkan dan bisa naik pangkat.”
Bayangan Nolan yang selalu tersenyum di hadapan Dita melintas. “Dia kayaknya nggak pernah komplain sih ya sama Dita. Tapi bisa aja dalam hatinya kurang senang menjadi bawahan sang istri.”
Yoko mengangguk setelah mengerti yang Awan maksudkan. Dia menyetujui pendapat tersebut. Bisa jadi Nolan memang sedang ramah karena berusaha mendapatkan posisi baru jika Elang menjadi direktur utama.
Hari ini Awan sibuk dengan laporan-laporan yang harus dicek juga proposal kegiatan yang masuk di meja. Dia tidak menyadari matahari sudah berada di sisi yang berbeda. Ketukan dari Yoko tidak mendapat respons, pun ketika pria itu sudah berdiri di hadapannya.
“Pak. sudah sore. Bapak mau lembur hari ini?”
Awan terkesiap, lalu mengangkat kepalanya. Dia menatap Yoko, mencerna yang baru saja asisten itu katakan karena pikiran masiih terpaku pada lembar-lembar yang dikerjakan. Ketika akhirnya tersadar, pria itu menatap jam di pergelangan tangan.
Dia pun berterima kasih pada Yoko setelah mengatakan tidak akan lembur. Awan merapikan meja, berkemas, kemudian pulang. Sesampainya di apartemen, dia merebahkan diri di sofa.
“Bapak mau saya pesankan sesuatu?” Yoko bertanya sambil mengecek sesuatu di ponsel.
Hening. Tidak ada jawaban dari orang yang ditanyai. Dia lalu berbalik dan mendapati mata Awan sudah terpejam. Yoko menggerak-gerakkan tubuh tersebut sambil memanggil, tidak ada respons. Dia menatap sekeliling, menemukan kesunyian.
Yoko tidak tega melihat keadaan sang bos pengganti. Ketika Awan terlelap, dia menyiapkan makan malam berupa pasta dari bahan-bahan yang ada di dapur. Yoko meninggalkan makanan tersebut di meja ruang tamu, tempat Awan merebahkan diri, beserta air putih juga segelas minuman kesukaannya.
Saat Awan bangun, langit sudah gelap dan semua lampu menyala. Dia juga melihat makanan di meja dekatnya. Dia mengecek waktu sekaligus pesan, memastikan tidak ketinggalan informasi pentng. Setelahnya, baru Awan menyantap semuayang tersaji di meja.
Perutnya terasa penuh ketika piring dan gelas sudah tidak lagi berisi. Awan duduk sambil melihat-lihat pernak-pernik dari kayu juga website toko. Dia ingin menjahili Onel yang mengurus website selama dia tidak ada, tetapi megurungkan niat kemudian mandi.
Dia sudah selesai mandi dan sedang duduk di kasur, mengeringkan rambut, ketika ponsel berbunyi. Pemberitahuan pesan dari Keina. Gadis itu menanyakan perihal makan mereka. Awan membalas seadanya, mengatakan akan mengatur waktu untuk itu minggu depan. Tidak lama, dering panjang terdengar dari ponselnya. Dia pun memilih duduk berselonjor sambil bersandar di kepaala kasur ketika melihat itu adalah telepon video dari Keina.
“Kakak jangan PHP-in aku dong! Aku mau kepastian kapan kita bisa makan bareng.” Wajah cemberutnya menghiasi layar.
“Minggu ini aja belum habis,” dalih Awan.
“Justru karena minggu ini belum habis, makanya aku nany. Kalau udah minggu depan Kakak masih gini, bisa-bisa terancam jadwla makan kita bulan ini.”
“Nanti akua tur waktu lagi,” bujuk Awan.
Wajah di seberang sana bukannya membaik, malah semakin ditekuk. Setelah berjanji akan mengatur kembali jadwalnya minggu depan, barulah semringah menghiasi wajah gadis yang kali ini membiarkan rambutnya terurai.
“Sebentar ya, Kak.” Keina akan bangkit tetapi seketika kembali lagi ke layar ponsel. “Jangan dimatikan.”
Awan menggeleng dan tersenyum geli ketika Keina tidak melihatnya. Gadis yang tadinya berbaring tengkurap sambil menelepon, sudah berdiri di kasur, lalu menghilang dari layar.
Ketika Keina berjalan, seluruh pakaiannya terlihat. Gadis itu hanya mengenakan kaus ketat tanpa lengan berwarna hitam serta hot pants marun dengan lis putih. Tanpa sadar, Awan menggaruk kepala.
Beberapa menit kemudian, Keina kembali. Dia kembali ke posisi ketika Awan menerima panggilannya. Gadis itu mengoceh tentang banyak hal setelah memberikan konfirmasi ke mana dia sebelumnya.
Keina sesekali memainkan rambut lurusnya yang terurai sembari tersenyum jenaka. Dia berganti posisi ketika bosan, bersikap sesukanya, tidak emnyadari wajah Awan yang tidak nyaman menatapnya hingga berkali-kali menoleh lain.
“Kei,” panggil Awan ketika memiliki jeda dari Keina yang terus berkisah dengan riang. “Bisa pakai selimut nggak?”
Wajah Keina berubah bingung. “Kenapa?”
“Atau kalau nggak nyaman pakai selimut, pakaiannya aja ganti.”
Gadis itu langsung memperhatikan pakaiannya. “Kenapa aku harus ganti?”
“Ganti sama yang nyaman tapi nggak terlalu terbuka aja. Bisa nggak?”
“Biasa juga pakai kayak gini sambil telepon Kakak.”
“Karena bagi kamu biasa, aku akhirnya ngomong.”
Keina tidak terlihat untuk beberapa saat, kemudian kembali membawa baju kaus oversized warna putih, memakainya ketika sudah bersila di ats kasur.
“Udah ya,” jelasnya dengan ceria.
Awn tidak bisa berkata-kata. Gadis itu memang sudah memakai pakaian yang lebih tertutup dari sebelumnya, tetapi mengenakannya di depan matanya membuat Awan tidak tahu harus bicara apa.
Keina melihat Awan mendesah. “Kenapa lagi, Kak?”
“Makainya nggak mesti di depan aku juga,” keluhnya setelah kembali mendesah.
“Kakak kenapa jadi cerewet banget sih?” Bibir Keina mengerucut. Namun, detik berikutnya wakah itu sudah kembali cerah. “Tapi aku senang, deh. Jarang-jarang Kakak perhatian. Momen langka ini. Kakak merhatiin sampai negur segala.”
Sekali lagi Awan menggaruk kepalanya. Entah memang Elang yang terlalu menjaga jarak atau memang gadis ini yang terlalu santai hingga interaksi mereka terasa aneh, yang jelas, peran tersulit menjadi Elang adalah megnhadapi gadis ini.
“Jadi, aku harus gimana?”
“Oh!” Respons terkejut Keina membuat Awan sadar dia sudah salah bicara. “Kakak mengeluarkan kata ajaib! Selama kenal, baru kali ini nanya pendapatku. Senangnya.”
Kepala Awan tiba-tiba terasa sangat gatal. Dia berkali-kali menggaruknya. Pria yang kini menekuk salah satu kakinya itu benar-benar tidak mengerti bagaimana menghadapi gadis yang sedang berbicara dengannya ini.
“Terserah, deh,” putusnya kemudian.
“Jangan gitu, dong, Kak. Aku senang kok kakak perhatian. Tapi karena selama ini cuek, aku belum terbiasa.”
Awan berusaha segera mematikan telepon video tersebut sebelum makin banyak keganjilan dibuat. Meskipun awalnya berat hati, Keina pun menutupnya. Namun, sebelum itu, dia kembali mengingatkan tentang acara makan mereka serta berkata akan kembali memastikan jadwal pria itu Senin nanti.
Setelah menutup telepon, Awan memijat kepalanya baru kemudian tidur.