Obsesi Seorang Bima Adiwilaga

1011 Words
Pagi hari Awan terasa lebih ringan karena semalam dia sudah mendapatkan banyak asupan semangat dari sang istri. Yoko, seperti biasa, sudah muncul di apartemennya pagi-pagi membawa bubur ayam. Kali ini, Awan memintanya membeli dua porsi untuk mereka. Awan mengajaknya makan di pantri sembari membicarakan kasus Elang. Yoko awalnya canggung, ingin menolak tawaran tersebut. Namun, setelah dipaksa, dia pun duduk di samping Awan dan makan bersama. “Pandanganku bisa saja salah karena terpengaruh perasaan pribadi. Kamu sebagai orang luar, yang secara emosional tidak terlibat sejauh aku, pasti punya pendapat lain. Menurutmu, apakah ini memang disengaja atau aku yang terlalu berlebihan menanggapi kecelakaan Elang?” “Untuk itu saya sesungguhnya masih tidak yakin, Pak,” tukas Yoko. “Melihat cincin yang Bapak maksud ditemukan di dalam mobil, bisa saja itu terlepas di hari kecelakaan secara tidak sengaja. Tapi, kalau kita merujuk pada alkohol yang saya seratus persen yakin tidak ada alasan kuat bagi Pak Elang untuk minum, saya yakin bahkan Pak Elang tidak tahu bahwa dia meminum alkohol hari itu.” “Seratus persen? Yakin?” Yoko mengangguk tegas. “Kalau dalam jamuan setelah bincang bisnis yang bisa saja menggoyahkan klien karena merasa tidak dihargai Pak Elang menolak, apalagi sekadar makan siang bersama adik ipar tentu dia lebih santai menolak. Hari itu Pak Elang sedang ingin makan di restoran tersebut dan pergi karena jadwal siang tidak padat. Saat itulah Pak Nolan datang menanyakan perihal makan siang dan menawarkan diri untuk ikut.” Karena harusnya mereka sudah berangkat, Awan dan Yoko mengemasi sisa makan mereka dan melanjutkan pembahasan dalam perjalanan ke kantor. Awan menanyakan gelagat aneh dari Elang hari itu atau keresahan dalam minggu terakhir sebelum kecelakaan. Yoko meyakinkan bahwa saudaranya bersikap seperti biasa hari itu, tidak ada yang aneh. Dia juga menyatakan gelagat Elang sama saja dalam minggu itu. Selain Bima yang sesekali datang, dalam bentuk baik maupun membuat risih, tidak ada hal lain yang meresahkan. Pun itu tidak ditanggapi serius oleh Elang yang sudah terbiasa dengan perilaku orang-orang di dunia bisnisnya. “Sekarang kita beralih ke Bima. Analisis kamu berdasarkan informasi yang ada gimana?” tanya Awan kemudian. “Sebelumnya, saya mohon maaf, jika pendapat saya kurang berkenan. Jujur saja Pak, saya tidak yakin kalau Pak Bima pelakunya. Sejauh ini, memang dia yang terlihat memiliki motif paling kuat, tetapi memang faktanya tidak ada satu pun kejadian atau data menunjukkan dia melakukan hal tersebut.” Yoko berpendapat bahwa sikap kasar dan emosi Bima yang gampang tersulut merupakan bentuk impulsif dari perasaan tidak berbalasnya untuk Keina. Bima hanya akan bereaksi terhadap sesuatu yang melibatkan atau menghadirkan Keina di sana. “Tender itu pun, menurut saya, dia ingin menang demi mendapatkan perhatian Mbak Kei. Jika nanti kita mendapat kabar baik, saya rasa akan ada sanggahan dari pihak Pak Bima.” Di kantor, Awan memikirkan kembali percakapan dengan istrinya semalam beserta pendapat yang tadi didengar dari Yoko. Setelah sekali lagi mendapatkan informasi terkait Bima dari Dex dan dipastikan orang tersebut tidak ada keterkaitan sama sekali dengan kecelakaan Elang, Awan mencoba melepaskan pemikirannya yang meyakini Bima terlibat dalam kasus ini. Awan menetralkan diri dari perasaan ingin segera menemukan pelaku yang mencelakai Elang. Dia harus mengenyahkan pemikiran subjektif yang membuatnya memaksakan keberadaan Bima sebagai pelaku. Sayangnya, pemikiran itu tidak bisa dienyahkan dengan mudah. Terlebih ketika sorenya Yoko membawa kabar yang sebelumnya sudah diprediksi. Bima melakukan sanggahan atas penetapan hasil evaluasi, tidak menerima jika mereka memenangkan tender. “Alasannya ini sudah direkayasa. Dia tidak mendapat kesempatan bersaing secara sehat karena ada yang sudah menargetkan kita sebagai pemenang.” “Kita tidak melakukan hal tersebut, jadi biarkan saja. Nanti juga akan jelas jika jawaban sanggahan sudah keluar.” Awan kira masalah tender ini akan tentram selama menunggu hasil sanggahan keluar. Ternyata, yang terjadi tidak sesuai khayalan. Ketika jam kantor hampir berakhir, Bima datang mencarinya. Dia membiarkannya masuk dan bertemu di ruang rapat. “Lo ngaku deh, lo bayar berapa pihak sana sampai kasi tender ke lo. Gue yakin tawaran gue sangat menguntungkan mereka,” tuduh Bima tanpa tedeng aling. “Gue bayar berapa? Nol rupiah.” “Alah, jangan sok bersih lo! Gue yakin lo main belakang.” Awan tidak menanggapi emosi Bima yang terus meledak, selain memang karena Bima hanya asal mengoceh dia tidak ingin membuat orang-orang yang masih berada di kantor heboh. “Udah selesai? Minum teh dulu biar adem. Atau mungkin lo lebih suka kopi?” “Nggak usah basa-basi sok baik! Lebih baik lo segera ngaku gimana sampai lo menang tender supaya keputusan sanggah cepat keluar.” “Apa yang harus gue akui sih kalau nggak ada apa-apa?” “Hah! Munafik! Lo kan paling pandai merayu. Sok-sok cuek padahal sibuk di belakang. Kei aja sampai ketipu ama lo!” Awan mengembuskan napas, malas meladeni emosi tidak berujung lawan bicara tetapi tidak terima karena Bima sudah keterlaluan. “Lo kalau segitu cintanya sama Kei, daripada berusaha jatuhin gue, mending perbaiki diri, terutama emosi lo. Kayak anak ABG, labil.” Awan menyesap tehnya. “Lagian, Kei udah gede. Dia bisa mikir apa yang baik atau nggak buat dia.” “Kalau mau dia berpikir baik, jauh-jauh dari Kei. Orang kayak lo nggak pantas buat dia.” “Gue malas debat. Mending lo pulang. soal hubungan gue sama Kei, itu urusan gue sama dia, bukan sama lo.” Bima mendekat, menarik kerah Awan, tetapi akhirnya membiarkan tangannya menggantung di udara. Dia melepaskan cengkraman, menatap cangkir di meja, lalu menepaknya. “Gue bisa bikin lo hancur berkeping-keping dalam sekali gerakan seperti cangkir itu. Sebaiknya, lo jauhi Kei.” “Maaf, lo nggak berhak ngatur-ngatur gue sama Kei. Lo udah lama kenal dan ada di samping dia, kalau memang lo berarti lebih dari teman yang udah kayak saudara, dia pasti udah jatuh cinta sama lo sejak dia paham artinya.” Bima melayangkan tinjunya. Awan menahan kepalan tangan yang akan mengenai wajahnya. “Jangan sampai gue kehilangan kesabaran. Gue bisa bikin Kei benci dan jijik lihat lo kalau mau. Sebaiknya, lo tahu diri dan sadar posisi.” Bima menurunkan tangan dan meninggalkan ruangan. Terlibat atau tidak dalam kecelakaan Elang, Awan paham bahwa Bima adalah masalah selama dia masih terobsesi pada tunangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD