“Udah pada selesai makan, kan?” tanya Dita setelah dilihatnya tidak ada lagi yang mengunyah. “Kita telepon Mas Awan, ya.”
Dita berdiri mengambil ponsel di kamar, berjalan kembali ke meja makan seraya mengutak-atik hp. Bibirnya mengerucut kala sampai di tempat dia duduk tadi ponsel tersebut tidak menunjukkan hal yang diinginkan di layar.
“Kenapa sih, cemberut gitu?” Nolan mengelus punggung Dita.
“Mas Awan nomornya nggak aktif.”
“Telepon aja istrinya.”
Mulut Awan berbicara santai, tetapi dalam hatinya sedang ada badai. Dia melirik Gantari. Wanita itu menepuk pelan tangannya yang diletakkan di paha.
“Iya, ya. Kok aku bisa lupa, sih?” seru Dita sembari lanjut memainkan ponsel.
Tidak lama, suara yang akrab di telinga sekaligus Awan rindukan terdengar. Suara itu menjawab dengan riang ketika Dita menanyakan kabarnya.
“Dita cari Mas Awan. Nih, Mbak Lili lihat, kita lagi ngumpul.”
Dita mengedarkan ponsel agar Liana melihat Nolan, Awan, dan Gantari. Senyum lembutnya merekah ketika ponsel berhenti sejenak di hadapan Awan.
Melihat wajah kekasih hati tentu membuat Awan ingin mengobrol. Namun, dia harus menahan diri karena kali ini sedang bersama Dita dan Nolan.
Liana menjelaskan pada Dita bahwa Awan sedang tidak berada di tempat. Nomornya sedang jarang aktif. Di saat perempuan itu protes kakaknya sulit dihubungi, Liana menjelaskan masih ada aplikasi lain yang bisa digunakan tanpa mengaktifkan nomor ponsel.
“Emang Kak Lili nggak kangen apa?”
Tawa renyah dari ponsel membuat rasa rindu di hati Awan semakin menggebu. Liana menjawab bahwa Awan rajin menghubungi meskipun saat ini nomornya tidak aktif.
Dita mendekati Gantari, mereka mengobrol beberapa saat, lalu Gantari mengajak Dita untuk menutup panggilan karena takut mengganggu aktivitas Liana jika mengobrol terlalu banya
Ada kelegaan dalam hati Awan karena malam ini tingkat keingintahuan Dita tidak terlalu tinggi. Bisa jadi karena ada Ibu mereka. Apapun itu, Awan bersyukur panggilan tersebut telah berakhir.
Setelah menutup telepon, Dita mengajak Mama menyiapkan camilan dan minuman untuk dibawa ke ruang keluarga. Mereka meminta Awan dan Nolan menunggu di ruang keluarga.
“Sini Sayang, aku bantuin kemas meja makan,” tawar Nolan.
“Nggak usah. Dapur dan meja makan urusan aku sama Mama. Kamu temenin aja Mas Elang.”
Nolan terlihat berat hati meninggalkan sang istri. Dita mendorongnya agar segera meninggalkan meja makan. Sementara Awan, dia sudah duduk di sofa ruang keluarga sembari memainkan remot, mencari film keluarga di salah satu OTT berbayar untuk ditonton bersama.
“Film apa?” Awan menoleh pada Nolan yang sudah duduk di sebelahnya.
“Terserah lo aja.”
“Yang tahu selera Dita kan lo.”
“Komedi romantis aja kalau gitu.”
Awan mencari referensi film bergenre komedi. Tidak menemukan yang dirasa cocok, dia beralih ke film bertema anak dan keluarga. Sambil memilih Awan berkata, “cari film keluarga ajalah, ada Mama.”
Nolan membiarkan Awan mengambil kendali remot, menunggu dalam diam kala Awan tidak menanyakan apapun. Dia melihat kakak iparnya kemudian memilih sebuah film setelah membaca informasi film.
“Ini aja, bagus kayaknya,” tegas Awan yang memutuskan menonton film mengenai seorang Ibu yang harus berjuang menyelamatkan anaknya yang didiagnosis penyakit mematikan.
“Lan,” panggil Awan sembari menunggu ibu dan adiknya. “Lo ingat berapa banyak persisnya gue minum?”
“Hah?” Nolan terkejut tiba-tiaba ditanyai hal serius.
“Menurut hasil pemeriksaan, ada alkohol di badan gue. Lo yang hari itu nemenin gue kan?”
“Oh … Maksud lo, minuman yang gue pesan waktu itu?”
Awan bersikap seolah sedang berusaha mengingat-ingat, kemudian menggeleng. “Gue lupa, Lan.”
“Masa sih?”
Awan mengedikkan bahu. “Gue masih nggak yakin sama ingatan gue.”
“Lo ingat kopi yang gue bawain ke ruangan lo?” selidik Nolan.
“Kopi?”
Nolan menjelaskan jika dia membawa dua cangkir kopi ke ruangan Elang. Satu diberikannya pada Elang, satu lagi diminumnya sambil menunggu Elang menyelesaikan pekerjaan sebelum pergi makan siang.
Mata Nolan menyipit, menunggu respons Awan. Alih-alih mendapat jawaban, dia malah diberikan pertanyaan, “Emang kopinya gue minum?”
“Di kantor sih nggak,” ujar Nolan. “Tapi lo minum dikit pas di parkiran resto, sebelum keluar mobil.”
Awan memiringkan kepala. Seingatnya, tidak ada informasi terkait kopi dalam laporan kepolisian. Harusnya, jika dia minum di mobil, gelas kopi tersebut masih ada di sana. Awan mencatat yang baru saja diceritakan Nolan dalam benak.
“Mungkin lo nggak enak karena udah gue bawain terus nggak dipinum, jadi lo minum dikit sebelum keluar mobil.”
Awa mengangguk setuju. “Terus?”
“Terus maksudnya? Ya, kita masuk ke resto, pesan makanan.”
“Lo pesan minuman apa waktu itu?”
“Anggur, dua gelas. Menu seafood kan enak banget dimakan sambil minum anggur.”
“Gue minum?”
Nolan terdiam sesaat. Dia menatap Elang, lalu terkekeh. “Seriusan lo nggak inget?”
Awan kembali menggeleng. Nolan menyatakan bahwa dia memesan dua gelas anggur hari itu. dia mengaku mereka sama-sama meminum sedikit. Dia setengah gelas, sementara Elang hanya satu atau dua tegukan.
“Lo bilang nggak mau banyak minum. Masih siang juga,” tukas Nolan lagi. “Gue juga nggak minum banyak karena waktu pergi gue yang nyetir. Kalau waktu itu nggak dipanggil, mungkin gue lagi yang nyetir, makanya nggak minum banyak.”
“Minum aja. Kan bisa gue yang nyetir pulang.”
“Nggak enaklah. Terlalu memanfaatkan posisi kata orang kantor.”
“Lo dikatain gitu?”
Nolan menarik napas, lalu mengembuskannya dengan berat. “Kadang-kadang. Tapi kadang-kadang dibaikin jgua sih, terlalu baik malah. Mungkin mereka pikir jadi suami dan adik ipar jajaran atas berarti tinggal ngomong.”
“Mana ada yang kayak gitu?”
“Sayangnya, nggak semua orang mikir gitu.”
“Serius amat sih, para pria tampan di sini.”
Dita datang membawa dua buah piring camilan. Gantari menyusul dengan nampan berisi bebeapa gelas minuman.
“Perkataan orang nggak usah terlalu dipikirin, Sayang. Memang, kamu masuk ke sana karena punya hubungan sama aku, tapi kinerja bagus kamu hasil usaha dan kerja keras sendiri. Buktinya juga ada kan. Itu nggak mengada-ada,” hibur Dita.
Di saat Gantari dan Dita membujuk Nolan, Awan memperhatikan sembari memikirkan percakapan mereka barusan. Yang Nolan ceritakan tentang Elang meminum anggur di siang hari terasa tidak masuk akal mengingat tubuh saudaranya tidak menerima alkohol dengan baik.