Dua Kuasa

1013 Words
Awan merasa terlalu lelah untuk kembali ke apartemen. Dia akhirnya menginap di rumah Gantari. Tubuhnya meronta, ingin istirahat, tetapi kepalanya memikirkan banyak hal. Padahal, Awan sudah berbaring di ranjang dan memejamkan mata. Namun, pikiran-pikiran yang berkelebat membuatnya jauh dari lelap. Pria itu pun menghubungi Yoko. “Ko, udah ada informasi terkait Bima?” Tanpa tedeng aling, Awan bertanya kala terdengar halo dari seberang sambungan. “Sudah, Pak. Akan saya bawakan laporan lengkapnya besok.” “Sekarang aja, Ko, yang ringkas-ringkas.” “Jadi, Pak Bima sudah berteman dengan mendiang saudaranya Mbak Kei sejak SMP. Bisa dikatakan mereka tumbuh bersama karena Pak Bima sering main ke rumah Mbak Kei, menghabiskan waktu di sana.” Awalnya, Bima merasa perasaan yang dia mililki adalah sebatas saudara karena perbedaan usia yang terpaut jauh. Ketika hubunagn terus berlanjut, lambat-laun dia menyadari bahwa perasaan yang ada untuk adik sahabatnya itu lebih dari sekadar kakak-adik. “Tapi, berdasarkan informasi yang didapat, hubungan mereka tidak pernah sampai ke sana. Apalagi, semenjak saudara Mbak Kei meninggal, mereka jadi jarang berkomunikasi.” Awan merasa buntu. Harapannya sempat kembali besar dikarenakan nama Bima terus muncul. Sayangnya, kebetulan yang ada tidak menunjukkan adanya kesengajaan berarti. Yoko juga menjelaskan, keberadaan Bima di restoran tidak menunjukkan tanda-tanda usaha mencelakai. Dia tidak lama di sana karena Elang langsung menolak tawaran yang diberikan dan tidak berniat berbicara lebih lanjut. Sungguh demikian, berat bagi Awan mencoret nama Bima dari daftar pelaku-pelaku yang dicurigai. Sepertinya, untuk sementara memang belum ada piliah lain. Awan akan menyimpan nama Bima sampai pelaku yang sbeenarnya diketahui. “Ko, apa kita bisa minta rekaman CCTV restoran?” tanya Awan kemudian. “Nanti akan saya coba konfirmasikan ke Dex, pak.” “Nolan bilang Elang minum anggur yang dipesan satu atau dua teguk.” “Nggak mungkin, Pak Elang pasti nggak minum.” “Kamu bisa jamin ya, Ko.” “Saya yakin seratus persen, Pak. sikonnya sangat tidak cocokl dengan kebiasaan Pak Elang. Tidak ada alasan atau hal kuat yang sesuai.” Yoko mengulang kembali kisah Elang menolak tawaran minum dari klien dengan menekankan pada poin-poin tertentu seperti gestur. Awan sependapat pada Yoko. Perkataan Nolan seperti sebuah kejanggalan jika menilik sifat Elang selama ini. Elang bukan pria yang sembrono dan impulsif. Dia tidak akan bertindak gegabah. “Awasi Nolan lebih lanjut. Entah apa tujuannya berbohong, kita harus waspada dan membuka mata terhadap semua kemungkinan.” Awan kembali merebahkan diri ketika selesai menghubungi Yoko. Kepalanya sudah terasa lebih ringan setelah berbicara dengan asisten tersebut. Dia harus cukup tidur malam ini karena besok ada tender yang harus dimenangkan. Keesokan paginya, Awan pamit pada Gantari saat matahari belum menampakkan diri secara utuh. Sarapan yang sudah dibuat sang Mama dia kemas dan bawa ke apartemen. Ada berkas-berkas yang harus diambil di sana dan dia malas meminta Yoko melakukannya. Awan tiba lebih awal hari ini. Dia meminta sekretaris mengecek tim tender apakah sudah datang dan memintanya menyampaikan Awan menunggu mereka. Tidak laama, beberapa orang memasuki kantor. Mereka pun melakukan briefing singkat sebelum berangkat. Awan memakan sarapannya dalam perjalanan menuju tempat pelaksanaan tender. Dia membaca kembali proposal untuk meyakinkan diri terkahir kali bahwa persiapan sudah matang. Tim Awan mendapatkan kesempatan ketiga untuk melakukan presentasi. Melihat kinerja timnya hari ini, Awan merasa yakin mereka akan memenangkan tender tersebut. Ketika sudah berada di area parkir dan akan pulang, Bima mendatanginya. Wajah pria itu merah padam. “Kenapa lo nggak mundur aja sih?” Sebuah pertanyaan retoris karena Bima sebenarnya tidak memerlukan jawaban dari Awan. “Kenapa harus selalu lo yang ada di jalan gue?” “Easy, Man. Kalau mau bicara pakai kepala dingin.” “Gue udah berkali-kali coba bicara dengan kepala dingin, tapi lo kan yang nolak semua tawawan gue.” Awan menggaruk kepala, tidak ingin meladeni Bima. Namun, pria itu terus mengoceh dan mengumbar emosi. “Kita harus sportif, Man. Lagipula, ini bisnis. Kalau bisa dapat semua, kenapa ambil setengah?” “Ternyata begitu prinsip lo.” “Ada yang salah?” Bima mencelos dan menggeleng. “Gue sebenarnya ggak peduli apa prinsip hidup lo. Masalahnya, kenapa semua yang mau lo dapetin harus dari gue?” Awan tidak mengerti arah pembicaraan Bima. Pria di depannya terus mengoceh dalam amarah yang tidak kunjung reda. “Sebenarnya mau lo apa sih?” Awan melihat jam tangan, menghitung waktu yang sudah terbuang karena meladeni Bima. “Gue maunya gue yang menang tender ini! Gue mau lo nggak ada lagi di hadapan gue!” “Kalau soal kerjaan, gue paham lo mau menang. Tapi, apa hubungannya sama gue nggak lagi muncul di hadapan lo?” Awan memasukkan tangan ke saku celana. “Dan soal hadap-hadapan ini, harusnya dari awal lo nggak usah berkecimpung di bisnis yang sama kalau nggak mau ketemu gue. Dari sejarahnya aja udah ketahuan kalau perusahaan gue lebih dulu berdiri, harusnya lo mikirin itu kalau nggak mau sering-sering lihat gue.” Bima mengepalkan tangan, berusaha menaham emosi yang masih meraja. Kekesalan semakin menumpuk karena sadar perkataan saingannya itu benar. “Satu lagi. Jangan nyusul-nyusul gue. Mulut lo bilang nggak mau berhadapan sama gue, tapi gue diem-diem aja dicariin.” Awan mengambil kesempatan ini untuk melihat respons Bima. Apakah akan ada respons berlebihan jika dia membahas kecelakaan tempo lalu. Pria itu hampir kecewa karena tidak menemukan apa-apa, Bima membatu. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Padahal, Awan tidak memberitahukan apapun apalagi menghubungi, tetapi sebuah suara memanggilnya penuh bahagia. tidak lama, seorang gadis lincah mendekat. “Kak, udah selesai kan? Kita makan siang, yuk!” ajak Keina. “Kamu ngapain ke sini?” “Aku? Mau ‘nangkep’ Kakak?” “Aku udah temenin kamu ke Sidney, masih nggak cukup?” Tawa centil menghiasi wajah gadis itu. “Mumpung ketangkep, ayo, Kak.” Keina menarik tangan Awan. Sesaat, Awan melupakan pria yang sedari tadi masih berdiri di dekatnya dan menyaksikan interaksinya dengan Keina. Dia tidak menyadari ada amarah yang menguar, memenuhi area parkir. “b*****t!” Awan baru saja kembali tersadar bahwa tadi dia sedang bicara dengan Bima. Ketika menoleh ke asal suara dan ingin bicara, sebuah pukulan mendarat ke pipi. “Harusnya lo mati aja waktu itu!” desis Bima penuh emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD