Momen yang Hilang

1008 Words
Awan baru sja tiba di apartemen ketika telepon dari Dita masuk. Tumben, batinnya. “Mas, nanti malam ke rumah ya? Kita makan malam bareng sambil telepon Mas Awan,” cetusnya. “Udah telepon Mama?” Bibir Awan berkhianat dengan tubuh yang masih merasa lelah. “Udah, dong. Mama oke, makanya aku telepon Mas. Aku tunggu.” Awan pasrah. Dia pergi ke kamar dna menjatuhkan diri di kasur tanpa membersihkan tubuh terlebih dahulu. Setelah beristirahat sebentar lelaki itu mandi dan berkemas untuk menemui sang Mama. “Kamu kenapa, Wan, kayaknya capek bener?” “Aku baru datang dari Sidney,” jawabnya. “Nemenin Keina.” Gantari berdiri di belakang Awan yang duduk di kursi bar kayu di area pantri, mengusap kedua bahu anaknya. Awan membalas. Dia memegang salah satu tangan Gantari dan menggenggamnya. “Kupikir, jadi Elang bakal bikin mulus semuanya. Ternyata, nggak.” Awan tersenyum getir. “Dan yang paling berat ternyata menghadapi tunangan Elang itu. Ditolak nanti aneh, nggak ditolak aku jadi merasa bersalah sama Lili.” “Yang sudah terlanjur kamu mulai, selesaikanlah. Setelah ini, lebih hati-hati sebelum mengambil keputusan. Untuk kasus Elang kita sama-sama berdoa, semoga masalah ini segera selesai.” Menyebut nama istrinya membuat Awan teringat bahwa dia belum memberitahukannya sama sekali tentang niat Dita menelepon. Dia pun bergegas mengambil ponsel, membuka aplikasi percakapan, menekan ikon telepon video di riwayat panggilannya dengan Liana. Mereka berbasa-basi, Awan memberikan ponsel ke Gantari dan membiarkan dua wanita yang paling dia cintai dalam hidup bersilaturahmi sebelum menyampaikan tujuannya menelepon. “Li, malam ini aku sama Mama makan malam di rumah Dita. Dia kayaknya bakal telepon kamu karena nomorku sedang nggak aktif. Hmmm …” “Nggak usah khawatir, Mas. Nanti aku kasi alasan yang sama kayak waktu Onel nanyain kamu.” Senyum lembut Liana menenangkan perasaan Awan yang sebenarnya kalut. Dia dan Liana sama-sama paham bagaimana cerewet dan detailnya jika Dita sudah bertekad bertanya sesuatu. Karena itu, Awan sedikit was-was. Gantari memahami keresahan anak lelakinya setelah panggilan video tersebut terputus. “Tenang saja, Wan. Nanti kita bantu juga Lili dari sini biar Dita nggak bertanya banyak ke sana.” Awan mengangguk, bukan hanya untuk menyetujui perkataan sang Mama, tetapi juga memberikan keyakinan pada diri sendiri semua akan baik-baik saja malam ini. “Nih.” Mama tiba-tiba menyodorkan segelas orange squash. “Tahu aja nih, Mama,” seloroh Awan yang langsung menenggak habis isi gelas. Sebelum pukul tujuh, Awan dan Gantari sudah sampai di rumah Dita. Perempuan yang mengundang mereka menyambut dengan wajah semringah. Dita berpenampilan santai, mengenakan dress rumahan putih polos berbahan kaus, sekilas terlihat seperti T-shirt lengan pendek yang bagian badannya panjang hingga lutut. “Rapi amat, as always,” celetuknya kala melihat Awan mengenakan blazer. Awan sependapat. Dia yang senang bergaya casual, lebih sering berada di bengkel mengenakan oblong dan jins, merasa Elang terlalu rapi. Di semua foto yang diperlihatkan Awan, Elang selalu memakai setelan berbahan kain yang diselubungi jas atau blazer. Dia mendadak tersadar penampilannya saat menuju bandara, baju kaus dan celana jins. Sekarang dia mengerti kenapa Keina lama menatapnya kali itu. Dipikirnya itu karena bawaannya yang sedikit, ternyata karena pilihannya outfit-nya hari itu. Kepala Awan menjadi berat karena pikiran-pikiran buruk tiba-tiba menumpuk. Dia menggeleng keras, berharap Keina merasa Elang hanya mencari sensasi karena ingin berganti suasana. “Mas, kenapa sih?” Suara Dita mengakhiri pemikiran tersebut. Awan beralasan dia teringat urusan kerjaan untuk besok dan lupa mengabari Yoko.” “Oh iya, besok tender, ya.” Dita tertawa melihat Awan mengangguk cepat. “Aku yakin kita bakal menang.” “Pasti! Kamu meragukan Masmu ini?” Dita mencebik. “Gini nih, susahnya ngomong sama orang songong. Heran aku, Keina betah banget nempel sama kamu. Kalau kulihat, nggak ada manis-manisnya selain kompeten kalau urusan kerjaan.” “Dia tahu mana lelaki hebat yang bisa diandalkan.” “Mulai, deh. Malesin banget.” Gantari menengahi pertengkaran kecil mereka dan menanyakan apakah malam malam sudah siap. Dita memberi kode dengan mempertemukan ujung jempol dan telunjuk, meminta Gantari dan Awan menunggu di meja makan sementara dia memanggil Nolan. Meja makan Dita didominasi dengan seafood. Sup kepiting, oseng cumi dengan banyak potongan cabai rawit, capcay seafood, juga ikan goreng terbang. Tidak ketinggalan semangkuk besar salad yang merupakan salah satu favorit adiknya itu. “Ini Mas, makan yang banyak.” Dita menyendokkan banyak oseng cumi ke dalam piring Awan, mengisi sepertiga piring yang sebelumnya sudah berisi nasi. Kembarannya sang penyuka menu manis bukannya tidak tahan pedas, tetapi semua tahu bahwa makanan pedas tidak pernah menjadi favorit Elang. Gantari dan Nolan tergelak melihat Dita yang sengaja memenuhi piring Awan dengan oseng cumi. “Harus dihabisin,” lanjut Dita seraya melemparkan lirikan jahil pada kakaknya. Awan mengisi bagian kosong di piringnya dengan capcay dan mulai makan. Dita mencelos, merasa tidak sukses mengerjai sang Kakak. Teman bertengkarnya itu harusnya menunjukkan ekspresi marah atau tatapan protes agar Dita merasa menang. Sayangnya, pria yang sedang menyendokkan nasi dengan cumi dan capcay itu menunjukkan wajah datar. “Kamu makan juga, dong,” bujuk Nolan yang memahami ekspresi sebal istrinya. Dita menyerah. Dia menyendokkan nasi dan lain-lain untuk Nolan, kemudian mengisi piringnya dengan salad. Gantari tersenyum geli melihat anak bungsunya. Jika ini masa sekolah, anaknya itu pasti akan berang ketika tahu yang di hadapannya sekarang Awan, kakak kesayangannya yang selalu menjadi penengah, bukan Elang. Wanita paruh baya itu tetiba membayangkan meja makan mereka yang dulu selalu riuh karena pertengkaran Dita dengan Elang. Mereka saling memasukkan menu yang tidak disukai ke piring satu sama lain, atau mencomot isi piring jika sama-sama menyukai makanan tersebut. Jika Awan tidak sukses menengahi mereka atau sedang terlibat permainan Elang, Wirya akan memarahi mereka dan mengingatkan untuk tidak bermain-main ketika sedang makan. “Makanan akan menjadi darah daging. Syukuri agar bukan hanya mengenyangkan dan menjadikan kita sehat, tetapi juga berkat.” Meja makan akan berubah sunyi jika sang Papa sudah mengeluarkan ultimatum. Namun, bukan anak-anak namanya jika jera dalam sekali omelan. Keesokannya, akan ada kejahilan lain dari Dita atau Elang yang meramaikan momen kebersamaan mereka. Gantari tersenyum simpul sambil berdoa agar kenangan itu bisa segera terulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD