Haruskah Memulai Kembali Dari Awal?

2009 Words
Awan menghubungi Yoko, memastikan sekali lagi keterkaitan Bima dalam kasus kecelakaan Elang. Sejauh ini, tindak tanduk Bima yang paling mencurigakan, dia juga memiliki motif yang cukup untuk melukai Elang. “Sekali lagi minta Dex menggali lebih dalam. Bima yang paling meyakinkan sampai saat ini,” jelas Awan. “Kamu juga dengar sendiri kan tadi, perkataannya? Dia punya motif, Ko.” “Saya akan meminta Dex sekali lagi mengecek, Pak, mana tahu ada hal-hal yang terlupakan.” “Secepatnya, Ko. Kasus ini nggak maju-maju. Kita sudah berputar-putar nggak jelas, sampai sekarang bahkan pelakunya aja kita masih belum pasti. Awan duduk di kursi kerja Elang, merangkai kembali semua informasi yang didapatkan mengenai Bima. Frofilnya sangat cocok sebagai pelaku, tetapi tidak ada bukti kuat yang mengarah ke sana. Awan bertanya-tanya dalam hati, apakah Bima menyimpan semuanya terlalu rapi? Namun, serapi dan selicin apapun seseorang, selalu ada ketidaksempurnaan dalam rencana manusia karena memang begitulah adanya. “Nggak ada rencana yang sempurna. Pelaku pasti meninggalkan jejak walau samar,” desisnya. Sayang, hal samar itu belum tampak hingga kini. Dia berpikir keras mencari kejanggalan dari perbuatan atau perkataan Bima, baik yang dilihat dan dengar langsung maupun dari hasil rekaman dan laporan. Otak Awan tidak bisa menerima fakta bahwa semua data terkait Bima tidak menuntunnya pada jawaban yang dicari. Dalam hati, sempat terpikir bukan lelaki itu pelakunya, tetapi jika bukan dia tidak ada yang lebih mencurigakan dari gelagatnya. Awan memejamkan mata sembari memijat alis dengan posisi merebahkan tubuh di sandaran kursi putar. Tanpa disadari dia terlelap, lalu terkesiap kurang lebih setengah jam kemudian. Badannya terasa kaku dan lelah, bukan karena banyak bekerja, melainkan pikiran yang terlalu penuh dan tidak menentu. Awan kemudian menghidupkan layar ponsel, melihat waktu dan memainkannya asal. Awan mengamati foto wajahnya dalam mimik lucu yang menjulurkan lidah serta Liana yang tertawa melihat ekspresinya, wallpaper ponsel yang sedang dia genggam. Tawa istrinya yang begitu cerah mengalihkan lelah, membuat Awan serta-merta merindu. Dia pun memilih melakukan video panggilan pada wanita dalam wallpaper tersebut. Tidak sampai satu menit, layar yang tadinya memunculkan tulisan berdering sudah berganti dengan wajah wanita berkulit sawo matang. Rambut gelombang setengkuknya berwarna hitam pekat, membingkai indah wajah pemilik hidung bangir dan mata almon itu. Untuk sesaat, Awan tidak bisa berkata-kata. Rindu tiba-tiba berubah menjadi perasaan bersalah ketika melihat Liana tersenyum manis. Bukan hanya karena sudah meninggalkannya, tetapi tentu saja interaksi dengan Keina membuat Awan merasa dirinya sudah berkhianat. “Aku rindu.” Kata pertama akhirnya lolos dari bibir Awan, menghadirkan senyum sipu di wajah Liana. “Aku juga, Kak,” balas Liana. “Juga apa?” pancing Awan. “Ya itu, barusan Kakak bilang apa?” “Emang barusan aku bilang apa?” “Pura-pura nggak tahu,” cibir Liana. Tawa merekah di wajah Awan. Obrolan dan candaan ringan bersama Liana selalu sukses menghibur hati dan mengusir gundah, membuatnya semakin merindu dan ingin merebahkan diri di pangkuan sang istri, merasakan setiap belaian yang menyentuh rambut dan menenangkan. “Aku capek, Li.” Kalimat