“Kak, aku numpang mandi di sini, ya?”
Pertanyaan Keina bagai langit runtuh di telinga Awan. Penolakannya belum sempat terlontar karena Keina mengatakan sudah pukul empat dan tidak keburu jika dia pulang terlebih dahulu. Terpaksa, Awan menyetujuinya.
Sore sekitar pukul lima, pintu kamar diketuk. Beberapa orang masuk membawa pakaian Keina dan perlengkapan make up. Gadis itu menyambut pakaian yang diberikan dan berganti pakaian.
Melihat Keina sibuk didandani, Awan memilih belama-lama di kamar mandi. Toh, dia tidak membutuhkan waktu lama jika hanya mengenakan setelan. Pria itu berendam di bak jacuzzi di sana, menikmati hangat yang membungkus tubuh.
“Kak, mandi kok lama banget?” suara gedoran terdengar di pintu.
Setelah menjawab ‘sebentar’, Awan keluar. Setelah sama-sama rapi, mereka pun turun ke lantai tempat resepsi. Keina merangkul lengannya ketika memasuki ruang pesta.
Sesungguhnya Awan risih, tetapi mengingat Keina selalu melakukan ini, dia yakin Elang tidak pernah menolak perlakuan ini. Gadis itu melambai riang ketika melihat orang tuanya, menyeret Awan ke sana.
Waktu terus berjalan selama dia mengikuti ke mana pun Keina menyeretnya. Awan resah ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan waktu setempat dan dia masih belum bisa memegang ponsel. Keresahan tergambar jelas dari wajah pria yang malam itu berbalut kemeja putih dan celana hitam serta jas abu-abu.
Di lain pihak, Keina yang malam itu mengenakan corset mini dress hitam dengan potongan leher berbentuk hati tampak cerah ceria, ketukan slingback pointed toe yang dikenakan terdengar berirama setiap dia melangkah. Gadis itu mengajak Awan mengitari seluruh ruangan dan berbicara dengan teman-teman orang tuanya yang dikenal.
Setelah merasa cukup berinteraksi, Awan mengajak Keina naik dengan dalih lelah. Mereka berbincang sebentar dengan Ayah dan Ibu Keina sebelum pamit dari pesta. Gadis itu menempel pada Awan, tidak mau melepaskan rangkulan sampai mereka tiba di kamar.
“Aku udah temenin kamu seharian, sekarang udah bisa lihat hp kan?” tanya Awan tanpa basa-basi.
“Ya ampun! Kakak ngajak aku naik cepet kirain mau ngobrol atau apa gitu. Ternyata, gara-gara hp,” ketus gadis yang malam ini rambutnya terurai persis foto yang Awan lihat saat diberitahukan Yoko.
“Seharian nggak lihat hp itu udah rekor saat tiba-tiba pergi tanpa kabar gini. Aku juga perlu menghubungi Yoko karena sebenarnya ada urusan.” Awan berkelit.
“Setengah jam lagi, ya. Kan, besok pagi-pagi kita pulang. Anggap aja manjain aku sesekali.”
Awan menggaruk kepala. “Setengah jam, pas.”
“Yes!” Keina mengepalkan kedua tangan di udara, melemparkan senyum lebar nan manis. Setengah jam berikutnya, Awan mendengarkan cerita Keina yang seperti tidak ada habisnya.
Sebelum pulang, Keina mengambil foto mereka berdua di balkon. “Oke. Aku pulang. Besok aku ke sini−”
“Nggak usah,” sanggah Awan. “Kita ketemuan di bandara aja biar nggak buang waktu. Kamu mau jam berapa turun kalau harus ke sini dulu.”
Keina tersipu. Baginya, itu adalah bentuk perhatian dari sang tunangan yang nggak ada romantis-romantisnya sama sekali.
Sebelum pulang, Awan membekalinya dengan sweater yang dia bawa. “Jangan nggak dipakai.”
“Kakak so sweet banget akhir-akhir ini,” simpulnya riang, lalu memakai sweater tersebut.
“Udah, pulang sana. Udah malam.”
Awan mendorong Keina hingga ke pintu, membukakan daunnya, kemudian melambai. Dia sempat melihat gadis itu cemberut sebelum menutupnya.
Awan bergegas mencari ponsel, mengecek pesan/panggilan yang masuk. Tidak banyak, tetapi di antara yang sedikit itu ada pesan dari Liana. Dia mengabaikan pesan itu sebentar karena perlu menghubungi Yoko.
Suara bernada cekatan terdengar begitu telepon tersambung. Awan meminta Dex mengecek latar belakang Bima yang berkaitan dengan Keina dan mendiang kakaknya.
“Dan ternyata, Elang sempat ketemu Keina sebelum ke restoran hari itu. Kemungkinan dia dengar pembicaraan Elang sama Kei, lalu nyusul ke sana. Cari tahu dengan pasti apa saja yang dia lakukan setelah bertemu Keina sebelum sampai ke restoran,” perintah Awan.
Setelah memberikan instruksi-instruksi terkait perkembangan kasus Elang, Awan juga meminta Yoko menyiapkan makanan di apartemen. “Masukin aja ke kulkas, nanti aku hangatkan sendiri.”
“Atau kalau mau, besok saya bisa ke sana setelah Bapak sampai, jadi makanannya masih hangat.”
“Nggak usah. Itu aja cukup.”
Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Yoko, Awan pun menghubungi istrinya. Wajah perempuan yang dia rindukan terpampang di layar tidak lama setelahnya.
“Sibuk banget kayaknya. Kalau masih sibuk, besok aja telepon, nggak apa.” Liana memaklumi Awan ketika suaminya meminta maaf baru bisa menghubungi.
“Aku sebenarnya nggak sibuk-sibuk gimana, cuma …”
Untuk sesaat Awan ragu. Dia tidak ingin menutupi dari Liana, terasa seperti sedang berselingkuh, tetapi tidak yakin Liana akan menerima jika dia menceritakan keberadaannya di sini melalui jaringan telepon.
“Kalau belum bisa cerita, lain kali aja,” imbuh perempuan yang tersenyum hangat di layar kotak.
“Nggak apa-apa, cepat atau lambat aku harus cerita.”
Awan menceritakan kronologis kejadian hingga dia bisa berada di hotel saat ini, bagaimana Keina memaksanya dan dia tidak bisa menolak karena melibatkan orang tua Keina.
“Kalau aku tolak, takutnya orang tua Keina berpikir macam-macam, malah menimbulkan masalah baru buat Elang.”
Wajah di dalam layar kotak tersenyum. “Berarti ini baru pulang dari pesta? Masih pakai kemeja.”
Awan otomatis melihat pakaiannya. “Iya,” kekehnya.
“Lalu … untuk hari ini nggak bisa langsung merespons, aku terlanjur setuju waktu tadi Keina minta nggak pegang hp seharian.” Wajah Awan keruh. “Tolong jangan berpikir macam-macam. Keina dan Elang ternyata punya jadwal makan bareng sebulan sekali dan itu belum dilakukan, jadi aku yang kena karena ini udah akhir bulan.”
Awan menceritakan usahanya menghindari makan bersama ini, tetapi karena Keina pernah kecolongan tidak makan siang bersama dalam sebulan, gadis itu menyeretnya ke mari sekaligus karena tujuan itu.
“Padahal, aku berharap Elang segera bangun dan pulang supaya nggak perlu melakoni ini. Aku juga udah berusaha mundur-mundurin jadwal. Tapi sepertinya Keina terlalu hapal gimana menyikapi Elang dan bikin dia nggak bisa nolak.”
Awan menatap layar yang menampilkan wajah sang istri, menari raut kegelisahan di sana. Liana terlihat tenang, sangat tenang.
Di antara banyak sifat Liana, ketika dia terlihat sangat justru paling menakutkan bagi Awan. Karena diam Liana yang seperti itu, artinya ada yang dia sembunyikan, tidak ingin dibicarakan.
“Aku minta maaf nggak semoat ngabarin, malah sempat nggak bisa dihubungi.”
“Nggak apa,” kata Liana penuh kebohongan.
Dalam hati, dia ingin marah, tidak terima suaminya seharian bersama wanita lain, menghabiskan waktu berdua dan tertawa bersama. Dia sangat paham bahwa Awan melakukannya karena saat ini sedang berperan sebagai saudara kembarnya. Namun, tetap saja Liana tidak bisa menerimanya.
Membayangkan suaminya berduaan di hotel dengan gadis secantik Keina tentu meresahkan. Dia tidak yakin tidak ada keintiman yang tercipta meskipun yakin Awan tidak akan berkhianat.
Liana menahan gemuruh yang berkecamuk dalam hati, tidak ingin membuat suaminya khawatir. Bisa-bisa, Awan segera pulang dan tidak mau ambil pusing urusan keluarganya jika tahu hatinya kini sedang tidak menentu.
“Lain kali, kasi tahu dulu kalau nggak bisa aktif seharian.”
“Aku juga nggak tahu. Tadinya hp ku-silent biar bisa istirahat tanpa diganggu. Tapi Kei datang tiba-tiba lalu nggak mau pulang karena aku nggak mau diajak keluar.”
Kei. Panggilan kecil yang baru saja terlontar dari bibir Awan bagai pisau tajam yang meninggalkan goresan panjang di hati. Nama itu terdengar begitu indah ketika Awan menyebutkannya.
Awan menangkap sekilas kegamangan dari mimik wajah istrinya. Ingin dia tanyakan, tetapi takut menjadi bibit pertengkaran. Posisinya saat ini tidak memberikan banyak ruang menjadi penenang sang istri. Jika ada hal-hal yang membuat Liana berpikir keras sekarang, pasti dia penyebabnya.
“Kerjaan gimana?”
Senyum kembali menghiasa wajah Liana. “Yang kemarin-kemarin udah selesai, tapi besok mau ada klien datang. Katanya sih, mau konsul dulu, jadi aku nggak tahu pasti bakal sibuk atau gimana.”
Awan mengangguk pelan. “Jangan lupa makan dan istirahat.”
“Kamu juga. Di sana, aku nggak bisa antarin makanan dan nungguin kamu makan.”
“Iya. Jangan khawatir. Ada Yoko yang selalu nanyain mau makan apa di mana dan bla bla blab la.”
Liana tersenyum, tetapi sorot matanya berkata lain. Manik cokelat gelapnya mewakilkan isi hari yang gundah. Dia bertanya-tanya, apa di sana Keina juga memberikan perhatian besar pada suaminya, mengajaknya makan atau mungkin membawakan makanan ke kantor, meneleponnya hanya untuk mengucapkan selamat malam, dan lain-lain. Liana memejamkan matanya untuk beberapa detik.
“Kamu nggak apa-apa?” Liana buru-buru menggeleng.
“Mataku tiba-tiba kelilipan,” sahutnya asal.
Keina mengalihkan pembicaraan dengan bercerita tentang Onel, menceritakan bagaimana semangatnya sang adik mencoba membuat desain furnitur.
“Kamu janjiin dia apa sampai semangat begitu?”
“Aku janji dia boleh buat dan pajang karyanya untuk dijual di toko kalau aku oke sama desainnya.”
“Hati-hati diutangin, ya. Kamu tahu sendiri kan Onel kayak apa.”
“Aku nggak main-main, kok. Dia punya bakat. Aku lihat hasil kerjanya rapi. Dia juga perhatiin detail. Jadi, nggak ada salahnya kasi dia kesempatan.”
“Sekarang dia ke mana-mana bawa buku sketsa sama pensil. Kapan senggang langsung berkutat ngedesain.”
Awan tersenyum geli. Dia tidak menyangka adik iparnya akan begitu bersemangat setelah pembicaraan terkahir mereka di telepon. dia merasa itu perkembangan bagus. Harapannya, Onel bisa lebih memaksimalkan potensinya jika diberi kesempatan mencoba. Sayang, jika bakatnya tidak diasah.
“Tapi jaga dan cek-cek toko aman kan?” tanya Awan kemudian.
“Sejauh ini, aman. Kalau dia sampai bikin bangkrut toko, aku duluan yang marahin, nggak perlu nunggu kamu pulang.”
Awan tergelak. “Jangan galak-galak sama dia, adik satu-satunya itu.”
“Justru karena dia satu-satunya aku harus tegas. Kalau dia gagal, nggak ada cadangan untuk punya adik sukses.”
Awan menggeleng. Dia dan Liana tertawa bersama, menikmati derai yang terdengar seirama.
“Kasus Elang gimana, Kak?” Pertanyaan Liana mengundang desahan kecil dari mulut Awan. “Udah ada perkembangan?”
“Kemarin udah ada laporan resmi, dinayatakan kecelakaan,” ungkap Awan. “Tapi ada yang aneh.”
Awan melihat kening istrinya berkerut, membuatnya tersenyum tipis. “Segitu khawatirnya.”
“Kalau gitu, aku biasa aja.”
Sikap Liana malah membuat Awan terkekeh. “Jadi, gitu. Kesimpulannya kecelakaan. Tapi anehnya, ada keterangan yang rasanya nggak masuk akal. Aku sampai tanya Yoko untuk memastikan.”
“Oya?”
“Katanya Elang minum siang itu. Kamu ingat kan ceritaku waktu ultah ketujuh belas kami, yang curi anggur Papa? Setelah itu Elang jera minum karena tahu dia nggak cocok minum alkohol. Palingan dikit aja kalau memang momennya mengharuskan dia minum,” cerocos Awan.
Dia mengambil jeda dengan mengembuskan napas berat, berharap keresahan ikut lolos. “Dan Elang paling menghindari minum waktu siang. Kan, aneh kalau hari itu dia makan siang sambil minum minuman beralkohol tanpa alasan.”
“Mungkin ada momen khusus,” komentar Liana.
“Maka itu, kutanya sama Yoko. Dia sendiri cerita Elang pernah menolak halus klien yang ngajak dia minum siang-siang. Itu kan tandanya kebiasaan masih sama. Waktu aku pesan koktail di pesawat juga, Kei ngomel karena khawatir hari ini aku bakal tidur seharian nggak bangun-bangun.”
Lagi. Hati Liana tergores ketika Awan menyebut nama gadis lain semerdu itu. Tiba-tiba, perasaan tidak percaya diri menyeruak. Jika dibandingkan dengan Keina, Liana merasa tidak ada apa-apanya. Gadis itu lincah, cantik, ceria, berperilaku manis, tipe yang mudah disukai laki-laki.
Liana menggeleng keras, berusaha mengusir gundah yang merambat cepat ke seluruh sel tubuhnya, kemudian kembali menatap suaminya di layar.
Di sana, Awan mengurut alis lalu merambah ke pelipis. “Oh iya, satu lagi. Polisi kasi barang-barang yang ditemukan di dalam mobil, ada cincin Elang.”
“Mungkin aja jatuh, Kak.”
“Nggak mungkin. Kata Yoko cincinnya Elang jadikan kalung. Talinya ada juga, tapi kayak dilepas paksa.”
Mereka sama-sama terdiam. Awan berpikir keras apa penyebab kalung itu lepas dari Elang sementara Liana masih tidak bisa lepas dari kekhawatiran melihat kedekatan Awan dan Keina.
Dia berharap bisa meraih dan membelai rambut suaminya sekarang juga, ingin menghibur sekaligus memastikan dia tidak kehilangannya. Dari keruhnya wajah Awan, Liana tahu suaminya sedang kesulitan.
Seketika, perasaan menyesal tidak ikut menjalar di sekujur tubuh. Jika saja dia tidak membiarkan Awan pergi sendiri mungkin Awan tidak akan bertindak sejauh ini. Atau setidaknya, suaminya akan berusaha menghindari Keina karena bukan hanya hati Awan yang mengingatnya, tetapi juga tubuhnya merasakan kehadiran Liana.
“Nanti akan aku usut lagi. Kamu istirahat aja, udah malam.” Suara Awan menarik Liana dari lamunan penuh gulana. Mereka menutup sambungan sambil membawa beban dalam pikiran masing-masing.