yang baru saja lolos membuat Liana terpana. Dia yang biasanya setia menunggu Awan bercerita, kali ini tidak bisa melakukannya. Bibirnya melontarkan tanya kenapa suaminya mendadak berkata seperti itu. “Kasus ini cukup pelik. Aku masih belum menemukan titik temu yang pas,” keluh Awan. “Kadang aku terpikir, apa sebenarnya aku salah sejak awal? Apa memang semua ini murni kecelakaan?” Awan mendesah, mengeluarkan napas dalam embusan berat. “Tapi, terlalu banyak keganjilan untuk menyebutkan kecelakaan.” Awan berkeluh-kesah tentang Bima. “Dia yang punya motif paling kuat, berkecimpung dalam bisnis yang sama terus sering kalah tender. Dia juga pernah dekat sama tunangan Elang dan sepertinya naksir udah lama. Baik pekerjaan maupun urusan pribadi, dia selalu berada di belakang Elang.” Liana mendengarkan dengan saksama, memberikan perhatian penuh pada cerita Awan. “Tapi ya itu, nggak ada bukti yang menunjukkan kalau dia pelakunya. Semua hanya bersinggungan, tetapi nggak ada satu pun yang bisa menangkapnya,” ungkap Awan penuh kesal. “Mungkin sejak awal itu memang bukan titik-titik yang bisa ditarik garisnya, Kak,” terang Liana. “Coba cari lagi, bisa jadi titiknya cocok disambungkan ke titik lain yang tidak terpikirkan sebelumnya.” “Aku nggak yakin, Li. Sekarang malah makin bingung mau ke mana arah pencarianku.” “Buka mata dan telinga, Kak. Pehatikan lebih teliti apa yang dilihat dan dengar. Aku rasa Kakak hanya mencari di tempat yang salah.” Awan mengusap wajah, membuat wajah yang kusut semakin ksuut. Liana tersenyum lembut. “Kalau memang nggak ada hal yang mengaitkan orang yang Kakak maksud, bisa jadi memang bukan dia pelakunya,” tambah Liana. “Kalau bukan dia, berarti aku harus mulai lagi dari awal.” “Ya nggak apa-apa. Mungkin memang itu jalannya, mulai lagi dari awal, lihat lagi semuanya,” bujuk Liana. “Nggak ada salahnya denga memulai dari awal kalau memang harus.” Awan mengangguk, menyetujui perkataan istrinya. Mungkin memang dia harus memulai dari awal. Sayangnya, pemikiran itu masih tidak sejalan dengan otaknya. “Rasa-rasanya, aku udah buang banyak waktu, menyita banyak waktu yang terasa sia-sia. karena mengejar hal yang nggak ada.” “Jangan menyerah dulu, Kak, mungkin memang jawabannya belum ada. Tunggulah sebentar lagi.” Awan menatap lekat wajah di ponsel, mensyukuri hadir wanita yang sampai kini menemaninya. Seketika, bahunya terasa berat. Perasaan bersalah seolah ditumpuk begitu saja, ditaruh di pundaknya. Di saat istrinya sangat mempercaiyainya, Awan malah membiarkan dirinya didekati wanita lain. Meskipun keadaan yang membuatnya begitu, tak ayal rasa bersalah terus mengikuti. Bibirnya terbuka, ingin meneritakan hal-hal yang terjadi antara dia dan Keina, juga ingin meminta maaf telah membiarkan gadis itu bersikap sesukanya. Akan tetapi, Awan kembali meragu. “Masih bingung, ya?” tanya Liana lembut. Awan tersenyum janggal. “Oh iya, tadi Kei ke mari. Lelaki yang aku bilang kalah tender itu ngamuk, ninju. Kei ada di sana pas kejadian. Otomatis, dia ikut pulang waktu aku tadi pulang.” Kenapa Kakak biarkan dia ikut pulang? Sebagaimana dia datang, Kakak bisa membiarkan dia pulang dengan cara yang sama, batin Liana. Kata-kata itu Liana simpan dalam benak tanpa mengeluarkannya. Dia tidak ingin memulai pertengkaran saat jarak saja sudah menjadi kesedihan mereka. “Kakak nggak apa-apa?” Liana bertanya meskipun bukan itu yang paling mengkhawatirkannya. “Luka dikit aja,” jawab Awan sambil memegang sudut bibir yang tadi terluka. “Ini juga udah baikan, tadi lang dikompres dan diobati. Oleh Keina, sambung Liana dalam hati. Jika bukan gadis itu siapa lagi? Tidak mungkin dia hanya duduk diam melihat Kakak mengobati lukanya. “Kelihatannya udah baik, sih. Aku dari tadi nggak sadar ada luka di muka Kakak.” Awan terkekeh. “Belum lama jauh udah kayak gini. Kalau sampai sebulan di sini, bisa-bisa kamu lupa sama aku.” Bercanda tidak lantas menghilangkan rasa bersalah. Senyum dan tawa Liana membuat perasaan tidak nyaman itu kembali. Awan mengurut dahi, merasa bebannya sangat berat karena kasus yang terasa buntu ditambah kehadiran Keina yang tidak bisa ditolak. Awan tidak sanggup, merasa ingin jujur. Bibirnya kembali terbuka. Namun, bayangan Liana mendapat perlakuan sama membuat darahnya mendidih. Jika dia berada di posisi Liana saat ini dan melihat seorang pria mencium pipi istrinya, tentu dia akan naik pitam. Sekonyonng-konyong Awan merasa membicarkan hal tersebut di telepon bukan hal baik. Alangkah baiknya dia menceritakan hal tersebut kelak, ketika mereka telah kembali bertemu dan memiliki waktu bicara dari hati ke hati. Liana yang melihat suaminya sedang berpikir keras mengira masalah saudara kembar yang tidak kunjung selesailah akar dari semuanya. Dia pun mencari hal yang bisa dibahas agar sang suami merasa lebih baik. “Kakak ingat nggak, dulu waktu kuliah, Kakak yang selalu menyemangati tiap aku down?” Awan tersenyum getir. Entah ke mana dirinya yang selalu optimis dan yakin bahwa setiap masalah pasti teratasi. “Kakak bahkan nggak segan-segan turun tangan, bantu apapun kesulitanku. Karena itu, aku selalu merasakan memiliki dukungan yang cukup hanya dari kehadiran Kakak.” Kuliah di negeri asing memang tidak mudah. Sebaik apapun bergaul dan menyesuaikan diri, akan selalu ada kerinduan akan kampung halaman. Awan dan Liana pun begitu. Karena itu, mereka selalu saling mendukung satu sama lain, saling mengisi kekosongan kala jauh dari keluarga masing-masing. “Kak, dulu maupun sekarang, aku yakin Kakak bisa melewati ini. Kakak nggak pernah berhenti jika sudah memulai sesuatu, apapun itu.” Seulas senyum tersungging di wajah Liana. Istrinya mengingatkan Awan kembali pada momen yang membuatnya hampir menyerah kala kuliah. Di tahun terakhirnya, Awan hampir menyerah karena desain untuk tugas akhirnya dicuri. Usahanya berbulan-bulan, melakukan riset, melihat lingkungan sekitar demi mendpatkan desain cantik nan berdaya guna, sia-sia. Awan tidak bisa membuktikan bahwa itu milikknya karena pelakunya memiliki desain produk dan sudah lebih dulu membuat purwarupa. Walaupun alasan pemilihan desain yang disajikan tidak seakurat Awan, tetapi dari luar orang tersebut mampu menunjukkan citra bahwa dia memang menggambar sendiri desain tersebut. Awan yang sudah mencurahkan seluruh tenaga, waktu, dan usaha demi desain tersebut sempat frustrasi. “Waktu itu Kakak bilang mau menyerah, mengulang tahun akhir sambil membuat desain baru. Aku yang waktu itu mau protes nggak bisa karena Kakak udah duluan bilang nggak boleh komplain.” Liana tersenyum mengingat kenangan kala itu. “Yang ajaibnya, Kakak dua minggu kemudian malah bilang kalau sudah menyelesaikan desain baru dan akan segera mengerjakannya.” Awan tersipu mengenang momen tersebut. Dulu dia memang sempat berlebihan. Kala itu, hatinya malah sempat ingin berhenti kuliah, hanya saja tidak pernah diungkapkannya pada Liana. Sejujurnya, dia malu pada wanita yang kala itu belum menjadi istrinya. Dia malu jika ternyata dirinya tidak bisa menjadi kebanggaan dan tempat bergantung gadis itu apabila gagal. Karena itu, mulutnya hanya berkata ingin menunda setahun dengan alasan agar lebih fokus menyelesaikan desain baru. Faktanya, Awan tidak bisa menyerah begitu saja. Memikirkan akan menunda setahun memuat pikirannya tidak tenang dan menjadikannya banyak pikiran lebih dari sebelumnya. Tidak mampu mengendalikan otak yang terus berpikir macam-macam, Awan akhirnya mencurahkan pikiran membuat desain baru. Hasilnya, dalam dua minggu dia sudah bisa memiliki desain akhir yang siap dibuat. Awan pun bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu dengan desain yang ternyata mendapatkan hasil memuaskan. “Jadi, Kak, jangan menyerah secepat itu. Dulu, Kakak bisa melakukannya. Sekarang pun pasti bisa.” Liana memberikan senyum semangat. “Atau mungkin, Kakak bisa coba sekali lagi, mencoba menyerah biar makin kepikiran, terus malah jadi makin rajin. Kadang kan, otak kita malah ingin melakukan hal yang berlawanan.” “Kayak kamu yang sebenarnya rindu tapi nggak mau bilang. Iya kan?” goda Awan, membuat wajah Liana bersemu merah dan tersenyum malu. “Jadi makin pengin pulang, pengin peluk kamu,” celetuk Awan. “Besok aku pulang sebentar, terus balik lagi ke sini boleh nggak?” Sontak Liana menggeleng. “Jangan coba-coba.” Awan masih menggodanya, bertanya kenapa tidak boleh pulang. Liana memiliki keyakinan suaminya akan terlalu nyaman jika sudah kembali. “Nanti Kakak nggak mau balik lagi, lalu masalah di sana makin rumit.” “Yakin banget aku bakal nggak balik lagi?” “Pokonya, beresin dulu urusan di sana kalau mau pulang. Jangan setengah-setengah.” Awan memajukan bibir, tidak terima dengan perkataan istrinya. Namun, salah satu sudut hatinya membenarkan pendapat Liana. Dia pun tidak yakin dirinya akan bergegas kembali ke mari jika sudah berada dalam pelukan istrinya. “Kalau gitu, kamu aja yang ke sini, temui aku sekalian jenguk Mama. Kasihan tuh, Mama, sedih terus.” “Pakai alasan Mama segala. Kalau Kakak yang kangen aku bilang aja.” “Kan, udah dari tadi aku kasi tahu, aku rindu.” Pipi Liana memerah. Meskipun sudah bertahun-tahun menikah, dia masih saja merasakan debar setiap Awan berkata rindu. Wanita itu pun sebenarnya sangat merindukan suaminya, tetapi dia sungkan mengutarakannya. Alih-alih berkata rindu, Liana menyuruh Awan beristirahat. “Kamu yang harusnya istirahat, sudah jam berapa di sana.” Awan berkelit, mengundang gelengan dari Liana. “Eh, tapi gimana bisa istirahat kalau ditelepon. Iya kan? Siapa sih yang telepon kamu jam segini? Udah tahu di sana waktu timur, malah nelepon-nelepon nggak ingat waktu?” kelakar Awan dengan berpura-pura marah. Liana menimpali dengan pura-pura marah, menimpali dengan berkata si penelepon tidak tahu diri dan mengganggu. Setelah lebih dari satu jam, sambungan akhirnya terputus. Perasaan Awan sedikit lega meskipun masih ada perasaan bersalah menggantung karena belum bisa jujur pada Liana mengenai interaksinya dengan Keina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD